January 19, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 4 part 2

Yu Xi berteriak-teriak memanggil nama Zhan Cheng. Zhan Cheng ternyata ada di dalam kapal itu. Ia mendengar teriakan Yu Xi. Yu Xi melihatnya dan bersyukur Zhan Cheng baik-baik saja. Gantian Zhan Cheng yang panik. Yu Xi berkata dia baik-baik saja. Dia pikir Zhan Cheng jatuh ke laut. Yu Xi kesakitan, kakinya kram karena berenang terlalu lama.

Zhan Cheng berteriak panik memanggil pengemudi kapal agar menyelamatkan Yu Xi. Pengemudi kapal yang pakai earphone tak mendengar sama sekali. Yu Xi berkata tidak apa-apa. Zhan Cheng tak bisa menolongya. Tak peduli apa yang dikatakan Yu Xi dia langsung melompat ke air. Mereka berdua berteriak minta tolong. Saat itulah si pengemudi kapal mendengarnya dan langsung memberikan ban untuk mereka.
Keesokan harinya Yu Xi demam. Ia masih saja memikirkan apakah Zhan Cheng marah padanya. Dia mengatakan kemarin Zhan Cheng tak mendengar ia memanggil jadi dia pikir Zhan Cheng jatuh. Zhan Cheng berkata ia ada didalam kapal makanya ia tak mendengar. Yu Xi berkata mereka beruntung bisa selamat kalau tidak bukan hanya dirinya tapi Zhan Cheng juga akan dalam masalah.

“Wei Lian bilang padaku kalau matamu sebenarnya bisa disembuhkan. Apa itu benar?” tanya Yu Xi. Zhan Cheng diam saja tak menjawab pertanyaan Yu Xi. Menurut Yu Xi Zhan Cheng harus mengobati matanya. Dengan begitu, Zhan Cheng bisa melindungi orang-orang disekitarnya. “Tentu saja maksudnya bukan aku.” Ucap Yu Xi yang sudah sangat lemas dan pucat. “Kau baik-baik saja?” “Aku menggigil. Aku merasa begitu pusing aku ingin tidur.”
Zhan Cheng mengulurkan tangannya ke dahi Yu Xi. Ia khawatir badan Yu Xi panas sekali. Yu Xi berkata jangan khawatir dia hanya perlu menidurkannya. Yu Xi pun tertidur. Zhan Cheng langsung menghubungi Wei Lian, menyuruhnya membawa dokter.
Zhan Cheng menanyakan keadaan Yu Xi. Dokter mengatakan Yu Xi hanya demam. Dia akan membaik dalam beberapa hari. Setelah Wei Lian dan dokter pergi Zhan Cheng membuat air dingin untuk mengompres Yu Xi. Ia mencoba membuka kemasan es nya dan byarrr..semuanya berhamburan. Ia teringat kata-kata Yu Xi yang memintanya untuk berobat.
Dengan sabar ia merawat Yu Xi. Mengganti kompresnya dan menungguinya. Ia kembali teringat ucapan ibunya tentang Yu Xi yang mirip Luo han. Ia mencoba meraba wajah Yu Xi. Mungkin ia bertanya dalam hatinya apakah benar? Ia masih mengingat dengan baik bagaimana wajah Luo Han, ia sedikit tersenyum mengeahui kalau apa yang dikatakan orangtuanya ternyata benar.
Keesokan harinya Wei Lian datang. Ia bertanya apa Yu Xi baik-baik saja. Zhan Cheng berkata Yu Xi baik-baik saja dan nanti mama Chen juga akan datang. Setelah di kantor, Wei Lian mengabarkan pembantalan kontrak yang dilakukan brand-brand yang sebelumya sudah menandatangani kontrak dengan mereka. Mereka tetap ingin membatalkan kontrak meskipun harus membayar ganti rugi. “Apa kau tahu kenapa?” “Menurut divisi penjualan kita mereka akan membuka toko di The Peak. Dan bukan hanya Vanessa yang akan membayar biaya kompensasi mereka tapi dia juga memberikan penawaran yang sanagt menarik.” Jawab Wei Lian. Sejak pertemuan mereka waktu itu Zhan Cheng tahu pasti Vanessa akan melakukan sesuatu. Tapi yang mengagetkannya Direktur Gao (Ibu Vanessa) mengijinkannya.
Wei Lian khawatir kalau banyak toko2 mereka yang kosong sudah pasti akan menunda proyek toko unggulan mereka. Tapi Zhan Cheng kelihatan biasa saja karena dia sudah mengatur semuanya setelah kejadian dengan Vanessa waktu itu. “Jadi kau sudah mengira ini akan terjadi dan kau ingin melihatku panik, hah? Jenius seperti apa dirimu?” Ucap We Lian yang merasa tertipu oleh Zhan Cheng.
Bo Yan video call dengan Yu Xi. dia ingin tahu keadaan Yu Xi, kalau tidak dia akan khawatir. Yu Xi berkata Bo Yan tak usah khawatir dia sudah baikan sekarang. Bo Yan mau menjenguk Yu Xi tapi Yu Xi tak mengijinkannya. Yu Xi pun menanyakan padanya tentang ia yang pergi rapat. Bo Yan meminta maaf. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk, setaip hari ada saja rapat. Bahkan dia hampir tak punya waktu untuk tidur. “Benarkah? Jika kau punya waktu, jangan lupa untuk istirahat.” Kata Yu Xi mengingatkan.
Tiba-tiba saja Zhan Cheng pulang. Bo Yan pun dapat melihat dengan jelas bagaimana kondisi Zhan Cheng yang senenarnya. Sadar, Yu Xi langsung menutup teleponnya. Bo Yan tersenyum penuh arti.
Zhan Cheng menayakan keadaan Yu Xi apa sudah baikan? “Coba pegang, demamku sudah hilang.” “Baguslah. Aku senang kau tidak apa-apa sekarang.” Zhan Cheng mengingatkannya agar jangan lupa minum obat dan istirahat Bo Yan sudah ada didepan rumah Zhan Cheng. Kemudian ia menelpon Yu Xi dan mengajaknya bertemu. Yu Xi meminta izin sebentar saja, Zhan Cheng mengijinkannya dan mengingatkan Yu Xi untuk hati-hati karena ia baru sembuh. Yu Xi senang sekali karena ia akan bertemu Bo Yan tetapi Bo Yan ternyata tidak menemuinya. Ia berdiri di sekitar rumah Zhan Cheng dan melihat Yu Xi keluar.
Zhan Cheng membukakan pintu “Kau lupa membawa kunci lagi?” tanyanya. Tapi orang itu bukan Yu Xi, melainkan Bo Yan. Ia berpura-pura sebagai pengantar makanan untuk membuktikan tentang kondisi Zhan Cheng yang sebenarnya. Setelah itu baru dia menemui Yu Xi yang sudah menunggunya. Ia meminta maaf pada Yu Xi dia berkata kalau kantor menelponnya karena ada urusan penting jadi dia harus segera kembali sekarang. Yu Xi mengerti tapi meskipun begitu tentu saja dia kecewa. 

Sesampainya dirumah dia langsung makan dengan lahap makanan yang dibawa Bo Yan. “Sudah dingin. Tapi tetap enak.” Katanya senang. Ia menawarkan biskuit untuk Zhan Cheng. Zhan Cheng menolak karena dia tidak suka yang manis-manis. “Kau yakin? Biskuit ini sanagt enak. Kau pasti menyesal.” “Kurasa semua rasanya enak bagimu, bukan?” ledek Zhan Cheng. “Baiklah jangan dimakan. Aku akan memakannya sendiri.” Ucap Yu Xi kesal.

Yu Xi melihat bentuk biskuitnya sama dengan kalung Zhan Cheng. Zhan Cheng terkejut. Yu Xi pun menyuruhnya mencoba biskuit itu. Zhan Cheng merasakannya dan itu rasa biskuit yang sama dengan yang dulu pernah Luo Han berikan untuknya. “Ada apa?” tanya Yu Xi heran melihat Zhan Cheng seperti itu. “Dimana kau mendapatkan biskuit ini?” “Xiao Lin membelinya dari motel. Ada yang salah dengan biskuit ini?” Zhan Cheng memberitahunya kalau biskuit itu rasanya sama dengan biskuit buatan Luo Han. Yu Xi berjanji akan menghubungi Xiao Lin untuk menanyakan biskuit itu.
Keesokan harinya Yu Xi sudah tahu dimana Xiao Lin membeli biskuitnya, mereka pun langsung kesana. Yu Xi bersenandung ria selama diperjalanan. Zhan Cheng mengatakan kalau sepertinya Yu Xi lebih antusias dibanding dirinya. “Boss, apa kau tidak antusias sama sekali?” tanya Yu Xi. Zhan Cheng tak menjawab dan hanya mengetuk-ngetukan jam tangannya. “Jangan berpura-pura cuek bila sebenarnya kau sangat antusias.” Ucap Yu Xi.
Yu Xi berkata Zhan Cheng jangan khawatir. Karena semuanya akan semakin baik. Pertama Zhan Cheng mengingat suaranya dan sekarang dia menemukan rasa yang mengingatkan kenangan Zhan Cheng dengan Luo Han. “Aku yakin kebahagiaan bisa dikumpulka. Seperti mengumpulkan poin.” Kata Yu Xi.
Mereka sudah sampai. Yu Xi sangat tertarik melihat banyak sekali biskuit. Yu Xi menjelaskan tujuan mereka datang. Mereka ingin mencari seseorang. “Siapa yang kalian cari?” tanya nyonya itu. “Seseorang yang membuat biskuit.” Jawab Yu Xi. Nyonya itu berkata kalau anaknya sedang pergi sekarang. Dia tidak akan kembali hingga beberapa saat lagi. Mereka memutuskan untuk menunggu anaknya pulang.
Vanessa membaca berita tentang Zhan Cheng. Ia masih tidak menerima Zhan Cheng menolaknya padahal dia sudah banyak berubah demi Zhan Cheng. Bo Yan datang, ia melihat apa yang Vanessa lakukan. “Vanessa. Apa Fang Zhan Cheng benar-benar begitu berarti bagimu?” tanya Bo Yan. Vanessa mengatakan Bo Yan tidak seharusnya menanyakan hal itu padanya. Bo Yan pun langsung memberikan flashdisk untuk Vanessa. Dia berkata kalau ini adalah informasi terbaru tentang Zhan Cheng. Vanessa melihatnya dan betapa terkejutnya ia mengetahui yang sebenarnya.

1 comment: