February 8, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 12 part 2


Yu Xi menelpon mama Chen, memberitahu kalau ia tidak bisa pulang makan malam hari ini dan ia berjanji tidak akan ketinggalan cable car terakhir. Tiba-tiba Zhan Cheng datang dan menyuruh Yu Xi pulang. Ia tak peduli meskipun pekerjaan Yu Xi belum selesai dan hanya memberinya 30 detik untuk bersiap. Yu Xi langsung bergegas, ia bingung apakah Zhan Cheng akan mengajaknya makan malam dengan klien?
“Boss, sepertinya aku tak bisa pergi makan malam.”
“Aku akan mengantarmu pulang.” kata Zhan Cheng. Yu Xi kaget, Zhan Cheng pun mengulangi perkataannya lagi “Kubilang, aku akan mengantarmu pulang.” Yu Xi tersenyum mengucapkan terima kasih.


Selagi di perjalanan Zhan Cheng dengan seriusnya membicarakan tentang pekerjaan, begitu dia melihat ke Yu Xi, eh Yu Xi nya malah sudah tertidur lelap. Zhan Cheng hanya bisa tersenyum melihatnya. Saat mereka sudah sampai di stasiun cable car, Yu Xi masih belum bangun juga. Zhan Cheng mengambil jasnya dan dengan hati-hati menyelimuti Yu Xi agar tak terbangun. Ia memandangi Yu Xi yang tertidur sampai akhirnya Yu Xi terbangun karena mama Chen menelponnya. Ia keget begitu melihat Zhan Cheng ada di luar. Ia bertanya kenapa Zhan Cheng tak membangunkannya? Bagaimana kalau nanti dia ketinggalan cable car, apa Zhan Cheng akan membuat cable car spesial lagi? “Kenapa tidak?” “Tentu saja tidak boleh. Jika Wei Lian tahu dia akan memarahiku lagi.” Kata Yu Xi yang langsung membuat Zhan Cheng tertawa.





Saat cable carnya datang Yu Xi pun beranjak pergi, karena tidak hati-hati berkas-berkas yang dibawanya terjatuh. Zhan Cheng cepat-cepat membantunya. Ketika Yu Xi ingin mengambilnya Zhan Cheng juga mengambilnya dan tangan mereka jadi bersentuhan. Mereka jadi canggung, Yu Xi langsung menarik tangannya dan menjauh dari Zhan Cheng. Melihat Yu Xi yang melamun Zhan Cheng bertanya padanya “Apa karena pacarmu lagi?” Yu Xi hanya diam. Zhan Cheng pun berkata “pelan-pelan saja” dan menyuruhnya cepat pergi agar tak ketinggalan.



Setelah keluar dari rumah sakit, Bo Yan memberitahukan pada presdir Gao kalau Vanessa menolak tawaran Direktur Gu yang menjual sahamnya. Predir Gao tak menyangka kalau Vanessa akan seperti itu. Presdir Gao pun bertanya apa pendapat Bo Yan tentang ini. Bo Yan berpendapat, membeli Krystal bisa memperluas jangkauan perusahaan mereka juga menstabilkan posisi mereka sebagai pemimpin. Namun, harga saham Krystal yang sama sekali tidak murah maka ini akan menjadi investasi yang lumayan besar bagi perusahaan mereka. Karena itulah menurutnya Vanessa menorak tawaran ini.

Presdir Gao setuju, lagipula direktur Gu hanya punya 45% saham Krystal dan sama sekali tak punya hak kepemilikan. Tapi Bo Yan berpendapat lain, sejauh yang dia ketahui sebenarnya Big City hanya memiliki 35% saham Krystal. Tapi setelah Zhan Cheng mengumpulkan 20% saham dari yang lainnya barulah dia bisa membuat Direktur Gu mengundurkan diri dari jabatannya. “Jadi, maksudmu adalah, jika aku bisa membeli 6% lain dari pemegang saham lainnya maka aku bisa memegang 51% sahamnya Krystal, begitu?” tanya Presdir Gao. Bo Yan menganggukan kepalanya. Presdir Gao sangat tertarik, dia bertanya pada Bo Yan apa ada cara? Bo Yan mengatakan selama presdir bersedia menyediakan dukungan finansial, dia menjaminnya.


Sementara itu Vanessa berada di rumah sakit. Tiba-tiba dokter mengatakan kalau Vanessa hamil. Vanessa terkejut, ia teringat kejadian malam itu. Bo Yan kini sedang bersama direktur Gu membahas jual beli saham yang akan mereka sepakati. Melihat Bo Yan yang begitu antusias dengan hal ini, direktur Gu bertanya penasaran, apa Bo Yan juga mencoba balas dendam dengan Zhan Cheng? Bo Yan terdiam, kemudian ia teringat Zhan Cheng yang mengancamnya dan Zhan Cheng yang mencampuri urusannya dengan Yu Xi. Tapi ia tidak mengatakannya pada direktur Gu.




Zhan Cheng ditemani Yu Xi lagi berbelanja buku. Lalu Zhan Cheng melihat sebuah buku yang membuatnya tertarik. Yu Xi heran karena buku itu beda dari yang lain. Ia melihat judulnya “Perhentian selanjutnya adalah kebahagian”. Yu Xi teringat permohonan yang ia tulis di lampion. Ia tersenyum senang, bepikir kalau Zhan Cheng sudah mengatasi masa lalunya dan akan mencari kebahagian.



Ia pun bilang kalau buku ini benar-benar bagus. Kalau Zhan Cheng membacanya, ia yakin Zhan Cheng pasti akan mengejar kebahagiaannya. Zhan Cheng bertanya “Kau sudah baca?” “Belum. Tapi dari judulnya saja sudah penuh dengan harapan, bukan begitu?” ujar Yu Xi tak berhenti meyakinkan Zhan Cheng. Zhan Cheng pun mengatakan kalau Yu Xi begitu menyukai bukunya maka dia boleh baca duluan. Yu Xi tidak mau “Kau lebih membutuhkannya dariku” katanya tertawa lucu.


Saat di kantor, Wei Lian yang datang curiga melihat Yu Xi yang bicara sambil senyam-senyum sendiri. “Nona sekretaris, apa yang kau pikirkan?” tanyannya penasaran. Yu Xi pun dengan antusiasnya memberitahu Wei Lian kalau Zhan Cheng baru saja membeli buku yang bagus. Yu Xi memperagakannya sambil tertawa “Perhentian Selanjutnya Adalah Kebahagiaan”. “Lalu kenapa?” tanya Wei Lian. “Kau memang lamban. Itu berarti dia sudah sadar dan memutuskan untuk mencari fase kebahagiaan selanjutnya. Kalau tidak, kenapa dia mau membaca buku seperti itu, yakan? Kata Yu Xi. Wei Lian tercengang mendengarnya. Yu Xi penasaran siapa orang yang menyebabkan perubahan ini pada Zhan Cheng. Karena Wei Lian lah yang sering bersama Zhan Cheng, jadi Yu Xi meminta Wei Lian memberitahu siapa orangnya. Wei Lian tertawa geli mendengarnya. “Sudahlah, kau takkan pernah mau memberitahukanku rahasia apapun.” Ucap Yu Xi dengan kesal. Ia lalu pergi membuatkan kopi untuk Wei Lian. “Beraninya dia bilang aku lamban, padahal dia sendiri yang begitu? Ya ampun..” ucapnya tak habis pikir melihat Yu Xi yang tak merasa Zhan Cheng berubah itu karena dirinya.




Yu An dan Fei Fei pulang bersama setelah dari panti. Tiba-tiba Fei Fei melihat ada orang yang sedang mengerjai anjing. Ia langsung memarahi cowok2 itu. Mereka tak terima dan berjalan mendekati Fei Fei, Fei Fei spontan mendorongnya. Cowok itu marah dan semakin mendekat ke Fei Fei tapi Yu An langsung mendorong pria itu sampai terjatuh. Yu An langsung menarik tangan Fei Fei dan berlari dari kejaran cowok2 berandal itu dan bersembunyi di ruang sempit di sebelah tangga. Untunglah mereka tidak melihatnya. Dengan nafas yang terngah-engah Fei Fei menyandarkan kepalanya di dada Yu An.



Yu Xi membantu mama Chen menyiapkan makanan. Ia bertanya kenapa mama Chen masak begitu banyak padahal mereka kan cuma bertiga. Mama Chen memberitahunya kalau Yu An akan datang bersama temannya. Tak lama Yu An dan Fei Fei tiba. Yu Xi dan Fei Fei sama-sama terkejut. Mama Chen bingung melihat mereka, Yu Xi pun memberitahu kalau Fei Fei itu adik boss nya.



Setelah itu mereka bicara berdua. Yu Xi merasa takdir ini memang menakjubkan. Fei Fei setuju, ia tiba-tiba mengatakan kalau ia akan menyerahkan kakaknya pada Yu Xi. Yu Xi terkejut “Serahkan kakakmu padaku? Tapi, dia hanya bossku.” Kata Yu Xi kikuk. “Maksudmu, kau tidak tahu? Kakakku menyukaimu.” Yu Xi tertawa, menurutnya itu tidak mungkin. “Itu benar. Kakakku selalu memihak keluarganya sendiri. Tapi, dia memarahiku saat aku memecatmu waktu itu. Itu pertama kalinya dia begitu. Melihatnya, aku langsung tahu kalau kau punya tempat terpenting di hati kakakku. Kau benar-benar spesial baginya.” Ucap Fei Fei tulus. Melihat Yu Xi yang terkejut dengan pengakuannya, ia bertanya apa Yu Xi tidak suka dengan kakaknya? Yu Xi tak bisa menjawabnya. Fei Fei mengatakan biasanya ia tak suka minta tolong pada orang lain. Tapi ia harap Yu Xi mau menjaga kakaknya.


Setelah Fei Fei pulang Yu Xi teringat dengan kata2 Xiao Lin dan Fei Fei barusan. “Jadi, apa benar aku menyukainya?” katanya pada boneka dihadapannya. Sadar, ia langsung meletakkan sapu tangan Zhan Cheng “Bukan begitu, dia itu bossku dan aku hanya melakukan pekerjaanku.” Menjadi salah tingkah dia langsung memakan lollipop yang dikasi Zhan Cheng. “Kurasa kami juga bisa dianggap berteman. Benar, teman. Baiklah, teman dekat.” Kata Yu Xi. Hihihi.. tahu dia sudah memakan permennya, ia langsung menyesal “Hah, kenapa aku memakan ini. Seharusnya ini menjadi kenang-kenangan. Bagaimana bisa aku…ada apa denganku?” Tiba-tiba Zhan Cheng menelponnya. “Itu boss. Haruskah aku menjawabnya? Haruskah?” Ia pun menjawab telpon Zhan Cheng.




Keesokan harinya, Wei Lian dan Xiao Lin pergi kencan pertama mereka. Xiao Lin sangat senang tapi tak lama kemudian Zhan Cheng dan Yu Xi tiba. Wowww, Double date nih mereka. Xiao Lin marah yang dikiranya mereka cuma berdua malah jadi berempat. Yu Xi tidak tahu sama sekali karena tadi malam Zhan Cheng menelponnya dan mengajaknya pergi bersama. Dia merasa tidak enak pada Xiao Lin, kalau dia tahu ini akan mengganggu kencannya Xiao Lin dia pasti tidak akan ikut. “Jangan marah padaku.” Pinta Yu Xi. “Aku bukan marah padamu. Aku hanya berpikir mungkin itu karena Wei Lian tak mau keluar denganku sendirian. Kurasa itu juga tidak buruk. Mungkin akan canggung jika hanya kami berdua. Sekarang lebih banyak orang, rasanya tidak canggug sama sekali.” ucapnya dengan cemberut. Yu Xi pun berjanji akan membuat kesempatan untuk mereka.



Sementara itu Zhan Cheng dan Wei Lian tengah memberi makan kuda. Wei Lian memberitahu Zhan Cheng Yu Xi yang begitu senang saat melihatnya membeli buku kemarin. Itu karena Yu Xi yang sama sekali tidak menyadari perasaan Zhan Cheng yang sebenarnya. “Bung. Saat berurusan dengan protozoa seperti dia kau tak boleh terlalu pasif. Kau harus membuat kesempatan yang kuciptakan untukmu dan mengatakan perasaanmu. Tapi aku tak tahu kalau kau akan mengakuinya bahwa perhentian kebahagiaanmu selanjutnya adalah dia.” “Memang dia.” Kata Zhan Cheng yakin.



Tepat saat itu Yu Xi yang tiba-tiba saja datang mendengar Zhan Cheng yang mengakui kalau ia memang menyukai Yu Xi. Yu Xi sangat terkejut, ia langsung bersembunyi. Ia berpikir bagaimana itu bisa dirinya? Dan akibatnya saat mereka berkuda bersama, Yu Xi menjadi sangat gugup mengingat pengakuan Zhan Cheng tadi. Zhan Cheng memintanya duduk ke belakang sedikit kalau tidak nyaman. Yu Xi cepat2 mengatakan tidak apa-apa. Gimana dengan Xiao Lin dan Wei Lian?



Sama halnya dengan Yu Xi, Xiao Lin duduk dengan sangat kaku. Wei Lian memintanya rileks saja dan kalau bisa duduk bersandar padanya agar bisa mengikuti gerakannya berkuda. Dengan malu-malu Xiao Lin perlahan bersender pada Wei Lian. Kembali ke Yu Xi yang saking kakunya hampir saja terjatuh. Untunglah Zhan Cheng cepat menangkapnya.



Bo Yan akhirnya membuat kesepakatan dengan direktur Gu dan langsung menemui presdir Gao. Presdir Gao sangat puas, ia mengatakan setelah dia nanti menghadiri rapat pemegang saham dia kan mengajukan proposal penukaran GM dan mengumumkan bahwa Bo Yan akan menjadi wakil GM. Bo Yan sangat senang, tapi Vanessa merasa ada yang tidak beres dengan ini.



Setelah seharian berkuda kini Yu Xi dan Xiao Lin berendam di air panas. Xiao Lin merasa Yu Xi sangat aneh sejak tadi. Yu Xi berbohong, ia mengatakan itu karena ia pertama kalinya kesini. Xiao Lin tahu Yu Xi bohong dan memaksanya memberitahu yang sebenarnya.
Dengan malu-malu Yu Xi mengatakannya “Itu. ..aku tak sengaja mendengar boss bilang… Dia bilang menyukaiku.” Tapi saat mengatakan “dia bilang dia menyukaiku” Yu Xi mengatakannya dengan sangat pelan sampai Xiao Lin tak mendengarnya. Yu Xi pun kesal, ia berteriak “Dia bilang dia menyukaiku.” Xiao Lin berteriak kegirangan. Tapi melihat Yu Xi yang tak mau mengakui perasannya juga, Xiao Lin bertanya “Saat kau masih bersama Bo Yan sebelumnya, apa kau yang selalu berusaha menyenangkannya?” Yu Xi hanya menjawabnya dengan tatapan sedih. “Tapi sekarang saat kau bersama bossmu apa kau perlu melakukannya?” “Tidak. Kapanpun saat aku bersama boss aku merasa lebih nyaman. Aku juga bisa menjadi diriku sendiri.” Xiao Lin langsung memotongnya, “Chen Yu Xi. Jatuh cinta berarti bergembira seperti kau yang sekarang. Kau jangan menyiksa dirimu lagi seperti sebelumnya.” “Tapi..” “Tapi apa?” “Aku takut kalau boss hanya menganggapku sebagai pengganti. Dia bilang aku mirip Luo Han.” kata Yu Xi. Xiao Lin bertanya heran apakah benar-benar mirip?




No comments:

Post a Comment