February 13, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 14 part 1


Zan Cheng mengajak Yu Xi bicara di luar. Yu Xi bertanya-tanya apa jangan2 ia memang memiliki hubungan dengan Luo Han, mengingat hari lahir mereka yang sama dan wajah mereka yang mirip. Apa ibunya membohonginya? Yu Xi menganggap kalau mama Chen sudah memisahkan mereka dan memberikan Luo Han pada orang lain. Tapi Zhan Cheng langsung menyangkalnya, membuat Yu Xi menebak kalau dirinya juga sama seperti Luo Han, anak adopsi. “Jadi, aku bukan putri kandung ibuku?” “Di hatinya, kau adalah putrinya.” “Tapi bukan putri kandugnya. Benarkan?” tanya Yu Xi sedih.


Zhan Cheng menjelaskan pada Yu Xi bahwa mama Chen takut kehilangannya, maka dari itu dia tidak memberitahu yang sebenarnya. Tapi, mama Chen selalu menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Yu Xi. “Jadi, kau sudah tahu tentang ini?” tanya Yu Xi. Zhan Cheng hanya menganggukan kepalanya. Ia mencoba menjelaskan lagi, tapi Yu Xi meminta Zhan Cheng meninggalkannya sendiri. Tentu saja perasaan Yu Xi hancur mengetahui orang yang selama ini dia kira adalah ibu kandungnya, ternyata bukan ibu kandungnya. Apalagi mereka juga menyembunyikan hal ini darinya, meskipun dengan alasan yang baik.



Fei Fei sudah menukar bajunya. Ia yang lagi telponan sama Yu An, meminta Yu An memakai sweater yang dibelinya saat ke panti asuhan nanti. Yu An sudah sampai di panti duluan dan memakai sweaternya.tak lama kemudian Fei Fei datang. Melihat mereka berdua yang pakai baju pasangan, anak anak menggodai Fei Fei yang suka pada Yu An. Ia cepat2 membantahnya, ia berkata kalau itu adalah kebetulan saja. Yu An menatapnya penuh tanya, Fei Fei beralasan kalau sweaternya beli 2 gratis 50% jadi lebih murah. Apa Yu An tak percaya padanya? Dia tidak ingin menghamburkan uang seperti yang Yu An bilang. Yu An pun percaya dan mengajak anak-anak bermain layang-layang.


Yu An dan anak-anak asyik main layang-layang sedangkan Fei Fei hanya bisa cemberut melihat mereka, karena Yu An tak memperhatikannya sama sekali. Kemudian Yu An datang dan mengajari Fei Fei bagaimana caranya menerbangkan layang-layang. Fei Fei sangat senang, hingga mereka tersandung dan Fei Fei jatuh di atas badan Yu An. Ia bangkit dan berniat mencium Yu An. Sudah hampir menciumnya,salah satu anak memanggilnya mengajak bermain bersama.




Ternyata itu semua hanya khayalan Fei Fei. Tapi saat itu Yu An benar benar datang menghampirinya dan mengajarinya bermain layang-layang, sama seperti khayalannya tadi. Fei Fei sangat senang, bahkan ia juga berhasil menerbangkan layang-layangnya. Karena layang-layangnya sudah terbang, Yu An pergi melihat anak-anak. Fei Fei yang ingin bersama Yu An mencari akal dengan membuat laying-layangnya jatuh agar Yu An mengajarinya lagi. Kali ini saat Yu An kembali mengajarinya, mereka benar2 terjatuh. Tapi sesaat kemudian Yu An menjerit kesakitan karena kakinya keselo. Fei Fei kesal, bukan ini yang dia harapkan.



Setelah membawa Yu An ke dokter, Fei Fei terus meminta maaf karena ini salahnya. Yu An berkata ia tidak apa-apa, lagipula Fei Fei juga terjatuh. Ia bertanya apa Fei Fei terluka? Fei Fei menjawab dia baik-baik saja. Yu An pun memintanya tak perlu khawatir. Fei Fei berkata kalau dia akan bertanggung jawab dan mengurus Yu An sampai kaki Yu An sembuh.


Zhan Cheng dan Yu Xi pulang lebih awal. Mama Chen yang lagi memasak makan malam, meminta mereka ganti pakaian dulu. Yu Xi memandangi mama Chen, menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang. Mama Chen bingung kenapa Yu Xi tiba-tiba memeluknya seperti ini. “Aku sangat senang kau adalah ibuku.”
“Apa maksudmu? Siapa lagi yang jadi ibumu?”
“Tidak ada. Aku hanya menginginkanmu.” Kata Yu Xi manja. Mama Chen merasa Yu Xi aneh hari ini, sampai membuatnya merinding. Ia meminta Yu Xi melepaskannya, apa Yu Xi tidak malu pacarnya melihat? Zhan Cheng tersenyum mendengarnya. Tapi Yu Xi tak ingin melepaskan pelukannya dan terus bergelayut di punggung mama Chen yang lagi memasak.



Yu Xi duduk sendirian di tepi kolam, Zhan Cheng menghampirinya. Yu Xi berkata kalau dia sudah memikirkannya lama. Tapi dia masih belum tahu apa dia harus menanyai mama Chen atau tidak. Jika bukan karena mama Chen mungkin sekarang dia masih yatim piatu. Dia harus besar sendiri dan hidup sendiri. Dia takkan pernah merasakan kehangatan dan cinta dari keluarga. Karena mama Chen tidak ingin dia tahu, mungkin dia harus berpura-pura kalau dia tak tahu apapun. seperti yang dulu Zhan Cheng katakan bahwa terkadang agar tidak melukai orang yang kita cintai kita tak punya pilihan selain berbohong ‘putih’.

“Boss. Meskipun kita bisa melindungi mereka dengan kebohongan putih kita, tapi bagiku, aku masih ingin menghadapi yang sebenarnya. Aku tahu terkadang kebenaran bisa membawa rasa sakit. Tapi, aku tak takut. Karena di sampingku, banyak orang yang mencintaiku dan selalu mendukungku.”
Yu Xi meminta Zhan Cheng berjanji padanya. Tak peduli apapun yang tejadi, jangan menyembunyikannya darinya, biar mereka tanggung bersama. Zhan Cheng berjanji, dia takkan menyembunyikan apapun.



Yu Xi kemudian memberinya batu, mereka melemparnya ke kolam. Yu Xi bertanya, Zhan Cheng tidak akan menjadi kolam, kan? Yang terus menerima cinta dari batu. Zhan Cheng mengatakan dia sulit menjadi kolam. Karena dia selalu si batu yang keras kepala. Yu Xi tertawa dan Zhan Cheng langsung memeluknya.




Tak disangka mama Chen ada di belakang mereka, penuh dengan air mata dipipinya. Ia terbayang Yu Xi yang tadi memeluknya. Saat Yu Xi tidur, mama Chen memandanginya. Ia mengatakan Yu Xi gadis bodoh. Bagaimana bisa Yu Xi tak menyalahkannya yang sudah menyembunyikan hal sepenting ini. Ternyata mama Chen mendengar semua perkataan Yu Xi di kolam tadi yang ingin berpura-pura tidak tahu di depan mama Chen. Karena Yu Xi yang tak mau mama Chen tahu, maka mama Chen juga akan berpura-pura tidak tahu apapun. Mama Chen menggenggam dan mengusap tangan Yu Xi, “Kau putriku. Selamanya begitu” ujar mama Chen sedih.



Keesokan harinya, Yu An terlihat sedang menyapu di gereja dengan kaki yang masih sakit. Lalu Fei Fei datang dan meminta Yu An jangan meremehkan lukanya. Ia membawakan sup yang dibuatnya untuk Yu An dan dia yang akan menyapu. Yu An tak membolehkan Fei Fei, karena itu adalah pekerjaannya. Tapi menurut Fei Fei tak ada bedanya siapapun yang mengerjakan selama pekerjaan itu selesai. Yu An tersenyum melihat Fei Fei yang menyapu. ‘Tidak ada bedanya’pikir Yu An. Sontak dia kaget kenapa dia memikirkan ini.



Keesokan harinya Zhan Cheng membawa Yu Xi ke makam Luo Han. Yu Xi meminta Zhan Cheng memberikan waktu untuk mereka sendiri. Setelah Zhan Cheng pergi Yu Xi jadi sedikit gugup. Tadinya banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Luo Han tapi sekarang dia tak tahu harus memulainya darimana. Ia berharap Luo Han menyukai bunga yang dibawanya. Mengenai yang terjadi padanya, dia hanya bisa mendengarnya dari orang lain.
Yu Xi meneteskan air mata, “Jika aku bisa mengenalmu lebih awal, mungkin aku bisa bertemu langsung denganmu dan lebih mengenalmu. Kita bisa keluar bersama, belanja bersama, saling curhat, dan saling memberitahu rahasia. Mungkin, kau juga bisa membantuku belajar. Kita bisa sekolah dokter bersama dan menjadi dokter kembar tercantik. Kita bisa melakukan banyak hal bersama.” Ucap Yu Xi membayangkan seandainya mereka bisa bertemu sebelumnya.



Yu Xi meminta maaf padanya, begitu lama baru datang menemui. Mereka akan pulang, melihat Yu Xi yang menangis Zhan Cheng menghapus air matanya. Zhan Cheng meminta maaf sudah menyembunyikan ini dari Yu Xi. Yu Xi mengerti, Zhan Cheng melakukan itu untuk menepati janjinya pada mama Chen. Zhan Cheng mengatakan awalnya memang begitu, lalu akhirnya dia menjadi sedikit egois dan tidak ingin Yu Xi tahu. Itu karena dia khawatir kalau Yu Xi akan meragukan perasaanya setelah tahu hal ini dan berpikir dirinya sebagai pengganti Luo Han.




Sebelumnya terlintas di pikiran Yu Xi seperti itu. Tapi, dia tahu kalau Zhan Cheng bukan orang seperti itu. sebenarnya dia sangat senang. Saat dia menjaga Zhan Cheng, dia bisa melihat betapa pedulinya Zhan Cheng melindungi orang disekitarnya dan betapa Zhan Cheng menghargai hubungannya dengan Luo Han. Jadi dia tahu betapa seriusnya Zhan Cheng terhadap hubungannya. Yu Xi menggenggam tangan Zhan Cheng, “Aku juga tahu betapa mudahnya tangan dan kakimu kedinginan. orang dengan tangan dan kaki dingin, tidak mudah untuk jatuh cinta. Tapi begitu jatuh cinta, mereka kan sepenuhnya setia pada hubungan mereka. Jadi, aku sangat senang kalau aku bisa bergantung padamu untuk menghargai perasaanku padamu. Karena aku tahu, kau pasti menjaga dan menghargai hubungan kita.”
Zhan Cheng menggenggam tangan Yu Xi balik, “Yu Xi. Aku bahagia bisa jatuh cinta padamu.”



4 comments: