February 20, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 16 part 1


Masih shock dengan semua pengakuan Ya Ti, Yu Xi dikejutkan Bo Yan yang ada didepannya. Ternyata Bo Yan juga mendengar semuanya. Yu Xi meminta maaf dan meninggalkan Bo Yan, ia tak ingin bicara dengannya sekarang.


Yu Xi teringat saat Ya Ti menanyakan tentang sel ingatan padanya. Ia berpikir kalau Ya Ti sudah tahu kalau ia mendapat donor dari Luo Han sebelumnya. Di rumahnya, Yu Xi bingung dan kembali melihat foto ultah Luo Han.


Bo Yan mencari info tentang sel ingatan dan kemudian mencari berita tentang Zhan Cheng dan Luo Han. Ia pun tahu kalau Luo Han adalah mendiang tunangan Zhan Cheng. Di kantornya, Vanessa menerima email dari Bo Yan tentang saran dokter yang sudah menjadi file. Bo Yan melihat-lihat jadwal Vanessa. Begitu tahu kalau besok adalah jadwal rapat D12, Bo Yan tersenyum aneh.



Keesokan harinya saat Vanessa akan ke tempat rapat, tiba-tiba ia melihat Bo Yan sedang berjualan pakaian di pinggir jalan. Vanessa berhenti, memastikan kalau itu benar-benar Bo Yan. Ia memandangnya iba. Tapi setelah Vanessa pergi Bo Yan melihat kearahnya dengan tatapan tajam.




Yu Xi dan Zhan Cheng menjenguk Ya Ti yang sudah semakin membaik. Yu Xi telihat sedikit tidak enak karena kejadian kemarin. Ya Ti berpikir kalau Yu Xi pasti kecapekan. Yu Xi berkata ia tidak apa, Ya Ti lah yang harus banyak istirahat dan jangan terlalu khawatir. Lalu Ya Ti meminta maaf pada Zhan Cheng tentang kounter biskuit, ia merasa tak bisa melakukannya. Zhan Cheng menyuruhnya istirahat saja dan merka akan membicarakan itu nanti setelah Ya Ti pulih.

Tiba-tiba Ya Ti minta tolong pada bibi Juan untuk membawanya pulang ke rumah. Mereka tak membolehkannya, memgingat Ya Ti masih lemah dan mereka juga harus menunggu hasil biopsi (pengambilan jaringan tubuh untuk di analisis) Ya Ti. Yu Xi berpikir dalam hatinya, apa Ya Ti begitu karena ingin menghindari dia dan Zhan Cheng?



Malamnya Bo Yan bersama Vanessa ada di restoran yang sama dengan waktu itu dan memesan menu yang sama. Bo Yan juga bahkan mengelap peralatan makan untuk Vanessa. Vanessa berkata dia bisa mengurus makannya sendiri, jadi Bo Yan tak perlu membawanya keluar untuk makan. Ia kemudian bertanya apa yang Bo Yan lakukan hari ini. Bo Yan menjawab kalau dia mencari pekerjaan. Pekerjaan yang mirip dengan bekerja di Dept Store. Vanessa tidak habis pikir bagaimana bisa pedagang kaki lima sama dengan Dept Store. Bo Yan berkata bagaimanapun dia harus bertahan hidup. Itu hanya pekerjaan sementara.

“Kau menyebutnya sebagai pekerjaan?” tanya Vanessa.
“Bagiku ya. Itu pekerjaan yang membuatku bertahan hidup dan membuatku menyelesaikan SMA dan kuliah.” Jawab Bo Yan. Ia pun menceritakan saat ia menjadi pedagang kaki lima saat SMA dulu, sejak itulah dia benar-benar ingin berkarir di industri Dept Store. Karena itulah dia mulai bekerja di The Peak, tepat setelah dia wisuda.
Vanessa bertanya serius apa Bo Yan benar-benar tertarik dengan industri ini? Bo Yan menganggukkan kepalanya, dia benar-benar tertarik. Menurutnya itu adalah pekerjaan yang sangat menantang, menyediakan produk yang dibutuhkan untuk konsumen. Industri ini juga sangat kompetitif, maka dari iru dia juga bisa meningkatkan dirinya sendiri. Vanessa tersenyum mendengar jawaban Bo Yan. Mereka kemudian makan dan Bo Yan tak bisa berhenti tersenyum. Apakah ini bagian dari rencana Bo Yan untuk membuat dirinya kembali lagi ke The Peak?



Karena bibi Juan tak bisa menemani Ya Ti malam ini, Yu Xi lah yang menemaninya. Ia berbaik hati memijat Ya Ti. Kemudian Ya Ti melihat jari tangannya dan memakaikan kutek untuknya. Yu Xi tersentuh dan dia juga sangat senang. Ini pertama kalinya dia memakai kutek. Ya Ti memujinya yang memiliki tangan yang bagus. Lalu mereka selfie bersama. Yu Xi bertanya, apa Ya Ti merasa bosan tinggal di rumah sakit sendirian? Ya Ti merasa ia sedikit bosan, tapi karena Yu Xi ada disini sekarang dia tidak lagi merasa kesepian. Yu Xi menanyakan padanya apa ada yang Ya Ti ingin lakukan? Ya Ti ingin menonton film horror, dan mereka berdua nonton sambil menjerit-jerit ketakutan hingga Ya Ti terengah-engah. Yu Xi langsung mematikan TV nya. Ia meminta maaf, tak seharusnya mereka nonton yang menakutkan. Yu Xi lalu memeluk Ya Ti, “Ya Ti. Kau tahu? Selain bibi Juan dan ayahmu, aku dan boss juga sangat mengkhawatirkanmu. Jadi pastikan, kau mendengar nasehat dokter. Jangan berpikiran untuk pulang ke rumah lagi, oke?” pinta Yu Xi. Ya Ti tersenyum menganggukan kepalanya.





Keesokannya Zhan Cheng dan Yu Xi akan pergi ke suatu tempat. Zhan Cheng mengatakan terkadang ia merindukan hari dimana Yu Xi masih menjadi perawatnya. Karena saat itu, mereka bersama-sama 24 jam. Meskipun sekarang setiap hari mereka masih saling bertemu, rasanya mereka tidak banyak menghabiskan waktu bersama seperti dulu. Yu Xi juga merasa begitu. Meskipun itu baru saja terjadi, tapi rasanya seperti sangat lama sekali.


Mereka sampai di sebuah hotel. Zhan Cheng berpikir Yu Xi memesan 2 kamar tapi kenapa hanya satu kamar? Yu Xi berkata ada masalah dengan sistem hotelnya, jadi kamar mereka di berikan kepada orang lain. Karena itu mereka di diskon bahkan juga diberikan makan malam gratis.
Lalu mereka candlelight dinner dengan diiringi alunan piano yang sangat romantis. Yu Xi menghampiri pianisnya dan meminta pianis itu mengiringinya bernyanyi. Yu Xi pun menyanyikan lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Zhan Cheng dengan penuh perasaan. Zhan Cheng tersenyum menatapnya, dan terbayanglah semua kenangan mereka. Ia lalu menghampiri Yu Xi dan menggantikan pianisnya untuk mengiringi Yu Xi. Yu Xi duduk disampingnya dan mereka berduet bersama.




Setelah itu mereka lanjut dinner lagi. Yu Xi tak menyangka kalau Zhan Cheng bisa bermain piano. Selama ini dia bertanya-tanya siap pemilik piano di kamarnya dan ternyata itu Zhan Cheng. Zhan Cheng berkata hanya itu satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan sambil mengedipkan matanya pada Yu Xi. Tiba-tiba Zhan Cheng berdiri dan memberikan sesuatu untuk Yu Xi yang bertuliskan kebahagiaan.
“Saat itu, kau membantuku mewujudkan permohonan di lampion. Sekarang aku ingin meletakkan kebahagiaanku di tanganmu. Tanpa dirimu takkan ada kebahagiaan untuk Fang Zhan Cheng. Jadi, pastikan kau menjaganya dengan baik.”
Yu Xi terharu, ia balas menggenggam tangan Zhan Cheng. “Jika saja waktu bisa berhenti disaat ini, alangkah bagusny?” kata Yu Xi berharap. Zhan Cheng lalu menyetel mati jam tangan Yu Xi dan jam tangan miliknya. Sekarang waktu sudah berhenti untuk mereka. Berhenti di saat ini. “Kalau begitu, biarkan tetap seperti ini.” pinta Yu Xi. Mereka saling memandang bahagia tetap di posisi seperti itu.




Mereka kembali ke kamar dan Yu Xi mengajak Zhan Cheng bermain monopoli. Mereka tertawa senang sampai Yu Xi mendapatkan kartu ‘Berikan pemain 10% dari asetmu’. Ia menjadi sedih. Zhan Cheng mengingatkannya ini hanya permainan untuk bersenang-senang. Apapun hasilnya, mereka bisa main lagi. Yu Xi membenarkannya. Ia berkata hidup memang tak bisa diduga. Mereka takkan pernah tahu apa yang akan menanti kedepannya dan apa yang pernah menjadi milik kita tiba-tiba menghilang begitu saja, seperti sekarang. Zhan Cheng berkata ini bukan masalah besar, Yu Xi tak harus membayarnya. Yu Xi tidak mau, mereka harus mengikuti aturannya. Kemudian Yu Xi megeluh kecapekan. Dengan manja ia meminta Zhan Cheng untuk memijatnya.



Zhan Cheng menuruti Yu Xi. Yu Xi berterima kasih padanya. Saat dia bersama Zhan Cheng dia boleh bandel, boleh curang dalam permainan, dia bisa menempel pada Zhan Cheng dan menjadi dirinya sendiri. Zhan Cheng selalu baik padanya.


Zhan Cheng bertanya, jadi Yu Xi menempel padanya sekarang? “Apa sebegitu jelas?” tanya Yu Xi. “Sangat jelas.” Jawab Zhan Cheng. Yu Xi langsung memeluknya, itu karena Zhan Cheng selalu begitu pengertian. Tak peduli apapun yang ia lakukan, Zhan Cheng tak pernah marah padanya. Zhan Cheng merasa itu karena apapun yang Yu Xi lakukan semuanya demi orang lain. Jadi, kenapa dia harus marah? Yu Xi lalu menjatuhkan dirinya di tempat tidur, ia ngantuk sekali. Zhan Cheng pun akan pergi, dia akan tidur di kamar sebelah. Tapi Yu Xi tiba-tiba menarik tangannya hingga membuat Zhan Cheng terjatuh ke tempat tidur bersamanya. Yu Xi malu dan menyembunyikan wajahnya di lengan Zhan Cheng. Zhan Cheng lalu memeluknya hingga esoknya Yu Xi bangun duluan dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam.



3 comments: