February 24, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 17 part 2


Yu Xi pergi meninggalkan Zhan Cheng sendiri. Setelah itu ia menemui Bo Yan yang mengajaknya bertemu. Bo Yan dengan bahagia memberitahunya kalau sekarang ia sudah menjadi GM Krystal. Dia sudah mencapai target pertamanya. Dia juga punya kemampuan untuk melindungi dan menjaga Yu Xi, juga bisa memberikan hidup yang dia janjikan. Jadi, maukah Yu Xi kembali padanya? Yu Xi mengucapkan selamat untuknya. Akhirnya impiannya terwujud. Dia selalu percaya Bo Yan pasti bisa melakukannya. Namun, mereka takkan pernah bisa bersama lagi. Yu Xi menghindar dari Bo Yan yang ingin mendekat padanya.


Bo Yan benar-benar minta maaf jika ini karena apa yang pernah dia lakukan pada Yu Xi sebelumnya. Dia sadar kalau dia sudah sangat menyakiti Yu Xi dengan kebohongan dan sikap dinginnya. Dia berjanji mulai sekarang takkan ada dusta diantara mereka. Yu Xi langsung memotongnya, “Terkadang, begitu kau kehilangan takkan pernah bisa kembali lagi. Bo Yan, lain kali jika kau bertemu seseorang yang kau sukai jangan membuat kesalahan yang sama lagi. Aku yakin kau pasti bisa menemukan kebahagiaan.” Kata Yu Xi pergi meninggalkannya. Bo Yan menahannya, “Kebahagiaanku ada di tanganmu. Hanya kau yang bisa memberiku kebahagiaan.” Ucap Bo Yan. Yu Xi teringat akan Zhan Cheng yang juga menyerahkan kebahagiaannya pada dirinya. “Aku tak bisa membuatmu bahagia.” Balas Yu Xi. “Yu Xi. Sebelumnya kau mencintaiku, itu berarti kau pasti bisa jatuh cinta lagi padaku di masa depan.” Ujar Bo Yan.





Di gereja, Yu An terbayang semua pengorbanan mama Chen untuknya, menggendongnya ke rumah sakit saat ia masih kecil, dan betapa khawatirnya mama Chen saat ia harus kembali dirawat. Dia tak tahu harus melakukan apa. Sementara itu Yu Xi galau memandangi jimat kebahagiaan Zhan Cheng. “Maafkan aku. Aku tak bisa memberimu kebahagian yang kau inginkan.” “Kenapa?” tanya mama Chen muncul tiba-tiba. Mama Chen meminta Yu Xi memberitahu apa yang terjadi. Karena Yu Xi tak mau memberitahunya, maka dia sendiri yang akan menelpon Zhan Cheng. Yu Xi melarangnya, mama Chen pun memaksa Yu Xi memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.




Zhan Cheng curhat pada Wei Lian. Wei Lian menyarankannya untuk memberi Yu Xi waktu. Meskipun Yu Xi terkadang kerasa kepala, tapi menurutnya kali ini Yu Xi bertingkah sedikit tidak beralasan. Setelah Wei Lian pulang, Zhan Cheng melihat kartu foto dirinya dan Yu Xi. Ia teringat saat Yu Xi memutuskannya dan Yu Xi yang pergi begitu saja saat di coffee shop. Ia berpikir demi siapa Yu Xi melakukan ini.



Yu Xi memberitahukan alasannya putus dari Zhan Cheng yaitu agar jantungnya Luo Han bisa terus hidup, Ya Ti juga bisa hidup, dan Zhan Cheng takkan kehilangan Luo Han lagi. Mama Chen tidak setuju dengan keputusan Yu Xi ini, karena ini akan membuat Yu Xi sendiri tidak bahagia. Sebagai ibu, dia tak tahan melihat anaknya menderita begini. Ia mengajak Yu Xi untuk pergi menemui Zhan Cheng sekarang. Yu Xi semakin menangis, ia melarang mama Chen untuk tidak melakukan itu. Mama Chen marah kenapa Yu Xi melakukan ini pada dirinya sendiri. Mama Chen bertanya, apa karena Luo Han adalah kakaknya? Dalam pelukan ibunya Yu Xi mengatakan harapannya bahwa dia berharap kakaknya terus hidup. Dia ingin Ya Ti hidup dengan baik. Itu saja, hanya itu yang dia minta.



Di rumah sakit Ya Ti meminta dokter untuk mengatakan yang sebenarnya padanya. Dokter pun memberitahu kalau kondisinya tidak terlalu baik. Takutnya,pilihan satu-satunya adalah transplantasi jantung lain. Bibi Juan bertanya cemas berapa lama mereka harus menunggu jantung lain? Dokter tak bisa memastikannya. Ya Ti menenangkan bibi Juan.

Setelah dokter pergi bibi Juan akan mengabari hal ini pada ayah Ya Ti. Ya Ti melarangnya, ia benar-benar tak ingin siapapun mengkhawatirkannya. Jika dia punya pilihan, dia juga tidak ingin bibi Juan tahu. Waktu untuk menunggu transplantasi jantung sangat menyedihkan. Jadi, dia tidak ingin ayahnya tahu. Bibi Juan menganggukan kepalanya dan memeluk Ya Ti. Bibi Juan menangis, bisa-bisanya Ya Ti masih mengkhawatirkan orang lain. Ya Ti berkata dia selalu siap kalau hari seperti ini akan tiba. Dia tahu dengan transplantasi jantung dia akan sehat, tapi bukan berarti selamanya. Dia tak menyangkawaktunya begitu singkat. Ya Ti berkata dalam hatinya, selama Yu Xi bisa hidup bahagia dengan Zhan Cheng maka dia bisa tenang.



Keesokannya Yu An yang berada di rumah dikejutkan dengan mama Chen yang tiba-tiba menjerit kesakitan karena terjatuh dari tangga. Yu An segera membantunya berdiri dan mengompres kaki mama Chen yang keseleo. Yu An berkata, mulai sekarang biar dia saja yang menjadi tukang di rumah. Mama Chen menertawakannya. “Bu, ada yang ingin kuberitahukan padamu.” “Ada apa?” “Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan gereja.” Kata Yu An tiba-tiba. Yu An menjelaskan maksudnya kalau dia akan berhenti menjadi pendeta. Mama Chen terkejut, mengira ada masalah yang terjadi. Yu An meminta maaf, dia hanya melakukan hal yang ingin dia lakukan sebelumnya dan tak pernah memikirkan perasaan mama Chen, juga mengabaikan mereka. Dia sudah membulatkan niatnya. Jika ambisinya menjadi pendeta berdiri di atas pengorbanan mama Chen, maka lebih baik dia menyerah. Di dalam hatinya mereka berdua (mama Chen dan Yu Xi) adalah yang terpenting. Mama Chen pun menghargai keputusannya.




Zhan Cheng datang ke rumah Yu Xi. Ia hanya disambut mama Chen, karena Yu Xi tak ingin menemuinya. Zhan Cheng mengerti, kemudian ia pun pergi dan Yu Xi melihat kepergiannya. Mama Chen bertanya apa Yu Xi yakin melakukan ini? Yu Xi hanya mengiyakannya dengan senyuman. Masih tak jauh dari rumah Yu Xi, Zhan Cheng menekan belnya hingga bel milik Yu Xi berbunyi. Yu Xi menangis mengingat janjinya pada Zhan Cheng bahwa kapanpun Zhan Cheng menekan belnya dia akan segera datang tak peduli dimanapun dia berada.



Yu Xi berlari mengejar Zhan Cheng. Yu Xi memintanya untuk tidak mencarinya lagi. Zhan Cheng bertanya, demi siapa Yu Xi melakukan ini? Yu Xi menggelengkan kepalanya. Dia melakukannya demi dirinya sendiri. Zhan Cheng tak percaya, karena Chen Yu Xi yang dia kenal selalu serius dengan hubungannya. Dia tak pernah jatuh cinta pada seseorang karena perasaan yang salah. Zhan Cheng bertanya apa yang Yu Xi sembunyikan. Yu Xi tetap tak ingin mengatakannya.

Zhan Cheng mengingatkan Yu Xi ucapannya dulu bahwa Yu Xi benar-benar senang kalau dia bisa meletakkan kebahagiaannya pada Zhan Cheng. Ia sekali lagi meminta Yu Xi memberitahunya, demi siapa Yu Xi melakukan ini. “Itu karena jantungnya kakak akan sakit. Ya Ti sudah tahu kalau jantung kakakku yang ada di tubuhnya. Dia juga tahu bagaimana perasaan kakak padamu. Jantungnya sedih karena hubungan kita. Ya Ti sakit karena kita berdua berpacaran.” Jelas Yu Xi histeris. Zhan Cheng terkejut sekali, tak bisa berkata apa-apa. Yu Xi memohon padanya untuk tidak mencarinya lagi, ia hanya ingin jantung kakaknya dan Ya Ti bisa terus hidup.




Yu Xi pun pergi meninggalkannya. Ia sebenarnya juga tak kuat dengan keputusannya ini, tapi inilah yang harus dia pilih. Yu An menghampiri Yu Xi yang masih menangis. “Kak, kau kenapa?” “Aku..aku mengingkari janjiku sendiri. Aku berjanji untuk jujur padanya..tapi aku malah berbohong. Kubilang aku akan selalu bersamanya. Tapi, aku malah meninggalkannya.” Cerita Yu Xi. Yu An menenangkannya dan ternyata mama Chen mendengar itu di belakang mereka. Yu Xi langsung memeluk ibunya, dia sungguh tak berniat menyakiti Zhan Cheng.



Zhan Cheng pergi ke rumah sakit. Melihat sikap Zhan Cheng yang berbeda Ya Ti bertanya-tanya, apa ada masalah? Zhan Cheng berkata tidak ada. Lalu dia bertanya apa Ya Ti masih ingat pertemuan pertama mereka? Tentu saja Ya Ti ingat. Zhan Cheng datang ke motel demi biskuitnya, lalu Zhan Cheng membantunya dan menanyakan apa arti dari biskuit Edelweiss. Zhan Cheng mengatakan bahwa saat itu dia masih hidup dalam kepedihan atas meninggalnya Luo Han. Dia mengunci dirinya dalam kegelapan. Membiarkan waktu berlalu dan menolak untuk maju. Hingga dia bertemu Yu Xi, semuanya mulai berubah. Yu Xi menarik tangannya, mengenalkan dunia lagi padanya dan mulai mengumpulkan kebahagiaan untuknya.

Yu Xi membantunya menemukan keberanian lagi sampai akhirnya membuat dia kembali jatuh jatuh cinta. Baginya Yu Xi adalah cahaya dalam kegelapan yang begitu berharga dan tak tergantikan. “Kalau begitu, tolong lindungi cahaya ini dengan hidupmu. Agar dia bisa selalu bersinar terang dan hangat. Bisakah?” Pinta Ya Ti. Zhan Cheng akhirnya menangis, dia tak tahu apakah dia masih bisa melakukannya. Ya Ti mengusap lembut kepala Zhan Cheng, “Tentu saja bisa. Kau satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Zhan Cheng..perasaan ditinggalkan oleh seseorang yang sudah tiada hanya untuk dikenang, bukan untuk menjadi rintangan. Waktu berlalu, begitu juga dengan orang. Jangan takut untuk mengucapkan selamat tinggal dengan masa lalu. Kau harus menhargai Yu Xi. Selama kau bahagia, Luo Han akhirnya bisa tersenyum bahagia juga.” Zhan Cheng menggenggam tangan Ya Ti, menangis di hadapannya.



2 comments:

  1. Haduhh...mewekk mewekk dah..
    Ditunggu eps slnjutx...
    Semngat...
    Smga sehat selalu
    Aminnn

    ReplyDelete