February 6, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 11 part 2


Setelah pertemuan itu mereka makan siang bersama dan Yu Xi yang mentraktir. Disaat ia melihat pasta Zhan Cheng ada cabainya ia langsung memisahkannya takut mata Zhan Cheng akan iritasi bahkan ia juga masih mengambilkan garpunya untuk Zhan Cheng. Zhan Cheng tersenyum mengingatkannya kalau dia sekarang sudah bisa melihat.


Yu Xi merasa makanannya sangat enak. Zhan Cheng berkata kalau dia tidak pernah mendengar Yu Xi pernah menyebut ada makanan yang tidak enak. Mendengarnya Yu Xi langsung kesal dan mengejek Zhan Cheng dengan mulutnya yang komat-kamit. “Jadi begitu ekspresimu saat aku mengatakan hal yang sama sebelumnya?” “Ekspresi apa? Aku tidak ada berekspresi.” Zhan Cheng pun memperagakan bagaimana Yu Xi mengejeknya, Yu Xi tidak mengaku tapi refleks dia juga mengikuti Zhan Cheng. Ia langsung sadar dan menutupi mulutnya, ia sudah ketahuan kalau itu yang ia sering lakukan saat Zhan Cheng tak bisa melihat. Mereka pun tertawa bersama.



Kebetulan Wei Lian melihat mereka dari luar restoran, ia juga turut senang melihat Yu Xi dan Zhan Cheng tertawa lepas seperti itu. Yu Xi yang berjanji untuk mentraktir tak membiarkan Zhan Cheng membayar billnya, tapi begitu dilihatnya ia terkejut karena makanannya sangat mahal. Zhan Cheng berterima kasih sudah di traktir. Yu Xi pun pamit pergi pada Zhan Cheng dan saat Yu Xi turun ia melihat ke belakang lagi, begitu tahu Zhan Cheng juga melihatnya ia malu dan cepat-cepat berbalik.





Di rumahnya Zhan Cheng, Wei Lian memberitahu tentang tender D12 yang akan ia berikan sebagai hadiah untuk Zhan Cheng sekarang sudah di dalam kotak, tinggal memberikan pita saja. Wei Lian optimis sekali mereka akan memenangkan tender itu. Tapi reaksi Zhan Cheng biasa saja dan itu langsung membuat Wei Lian kesal. Zhan Cheng bertanya memangnya apa yang harus ia katakan. Wei Lian pun berkata seperti “Aku tak sabar”. Zhan Cheng pun mengikutinya. Wei Lian benar-benar kesal, Zhan Cheng sangat membosankan.


Tiba-tiba Wei Lian membicarakan tentang Yu Xi yang sebelumnya membuat rumah Zhan Cheng selalu berisik. Sekarang, malah sunyi seperti perpustakaan. Bahkan saking sunyinya mereka bisa mendengar jarum terjatuh di lantai. “Tapi, meskipun Yu Xi sedikit berisik kulihat kalian berdua akur dan lumayan bergembira.” Zhan Cheng membenarkannya. “Meskipun dia lumayan ceroboh dan terkadang kasar tapi sebagai perawat, dia lumayan perhatian dan pengertian juga pintar menjaga orang, yakan?” “Benar.” “Meskipun temperamennya sedikit buruk tapi dia bertanggung jawab dan mau mengakui kesalahannya. Dia juga..” Zhan Cheng menghentikannya, ia bingung dengan Wei Lian yang berbelit-belit. Ia bertanya sebenarnya apa yang ingin Wei Lian katakan?
Karena sekarang hanya mereka berdua Wei Lian meminta Zhan Cheng tak perlu menyembunyikannya lagi. “Kau meyukai Yu Xi?” tanyanya yakin. Zhan Cheng sedikit terkejut mendengarnya tapi dia hanya diam saja.

Saat Zhan Cheng ingin mengatakan sesuatu padanya gantian Wei Lian yang menghentikannya. Ia mengatakan Zhan Cheng tak perlu bilang. Ini Yu Xi yang mengajarinya, Wei Lian pun menghitung 2001,2002,2003,2004,2005. “Kau baru saja terdiam lima detik. Itu bukan sesuatu yang Fang Zhan Cheng si penentu, biasa lakukan. Jadi, tak apa merindukan dan memikirkan seseorang di masa lalu kita. Tapi, kita masih punya kewajiban untuk hidup dengan bahagia.” Wei Lian pun mengatakan dia mengenal Luo han dengan baik, jadi selama Zhan Cheng serius dengannya (Yu Xi) maka Luo Han takkan menyalahkan Zhan Cheng. Wei Lian yakin pasti Luo Han ingin Zhan Cheng bahagia. Setelah Wei Lian pergi Zhan Cheng sepertinya menyadari apa yang Wei Lian katakan.




Sekarang sudah tiba waktunya untuk tender D12. Saat Bo Yan mengajak Vanessa berangkat tiba-tiba saja Vanessa di telpon mengabarkan kalau ibunya sakit. “Vanessa, jangan khawatir. Presdir akan baik-baik saja.” Ujar Bo Yan. Vanessa meminta maaf, ia tak bisa pergi ke acara tender ini. Ia meminta Bo Yan memberitahunya begitu hasilnya diumumkan.


Sementara itu Yu Xi mendapat telpon dari kantor polisi yang mengabarkan kalau mereka sudah menemukan pelaku kecelakaan itu. Setelah Yu Xi sampai, polisinya memperlihatkan rekaman CCTV yang menunjukkan Bo Yan tertabrak karena sengaja menyebrang. “Nona, kau sendiri juga lihat dia sendiri yang berjalan menabrak mobilku.” Kata si pria. Yu Xi sangat terkejut melihatnya.
Bo Yan sudah sampai di acara tender itu dan satu per satu nilai tender disebutkan dan ketika nilai tender Dept. store Big City disebutkan nilainya adalah 7,26 M. Bo Yan langsung tersenyum penuh arti melihat Wei Lian.




Yu Xi yang sudah pulang dari kantor polisi merasa heran kenapa Bo Yan sengaja menabrakkan dirinya. Tiba-tiba Xiao Lin mengiriminya pesan tentang baju yang akan dia pakai untuk kencan. Yu Xi mengabaikannya tapi sesaat kemudian dia teringat Xiao Lin yang memberitahu nilai tender The Peak yang bernilai 7.05 M pada Wei Lian. Yu Xi kemudian sadar kalau sebenarnya Bo Yan sengaja melakukan ini agar ia melihat dokumennya.


Saat nilai tender Dept. Store The Peak dibacakan, mengejutkan ternyata nilai tendernya sebesar 7,63 M. Ya The Peak lah yang memenangkan tender ini. Wei Lian sangat shock ia tak menyangka bagaimana ini bisa terjadi. Bo Yan dengan wajah liciknya pergi setelah menyunggingkan senyum mengejeknya. Bo Yan memang benar-benar melakukan segala cara cara untuk menang. Dia sengaja menabrakkan dirinya agar ia masuk rumah sakit dan Yu Xi menjadi khawatir padanya. Ia pura-pura mengigau tentang dokumen tendernya agar Yu Xi melihat dan ternyata nilai tender di dokumen itu adalah palsu untuk menjebak Wei Lian. Mendengar kalau The Peak hanya mampu dengan nilai tender 7.05 M jadi Wei Lian mengubah nilai tender mereka yang sebelumnya 7.69 M menjadi 7.26 M.


Yu Xi langsung menghubungi Wei Lian, memberitahu kalau dokumen tender yang mereka lihat sebelumnya adalah palsu. Nasi sudah menjadi bubur, betapa terkejutnya Yu Xi mendengar The Peak lah yang akhirnya menang. Ternyata Bo Yan belum pulang, dia sengaja menunggu Zhan Cheng dan wei Lian. Ia berkata dirinya tak menyangka kalau Big City meremehkan nilai D12 dengan jumlah segitu. “Jadi 7.05 M itu tipuan?” tanya Wei Lian to the point. Bo Yan tentu saja tak mengaku. “Direktur Shen, kau punya imajiasi yang tinggi. Tapi jika memang demikian maka itu membuktikan betapa tak bergunanya dirimu.” Wei Lian emosi dan ingin memukul Bo Yan tapi Zhan Cheng langsung menahan tangannya. Bo Yan terkejut dan sadar kalau Zhan Cheng sudah bisa melihat. Ia tertawa meremehkan, meskipun Zhan Cheng sudah bisa melihat tapi tetap saja dia kalah. “Ya. Kau memang benar. Kami memang kalah sekarang. Tapi sebelum mencapai garis akhir jangan begitu yakin kalau kau sudah menang. Dan juga, tolong sampaikan pesanku pada Vanessa. Selamat.” Ucapnya dengan santai dan mereka pun berlalu pergi.




Saat Bo Yan keluar kantor Yu Xi sudah menunggunya. Yu Xi lalu menceritakan polisi yang menelponnya karena sudah menemukan pelakunya dan pengemudi mobil itu yang bilang kalau Bo Yan sengaja menabrakkan dirinya. Bo Yan hanya bisa terdiam saat Yu Xi mengatakan semuanya terekam di CCTV mobil si pengemudi. Yu Xi bisa menerima kalau di hati Bo Yan dia tidak sepenting pekerjaan dan pelatih pribadinya. Tapi, dia benar-benar tidak bisa menerima terus-menerus dibohongi dan dimanfaatkan. “Baby..ke depannya.” “Takkan ada lagi ke depannya. Yang kau butuhkan bukanlah aku. Dalam duniamu tak pernah ada ruang bagiku selain dirimu sendiri dan pekerjaanmu. Jadi, Bo Yan, kurasa..kita sampai disini saja.” Ucap Yu Xi yang berusaha kuat. Bo Yan menahannya “Baby…aku mencintaimu.” Yu Xi melepas tangan Bo Yan “Lalu, kenapa ada syal wanita lain di kamarmu?” sontak Bo Yan tak dapat berkata-kata lagi.





Malamnya Yu Xi menangis mengirim pesan meminta maaf pada Zhan Cheng. Zhan Cheng langsung menelponnya, ia mengatakan itu bukan salah Yu Xi sama sekali. tapi Yu Xi tetap merasa bersalah, ia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Zhan Cheng mengingatkan Yu Xi tentang apa yang dikatakannya saat mereka bersepeda waktu itu bahwa setiap orang punya pilihan mereka sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Yu Xi tak perlu membuat dirinya menderita dan memikul tanggung jawab yang bukan salahnya. Yu Xi semakin menangis, tak ingin Zhan Cheng tahu ia langsung memutuskan telponnya.



Sementara itu Bo Yan dan Vanessa makan malam merayakan kemenangan mereka. Setelah itu Vanessa memberikan hadiah mobil sebagai penghargaan untuk kerja keras Bo Yan. Bo Yan senang tapi dia mengingat bagaimana saat Yu Xi memutuskan hubungan mereka tadi. Dalam hatinya ia berpikir setelah semua yang di korbankannya apa hanya ini yang ia dapatkan?



Keesokannya Zhan Cheng datang ke rumah Yu Xi. Tapi Yu Xi tidak ada di rumah, ia menenangkan diri. Mama Chen memberitahunya kalau Yu Xi sudah putus dan itu membuatnya lumayan tertekan terlebih lagi dia merasa bersalah pada Zhan Cheng. Karena Yu Xi mau mendengarkan Zhan Cheng, mama Chen memohon agar Zhan Cheng berbicara padanya.



Ternyata Yu Xi ada di pohon legenda itu. Dia sangat menyesali dirinya yang begitu bodoh hingga terus dibohongi dan dimanfaatkan. Zhan Cheng muncul, ia mengatakan Yu Xi yang sekarang sama seperti pria di legenda. Terkubur dalam emosi hingga tak mampu memperhatikan orang yang peduli padanya. Yu Xi tahu satu-satunya yang harus ia lakukan adalah menghadapinya, tapi ia tak bisa melakukannya. Yu Xi menangis, dia juga ingin lebih baik, juga ingin lebih pintar agar ia tak dibohongi dan dimanfaatkan lagi. Tapi apa dia bisa melakukannya? Zhan Cheng mengambil sapu tangannya dan menghapus air mata Yu Xi. “Boss. Kenapa kau begitu baik padaku?” Zhan Cheng terpaku, dia teringat ucapan Wei Lian dan kali ini dia menyadari kalau dia sebenarnya memang menyukai Yu Xi. Tapi ia mengatakan kalau dia hanya ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan.




Zhan Cheng kembali setelah mengantarkan Yu Xi pulang. Yu Xi yang sudah sedikit baikan malah dikagetkan dengan Bo Yan yang lagi bersama mama Chen. Bo Yan berusaha balikan lagi sama Yu Xi tapi Yu Xi tetap dengan pilihannya. Bo Yan sedikit emosi, sejak orangtuanya meninggal saat dia masih 16 tahun beginilah hidup yang harus dia jalani, jadi Yu Xi takkan mengerti bagaimana rasanya bergantung pada diri sendiri. Ia memang tidak mengerti, tapi itu bukanlah alasan Bo Yan untuk berbohong padanya dan memanfaatkannya untuk menyakiti orang lain. Yu Xi meminta agar Bo Yan tidak mencarinya lagi. Bo Yan ingin menahan Yu Xi tapi Zhan Cheng yang tiba-tiba kembali sudah duluan menahan tangan Bo Yan agar tak menyentuh Yu Xi. Bo Yan tak suka Zhan Cheng mencampuri hubungan mereka. Ia bertanya apa posisi Zhan Cheng menilai hubungan mereka. “Posisiku…aku orang yang menginginkan Yu Xi hidup dengan baik.”




2 comments: