March 3, 2016

Sinopsis Someone Like You Episode 19 part 2


Dengan cemas Bo Yan langsung menggendong Vanessa, takut terjadi apa-apa dengannya. Yu Xi yang melihat kejadian itu bertanya pada Zhan Cheng apa yang terjadi. Vanessa sudah dirawat, dokter mengatakan kalau dari awal letak janinnya tidak begitu aman, jadi mereka harus bersiap dengan akibat buruk akan kehilangan bayinya. Yu Xi yang menemani Bo Yan shock dengan apa yang barusan ia dengar. Apalagi dokter itu berpikir kalau Vanesaa adalah istri Bo Yan.


Bo Yan sangat khawatir pada Vanessa tapi saat dia ingin menjelaskan hal ini pada Yu Xi, direktur Gao menelponnya menanyakan keadaan Vanessa. Karena direktur Gao menyurh Bo Yan keruangannya, Bo Yan meminta Yu Xi untuk menjaga Vanessa sebentar dan begitu dia kembali dia akan menjelaskan semuanya.





Zhan Cheng dan Wei Lian menunggu di luar dan saat Bo Yan keluar, Bo Yan langsung mengancam Zhan Cheng kalau sampai Vanessa kehilangan bayinya maka dia akan membuat Zhan Cheng membayarnya. Setelah Wei Lian pergi Zhan Cheng masuk ke ruang rawat Vanessa. Dia menenangkan Yu Xi bahwa Vanessa akan baik-baik saja.



Begitu direktur Gao melihat Bo Yan datang ia langsung menanyakan keadaan Vanessa. Bo Yan pun memberitahu kalau dokter bilang Vanessa menunjukkan tanda keguguran. Tapi sekarang Vanesa sudah tidak apa-apa. Direkur Gao lega, dengan penasaran ia bertanya apa Bo Yan tahu siapa ayah dari bayi itu? “Aku.” Jawab Bo Yan jujur. Direktur Gao terkejut dan dengan emosi menampar Bo Yan. “Kau kira kau siapa? Apa kau layak dengan putriku? Jika dia kehilangan bayinya, itu pasti keinginan Tuhan. Bayi itu seharusnya tak pernah ada.” Teriak direktur Gao. Tapi Bo Yan mengatakan pada direktur Gao kalau Vanessa sangat meninginkan bayi ini. Direktur Gao bertambah marah dan menuduh Bo Yan hanya memanfaatkan anaknya. Bo Yan membantahnya, dia tidak seperti itu. Direktur Gao sama sekali tak mempercayainya, ia akan membuat Bo Yan membayar semua yang telah Bo Yan lakukan pada Vanessa. “Mulai sekarang aku akan menghapuskan jabatanmu.” Kata Direktur Gao dan mengusir Bo Yan pergi.



Dengan perasaan yang campur aduk Bo Yan keluar dan teringat semua perkataan Wei Lian tentang dirinya yang selalu menggunakan trik kotor untuk mencapai tujuannya. Ia memperhatikan berita di televisi yang ada di depannya tentang kecelakaan parah yang disebabkan karena masalah rem. Bo Yan teringat Zhan Cheng yang tadi mendorongnya hingga membuat Vanessa juga terjatuh dan hampir kehilangan bayinya serta Vanessa yang mengatakan kalau Bo Yan juga bisa ambil bagian dalam masa depan bayinya. Ia menggenggam tangannya, menahan amarahnya pada Zhan Cheng. Kemudian ia melihat lagi foto USG Bayi mereka dan memikirkan ancamannya tadi pada Zhan Cheng.




Yu Xi dan Zhan Cheng kembali ke ruangan Ya Ti. Melihat Yu Xi yang seperti memikirkan sesuatu Ya Ti bertanya padanya ada apa. Yu Xi berkata tidak ada apa-apa. Ya Ti pun mengingatkannya kalau dia harus membuat kue dan menyuruhnya pergi sekarang, takut tidak sempat. Yu Xi baru ingat dan kemudian bergegas pergi. Zhan Cheng yang baru dari toilet bertanya Yu Xi mau kemana. Yu Xi berbohong mengatakan kalau Ya Ti kekurangan biskuit untuk dijual di motel. Jadi, dia akan kerumah Zhan Cheng untuk membuat biskuit itu. Zhan Cheng mengijinkannya dan ingin ikut juga. Tapi, Yu Xi yang ingin buat surprise untuk Zhan Cheng melarangnya untuk ikut dan menyuruhnya menemani Ya Ti saja. Yu Xi pun pergi dengan mobil Zhan Cheng.




Saat Yu Xi sudah berada di parkiran dan mengemudikan mobil Zhan Cheng, tanpa diketahuinya bensinnya menetes dibawah. Bo Yan ternyata ada disitu dan melihat perginya mobil Zhan Cheng dengan tatapan aneh. Ia akan kembali keruangan Vanessa dan kaget saat melihat Zhan Cheng masih ada di rumah sakit. Ia langsung menghampiri Zhan Cheng menanyakannya kenapa dia bisa ada disini. Zhan Cheng tak mengerti apa yang Bo Yan bicarakan. “Siapa yang nyetir mobilmu? Siapa yang nyetir mobilmu sekarang?” bentak Bo Yan. Dengan bingung Zhan Cheng menjawab kalau Yu Xi yang menyetir mobilnya. Bo Yan berteriak ketakutan menanyakan Yu Xi pergi kemana. Seperti merasakan sesuatu yang buruk Zhan Cheng langsung berlari cemas meninggalkan Bo Yan. Ya Ti yang kebetulan ada disitu memberitahu Bo Yan kalau Yu Xi pergi kerumah Zhan Cheng.




Di dalam perjalanan Yu Xi menelpon ibunya, memberitahu kalau dia akan ke rumah Zhan Cheng untuk membuat kue. Dia juga sudah meminta Yu An untuk memberitahu Fei Fei agar mereka semua bisa memberi surprise untuk Zhan Cheng. Tiba-tiba telpon terputus karena baterai Yu Xi habis.
Sementara itu Zhan Cheng coba menyetop taksi tapi tak ada yang berhenti sama sekali sambil terus menghubungi Yu Xi yang nomornya tidak aktif. Zhan Cheng sangat cemas dan mencoba terus menghubunginya. Wei Lian datang dan Zhan Cheng cepat-cepat meminjam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Yu Xi dengan bahagia menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Zhan Cheng. Zhan Cheng mecoba menghubungi Yu Xi terus tapi karena ponsel Yu Xi kehabisan baterai tentu saja itu tak bisa. Bo Yan juga mengejar Yu Xi.



Yu Xi menginjak rem tapi ia terkejut karena remnya blong. Ia sangat ketakutan apalagi di depannya ada sebuah truk besar yang sudah semakin dekat. Di rumah sakit tiba-tiba Ya Ti merasakan sakit yang sangat di jantungnya. Bo Yan berhasil menemukan Yu Xi dan mengarahkan mobilnya ke samping Yu Xi. Yu Xi berteriak ketakutan kalau remnya blong.



Bo Yan memintanya jangan panik dan terus coba lagi. Tapi remnya tetap tak bisa. Ya Ti sudah sangat kesakitan, ia mencoba mengulurkan tangan untuk menekan belnya. Sementara itu Yu Xi sudah semakin dekat dengan truk yang ada didepannya dan Bo Yan entah apa yang dia pikirkan dia langsung melaju duluan dan berhenti di depan mobil Yu Xi agar Yu Xi tak menabrak truk besar itu hingga akhirnya mobil Yu Xi menabrak mobil Bo Yan. Tapi disaat terakhir Yu Xi melihat Bo Yan tersenyum ikhlas untuknya.




Dokter menangani Ya Ti yang sudah tak sadarkan diri dan terus mencoba memacu jantungnya. Akhirnya Ya Ti dilarikan ke ruang operasi untuk segera dilakukan transplantasi jantung. Zhan Cheng yang masih ada diperjalanan khawatir saat melihat Ambulance dari arah yang berlawanan.
Vanessa sudah lebih baik. Dokter mengatakan kalau sekarang kondisi bayinya sangat stabil. Tapi, Vanessa harus tetap di tempat tidur dan istirahat yang cukup. Ia sangat senang dan lega, kemudian menelpon Bo Yan untuk memberitahukan hal ini padanya. Vanessa heran kenapa Bo Yan tak mengangkat telponnya.




Zhan Cheng sudah ada di rumah sakit. Tak lama mama Chen, Fei Fei, dan Yu An datang. Zhan Cheng menjelaskan pada mereka kalau Yu Xi mengendarai mobil kerumahnya dan terjadi kecelakaan. Zhan Cheng meminta maaf karena ia tak bisa menjaga Yu Xi dengan baik.
Mama Chen syok dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Fei Fei mengambilkan air untuk menenangkan mereka. Ia menghampiri kakaknya dan mengungkapkan yang sebenarnya kalau Yu Xi ingin memberinya kejutan ulang tahun. Dia buru-buru pergi untuk membuatkan kue ultah untuknya. Zhan Cheng tak tahu dan menyesali Yu Xi yang sudah berbohong padanya tadi.



Akhirnya dokter keluar dari ruang operasi dan memberitahu bahwa kondisi Yu Xi sudah stabil. Tapi, karena kepalanya terbentur dengan keras sekarang dia masih dalam keadaan koma. Semua besyukur dan mama Chen meyakinkan dirinya sendiri kalau Yu Xi akan baik-baik saja.


Sampai malam hari Zhan Cheng terus menjaga Yu Xi sambil menggenggam tangannya. Zhan Cheng teringat “Butterfly Effect” yang pernah dibilang Luo Han bahwa setiap jalan yang kita putuskan untuk ditempuh akan menciptakan konsekuensi tak terduga di masa depan. “Jika hari itu aku tidak memintamu tinggal. Jika aku tidak menyatakan perasaanku padamu. Jika aku setuju putus saat kau memutuskanku. Mungkin yang terjadi hari ini takkan terjadi.” Ucap Zhan Cheng penuh sesal. Ia segera menghapus airmatanya saat seseorang memasuki ruangan. Ternyata itu Wei Lian. Wei Lian memberitahu saat dia melihat Ya Ti tadi kondisinya sudah tidak apa-apa dan bayinya Vanessa juga selamat. Polisi juga sudah melihat CCTV di parkiran dan mengkonfirmasi kalau Bo Yan yang merusak mobilnya. Zhan Cheng bertanya bagaimana keadaan Bo Yan sekarang. Wei Lian mengatakan kondisinya tidak terlalu baik. Wei Lian bertanya khawatir apa Zhan Cheng tak mau istirahat sebentar? Tapi Zhan Cheng tak menggubrisnya seolah tak mendengar ucapan Wei Lian.




Vanessa diberitahu dokter kalau Bo Yan mengalami pendarahan otak, kondisinya sangat kritis. Dokter merasa kalau Vanessa harus bersiap untuk hal yang terburuk. Ia bersandar di tembok, seperti tak kuasa lagi menahannya.


Vanessa masuk ke ruangan Bo Yn dan mencoba tetap tesenyum. Ia bertanya pada Bo Yan apa Bo Yan sudah selesai merekam? Dengan nafas terengah-engah Bo Yan mengucapkan terima kasih. Vanessa menggenggam tangan Bo Yan, “Ada lagi yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya lembut. Bo Yan menatapnya, “Maafkan aku. Aku sudah berjanji untuk menjagamu hingga kau melahirkan bayinya. Tapi..aku tak tahu..apa aku masih mampu melakukannya atau tidak.” Kata Bo Yan dengan suara yang sangat lemah. Vanessa menenangkannya bahwa Bo Yan pasti bisa. Sebelumnya apapun yang Bo Yan janjikan pasti dia penuhi. Kali ini pun, Bo Yan pasti bisa memenuhinya.
“Kau ingat, kau pernah bilang padaku, kau tahu betapa sulit dan sepinya seorang anak dengan orangtua tunggal? Kau tak mau anakmu melalui hal yang sama, kan?”
“Aku sungguh tak ingin.”
“Kalau begitu bertahanlah.” Ucap Vanessa dengan terus mencoba tersenyum dengan menahan air matanya.



Ia meletakkan tangan Bo Yan di perutnya. “Bisa kau rasakan? Bayi ini berusaha yang terbaik untuk tumbuh agar bisa muncul di dunia ini, bertemu dengan ayah dan ibunya. Karena itu, kau harus memenuhi janjimu.”

Vanessa mengingatkannya kalau ia pernah berjanji membiarkan Bo Yan ambil bagian dalam masa depan bayi ini. Jadi, setelah bayinya lahir Bo Yan bisa menggendong dan bermain dengannya. Begitu bayi mereka mulai TK, Bo Yan bisa memegang tangan kecilnya dan membawanya ke sekolah. Saat pekan olahraga, mereka bisa berteriak keras dan menyemangatinya bersama. Anak mereka takkan pernah dibully karena menjadi anak dari orangtua tunggal. “Dia akan selalu bahagia dan gembira. Dia akan diasuh dengan cinta kita dan menjadi anak yang bahagia. Anak yang sangat bahagia.” Kata Vanessa dengan penuh air mata. Bo Yan juga meneteskan air matanya saat mendengar impian Vanessa. Tapi pendeteksi denyut jantung berbunyi. Ya, Bo Yan meninggal dunia.




Vanessa berusaha tegar. Ia mengecup tangan Bo Yan dan mencium keningnya untuk yang terakhir kalinya. “Jangan khawatir. Pergilah dengan damai. Aku pasti berusaha yang terbaik untuk menjaga bayi kita.”



No comments:

Post a Comment