Yankee-kun to Megane-chan Episode 1 - 1



Di sebuah pantai seorang lelaki tengah bersantai. Dari kejauhan terdengar teriakan namanya “Shinagawa Daichi”, jerit ketua geng yang bersama komplotannya. Daichi ( Narimiya Hiroki ) menoleh sedikit dan tak menggubris si ketua geng sama sekali. Dia bahkan menerima tantangan untuk melawan mereka semua yang jumlahnya puluhan orang. Semua menyerbunya dari kiri dan kanan, ketika salah satu dari mereka hendak mengayunkan tongkatnya kearah Daichi, Daichi segera melempar rotinya keatas dan berbalik dengan cepat. Dia melawan mereka satu per satu hingga tinggalah si ketua geng yang wajahnya serem bangett. Dengan sekali tunjangan ia berhasil menjatuhkan ketua geng itu.

Ia menangkap kembali roti yang di lemparkannya tadi dan duduk ditengah orang-orang yang bergelempangan. Tak lama temannya menelpon, memberitahu kalau dia ketangkap sama Geng Akaboshi dan menyuruh Daichi untuk menolongnya. Ia langsung ke tempat itu dan kaget saat melihat kondisi temannya sudah dengan tangan tergantung. Kemudian geng Akaboshi muncul dan menunjuk Daichi, “Kenapa Hurricane Ada?” kata ketua geng itu takut.




Ternyata itu adalah flashback sebelum Shinagawa masuk ke SMA Monshiro. Saat murid-murid lain liat papan pengumuman, mereka mengeluh sial karena sekelas dengan Daichi. Mereka tak habis pikir “preman” sepertinya masuk ke sekolah Monshiro. Kedua cowok itu pun bergosip tentang Daichi yang mendapat julukan “Preman Legendaris”, karena dia tak pernah kalah saat berkelahi. Orang-orang memanggilnya “Hurricane Ada”.

Yang dibicarakan kini malah asyik memandangi pantai dan berniat bolos sekolah. Saat dia melihat cewek2 di pantai tiba-tiba seorang cewek SMA menabraknya hingga mereka berdua terjatuh. Dia adalah Adachi Hana ( Naka Riisa ). Daichi bangun dan bertanya apa tidak apa-apa. Hana tiba-tiba memegang tangan Daichi dan minta untuk digendong sampai SMA Monshiro karena kakinya keseleo. Daichi kesal dan ingin pergi tapi Hana tetap memegang tangannya dan terus memohon sampai ia terseret-seret mengikuti Daichi.


Hana berteriak tidak mau melepaskan tangan Daichi di depan cewek2 yang ada di pantai itu. Karena malu, akhirnya Shinagawa menggendong Hana sampai sekolah. Hana terus protes untuk lebih cepat padahal Daichi udah lari. Hahaha


Mereka sampai juga di sekolah. Daichi menurunkan Hana di depan kelas tapi ia sendiri tidak masuk. Hana mengajaknya masuk, tapi Daichi tak mau karena ia mau bolos hari ini. Ia pergi ke rooftop sekolah sedangkan di kelas diadakan pemilihan siapa yang akan menjadi ketuanya. Saat Wali kelas yang bernama pak Sakai ( Minagawa Sarutoki ) melihat murid yang di sebelah kanannya, murid yang dilihat langsung buang muka semua. Pak Sakai beralih ke sebelah kiri dan murid yang disebelah kiri langsung menundukkan kepalanya kompak. LOL.

Semua tak mau menjadi ketua kelas sampai Hana mengangkat tangannya untuk mencalonkan diri. Lalu ia nyamperin Daichi di rooftop dan melihat Daichi yang lagi tidur dengan sangat dekat, membuat Daichi kaget sampai terjatuh. Hana terus merangkak mengikutinya. Daichi risih padahal Hana cuma ingin mengucapkan terimakasih karena sudah digendong tadi. Daichi berkata tak perlu, lagian siapa dia. Hana pun memperkenalkan dirinya dan mengatakan kalau mereka sekelas tahun ini. Hana bertanya apa Daichi tertarik untuk menjadi ketua kelas? Daichi tidak mau dan Hana sangat bersyukur akan hal itu. Daichi kesal terus diikutin dan menyuruh Hana pergi. Tapi Hana tak peduli, ia malah semakin menempel ke Daichi . Ia berkata meskipun Daichi tak mau jadi ketua kelas, dia harus tetap memberikan suaranya.

Kembali ke 20 menit yang lalu saat Voting ketua kelas...

Pak Sakai  membacakan pilihan murid-murid dan semuanya milih Hana. Hana masih tidak puas dibilang kandidat terkuat karena ada satu orang yang tidak memilih, yaitu Daichi.


Kembali ke masa sekarang..

Daichi jengkel dibuatnya, karena satu suara takkan mengubah apapun. Hana sedih dan ingin mundur saja. Daichi pun pergi, tapi tepat saat itu Hana memegang kakinya hingga Daichi jatuh terjerembap. XD. Daichi sangat kesal dan akhirnya menuruti kenginan Hana untuk memberikan suara. Karena semuanya milih Hana, Hana pun jadi ketua kelas.
Hana sangat senang dan kembali ke tempat duduknya, dibelakang Daichi. Ia berbisik pada Daichi untuk mendukungnya. Daichi yang dari tadi sudah kesal semakin kesal dibuatnya.

Di sebuah klinik seorang kakek tengah diperiksa oleh dokter. Kakek itu mengeluh kalau setiap malam saat dia mau tidur dia mendengar suara. Dokter menebak pasti suara tentangga. Tapi kakek itu berkata itu suara istrinya yang sudah meninggal 8 tahunan yang lalu. Dokter tertawa karena itu yang dari kemarin si kakek ceritakan. Dokter pun memberikan resep obat tidur untuknya.

Daichi sudah pulang sekolah dan berpapasan dengan kakek itu di jalan. Kakek itu berhenti dan mengatakan kalau Daichi akan bertemu dengan gadis yang menyusahkan. Daichi tidak mengerti sama sekali. Si kakek mendekatinya dan berkata kalau dia sedang membicarakan alis Daichi sambil menunjuknya. Si kakek menatapnya dan bertanya apa yang dipikirkan Daichi. Lalu seorang wanita datang memberikan barang si kakek yang ketinggalan. Wanita itu adalah Shinagawa Kairi ( Owada Miho ), kakak Daichi.

                         

Kakek  tak menyangka kalau Daichi tinggal di klinik itu. Dia menyuruh Kairi mendekat agar memperhatikan Daichi yang terlihat seperti punya masalah dengan wanita. Kairi membenarkannya karena wajah Daichi selalu galak. Ia tersenyum dan mengeluarkan sebuah spidol. Kakek tadi langsung memegangi Daichi dan jadilah wajah Daichi dengan bulatan merah di kedua pipinya. Mereka tertawa senang dan si kakek pun pergi.

Daichi tak habis pikir dengan kelakuan kakaknya itu. “Terlahir sebagai anak bungsu cowok adalah awal dari masalah dengan cewek di hidupku.” Narasi Daichi, dan diperlihatkan saat Daichi kecil yang lagi makan es krim. Belum sempat Daichi menyuapkan es krim itu ke mulutnya Kairi langsung mengambilnya dan memakannya sendiri. Daichi ingin mengambil es krimnya, tapi ia didorong Kairi hingga terjatuh. Daichi pun menangis, membuat ayahnya yang duduk disitu kesal. “Hey! Anak tengil” kata Ayahnya yang bernama Shinagawa Chuta. Bukannya mendiamkan mereka ayahnya malah mengangkat dan mengguling-gulingkan Daichi di lantai. Hahaha, jangan ditiru ya!

Saat malam hari, Daichi yang sudah sangat kesal ingin balas dendam pada Kairi yang ia pikir sudah tidur. Ia memukuli Kairi, melampiaskan kekesalannya. Tapi Kairi datang dari belakang dan memukul kepalanya, “Lo 100 tahun kepagian buat ngelawan gue!” kata Kairi. Daichi langsung membuka selimut yang ia pukuli tadi dan ternyata dibawahnya adalah boneka.


Ya, Daichi selalu ditindas sama Kairi dan ia selalu dilatih sama ayahnya. Setap kali kakaknya menindasnya, ayahnya bakal semakin keras melatihnya. Waktu demi waktu berlalu, tanpa sadar Daichi menjadi semakin kuat dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Cewek-cewek langsung mengerubunginya sampai dia SMA. Ada seorang cewek gendut yang memberinya surat cinta. Daichi dengan sopan menolaknya dan ingin pergi. Tanpa sadar ia berjalan mundur ke belakang dan menyenggol temannya yang lain hingga jatuh terguling di tangga. Sejak itu ia mulai punya musuh dan berhasil mengalahkan mereka semua sendirian bahkan sampai ada yang mati. Dalam narasinya Daichi berkata sebenarnya dia gak suka berantem tapi dia gak bisa menghindar dari itu. Karena itulah dia di cap sebagai preman dan semua orang takut berteman dengannya.

Kembali ke masa sekarang...

                            

Daichi membersihkan wajahnya. Ia kesal karena Kairi menyoretnya dengan spidol permanen. Bahkan ia sampai meludahi tisu untuk membersihkan wajahnya itu. HAHAHA.
Daichi turun dengan dua plaster di pipinya. Shinagawa Kiyo ( Hori Chiemi ), ibunya, bertanya heran apakah Daichi berkelahi lagi. Kairi langsung menarik plaster di pipi Daichi. Ibunya tertawa dan menyuruh Daichi jangan malu-malu. Daichi kesal, semua orang bilang begitu padanya. Ia mengadu pada ibunya kalau itu kerjaan Kairi dan harusnya jangan pakai spidol yang permanen. Kairi berkata itu tidak mungkin. Kalau pakai spidol yang tidak permanen nanti mantranya tidak akan berhasil. Ibunya bertanya mantra apa dan Kairi menjawab mantra untuk makin pintar.

“Dasar bego! Kebegoannya itu mirip siapa, ya?” kata Ayahnya.

“Sebenarnya mereka meloloskannya dengan peringkat yang pas-pasan. Masuk ke sekolah itu aja sudah keajaiban.” Jawab Kairi.

Ibunya juga berpikir pada awalnya Daichi masuk bukan karena hoki aja tapi pada akhirnya emang karena hoki doang. Mereka bertiga pun menertawai Daichi.

“Dia mirip sekali denganku. Maafin ibu, Daichi.” Kata ibunya dan mereka lanjut tertawa lagi. Sedangkan Daichi hanya bisa diam dengan wajah kesal melihat keluarganya sendiri bahkan menindasnya juga.


Suatu hari, di sekolah pak Sakai mengumumkan akan adanya perayaan berdirinya SMA Monshiro. Dia meminta pendapat murid2 nya apa yang akan mereka lakukan untuk menyambut hari itu. Saat pak Sakai melihat mereka semua, murid2 langsung menundukkan kepalanya, tak ada yang mau memberikan ide. Hana mengangkat tangannya, semua murid meliriknya kesal.

Entah apa yang terjadi selanjutnya, karena lagi-lagi Hana menemui Daichi di rooftop. Dengan nempelin kedua tangannya di dagu Hana bertanya apa Daichi jago gambar? Hana menjelaskan untuk merayakan berdirinya sekolah mereka, dia ingin meninggalkan jejak dari kelas 2A untuk SMA Monshiro yang sudah 80 tahun. Daichi tak peduli sama sekali , ia hanya menyemangati Hana. Tapi Hana juga memintanya ikut dan berjuang bersama mereka. Daichi hendak pulang saat ia mendapati Hana mematahkan rok**k nya dan membuangnya ke air.

Keesokan harinya ketiga cewek kelas 2A mengejek ide Hana untuk menggambar yang seperti anak SD saja dan mengatai Hana sebagai maniak ketua kelas. Daichi dari atas mendengar obrolan itu dan tiba-tiba dari belakang pak Sakai datang dan mengalungkan rol segitiga ke kepala Daichi.
Di kelas, Pak Sakai menerangkan pelajaran matematika dan meminta Daichi menjawab soalnya. Daichi yang menutupi wajahnya dengan buku menjawab santai kalau dia tidak tahu. Si wali kelas kesal dan bertanya apa Daichi tidak mau belajar. Tanpa takut sedikitpun Daichi menjawab “Ngapain juga?”. Haha, badung banget.


Murid yang pakai kacamata, Izumi Gaku, angkat bicara dan menyuruh Daichi pulang saja kalau memang tak mau belajar. Ia berkata pada pak Sakai kalau keberadaan Daichi sangat mengganggu mereka. Gaku maju kedepan dan menjawab semua soal matematika di papan tulis, membuat semua tercengang dan ternyata semua jawabannya benar. Seisi kelas memujinya jenius, tapi Dachi tampak tidak suka mendengarnya dan keluar begitu saja tanpa peduli sedikitpun bahkan membanting pintunya.

Ia berjongkok di depan sekolah menunggu temannya datang menjemput. Mereka lalu pergi dan temannya itu yang bernama Nerima Seiun menertawai Daichi yang tampak bete padahal dia juga udah bilang kalau preman kayak Daichi harusnya masuk ke sekolah gak jelas kayak dia. Mereka berhenti dan melihat Hana sedang menuruni tangga sambil membawa barang2 untuk menggambar. Daichi memberitahu kalau itu adalah ketua kelasnya. “Cewek berkacamata itu? Dia kelihatannya anak baik-baik. Dia nggak masuk tipe lo.” Kata Seiun dan tertawa saat melihat barang2 yang dibawa Hana berjatuhan semua. Seiun berkata kalau sekolah yang punya siswa kayak gitu memang gak pantas untuk Daichi.


Hana membawa peralatan gambar itu ke sekolah dan murid kelas 2A sudah berkumpul untuk membuat mural. Ketiga cewek tadi curiga ada sesuatu dengan Hana dan Daichi saat Hana berlari menghampiri Daichi untuk mengajaknya menggambar. Daichi tidak mau. Hana terus memaksanya bahkan sampai berlutut dan bereteriak di depan Daichi agar Daichi mau ikut. Teman2 yang lain berkumpul melihat mereka dan sekali lagi Daichi terpaksa menuruti kemauan Hana.

Ia mengecat asal-asalan. Gaku yang mengecat di sebelahnya menegurnya karena warnanya salah. Gaku menyuruhnya untuk benerin tapi ia tak mau dan pergi begitu saja.

“Lo selalu lari dari masalah semacam ini. Makanya semua ngejulukin lo preman.”

“Apa lo bilang. Coba ulangin sekali lagi!” balas Daichi dan langsung menarik kerah baju Gaku. Hana datang memisahkan mereka. Setelah Daichi pergi Hana meminta semuanya tetap lanjut menggambar.



1 comment: