Flying Colors part 2


Latihan untuk sekolah dasar sudah selesai. Sekarang saatnya Sayaka untuk belajar mata pelajaran yang di teskan di Keio yaitu Literatur, bahasa inggris, dan Essay. Dan untuk yang pertama Tsubota sensei mengajarkan sejarah Jepang pada Sayaka. Sayaka tidak punya kamus, jadi Sensei memberikan rekomendasi kamus untuk Sayaka, karena saat tes di Keio diperbolehkan untuk membawa kamus.

Tsubota sensei tiba-tiba bertanya tentang rambut Sayaka yang pirang. Sayaka berkata dia hanya mewarnainya selama liburan musim panas ini. Tsubota sensei yang tahu kalau Sayaka di skors berpikir kalau Sayaka tidak boleh main. Namun sebaliknya, Sayaka jadi lebih bebas main. Ia menunjukkan schedule nya bersama teman-temannya.



Untuk mendisiplinkan Sayaka, Tsubota sensei pun memberikan game hukuman jika Sayaka tidak belajar. Jika Sayaka tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan maka ia harus melepaskan bulu mata palsunya. Sayaka protes nanti dia akan kelihatan jelek. Tapi sensei berkata jika hasil tes Sayaka besok bagus maka Sayaka bebas memakainya lagi.

“Sensei, kalau tidak perhatian nanti gak punya cewek loh.” Kata Sayaka tiba-tiba.

“Ah, itu sedikit menyakitiku. Tapi waktu aku muda, aku punya rambut yang panjang.”

“Ah, ga mungkin! Aku ingin lihat fotonya.” Ucap Sayaka senang.

Murid lain juga tertawa mendengarnya. Sensei berjanji jika Sayaka menguasai materi bahasa inggris tingkat SMA di musim panas ini, dia akan menunjukkannnya. Sayaka jadi semakin semangat. Dia tetap belajar meskipun lagi hang out bareng teman-temannya. Dia pun berhenti sejenak dan menyanyikan lagu favoritnya, Heavy Rotation .
Sepanjang perjalanan pulang Sayaka terus menghapal pronoun dalam bahasa inggis. Semangat Sayaka perlu banget kita tiru..


Ibu menyiapkan makan malam untuk ayah dan Ryuta. Sayaka yang lagi belajar merasa terganggu dengan suara ribut ayahnya. Ibu meminta maaf, hanya untuk hari ini saja karena Ryuta menang kejuaran baseball. Sayaka kaget mendengarnya. Ayah langsung membandingkan Sayaka yang tidak sehebat Ryuta, apalagi Ryuta akan mendapat beasiswa masuk SMA untuk pemain baseball. Sayaka tentu kesal diremehkan begitu, ia pun masuk ke kamarnya dan terus belajar.


Akhirnya Sayaka berhasil mengerjakan tes dari Sensei. Sensei puas, Sayaka bisa menguasai materi bahasa inggris SMA hanya dalam waktu 3 minggu. Sayaka pun menuntut janji Sensei untuk menunjukan foto jadulnya. Sensei memberikannya pada Sayaka dan betapa kagetnya Sayaka saat melihat foto itu.

“Woa, apa ini? Jelek banget! Hey, semuanya! Lihat, lihat.” Kata Sayaka. Alhasil seisi kelas tertawa melihat foto jadul sensei dengan rambut panjangnya.

“Kalian ini benar-benar… aku juga pernah berambut pirang.” Ucap Sensei.


Sayaka melihat ada banyak domba di foto itu. Sensei pun memberitahu kalau foto itu saat dia menjadi mahasiswa pertukaran di New Zealand. Salah satu murid bertanya tentang masa SMA sensei hingga Sensei akhirnya bercerita tentang dirinya yang tidak suka sekolah dan sering bolos. Dia benar-benar tidak tertarik dengan pelajaran, juga tidak termotivasi.

“Guruku bilang ‘daripada kamu malas-malasan lebih baik kamu mati saja’. Jahat sekali kan?”
“Sayaka juga dibilang sampah.”
“Eh? berarti kita mirip ya ?” kata Sensei sambil mengangakat tangannya ingin high five.
“Ya, tapi Sayaka nggak jelek kayak Sensei kok.” Ledek Sayaka yang langsung membuat semuanya tertawa.. LOL

Lalu seorang murid bertanya lagi kenapa Sensei bisa menjadi tutor di tempat kursus. Sensei pun bercerita bahwa awalnya dia menemukan lowongannya di koran. Ternyata dia menemuka sesutau yang menarik bahwa sekolah adalah tempat belajar dengan penuh karakter yang berbeda. Di kursus dia bisa menyesuaikan metode mengajarnya dengan tiap siswa yang berbeda dan bisa merubahnya sesuai keadaan. Bisa menggali keluar potensi yang dimiliki siswa. Itulah mengapa dia setuju dengan ide presiden. Sensei melihat ke arah bapak tua yang dipikir murid-murid sebagai tukang bersih-bersih ternyata adalah presiden di kursus itu.
Perhatian sensei teralih saat melihat Sayaka yang tertidur pulas. Mori juga kaget melihat buku schedule Sayaka yang penuh dengan waktu main, bahkan tak punya waktu untuk tidur.


Sayaka sudah kembali sekolah. Ia lagi-lagi tidur di kelas dan membuat Nishimura sensei yang tengah mengajar bahasa inggris menegurnya. Nishimura sensei meminta Sayaka serius belajar agar bisa direkomendasikan nantinya. Sayaka berkata tidak perlu, karena dia akan masuk Keio. Nishimura sensei dan semua tertawa tak percaya.

“Kamu bercanda? Bagaimana bisa sampah sepertimu masuk Keio?” Kata Nishimura Sensei.

“Lalu, Sensei. Bagaimana jika dia diterima?” tanya teman Sayaka di belakang.

“Aku akan te*****ng bulat dan handstand keliling sekolah.”

Semua murid langsung heboh dengan taruhan itu. Nishimura sensei lalu bertanya jika Sayaka tidak lolos. Teman-temanya bertaruh hal yang sama. Namun Nishimura menyuruh Sayaka menyerah saja.

“Tidak mungkin aku menyerah setelah sampai disini. Ibuku telah bersusah payah membayar biaya kursusku. Aku terima. Kudo Sayaka akan lulus ujian masuk universitas Keio!” ucapnya penuh semangat. Semua temannya pun bertepuk tangan menyemangatinya.


Ketika di kursus nilai reading Sayaka tidak juga naik. Sayaka berkata bahwa dia tidak paham dengan topiknya. Sensei bertanya arti dari judul text “Is there a Santa Clause”. Sayaka menjawabnya dengan benar tapi jawaban dari pertanyaan itu masih menjadi misteri menurutnya.
“Sayaka, mungkinkah kamu.. berpikir Santa Clause benar-benar ada?”
“Kan dia muncul di TV.”
“Apa? Ultraman juga ada di TV, kan?”
“Masa, yang bener? Jadi itu bohongan? Wow, aku benar-benar ga nyangka!” ucap Sayaka frustasi.
Tsubota sensei berkata bahwa dalam kasus ini nalar dan pengetahuan Sayaka setingkat dengan ultraman. Bwuahaha
Sensei pun menyarankan agar Sayaka lebih banyak membaca agar nalar dan pengetahuan bisa dipahami.

Ayah baru saja membeli peralatan baseball untuk Ryuta untuk mendukungnya bermain lebih bagus. Ibu meminta ayah juga memperhatikan Sayaka. Ayah berpikir kalau Sayaka itu sangat membencinya. Namun ibu merasa ayah dan Sayaka sangat mirip dalam banyak hal, kikuk dan juga keras kepala. Apa yang Sayaka katakan tidak mungkin ditariknya kembali. Menurut ayah sangat mustahil Sayaka lulus ujian. Bermimpi yang tidak mungkin hanya akan menyakiti dirinya nanti. Ibu melarang ayah berkata begitu. Mereka sebagai orang tua harus percaya dengan kemampuan anak. Ayah pun pergi, kesal karena dibantah ibu.


Setelah pulang sekolah, Sayaka duduk di lapangan tempat ia biasa bermain dulu. Ia melihat seorang ayah yang menggendong putrinya dibelakang. Ia terbayang saat ayahnya juga melakukan hal yang sama saat masa kecilnya dulu. Lalu Reiji datang menghampirinya. Sayaka bertanya kenapa Reiji ikut kursus. Reiji menjawab untuk membalas dendam pada ayahnya.



Flashback..
Tsubota sensei menyarankan cara balas dendam yang bagus untuk Mori. Super Mario mengalahkan musuhnya. Dia kemudian menyelamatkan Putri Peach, tapi Mario mendorong sang putri jatuh dari menara. Sang putri tentu akan jatuh dalam penderitaan.
“Benar-benar kejam ya!” kata Reiji tertarik.
“Iya. Pertama... kamu masuk kuliah. Lalu belajar dengan giat agar masuk fakultas Hukum.”
“Bukankah itu akan membuat ayahku senang?”
“Tapi jangan menjadi seorang pengacara. Biarkan ayahmu jatuh dalam penderitaan di masa depan. Bagaimana? Benar-benar kejam, kan?”
Flashback end..

Sayaka berkata kalau Reiji juga sudah terkena sihir Tsubota sensei. Reiji merasa Sensei sangat keren. Sensei memancingnya dengan mendiskusikan game. Sensei bahkan mempelajari semua kesukaan muridnya.
“Tapi kamu keren juga.”
“Eh, kenapa?”
“Meskipun kamu sangat bodoh, kamu masih terus berusaha.”
Tiba-tiba Reiji berterima kasih pada Sayaka. Karena ada Sayaka, dia berpikir harus melakukan yang terbaik juga.


Mereka berdua sudah sampai di tempat kursus. Namun Sayaka melihat Tsubota sensei pergi dengan Nishimura sensei. Ada apa?
Nishimura sensei membahas tentang sekolah resmi mereka yang bisa merekomendasikan siswanya ke universitas manapun. Dia mendengar rumor tentang Tsubota yang menjalankan kursus untuk anak-anak bermasalah. Tsubota sensei membantah kalau dia hanya ingin membantu. Nishimura sensei meminta agar Tsubota tak memberikan kursus untuk Sayaka. Walaupun sayaka sudah belajar giat, siswa yang tidak mampu hanya akan tidak mampu.

“Pak Nishimura. Saya pikir tidak ada siswa yang tidak mampu. Yang ada hanya guru yang tidak bisa mnegajarinya.” Ujar Tsubota sensei.

Nishimura sensei pun bertanya sudah berapa banyak murid Tsubota yang mendaftar di Keio. Tsubota sensei menjawab hanya Sayaka lah saat ini. Nishimura mengatai Sayaka sebagai sampah yang tidak mungkin untuk itu. Tsubota sensei tidak terima anak muridnya dibilang sampah.

“Sayaka bukanlah sampah. Dia memiliki kemungkinan yang tidak terbatas. Dia anak yang baik.” Balas Tsubota sensei.

Sayaka yang mengikuti mereka tersentuh mendengar apa yang dikatakan Tsubota sensei. Tsubota sensei bahkan memohon agar Nishimura tak memanggil Sayaka seperti itu lagi. Jika seorang murid dibilang bodoh, maka dia akan berpikir dirinya benar-benar bodoh. Mereka mungkin kehilangan percaya diri. Walaupun dia sendiri dia tetap akan membantu Sayaka. Nishimura sensei pun pergi dari situ. “Aku akan lulus, kamu juga harus lulus!” ucap Reiji yang semakin termotivasi melihat perjuangan Sayaka dan Tsubota sensei. Sayaka menganggukkan kepalanya yakin.


Sayaka menempeli catatan kecilnya di sepanjang tembok. Ayah bingung melihat itu semua, tapi saat ada catatan yang terjatuh Ayah menempelkannya kembali.

4 comments:

  1. kirain bakal beres di part 2.. mau dibuat berapa part? :D

    ReplyDelete
  2. makasih sudah berkunjung..:) sekitar 4 or 5. durasinya lama jd agak banyak deh

    ReplyDelete
  3. Sinopsisnya bagus, bahasanya mudah dipahami, semangat lanjutannya ^^

    ReplyDelete
  4. Sinopsisnya bagus, bahasanya mudah dipahami, semangat lanjutannya ^^

    ReplyDelete