April 22, 2016

Flying Colors part 3


Sayaka semangat sekali belajar. Ia menceritakan kisah-kisah sejarah dari Manga yang diberikan Tsubota sensei pada ibunya. Ibu juga bahagia Sayaka akhirnya bisa berubah. Sayaka mengatakan saat dia dewasa nanti dia juga ingin menjadi seperti sensei.

“Sama seperti sensei?” tanya ibu bingung

“Demi masa depan yang cerah bagi orang lain. Orang yang membantu orang lain berjuang meraih yang terbaik.” Ucap Sayaka tersenyum.

Malam itu, ibu menemui sensei di tempat kursus dan mengucapkan terima kasih padanya. Sensei mengatakan kalau Sayaka seperti itu karena dia selalu memikirkan ibunya dan sangat menyayanginya. Ibu bercerita kalau dulu dia sering dimarahi ibunya, makanya sekarang dia ingin membuat anak-anak bahagia melakukan berbagai hal. Tak peduli apa yang dikatakan orang. Jika semua orang menjadi musuh anak-anaknya, dia akan selalu ada untuk mereka.
Tsubota sensei memberitahukan perkembangan Sayaka yang bisa belajar dengan cepat. Tapi sayangnya, Sayaka sudah agak terlambat. Saat ini agak mustahil untuknya bisa masuk ke Keio.



Ibu memutuskan agar Sayaka ikut kursus 6 kali dalam seminggu. Karena biaya yang semakin mahal, ibu meminta ijin pada Mayumi untuk menggunakan tabungannya untuk membayar itu. Ibu berjanji akan mengembalikannya. Mayumi mengerti, lagipula ayah tidak bisa di andalkan. Ibu meminta maaf padanya karena tidak bisa menjaga Mayumi, dia akan bekerja di malam hari. Ibu pun memeluk Mayumi.

Sayaka ternyata mendengar semuanya. Esok harinya, dia menemui sensei dan menanyakan biaya kursus itu. Presiden kursus meberikan Sayaka amplop yang isinya sangat banyak. Tsubota sensei mengatakan bahwa ibu Sayaka memberikan itu kemarin. Tapi itu bukan jaminan untuk diterima.

“Ibumu juga bilang apapun hasilnya tidak masalah. Sejak Sayaka ikut kursus ini, kamu benar-benar terlihat bahagia. Itu saja cukup katanya.” Sayaka berkaca-kaca.


Malam harinya ibu bekerja. Sementara itu Sayaka pergi dengan teman-temannya. Namun ia selalu membawa buku pelajaran. Temannya melihat hal itu. Saat mereka akan pulang, Sayaka diajak ke suatu tempat, ada yang ingin dibicarakan dengannya.
Mereka pergi ke Onsen (Pemandian air panas). Sayaka terlihat sedikit enggan, ia langsung menanyakan apa yang ingin dibicarakan ketiga temannya itu.

“Kami tidak mau bermain lagi denganmu..karena kamu terlalu memaksakan diri.”

“Aku tidak memaksakan diri kok. Aku ingin bermain dengan kalian.”

“Misalkan jika nanti kamu gagal, itu pasti karena kami. Kami tidak ingin itu terjadi.”

Sayaka tampak sedih. Ia bertanya apa mereka membencinya. Mereka sama sekali tidak membenci Sayaka. Apapun yang dikatakan orang, tapi Sayaka tetap berjuang. Itu sangat keren. Mereka juga ingin menentukan tujuan hidup. Apa jadinya nanti jika mereka punya anak mereka tidak bisa mengajarinya apa-apa. Mereka hanya ingin Sayaka lulus. Sayaka menangis dan beterima kasih pada mereka semua.


Waktu berlalu, Ryuta sudah menjadi rookie dan Mayumi sudah masuk SMP. Untuk merekam momen itu, mereka foto keluarga bersama. Tsubota sensei membaca hasil karangan Essay Sayaka. Ia mengalami peningkatan yang luar biasa. Tsubota sensei pun memuji hasil Essay nya yang sudah bagus. Juga menyarankan agar Sayaka menulis pendapat yang perlu ditulis dan mengambil acuan beita dari Tv atau Koran. Pendapat-pendapat seperti itu perlu di tonjolkan.

Atas saran dari Tsubota sensei Sayaka mulai menonton berita sehingga Mayumi yang ingin menonton acara lain harus mengalah. Esok harinya, Sayaka berdiskusi tentang berita yang dilihatnya kemarin. Sensei senang, akhirnya Sayaka bisa mengerti tujuan dari manusia hidup yaitu.. belajar.


Sayaka tiba-tiba permisi dengan alasan pusing karena terlalu banyak membaca. Reiji dan Sensei heran karena Sayaka tak pernah seperti ini sebelumnya. Sayaka menyendiri di rooftop. Tak lama Sensei datang menemui Sayaka. Sayaka berpikir ini tak ada gunanya. Rasanya ia ingin berhenti. Sensei menunjukkan sebuah telur yang ia sebut Clara. Ia bertanya apakah telur ini bisa berdiri? Sayaka menjawab itu bulat, jadi tidak mungkin. Sensei berkata itu mungkin kalau mereka menyeimbangkannya.

Sensei mencoba membuat telur itu berdiri. Meskipun sedikit susah tapi dengan usaha akhirnya telur itu bisa berdiri. Sayaka sangat kagum melihatnya.

“Tapi kamu tahu telur tidak bisa berdiri, kan? Hanya karena fakta tersebut, lalu kamu menyerah begitu saja. Clara tidak percaya apa yang dikatakan Heidi bahwa dia tidak bisa berdiri walaupun sebentar. Karena itu, diamana ada kemauan.. disitu ada jalan.”

Sayaka melihat telur itu, “ Sayaka mengerti. Sensei percaya Sayaka bisa masuk Universitas Keio. Ibu juga percaya. Aku akan kembali belajar.” Ucap Sayaka semangat kembali.
Untuk melawan keinginannya main, Sayaka bahkan rela untuk memotong rambutnya. Teman-temannya mengerti dengan keputusan Sayaka ini dan memangkas rambut Sayaka hingga menjadi pendek.

Saat ia datang ke kursus, Sensei dan Reiji sempat tidak mengenali Sayaka yang berubah total. Bukan hanya rambutnya tapi juga pakaiannya. Sayaka datang dengan memakai jaket dan training olahraga.


Ia semakin giat belajar lebih dari biasanya. Ibu juga terus bekerja di malam hari demi Sayaka. Sedangkan pekerjaan rumah diambil alih oleh Mayumi. Sayaka duduk terpisah dari teman-temannya. Karena belajar sampai malam, akibatnya ia selau ketiduran di kelas.

Ibu dipanggil ke sekolah lagi. Nishimura Sensei melaporkan tentang Sayaka yang selalu ketiduran hampir di setiap jam pelajaran. Ibu meminta maaf dan memohon agar Sayaka bisa diluluskan. Kalau tidak, dia tidak bisa lanjut kuliah. Ibu berkata kalau Sayaka benar-benar berjuang keras. Dia belajar di kursus sampai malam. Bahkan saat sudah di rumah, Sayaka masih belajar sampai pagi. Jadi Sayaka tidak punya banyak waktu untuk tidur, keculi saat dia di sekolah. Ibu terus memohon pada Nishimura Sensei. Nishimura Sensei akhirnya berbaik hati namun dengan satu syarat, jangan sampai Sayaka mengganggu yang lain belajar. Sejak itu Sayaka hanya tidur di sekolah.

Saat di kursus, seseorang datang yang langsung membuat perhatian Sayaka dan Sensei teralih. Ya, dia Reiji yang muncul dengan tampilan baru, merubah gaya rambutnya, ditambah kacamata. Sayaka segera menghampirinya, bertanya Reiji kenapa. Reiji mengatakan kalau ini karena ada cewek yang suka padanya. Agar cewek itu tidak menyukainya lagi, jadi seperti Sayaka, dia merubah gaya rambutnya. Tapi menurut Sayaka, Reiji yang seperti ini malah terlihat lebih ganteng. Sontak Reiji kaget mendengarnya dan mengatai Sayaka pembohong. Iya juga sih, Reiji jadi lebih rapi dan ganteng kayak gitu.

Sayaka lanjut belajar lagi. Sekarang Sayaka sudah bisa membaca teks panjang dalam bahasa Inggris. Tapi sejarah Jepang Sayaka benar-benar kacau. Sensei pun bertanya apa yang di temukan oleh Fukuzawa Yukichi. Sambil menghitung mundur Sensei meberikan clue kalau itu adalah tempat yang mau Sayaka datangi.

“Aku tahu! Barbeque!” Tebak Sayaka yakin.

“Universitas Keio looh!” kata Sensei frustasi.


Esok harinya Sayaka ikut test kursus. Ia mengerjakannya dengan sangat serius namun saat hasil test nya sudah keluar ia sangat kecewa karena ia mendapat nilai E semua. Sensei menghiburnya kalau hasil yang didapatkan Sayaka sudah lebih baik. Yang perlu Sayaka tingkatkan adalah Sejarah Jepang.


Di rumah, Ayah marah-marah saat mengetahui Ryuta tidak ikut latihan selama seminggu. Ryuta diam saja. Ayah semakin emosi dan menampar Ryuta. Ayah menuntut Ryuta untuk menjadi pemain resmi di seleksi nanti lalu pergi ke Koshien. Ibu dan Mayumi ketakutan melihat sikap Ayah. Sayaka juga melihatnya.

“Ayo! Sekarang kita ke pelatihmu dan minta maaf.” Paksa Ayah. Ryuta tidak mau, karena terus dipaksa ia pun mendorong Ayahnya sampai terjatuh.

“Aku sudah muak dengan baseball. Aku sudah tahu. Banyak orang hebat disana! Aku tidak bisa mengimbangi mereka. Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, aku tidak akan bisa menjadi pemain regular. Persetan dengan baseball pro. Mimpi itu cuma mimpi.”

“Apa katamu Ryuta? Kamu pasti bisa! Kamu pasti bisa melakukannya, selama ada kemauan.” Kata ayah memberikan semangat.

Rytuta tidak ingin mendengar apapun lagi, ia pergi ke kamarnya. Disana Sayaka bertanya apa Ryuta serius? Ryuta sudah berusah keras untuk bisa sampai di tahap ini. Lalu dengan sedikit lagi…
“Kamu pikir di dunia ini hanya dengan sedikit mencoba, maka kamu akan mendapat yang diinginkan? Aniki (kakak tertua), kamu juga. Lebih baik lupakan mimpi bodohmu itu. kamu pikir beneran bisa diterima di Universits Keio?”
Sontak ucapan itu langsung membuat Sayaka down.


Ia mengikuti test kursus kedua. Hampir putus asa ia mengerjakannya, namun hasilnya tetap sama. Ia mendapat nilai E. Sayaka lelah dengan semua ini.
Di kursus, Sensei memuji bahasa inggris Sayaka yang semakin meningkat. Masalahnya tinggal Sejarah Jepang. Dengan fokus belajar 16 volume manga sejarah jepang, maka Sayaka akan mengerti.

“Sensei. Sudah cukup. Tidak masuk Keio juga tidak apa-apa.”

“Apa kamu serius?”

“Untuk apa aku belajar? Aku sudah tidak tahu alasannya. Aku hanya menderita saja, tidak lebih.” Jawab Sayaka.

Sensei pun menyuruh Sayaka pergi ke Tokyo mengunjungi Universitas Keio. Sayaka menolak, itu hanya akan membuatnya semakin kosong. Sensei berkata bahwa Sayaka tidak ingin terluka, jadi dia menurunkan standar tujuannya . Masih mau bermain-main? Mau bisa tidur? Sekarang saatnya Sayaka melakukan yang terbaik.
Sayaka menghentak meja, “Sayaka selama setahun ini, setiap hari.. siang dan malam.. selalu melakukan yang terbaik, belajar!” ucapnya frustasi.

“Target yang kamu turunkan lama-lama hanya akan semakin rendah.”

“Tidak ada hubungannya, kan? Dari awal, aku memang sudah disebut sampah. Tidak seperti Sensei, aku tidak bisa selalu positif, seolah tidak terjadi apa-apa.”

“Ya sudah, menyerah saja. Dengan sikap seperti itu, kamu tidak akan diterima dimanapun.” Kata Sensei .

1 comment:

  1. WOW!!!!! aku suka suka suka bgat ceritanya.sampai saat ini aku masih merasa seoerti sayaka.aku berharap stlh slesai bca ni sinop,smat ku bakal balik lagi

    ReplyDelete