Flying Colors part 4


Sama seperti Sayaka, Sensei juga tampak sedih dan sebenarnya sangat ingin Sayaka berhasil. Ditengah derasanya hujan, ibu yang lagi bekerja dikejutkan oleh Sayaka yang berdiri di luar. Sayaka menangis, membuat ibu sangat cemas dengan kondisinya. Sayaka memeluk ibu dan terus meminta maaf.

Setelah dirumah, ibu menyetujui Sayaka berhenti kursus jika Sayaka merasa tidak sanggup lagi. Sayaka sudah berusaha dengan keras. Sayaka bertanya kenapa ibunya berkata seperti itu. Ibu lalu bercerita tentang masa kecil Sayaka yang waktu bayi selalu gemetar, mudah sakit, dan selalu menangis. Ibu hampir tidak pernah tidur nyenyak. Saat itu Ayah baru memulai bisnisnya, jadi ayah sangat jarang dirumah, dia selalu memikirkan masa depan. Ibu lah yang mengurus semuanya. Tapi Sayaka sangat rewel. Ibu mulai menyalahkan segalanya. “Aku mohon, jangan siksa aku lagi” pinta ibu saat itu. Ibu mulai membenci dirinya sendiri dan menangis bersama Sayaka. Lalu, Sayaka kecil tiba-tiba selalu tertawa, seolah berkata “Aku masih disini, jangan menangis lagi”. Itu membuat ibu sadar bahwa selama dia bisa melihat anaknya tersenyum, dia juga bahagia.

Sayaka menangis, “Ibu kenapa kau menikah dengan Ayah seperti itu?”

“Memang tidak terlihat begitu, tapi sebenarnya dia orang yang baik. Jika ada orang yang butuh bantuan dia pasti akan membantunya. Walaupun dia tahu dia tidak bisa memenuhi sebuah janji, dia tetap akan berusaha semampunya.” Jawab ibu tersenyum.

Ibu memberitahu kalau Ayah dulunya juga ingin masuk Keio dan ingin jadi pemain baseball pro. Itu semua adalah mimpinya. Tapi ayah tidak bisa mewujudkan itu. Ayah pun berusaha keras masuk ke universitas lain, tapi pada akhirnya, kesempatan untuk menjadi pemain baseball pro pun tidak didapatkan.

Ayah minum-minum seorang diri. Disebelahnya ternyata ada Sensei yang stress memikirkan masalah muridnya, Sayaka. Ayah menanggapi perkataan Sensei bahwa seorang guru tidak bisa melakukan apapun. Bahkan orangtuanya saja tidak bisa berbuat apa-apa. Sensei berpikir kalau orangtua dan guru, mereka bisa melakukan hal yang benar. Mereka sudah didikte untuk percaya hal itu.




Esok harinya, saat Reiji datang ia mendapati kalau Sayaka tidak masuk. Dimanakah Sayaka? Sayaka hanya di rumah, ia berubah menjadi pendiam. Tiba-tiba terdengar teriakan ayah dari luar. Sayaka cepat-cepat turun, dan melihat Ayah mengamuk lagi pada Ryuta. Ternyata Ryuta minum2 dan ditahan, itulah yang membuat ayah marah karena takut Ryuta tidak bisa ikut tim baseball. Takut-takut, Ryuta mengaku kalau dia sudah keluar dari tim. Ayah tak percaya dan berpikir Ryuta bohong. Tapi Ryuta berkata itu benar. Ayah semakin mengamuk dan terus memukuli Ryuta yang wajahnya sudah memar-memar. Ibu dan Sayaka mencoba menghentikan Ayah, namun Ayah yang sangat emosi mendorong mereka sampai terjatuh.

“Aku berusaha keras agar kau bisa diterima, lalu kau menyerah begitu saja? Sebagai orangtuamu, aku benar-benar malu, aku tidak akan berani kesekolahmu!” teriak ayah. Sayaka mencoba mengentikan ayah lagi, tapi ayah terus memukuli Ryuta.

Ibu yang sudah tidak tahan lagi kemudian mengambil tongkat baseball dan memecahkan kaca jendela shuttle bus ayah. Ayah sontak berhenti.

“Apa maksudmu kamu malu? Aku.. sudah sering dipanggil ke sekolah Sayaka. Tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir itu memalukan. Malah.. aku masih bisa membicarakan banyak hal dengan Sayaka dan aku tetap bahagia.” Kata Ibu terisak.

Ibu mendekati ayah dan berkata Ryuta juga pasti punya banyak hal untuk diceritakan. Tiba-tiba Ryuta kabur melarikan diri. Ibu akhirnya memberitahu ayah bahwa malam sebelum turnamen Ryuta terkena asma. Ryuta takut jika gagal ayah pasti akan memarahinya. Dan yang paling menyakitkan selama ini ayah hanya memaksa Ryuta untuk mewujudkan impiannya dulu. Makanya, Ryuta pun tidak tahu harus bagaimana. Ayah tampak sedikit terkejut dengan pengakuan ibu, namun ayah tak suka ibu mencampuri urusannya. Ibu hanya perlu mengurus Sayaka dan Mayumi. Ibu marah, tak peduli lagi Mayumi yang melihat pertengkaran itu.

“Sayaka, Mayumi, dan Ryuta. Aku adalah ibu dari mereka bertiga.” Teriak ibu. Ayah tak peduli dan mendorong ibu jatuh. Sayaka dan Mayumi langsung memeluknya.


Sayaka menyusul Ryuta yang ternyata kumpul bersama yankee (preman) di jalan. Sayaka bertanya apa hanya karena Ryuta ingin jadi pesuruh yankee itu makanya dia keluar dari baseball? Ia juga melihat Ryuta memakai anting. Ryuta kesal, ia mnepis tangan Sayaka yang mencoba melepaskan antingnya.

“Kamu pikir kamu lebih baik dan berkuasa? Aniki juga menyerah dan tidak kursus lagi karena aniki ingin hidup biasa saja. hanya begitulah nasib kita, sama saja kan?” ucap Ryuta lalu pergi.
Sayaka berteriak padanya, “Aku berbeda. Aku tidak sama denganmu.”

Ibu menidurkan Mayumi dengan air mata masih berlinang di pipinya. Tak lama Sayaka pulang. Ia meminta satu hal pada ibunya.


Ternyata Sayaka meminta ibu untuk menemaninya ke Universitas Keio, seperti apa yang Tsubota sensei katakan. Disana Sayaka bisa melihat kehidupan kampus yang yang berbeda. Ibu berkata kalau Sayaka diterima disini hidup Sayaka akan jauh berbeda dari sekarang. Sayaka bertanya kenapa berbeda.

“Karena, lihatlah semua siswa disini, terlihat percaya diri. Aku harap Sayaka-chan juga bisa seperti itu.”

Mereka kemudian melihat patung Fukuzawa Yukichi, pendiri Universitas Keio. Ibu mengajak Sayaka berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Namun Sayaka menolak, ia berkata fotonya nanti saja. Dia masih suka dengan Keio. Dia akan masuk Keio. Sayaka akhirnya bertekad kembali. Seperti yang Tsubota sensei sarankan, Sayaka akan terpacu jika dia melihat bagaimana Keio dan orang-orang yang ada disana.


Sudah hampir larut malam, Tsubota sensei masih berkutat dengan kegiatannya di tempat kursus. tiba-tiba sensei dikagetkan dengan kedatangan Sayaka. Bukannya menjawab pertanyaan Sensei, Sayaka malah berkata kalau dugaannya selama ini benar, Sensei jarang tidur. Sensei hanya menunduk diam.

“Yukichi berkata.. hidup hanya untuk belajar. Pastinya hidup punya lika-liku yang berat. Jadi untuk menghadapinya, tidak pernah menyerah adalah cara terbaik, kan? Aku.. agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, walaupun sulit aku akan berjuang.” Ujar Sayaka.

Sensei hampir menangis terharu melihat tekad kuat dalam diri Sayaka.

Suatu hari, Sayaka ikut ujian simulasi. Ketika hasil ujian sudah ia terima, ia memberikannya pada Sensei. Sayaka ingin melihat hasilnya bersama, karena dia sedikit takut jika melihatnya sendiri. Sensei pun membukanya, tapi entah bagaimana hasilnya scene beralih dengan Sayaka yang mengayuh cepat sepedanya.


Begitu ia sampai di rumah, Ayah tengah membakar semua peralatan baseball. Ternyata ini adalah upacara pembebasan Ryuta dari baseball. Meskipun tampak berat, ayah tetap membakarnya semuanya.

Ayah lalu menghadap Ryuta dan mengaku semua ini adalah salahnya. Ayah sadar, sekarang Ryuta bebas melakukan apapun untuk masa depannya. Namun Ryuta berkata kalau dia hanya bisa baseball, apa yang harus dia lakukan dia tidak tahu. Sakaya menghampiri Ryuta dan memberikan hasil ujian simulasinya. Ryuta tak percaya saat melihat hasil ujian jurusan sastra Sayaka mendapat nilai C. Artinya sayaka kemungkinan diterima di Keio sebesar 50%. Ayah juga tak kalah kagetnya. Ibu dan Mayumi juga melihat hasil ujian itu. Ibu sangat senang, Sayaka sungguh berjuang keras.

Sayaka tersenyum, “Ryuta.. aku akan masuk Universitas Keio. Kau juga, temukan dan wujudkan impianmu, oke? Aku baru mulai liburan musim panas tahun ini dan bisa meraih sampai sini. Kau juga pasti bisa.” Ryuta terharu dan menganggukkan kepalanya yakin.


Esok harinya di tempat kursus, Tsubota sensei memberikan penilaian berdasarkan hasil simulasi Sayaka kemarin. Pilihan pertama di Universitas Keio, Sayaka bisa masuk Fakultas Sastra. Pilihan kedua di Universitas Kinki, Fakultas ilmu bahasa. Karena kelemahan Sayaka ada dibagian mengarang maka alternatif terakhir adalah Fakultas ilmu politik, Universitas Keio. Itu semua adalah target yang harus Sayaka capai. Walapun hasil ujian simulasi Keio nilai Sayaka C, masih ada 2 bulan sebelum ujian resminya. Sensei yakin Sayaka pasti bisa mewujudkannya.

Tes masuk Universitas Keio akhirnya tiba. Namun tepat di hari itu ada badai salju yang menyebabkan lalu lintas sedikit terhambat. Saat Sayaka memutuskan akan berjalan kaki saja, Ayah tiba-tiba muncul dan berkata akan mengantar Sayaka.


Di perjalanan Ayah mengakui kesalahannya selama ini dan memuji ibu sebagai perempuan yang hebat. Karena Sayaka ayah akhirnya sadar. Sekarang, Sayaka adalah harapan keluarga mereka. Sayaka tidak suka disanjung seperti itu. Selama bertahun-tahun Ayah bahkan tidak pernah mempedulikannya. Tiba-tiba Ayah memberhentikan bus. Sayaka berpikir Ayah akan memarahinya karena berkata kasar begitu tapi ternyata Ayah hanya ingin membantu pengendara mobil lain yang terjebak salju.

Ayah mengantarkan Sayaka tepat waktu. Saat sudah sampai di tempat ujian Sayaka tidak langsung pergi. Ayah bingung dan menyuruh cepat.

“Tepat seperti yang ibu katakan. Kamu orang yang baik.” Kata Sayaka cuek sambil berlalu pergi.

Ayah keluar dan berteriak memanggil Sayaka, “Sayaka, Ganbate!”

Sayaka tersenyum, itu membuatnya semakin semangat.

2 comments:

  1. Makasih min udh di posting dan jgn lupa jga kesehatan ya ^^

    ReplyDelete
  2. OH MY GOD!!!!!!cryanya:-S.aku irib bgat sma sayaka yg pnya kluarg sprti itu.btw trimakasih mbak dah posting ni film

    ReplyDelete