Flying Colors part 5 END


Sayaka mengikuti ujian dan bisa dengan mudah menjawab soal pertamanya. Sementara Itu Ryuta menemui ayah di bengekel. Ia meminta maaf karena tak bisa mewujudkan mimpi ayah tapi ia sangat bahagia bisa bermain baseball bersama. Lalu Ryuta pun ikut membantu ayahnya.

Sayaka melihat hasil pengumuman online di Universitas Kinki. Setelah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi sayaka langsung mengklik akunnya. Ibu dan Mayumi yang menunggu cemas di tangga akhirnya tersenyum lega mendengar jeritan senang Sayaka.


Ya, Sayaka lulus ujian tahap pertama di universitas Kinki dan dia segera memberitahu Tsubota sensei kabar bahagia ini. Reiji juga ikut senang mendengarnya. Sayaka bertanya heran bukankah hari ini Reiji ikut ujian? Reiji berkata dia sudah memutuskan untuk masuk ke Universitas Nagoya. Dia punya cara baru untuk balas dendam. Ayahnya yang menyesal karena selama ini tak menghargainya membuat Reiji memikirkan ide yang mengerikan. Dia akan menjadi pengacara yang lebih hebat untuk balas dendam pada ayahnya, maka dari itu dia akan masuk ke universitas Nagoya, Universitas yang sama dengan ayahnya.
Sayaka memuji Reiji yang kelihatan semakin keren. Reiji yang dipuji begitu langsung melambung. Hahaha


Sayaka belajar untuk terakhir kalinya di tempat kursus. Namun ia meminta pada sensei untuk membolehkannya datang setidaknya sampai ia lulus sekolah. Ia juga ingin memberikan hasil ujian masuk Keio pada Sensei tapi jika dia gagal dia akan malu untuk datang lagi. Sebagai rasa terimakasihnya Sayaka memberikan sebuah surat untuk Sensei dan Sensei juga memberikannya sekaleng minuman. Sayaka senang, dia akan meminumnya dihari ujian nanti.



“Untuk terakhir kalinya apa ada yang bisa aku lakukan?” tanya sensei

“Jika sensei mempunyai cara untuk keluar dari tekanan, tolong beritahu aku! Aku mungkin tidak bisa seperti itu. Aku seringkali hampir pingsan.”

“Dibawah tekanan, kamu hanya perlu percaya diri.” jawab Sensei

Sensei melihat kamus Sayaka yang sudah jelek saking seringnya digunakan. Sensei berharap Sayaka bisa semakin berkembang. Lalu Sayaka meminta tanda tangan sensei dikamus itu. Itu akan menjadi jimatnya.


“Sayaka..selalu membenci orang dewasa. Orang dewasa yang menganggapku bodoh, benar-benar mengesalkan. Aku jadi merasa hal itu benar. Tapi apa daya, aku bukan siapa-siapa. Yang paling aku sadari, tidak punya tujuan, tidak ada yang bisa diharapkan dariku. Hanya bisa bersenang-senang dengan teman-teman. Tidak ada harapan untuk masa depan. Jika ada yang berkata seperti itu padaku, aku hanya perlu menjawab seadanya. Mungkin karena aku sudah terbiasa. 
Pada saat itu, aku bertemu dengan orang dewasa yang benar-benar peduli denganku. Aku bertemu dengan orang yang membuatku berpikir ‘Aku ingin menjadi orang dewasa yang seperti itu’. Tsubota Sensei adalah orangnya. Setelah aku bertemu dengan sensei, aku menemukan tujuan. Aku tahu rasanya berjuang. Aku melihat harapan dimasa depan. Hidupku… telah berubah. Aku sungguh berterimakasih”

Itu adalah narasi Sayaka dalam suratnya untuk sensei. Saat sensei membacanya Sayaka tengah bersiap mengikuti ujian final Universitas. Ia juga berdoa sebelum meminum minuman dari sensei. Di tempat yang berbeda Sensei juga berdoa untuk keberhasilan Sayaka.


Sayaka semangat sekali mengerjakan ujiannya, tak lupa ia melihat jimat sensei yang ada dikamusnya ‘Where there is a will, there Is a way’. Namun baru beberapa saat, ia merasakan perutnya sangat sakit akibat minuman yang diminumnya tadi. Alhasil ia jadi tak fokus mengerjakan soal test nya karena bolak-balik ke toilet terus.

Sesampainya di penginapan Sayaka terbaring lemas. Ibu menelpon Sayaka, ia sangat senang mendengar dari Tsubota sensei kalau Sayaka akan lulus kali ini. Sayaka juga sudah mahir dalam Bahasa inggris dan Sejarah Jepang. Sayaka berjanji, setelah test studi politik besok ia akan pulang secepatnya. Setelah mematikan teleponnya Sayaka lanjut belajar lagi.

Keesokan harinya, Sayaka ikut test studi politik Universitas Keio. Ia mengingat semua yang sensei katakan saat menulis esai bahwa kita bukan hanya sekedar menuliskan pendapat kita tapi juga mengambil acuan dari Tv atau Koran. Kita juga harus melihat dari dua sisi yang berbeda. Sambil terus menulis Essay, Sayaka teringat saat Sensei membelanya di depan nakamura sensei. Karena itulah Sayaka semakin termotivasi untuk membuktikan pada semua orang yang meremehkannya bahwa dia juga bisa seperti orang lain.


Reiji berlari terburu-buru ke tempat kursus. Ia bertanya penasaran apa hasil pengumuman Sayaka sudah keluar. Sensei yang juga menunggu berkata belum. Tiba-tiba Sayaka menelpon. Sambil minta maaf sayaka memberitahu kalau ia gagal. Sensei juga sedih mendengarnya, namun ia tetap menyemangati Sayaka untuk pengumuman test ilmu politik. Sayaka juga meminta maaf pada ibu yang berdiri di depan kamarnya.

Reiji berharap Sayaka bisa lulus di ilmu politik. Sensei tak begitu yakin karena Sayaka tidak terlalu bagus dalam menulis essay. Tapi menurut Presiden kursus, Sayaka cukup mengesankan bisa lulus di universitas Kinki mengingat dia yang mulai dari nilai terendah di sekolah.


Sambil menunggu hasil pengumuman terakhir, Sayaka bertemu dengan ketiga temannya dan membebaskan dirinya untuk bersenang-senang. Sementara itu Sensei sibuk menulis sampai malam hari. Sayaka pulang keesokannya paginya. Begitu sampai di rumah ia langsung melihat hasil pengumuman. Sayaka memejamkan matanya dan saat ia membuka matanya kembali ia tampak sedikit terkejut.


Sayaka menemui Ibu yang tengah menyetrika. Dengan tatapan sendu ia memanggil ibunya. Entah apa hasil yang diterimanya, Sayaka langsung pergi ke tempat kursus. Disana, Sensei, Reiji, dan Presiden sudah menunggunya dengan harap-harap cemas. Bahkan sensei sudah menyiapkan surat yang ia tulis kemarin.

Sayaka masuk dengan terburu-buru. Ia berhenti begitu melihat sensei.

“Sensei..”

“Sayaka-chan..”

“Aku diterima.” Kata Sayaka menangis.

Ia langsung berlari memeluk Sensei. Sensei juga menangis Bahagia untuk Sayaka. Musim semi yang akan datang Sayaka akan resmi jadi mahasiswi Keio. Ibu juga menangis memberitahu ayah kalau Sayaka diterima di Keio, Universitas impian ayah.


Di lapangan tempat ia bermain semasa kecil, Sayaka membaca surat dari Sensei.

“Kudo Sayaka. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Seandainya harapan terbesarmu untuk lulus ujian tidak terkabul, jangan berkecil hati. Dengan tujuan yang ambisius, melalui kerja keras dan pengalaman masa depan pasti akan menjadi kekuatanmu. Jadi, tetaplah jadi diri sendiri, tersenyumlah selalu, teruslah berjuang dan tetap percaya diri. Itulah dirimu..yang benar-benar aku sukai. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, tetaplah percaya diri, percayalah dengan kekuatan mimpimu. Jangan pernah takut gagal. Beranilah menggapai mimpimu. Itulah yang aku sebut dengan..sangat mempesona.”

Sayaka menemui Reiji yang melihat hasil pengumuman Universitas Nagoya. Meskipun kecewa karena tidak lulus, namun Reiji optimis untuk mencobanya lagi tahun depan. Sesuai dengan taruhannya dengan Nishimura sensei, siapa yang kalah akan mendapat hukuman. Di hari kelulusan mereka, Nishimura sensei melakukan taruhannya.


Waktu berlalu, dan kini Sayaka sudah akan pergi. Sebelum berpamitan ia melihat foto-foto masa kecilnya yang penuh kecerian. Saat ia pamit pada Ayah, ia tiba-tiba berlari naik ke punggung ayah, seperti dulu.

“Bukankah sudah sangat lama tidak digendong ayah?”
“Iya.” Kata Ayah berkaca-kaca.

“Jika ayah membuat ibu menangis, aku tidak akan memaafkan ayah.”

“Baik.” Jawab Ayah hampir menangis.


“Kamu mengatakan..aku merubah hidupmu, tapi yang mengubahmu adalah semangat dan kerja keras. Hal itulah yang bisa mengubah hidup banyak orang. Aku percaya itu. Aku akan mempercayai itu mulai sekarang. Hidup yang akan kamu jalani masih sangat panjang. Walaupun nantinya kamu menemui kesulitan, aku yakin kamu akan terus berjuang dan mencoba hal-hal baru. Dari lubuk hatiku, aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Bertemu denganmu.. membuka duniaku lebih luas lagi.”

Itu adalah narasi sensei dalam lanjutan suratnya yang dibaca Sayaka di sinkansen menuju Tokyo. Sinkansen yang dahulu menjadi impian Sayaka untuk membawanya pergi jauh. Sayaka tersenyum melambaikan tangan melihat Sensei yang diluar sana berlompat-lompat juga melambai padanya.

“Suatu saat jalan akan terbuka untukmu. Aku percaya itu selama aku hidup dan seterusnya.”

5 comments:

  1. bagus banget min, aku termotivasi. terimakasih

    ReplyDelete
  2. selamat buat sakaya:-) smga thn depan aku pnya kesempatan buat ikut ujian

    ReplyDelete
  3. selamat buat sakaya:-) smga thn depan aku pnya kesempatan buat ikut ujian

    ReplyDelete