Longing For Spring Episode 1


Di sebuah tempat berkuda, orang-orang disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Mulai dari memandikan kuda sampai menonton pertandingan yang sedang berlangsung. Sementara itu seorang pria yang bernama Soo Kwon Tae ( Lee Won Geun ) menyibukkan dirinya dengan nge-gym.




Di tempat lain Yun Chang Ki (Yoo Se Hyung ) tengah megendarai mobil bersama temannya yang ketakutan melihat caranya berkemudi. Tak jauh dari situ, seorang gadis yang bernama Yang Mal Ja ( Song Ji Eun ) asyik memotret bunga-bunga yang sedang mekar. Temannya itu memintanya pelan-pelan saja, namun ia terus mengemudikan mobilnya sambil tersenyum lebar. Hingga ia tak sadar ada orang di depan. Mal Ja yang kaget melihat mobil mendekat tak sempat menyelamatkan dirinya.
Tepat saat itu Kwon Tae merasakan sakit di pundaknya yang memang sedang cedera. Lalu ia mendapat telepon dan ia langsung menanyakan kejadian apa yang “orang itu” buat hari ini?

“Bunganya mati.. aku mungkin bisa menyelamatkannya jika saja aku sedikit lebih cepat.” Jawab seorang gadis di ujung sana.


Gadis itu adalah Mal Ja yang kini tengah diobati oleh dokter. Saat dokter bertanya apakah sakit? Dia malah menjawab kalau hatinya lah yang sakit sambil melihat bunga mati yang dipegangnya. Jelas saja si dokter bingung karena Mal Ja tak terluka parah sama sekali, kenapa hatinya bisa sakit? Chang Ki pun berpikir pasti itu karena bunga yang dibawanya sudah mati.

“Maksudku, apa kamu benar-benar melemparkan dirimu hanya untuk menyelamatkan sebuah bunga?” tanya Chang Ki heran.

“Cuma bunga? Bahkan benda kecil itu hidup, dan semua kehidupan itu berharga.” Jawab Mal Ja kesal.


Ternyata Chang Ki tidak menabrak Mal Ja, Mal Ja sendirilah yang menjatuhkan dirinya hanya untuk menyelamatkan setangkai bunga yang tumbuh di tengah jalan agar tak ditabrak Chang Ki.

“Dokter, apakah aku aneh karena berkelakuan begitu?”

“Tidak, aku mengerti.” Jawab dokter tertawa.



Kwon Tae sampai di klinik. Ia tak habis pikir melihat Mal Ja yang ternyata tak apa-apa. Entah kenapa saat melihat Kwon Tae datang wajah Chang Ki berubah kesal.

“Kwon Tae.. aku sangat sedih sekarang.”

“Kamu mengkhawatirkan bunganya?” tanya Kwon Tae heran. Ia berbicara pada Mal Ja seakan tak ada orang lain disebelahnya.

Chang Ki pun berkata pada Dokter bahwa ini bukan pertama kalinya Kwon Tae bertingkah layaknya “Invisible man”.
Mendengar itu Kwon Tae langsung bertanya apa yang dilakukan Chang Ki sampai membuat Mal Ja seperti ini. Tentu saja Chang Ki berkata bukan karena ia menabrak Mal Ja. Kwon Tae sedikit kesal dengan jawabannya dan semakin kesal saat Chang Ki mencoba melihat luka di tangan Mal Ja. Dengan cepat ia langsung menampik tangan Chang Ki sebelum menyentuh tangan Mal Ja hingga Chang Ki bertanya-tanya ada apa dengan Kwon Tae. Setelah dokter menempelkan plaster di pipi Mal Ja Kwon Tae segera menarik tangannya untuk pergi. Tapi saat itu dokter mengingatkan Kwon Tae agar jangan lupa untuk perawatan. Mal Ja bertanya bingung perawatan apa. Kwon Tae tak menjawab dan langsung membawanya pergi.


“Ini karena mu Pebble (Panggilan akrab Mal Ja).” Kata Mal Ja melihat bunga mati yang masih dibawanya.

“Apa?”

“Lihatlah aku! Apakah aku harus berakhir dengan pria asing dalam kecelakaan mobil dan berguling 18 kali hanya untuk mendapatkan simpati darimu?”

Kwon Tae meminta maaf. Ia berkata kalau Mal Ja itu sudah sering seperti ini, kecelakaan hanya menunggu untuk datang. Orang biasa hanya mengalami kecelakaan setahun sekali, tapi Mal Ja mengalaminya sebulan sekali, bakan seminggu sekali.
Mal Ja beralasan itu karena saat dia lahir sebuah komet bertabrakan.

“Ya, aku tahu…. itu takdirmu.” Ucap Kwon Tae tersenyum.

Flashback..

Kwon Tae dan Mal Ja sudah berteman sejak kecil. Dalam narasinya, Kwon Tae berkata bahwa banyak orang yang berteman sejak kecil, tapi mereka berbagi sesuatu yang spesial. Ibu mereka berteman, jadi mereka otomatis berteman bahkan sebelum dilahirkan.
Tanpa arahan atau permintaanku, gadis pertama yang tangannya ku genggam, gadis pertama yang kucium, dan gadis pertama yang aku mandi hujan bersamanya, adalah si hebat Yang Mal Ja.
Waktu kecil badan Kwon Tae sangat kecil. Untuk dirinya yang masih sangat muda, Mal Ja tampak seperti robot Mecha yang terkuat di dunia. Dia selalu melindungi Kwon Tae dari gangguan anak-anak lain, kapanpun Mal Ja berbuat begitu ia merasa takut padanya. Flashback End

Kwon Tae tersenyum lebar mengingat semua kenangan itu.


Mal Ja kembali ke kantornya dengan lesu. Dua rekannya sedang berbincang dan salah satunya tengah asyik meamandangi foto Kwon Tae. Begitu Mal Ja duduk di kursinya, Mal Ja langsung diberikan tugas untuk mewawancarai Yun Chang Ki. Teman Mal Ja yang suka pada Kwon Tae protes kenapa bukan Kwon Tae saja yang diwawancarai. Teman yang disampingnya berkata Kwon Tae sudah bulan lalu, jadi bulan ini Chang Ki.


Di klinik, Kwon Tae melakukan perawatan lengannya yang cedera. Dokter dengan akrab mengingatkannya untuk tidak mengikuti perlombaan dalam kondisi seperti ini. Paling cepat Kwon Tae akan sembuh dalam sebulan. Jika ia tetap memaksa untuk berlomba, ia mungkin tidak bisa berkuda lagi.
Lalu Mal Ja mengirim pesan agar menemuinya di kandang kuda.

“Siapa itu? Kenapa kamu tersenyum?” tanya dokter

“Siapa? Aku?”

“Apa kamu lagi jatuh cinta?”

“Cinta apa? Aku akan pergi.” Ucap Kwon Tae. Tapi sedetik kemudian ia balik lagi dan bertanya apa itu benar-benar terlihat? Dokter pun tertawa sebagai jawabannya.


Mal Ja yang sangat takut Kuda memanggil Chang Ki yang tengah memberi makan kuda dari jauh. Ia meminta Chang Ki untuk wawancara ditempat lain saja. Chang Ki memintanya menunggu sampai ia selesai. Setelah itu mereka bisa wawancara di café. Mal Ja bingung kenapa harus di café? Chang Ki beralasan kalau dia tipe orang yang harus nyaman agar bisa berpikir dan bicara dengan bebas. Makan malam atau minum akan lebih baik, katanya menawarkan. Mal Ja setuju, namun ia protes saat baru menyadari kalau dari tadi Chang Ki menggunakan bahasa informal.

Begitu Kwon Tae datang, Chang Ki segera pergi. Ia bahkan sengaja menabrak lengan Kwon Tae. Jelas sekali ada aura permusuhan diantara mereka.
Kwon Tae bertanya apa Mal Ja mewawancarai Chang Ki nanti. Mal Ja mengiyakannya, karena Chang Ki lebih nyaman begitu. Dia pun segera mengajak Kwon Tae mengambil foto. Karena takut kuda, Kwon Tae lah yang mengambil foto kudanya sebagai dokumentasi sedangkan ia hanya melihat dari luar jendela.


Mal Ja memuji hasil foto Kwon Tae yang bagus-bagus. Kwon Tae tersenyum dan mengingat alasan Mal Ja takut kuda adalah karena dirinya.


Flashback..
Saat itu Kwon Tae tengah bersama kudanya. Ibu Mal Ja menyeret Mal Ja untuk mendekat. Mal Ja takut ditambah lagi Kwon Tae menghadapkan kuda itu ke arahnya. Alhasil Mal Ja pingsan saking takutnya, dan semenjak itu ia menjadi trauma.

Saat di SMA, Kwon Tae ingin menyembuhkan trauma Mal Ja dengan membawanya ke kandang kuda. Satu hal yang paling Kwon Tae ingat di hari itu adalah bukan karena ulang tahunnya rusak karena argumen bodoh, bukan karena rencana untuk menghilangkan ketakutan Mal Ja gagal total, tapi dia marah karena seumur hidup yang tidak disukai Mal Ja, yaitu kuda, adalah satu hal yang paling ia sukai.

Kwon Tae terus memaksa Mal Ja mendekat ke kuda, tapi tiba-tiba Mal Ja mencium pipi Kwon Tae. Seketika Kwon Tae tersenyum mematung.

“Itu seperti petir di siang bolong. Seketika, aku melihat kembang api di mataku. Semua sell di tubuhku menghidupkan sirene mereka, dan mengirimku ke dunia lain. Seketika, segalanya dengan lucunya menjadi jelas. Sesegera bibirnya menyentuh pipiku aku tahu perasaan itu meninggalkan tanda di hatiku hanya sebesar tanda giginya yang tertinggal di pipiku. Itulah…. Cinta pertama.”

Setelah itu Mal Ja melarikan diri. Kwon Tae meringis sakit saat menyadari Mal Ja bukanlah menciumnya tapi menggigitnya. Namun karena itu akhirnya Kwon Tae menyadari Mal Ja adalah cinta pertamanya.

No comments:

Post a Comment