Longing For Spring Episode 2


Rekan kerja Mal Ja juga memuji hasil foto kuda-kudanya yang bagus. Saat tahu kalau foto-foto itu diambil oleh Kwon Tae,rekan Mal ja yang menyukainya langsung tak terima. Ia marah karena Mal Ja menyuruh Kwon Tae padahal Kwon Tae itu sangat sibuk. “Ini sangat berat untuknya. Haruskah aku memberikannya obat herbal?” Ucapnya khawatir.
Mal Ja hanya tersenyum melihat sikap berlebihan rekannya itu.




Sebagai balasan karena sudah membantunya, Mal Ja ingin mentraktir Kwon Tae namun Kwon Tae berkata sandwich yang dimakannya juga sudah cukup. Selagi Mal Ja sibuk dengan kerjaannya, Chang Ki mengirim pesan untuk mengingatkan janji wawancara mereka. Kwon Tae juga melihat pesan itu. Entah apa yang dia pikirkan, Kwon Tae tiba-tiba minta dibelikan makanan lain. Ada restaurant yang ia ingin kunjungi dan sedang mengadakan event.

“Apa? Kamu kan baru lihat kalau aku sudah punya janji malam ini.”

“Event nya berakhir malam ini. Tundalah wawancaranya sampai besok dan ayo pergi ke restaurant malam ini, huh?”

“Kamu tahu itu tidak mugkin jadi jangan merengek.” Ucap Mal Ja sambil terus fokus dengan kerjaannya.


Kwon Tae melirik ponsel Mal Ja, diam-diam dia menukar ponsel miliknya dengan milik Mal Ja. Mal Ja lalu bertanya apa dia dekat dengan Chang Ki. Kwon Tae langsung menjawab tidak. Sampai ke pertanyaan apa Kwon Tae bisa mengalahkannya, Kwon Tae juga menjawab tidak. Mal Ja beralih menatapnya, “Kalau begitu kamu kalah darinya?” Sadar akan jawabannya yang terus “tidak” Kwon Tae langsung berteriak kalau dia tidak kalah dari Chang Ki.


Kwon Tae balik ke tempat latihan dengan sumringah. Saat membuka loker ada sebuah hadiah di dalamnya. Chang Ki berkata sinis, “Itu adalah kepopuleran yang tak pernah berakhir”. Kwon Tae tak memperdulikannya. Ia lalu mengangkat telpon dari Mal Ja yang sadar kalau ponsel mereka tertukar. Kwon Tae berkata itu tak ada bedanya. Toh, dia juga satu-satunya yang menelpon Mal Ja. Mal Ja kesal karena dia punya janji malam ini.

“Kamu tidak punya ponsel, jadi kamu tidak bisa wawwancara” kata Kwon Tae

Mal Ja langsung mematikan ponselnya dan mengirim pesan pada Chang Ki pakai ponselnya Kwon Tae. Chang Ki pun menunjukkan pesan Mal Ja, sontak Kwon Tae berubah marah.

“Wow, senang rasanya melihatmu cemburu.” Ucap Chang Ki berlalu pergi.


Mal Ja dan Chang Ki sudah ada di restaurant. Chang Ki tampak tak bersemangat saat Mal Ja memotretnya.

“Ah, benar-benar! Kamu kelihatan seperti zombie. Senyum yang lebar dan pose yang keran.. maksudku foto apa ini?” protes Mal Ja.

“Makanya kita harus makan dulu.” Kata Chang Ki mengulur waktu.

Mereka pun makan dan minum sampai Mal Ja sedikit mabuk dan bercerita macam-macam. Meskipun begitu dia ingat kalau dia harus wawancara. Namun, Chang Ki menundanya lagi. Ia ingin mendengarkan cerita tentang Mal Ja dulu.

“Jadi saat itu, jika Pebble datang sedikit lebih awal. Pebble.. maksudku dia selalu telat.”

“Apa segalanya tentang Pebble? Kau tahu, sedari tadi kau tak membicarakan apapun selain dirinya?”

“Aku? Disaat seperti ini, Pebble akan….?

Chang Ki muak mendengarkan cerita Mal Ja yang terus-terusan tentang Pebble. Ia pun bertanya apa Mal Ja menyukainya (Pebble). Mal Ja hanya menjawabnya dengan gumaman, mmmmm.
Chang Ki kaget, dia berkata mereka kan berteman. Mal Ja yang sudah mabuk kembali mengiyakannya, mereka memang berteman. Saat Chang Ki bertanya apa Mal Ja menyukai Pebble sebagai seorang pria, Mal Ja langsung berkata tidak.

“Kamu single terus –menerus, kan?” tanya Chang Ki.

“Lalu apa yang salah dengan itu?”

“Aku tidak berkata ada yang salah dengan itu. Aku hanya bermaksud, selama Suh Kwon Tae ada di dekat mu, kamu akan sendiri selamanya sampai kamu mati. Kamu seperti boneka.”

Mal Ja menampiknya, itu bukan seperti itu. Tapi Chang Ki berpikir kenapa Kwon Tae yang bahkan bukan seorang pacar, apa masalahnya jika dia tidak memperhatikan Mal Ja?
“Apa kalian punya masa lalu? Ini menggelikan…” ucap Chang Ki.
Mal Ja tampak bingung memikirkannya.


Kwon Tae sudah menunggu di depan rumah Mal Ja. Mal Ja pulang dan segera meminta ponselnya.

“Kamu bilang kamu akan bekerja tetapi kamu mabuk?”
“Apa pedulimu?” jawab Mal Ja dingin.
“Aku… tidak akan peduli?”
“Apa kamu ibuku? Aku tidak bisa minum tanpa ijin mu? Memangnya kamu siapa bisa marah?”
“Kamu minum dan kamu mabuk!”
“Sudahlah, aku lelah.. aku akan masuk”

Mal Ja langsung masuk, tapi baru beberapa langkah pertanyaan Kwon Tae menghentikannya. Benarkah ini bukan urusanku? Apa aku.. berarti sekecil itu? Mal Ja menatapnya sesaat lalu pergi begitu saja. Kwon Tae berkaca-kaca.


Esok harinya, Kwon Tae melatih lengannya yang sudah mulai membaik. Melihat Kwon Tae, dokter berpikir ia dalam kondisi yang tidak baik hari ini, namun Kwon Tae berdalih kalau ia merasa lebih baik daripada sebelumnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dokter pun menyuruh Kwon Tae pergi. Kwon Tae berkata ia akan latihan sedikit lagi.

“Mal Ja sedang menunggumu.”

“Dia akan berpikir kalau aku sibuk jika aku tidak datang.”

“Kalian bertengkar?”

Kwon Tae menatap dokter seakan mengiyakan. Mungkin pertengkaran kekasih? Tebak dokter. Tapi Kwon Tae menampiknya. Dokter menebak lagi kalau mereka berhubungan. Kwon Tae berubah sedih. Dia pun mengaku kalau mereka tidak berhubungan. Hanya dia yang menyukai Mal Ja. Dokter tertawa, ia berpikir berita ini pasti akan membuat semua fans Kwon Tae pingsan.
Sementara itu Mal Ja gelisah menunggu telpon dari Kwon Tae. Dua rekannya masuk dan bertanya apa Mal Ja sudah makan siang. Mal Ja menjawab belum. Si rekan yang menyukai Kwon Tae langsung bertanya ketus.

“Menunggu Suhneunim? Ahhh, benar-benar menjijikkan. Beberapa orang tidak bisa makan bersamanya bahkan setahun sekali, tapi bagaimana bisa kau melakukannya setiap hari, huh?”

Temannya langsung mendorongnya pergi, sedangkan Mal Ja berusaha menahan rasa laparnya padahal sebentar lagi waktu makan siang akan berakhir.


Entah apa yang terjadi, akhirnya Kwon Tae datang untuk menemani Mal Ja makan siang. Kwon Tae berubah menjadi dingin, tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Dia hanya melirik ke arah Mal Ja yang tak selera makan. Saat Mal Ja tersedak, dia segera mengambilkan minum tanpa bicara. Mal Ja memperhatikan sikap aneh Kwon Tae. Kwon Tae yang merasa diperhatikan bertanya ada apa.
“Pebble…” kata Mal Ja mendekatkan wajahnya ke wajah Kwon Tae. Kwon Tae refleks mundur karena gugup. Mal Ja bertanya apa ada sesuatu yang Kwon Tae sukai selain kuda? Kwon Tae berpikir sejenak dan tersenyum menjawab “Mal” ( dalam bahasa korea artinya kuda). Mal Ja kesal dan mengangkat sendoknya mengancam. Kwon Tae menatap Mal Ja serius. “Kaus Kaki” jawab Kwon Tae.

Mal Ja langsung marah-marah, “Kau suka kaus kaki? Apa semua yang kau sukai adalah variasi dari kata ‘Mal’ ? baiklah, lupakan.” Ucap Mal Ja pergi.

Kaus kaki dalam bahasa korea adalah “Yang Mal” dan Mal Ja tidak menyadari maksud dari jawaban Kwon Tae, kalau yang disukainya adalah Yang Mal Ja. Sementara itu diluar, Mal Ja merasakan jantungnya yang berdegup cepat.


Malam harinya, Kwon Tae pergi ke restaurant. Si pemilik restaurant yang mengenalnya bertanya dimana Mal Ja, kenapa Kwon Tae sendirian? Kwon Tae menjawab kalau dia hanya ingin minum sendiri.

Mal Ja pulang ke rumahnya. Ia berjalan menunduk sampai menabrak tiang yang ada di depanya.
“Lihatlah kedepan” terdengar suara Kwon Tae yang membuat Mal Ja teringat saat SMA dulu.
Saat itu Mal Ja asyik bermain game tanpa melihat ada tiang di depannya. Kwon Tae sudah mengingatkannya, namun Mal Ja menyuruhnya diam. Sedikit lagi hampir kena tiang, Kwon Tae segera menariknya. Bukannya berterima kasih Mal Ja malah menyalahkannya karena ia kalah.


Kembali ke masa sekarang. “Memangnya dia pikir dia itu navigasi atau apa?” ucap Mal Ja. Tiba-tiba ia melihat Kwon Tae sudah menunggu dan segera menghampirinya. Kwon Tae marah karena Mal Ja pulang terlambat. Saat Mal Ja bertanya apa Kwon Tae menunggunya, Kwon Tae tiba-tiba hilang menjadi debu. Apa ini? batin Mal Ja.

“Nyatanya, orang yang dekat denganku sedekat udara yang kuhirup membuat hatiku berdetak cepat tiba-tiba. Itu menakutkan ku seperti langit yang runtuh”

2 comments:

  1. ghamsahamnida recapnya ,, ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete