Longing For Spring Episode 3


Kwon Tae terbaring lemah di klinik. Dokter bercanda kalau Kwon Tae terlihat sangat imut jika ia sakit seperti ini. Inilah akibatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Dokter berkata jika ia jadi Kwon Tae maka dia akan mengatakannya, tak peduli apapun. Kwon Tae termenung memikirkannya.




Mal Ja tertidur di kantor. Rekannya datang dan langsung mengomeli Mal Ja. Mal Ja meminta maaf karena kepalanya sedikit pusing. Karena mereka akan membeli coffee, Mal Ja diminta berjaga-jaga sebentar. Tak lama ada telpon masuk di meja rekan yang menyukai Kwon Tae. Saat Mal Ja menuliskan pesan dari si penelpon, ia melihat foto Kwon Tae yang terbingkai rapi disana. Tiba-tiba foto Kwon Tae itu tersenyum dan melambai padanya. Mal Ja tersentak kaget.


Kemudian ia datang ke arena pacuan. Ia hanya memandang lurus kedepan sampai Chang Ki membuyarkan lamunanannya dan dengan pedenya bertanya apa Mal Ja datang untuk melihat perlombaannya. Tapi sayangnya tidak ada perlombaan hari ini. Mal Ja pun memberitahu kalau ia takut kuda.

“Siapa yang bilang untuk menungganginya? Hanya duduk manis sambil menikmati dan bersorak jika kamu gembira. Jadi, lingkar hitam di matamu akan hilang, gadis panda.”

“Panda?”

“Meskipun kamu adalah panda terimut yang pernah kulihat.”

Chang Ki menyadari kalau Mal Ja kembali menggunakan bahasa formal padanya. Ia meminta Mal Ja datang ke perlombaannya nanti karena ia akan membuatnya sepuluh kali lebih menyenangkan. Mal Ja mengatakan kalau dia tidak pernah melihat perlombaan Pebble sekalipun, jadi jangan menunggunya, dia tidak bisa berjanji. Meskipun kesal Pebble terus yang dibicarakan, Chang Ki berkata kalau dia akan tetap menunggu.

“Yang Mal Ja. Maukah menjadi pasangan?”
“Dengan siapa?”
“Yang Mal Ja dan Yun Chang Ki.”
“Kenapa kita harus melakukan itu?”
“Karena aku menyukaimu.”

Sontak Mal Ja ternganga tak percaya. Namun, Chang Ki malah tertawa karena dia hanya mengerjai Mal Ja . Mal Ja kesal, ia pikir Chang Ki serius. Chang Ki berkata kalau Mal Ja harus memulai hubungan yang pertama untuk memiliki hubungan yang kedua dan ia bisa membantu Mal Ja tentang itu. Tak ingin mendengar coelotehan Chang Ki lagi Mal Ja pun pergi.


Di kantor, Mal Ja gundah memikirkan Kwon Tae yang tak menelponnya lagi hanya karena ia tak mengangkat. Lalu ia melihat tulisan2 Kwon Tae dengan banyak bentuk love dan saat ia ingin mengambil bunga yang tertempel disana, suara Kwon Tae menghentikannya. Ia berpikir itu Cuma halusinasinya saja namun saat ia mengambil paper bag yang tertempel, tangan Kwon Tae menghalanginya. Seketika Mal Ja kaget dan mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Kwon Tae.

“Apa.. kenapa kamu tidak menghilang?”

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kwon Tae bingung.

Kwon Tae mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel Mal Ja. Mal Ja berbohong mengatakan ponselnya rusak. Kwon Tae pun mengiriminya pesan dan ponselnya berbunyi. Ia langsung mengambil paksa ponsel Mal Ja, namun Mal Jahampir terjatuh karena menghindar dan membuat posisi mereka menjadi sangat dekat.

“Apa artinya aku bagimu?”

“Apa maksudmu? Kamu hanya teman.”

“Apakah hanya itu?”

“Tentu saja. Apakah itu harus lebih?”


Karena Mal Ja mengucapkannya tanpa sedikitpun memandang Kwon Tae, Kwon Tae menyuruhnya menatap matanya dan katakan hal itu. Perlahan Mal Ja menatap Kwon Tae dan berkata hubungan mereka hanya sebatas itu. Kwon Tae menjawab bahkan jika dia melakukan ini? Kwon Tae mendekatkan wajahnya ingin mencium Mal Ja. Mal Ja langsung menutup matanya menghindar. Kwon Tae hanya memandang Mal Ja, setelah itu ia pergi meninggalkannya dengan perasaan sedih karena Mal Ja hanya menganggapnya sebagai teman.


Terlintas kenangan-kenangan indah mereka dalam benak Kwon Tae. Kedekatan mereka yang ia pikir Mal Ja juga mungkin menyukainya. Sementara itu Mal Ja minum-minum sendiri. Ia juga teringat saat Kwon Tae menunggunya pulang dan bertanya apakah dirinya hanya berarti sekecil itu untuk Mal Ja.


Dokter sedang mengobati tangan Chang Ki. Chang Ki berkata kalau Kwon Tae terlihat kacau akhir-akhir ini. Dokter bertanya kenapa Chang Ki sangat membencinya, apa karena Chang Ki pernah kalah darinya? Chang Ki menjawab tidak. Menurut dokter Kwon Tae itu spesial, bakatnya sudah ada sejak lahir yang melebihi orang lain. Jika Chang Ki punya lawan yang seperti itu pasti akan menyakitkan.

“Jadi apa aku harus menyerah karena aku bukan tandingannya?”

“Aku hanya mengatakan agar kamu menikmati diri sendiri dan jangan dipengaruhi orang lain.”

Chang Ki merasa itu sangat mengganggunya, fakta bahwa Kwon Tae sangat berbakat dan dia sombong dengan itu. Seseorang yang seperti itu tidak akan menyenangkan jika dia hanya melepaskannya begitu saja. Dokter pun tak bisa berkata-kata lagi. Kwon Tae mencoba menghibur dirinya sendiri dengan mengobrol pada kudanya.


Dilain tempat, Chang Ki tampak menunggu seseorang. Ia langsung menghampiri orang itu yang ternyata adalah Mal Ja. Chang Ki berkata mungkin Mal Ja masih shock dengan pengakuannya tadi siang. Tentu saja, seorang pria sepertinya yang bisa membuat semua orang pingsan dengan hanya menatap malah meminta Mal Ja untuk menjadi pacarnya, itu pasti luarbiasa.

“Jika kamu ada waktu, kamu harus pergi ke rumah sakit. Sepertinya kamu terkena Prince Syndrome.”

“Itu bukan Prince Syndrome tapi aku lah Prince-nya.”

Chang Ki pun mengajaknya minum soju. Ada hal aneh yang akan dia katakan jadi Mal Ja harus memperhatikannya. Tak ingin menjelaskannya pada Mal Ja yang bingung, Chang Ki langsung mengambil tas Mal Ja dan menyuruhnya cepat berjalan.


Sementara itu, Kwon Tae juga minum ditemani dengan si pemilik restoran. Melihat Kwon Tae yang sendirian lagi, ia bertanya apa Kwon Tae dan Mal Ja bertengkar? Kwon Tae dengan tatapan sedihnya bertanya balik apa itu sebuah pertengkaran?

“Apa kamu mengaku padanya dan dia menolakmu? Mungkin semua orang di dunia ini kecuali Mal Ja tahu kalau kamu menyukainya. Semua orang di dunia ini tahu.. kecuali kalian berdua.”

Kwon Tae teringat saat ia berlatih mengungkapkan perasaannya di depan cermin bahwa dia tidak suka jika Mal Ja melihat pria lain. Dia ingin hanya dia yang menghantui Mal Ja. Namun begitu dia keluar Mal Ja langsung tertidur karena mabuk.


Chang Ki senang bersama Mal Ja. Namun tidak dengan Mal Ja karena dia tidak merasa hidup sekarang. Chang Ki bertanya apa karena Kwon Tae. Mal Ja protes Chang Ki membawa-bawa Pebble disaat seperti ini. Chang Ki pun menuntut jawaban dari Mal Ja. Mal Ja meminta maaf, dia tidak tahu perasaannya sendiri, jadi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Chang Ki meyankinkan bahwa Mal Ja hanya cukup kencan dengannya.

“Maaf.. aku pikir itu tidak mungkin.” Ucap Mal Ja. Sejenak Chang Ki berkata tidak apa-apa tapi kemudian ia langsung mencium paksa Mal Ja. Mal Ja menghindar dan mendorongnya menjauh.

“Kenapa bukan aku?” teriak Chang Ki.


Mal Ja duduk seorang diri di arena pacuan. Ia menangis terisak mengingat semua pengakuan tidak langsung Kwon Tae. Saat Kwon Tae mengatakan yang dia sukai adalah Yang Mal (kaus kaki), Kwon Tae yang bertanya apa arti dirinya untuk Mal Ja. Saat itu Mal Ja tidak menyadari perasaannya , namun sekarang dia tahu hatinya milik siapa.
Kwon Tae gelisah menunggu Mal Ja yang belum pulang. Berpikir sesuatu terjadi Kwon Tae segera menelpon Mal Ja. Mal Ja semakin terisak mendengar omelan cemas Kwon Tae.

“Suara yang sangat ingin kudengar… membuatku menangis”, batin Mal Ja.

“Mal Ja-shi, ada apa? Apa sesuatu terjadi? Apa kamu marah aku menceramahimu lagi?”

“Tidak. Tetaplah nasihati aku. Aku merasa jauh lebih baik hanya mendengar suaramu.”

Kwon Tae semakin cemas mendengar suara tangis Mal Ja dan bergegas pergi ke arena pacuan. Ia terus berlari sampai akhirnya menemukan Mal Ja duduk di bangku penonton.


“Aku khawatir. Aku akan gila.” Kata Kwon Tae sambil menghapus air mata Mal Ja. Mal Ja meminta maaf. Dia sangat bodoh karena tak mengetahui perasaannya sendiri. Kwon Tae menghibur Mal Ja dan menarik Mal Ja dalam pelukannya.

“Dia tidak mengatakan sesuatu yang sedih.. tidak menyakitiku.. tidak marah padaku. Dia hanya tersenyum di depanku. Hanya itu.. sangat hangat, sangat indah. Seperti melihat matahari hangat di hari musim semi yang hangat. Airmataku tidak akan berhenti.”

1 comment:

  1. Trimakasih sinopsisnya.. :-). Ditunggu sinop lainnya.. Makin sukses:-D

    ReplyDelete