Love Myself Or You Episode 10 - 2


Akibat kurang tidur dan menimbulkan lingkar hitam di matanya, Ah Jie tidur-tiduran dan menaruh lemon di matanya. Tapi ia tetap saja masih pusing. Ia lalu menyiram bunga yang ada di lantai atas restoran. Saat melihat kebawah, Kai Qi sampai dengan motornya. Ah Jie ingin menyapanya, namun ia langsung terpaku saat melihat Kai Qi melepas helmnya yang langsung membuat rambutnya tertiup angin. Dengan gaya cool dan rambut yang tertiup kesana kemari, Kai Qi membenarkan rambutnya. “Dug.. dug.. dug” Ah Jie tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia bahkan sampai harus berbalik badan agar tak melihat Kai Qi, “Tenang.. tenang.. tenang” katanya gugup. Saking gugupnya Ah Jie malah kebanyakan menuang air di bunga yang ia siram.




Setelah sedikit tenang, Ah Jie balik melihat Kai Qi lagi. Tapi ia jadi semakin syok, melihat Kai Qi berjalan dengan tiupan angin plus senyuman yang seksi. Ah Jie terus memandangi Kai Qi, sampai Kai Qi masuk ke dalam restoran. “WOWW” Ucap Ah Jie terpesona.

Hari ini restoran dipenuhi pengunjung, para chef pun tak berhenti memasak. Ah Jie tampak masih kepikiran tentang Kai Qi. Ia berulang kali melirik Kai Qi yang juga tengah memasak di belakangnya. Saat ia memberikan sayur yang sudah ia potong pada Kai Qi, ia tak lagi merasakan jantungnya berdetak secepat tadi dan berpikir ini hanya kesalahpahamannya.

Kai Qi lalu meminta Da Zhi membantunya memasak. Tak sengaja tepung yang Da Zhi tuang mengenai tangan Kai Qi. Kai Qi mengawasi Ah Jie membuat salad. Ia yang tidak tahu kalau tangannya ketumpahan tepung mengelap muka dengan tangannya itu. Alhasil menempellah tepung yang berwarna coklat itu di wajahnya. Ah Jie memberitahu Kai Qi kalau di sudut bibirnya ada tepung. Kai Qi mengikuti petunjuk yang Ah Jie berikan, tapi tetap saja ia tak tahu dimana letak tepungnya. Kai Qi pun menyodorkan wajahnya untuk dibersihkan oleh Ah Jie. Ah Jie perlahan mengulurkan tangannya yang jadi gemetaran. Ia melihat bibir Kai Qi yang kena tepung itu, membuat jantugnya kembali berdetak cepat.


“Apakah tanganmu kram?” tanya Kai Qi yang melihat tangan Ah Jie bergetar dari tadi. Da Zhi memperhatikan tingkah aneh Ah Jie ini dan mendorongnya minggir. Da Zhi langsung mengelap tepung di sudut bibir Kai Qi itu tanpa gugup sedikitpun.

“Hei, itu aku… “ protes Ah Jie.

“Apa?” balas Da Zhi kemudian.

Ah Jie lalu sadar dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Ia heran sendiri dengan apa yang dilakukannya, kenapa bisa dia seperti itu? Dia pun melihat Kai Qi lagi yang tengah mencicipi masakan. Perhatiannya kembali pada bibir Kai Qi. Xiao Shu tak sengaja menabraknya hingga membuyarkan lamunan Ah jie.


Le Xuan menghampiri Kai Qi dengan senyum mengembang di wajahnya. Le Xuan mendengar bahwa seseorang minta maaf pada kakaknya. Kai Qi lalu mengatakan kakak seseorang juga minta maaf padanya. Le Xuan pun mengancam jika Kai Qi berani bersikap dingin pada kakaknya lagi maka Kai Qi akan dalam bahaya sambil menjuruskan jari tangannya ke mata Kai Qi. “Ohhh. Aku akan memberitahu kakak seseorang bahwa seseorang menindasku.” Balas Kai Qi.
Le Xuan jadi cemberut. Kai Qi pun menyuruhnya agar tak mengganggunya bekerja. Le Xuan tersenyum dan ia memandang Ah Jie. Mungkin ia berpikir bisa mendapatkan Ah Jie setelah hubungan Kai Qi dan kakaknya membaik.

Restoran tutup sejenak saat jam istirahat makan siang. Kai Qi yang ingin pergi dihentikkan Da Zhi yang ingin meminjam motornya. Karena Kai Qi tak memakai, ia pun mengizinkan Da Zhi meminjam motornya. Lalu Ah Jie muncul menanyakan Kai Qi ikut makan atau tidak. Belum sempat Kai Qi menjawab, Hao Wei sudah datang memanggil Kai Qi. Mereka akan makan siang bersama. Kai Qi menitip pesan pada Ah Jie kalau dia tidak akan makan dengan yang lain. Ah Jie bertanya apa Kai Qi dan Hao Wei sudah membicarakannya? Kai Qi mengiyakannya dan pergi. Tapi Ah Jie menahannya lagi, “Kapan?” tanya Ah Jie. “Pagi tadi. Aku pergi sekarang.” ujar Kai Qi. Ah Jie tersenyum ikut senang mereka sudah berbaikan tapi entah kenapa wajahnya malah menunjukkan kesedihan.


Semua berkumpul untuk makan siang. Xiao Li memberitahu kalau tadi ia melihat kakak Le Xuan dan Kai Qi pergi bersama. Xiao Shu dan Xiao Qiang pun ikutan nyambung. Le Xuan mengiyakannya. Ia memberitahu kalau mereka sudah baikan.

“Jika kalian punya waktu untuk mengurusi orang lain, kalau begitu bantu aku memikirkan beberapa rencana untuk hari kasih sayang.” Ucap Le Xuan.

Xiao Shu langsung cemberut. Xiao Qiang mengusulkan membuat makanan Hari kasih sayang. Xiao Shu kesal, memangnya hari kasih sayang yang mana yang tidak mereka buatkan makanannya? “Pikirkan sesuatu yang baru!” katanya pada Xiao Qiang.

“Tidak peduli seistimewa apa itu, itu hanya membantu orang lain untuk merayakan hari kasih sayang. Kita seharusnya menghabiskan hari istimewa ini dengan kekasih kita. Kamu dan aku. Aku dan kamu. Tapi kita harus bekerja.” Sesal Xiao Li.

Lalu Xiao Qiang bertanya bagaimana Bao Zhu akan merayakannya. Xiao Shu si mulut tajam, langsung menjawab, tentu saja Bao Zhu akan pulang untuk menemani… anjingnya. Yang lain pun tertawa mendengar itu. Bao Zhu juga pura-pura ikut tertawa. Dia lalu berkata pada Xiao Shu, “Setidaknya aku punya anjing. Bagaimana denganmu? Semua terkekeh menertawakan Xiao Shu, kecuali Ah Jie yang sedari tadi diam saja.


Mendengar mereka membicarakan binatang, Ah Jie tiba-tiba bertanya pada Bao Zhu tentang “kucing” yang kemarin dia lihat. Kucing itu kepribadiannya mengerikan, wajahnya bau, dan temperamen yang buruk. Tapi dia berusaha keras dan akhirnya dekat. Karena beberapa alasan, dia tidak bisa bersama dengan kucing itu lagi. Ah Jie pun menanyakan apa Bao Zhu punya cara? Yang dimaksud Ah Jie dengan “Kucing” sebenarnya adalah Kai Qi, namun Bao Zhu tak tahu itu, jadi ia menyarankan agar Ah jie pelihara binatang lain saja. Ah Jie tidak mau. Bao Zhu mengatakan ia tidak tahu alasan kenapa Ah Jie tidak bisa memeliharanya, tapi jika benar begitu Ah Jie berikan saja pada orang yang ia percayai. Ah Jie diam, ia teringat saat Hao Wei menjemput Kai Qi tadi. Dalam hatinya Ah Jie berkata kalau dia memiliki perasaan untuk “Kucing” itu.


Sementara di café, Kai Qi dan Hao Wei menunggu pesanan mereka. “Telur benediktus” pesanan mereka pun datang. Hao Wei berdiri membungkuk di samping Kai Qi untuk memotret telur itu sampai Kai Qi sedikit bergeser, gugup. Ia berkata tak pernah menyangka jika Hao Wei akan menjadi seorang kritikus makanan. Hao Wei juga tak menyangka hal itu, tapi dia senang karena orang-orang selalu mengundangnya untuk makan dan minum. Kai Qi bertanya apa Hao Wei merasa nyaman makan dimana-mana mengingat dia yang kutu buku. Hao Wei berkata itu tak masalah baginya. Kai Qi pun berpikir kalau Hao Wei sudah banyak berubah beberapa tahun terakhir.

Di sebelah mereka, ada sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan. Si pria mengibaratkan cinta mereka berbasis ilmiah. Seperti gravitasi newton, mereka dipertemukan untuk bersama. Hukum ini tidak bisa dirubah. Hao Wei bahkan sampai geleng kepala melihatnya.

“Apa? Apa kamu mau komen?” kata si pria melihat Hao Wei.

“Aku pikir hukum gravitasi universal lebih dari argument pengantar. Kamu seharusnya menggunakan hukum relativitas Einstein.” Jelas Hao Wei.

Hao Wei lalu memperagakan sebuah gelas tempat garam yang diletakkan di atas serbet. Gelas garam itu membuat serbet tenggelam, dan bagian yang tenggelam akan menyerap daerah sekitarnya.
“Kalau kamu serbet dan dia tempat garam, maka kamu harus mempertimbangkan efeknya setelah kontak denganmu.” Ucap Hao Wei.


Kai Qi yang serius memperhatikan Hao Wei teringat kenangan yang sama. Saat itu mereka juga tengah makan. Ada seorang anak yang bertanya pada ibunya apa itu tata surya. Si ibu menjelaskan tata surya itu terdiri dari sembilan planet. Hao Wei lalu berbalik dan berkata itu tidak benar. Ia menjelaskan hanya ada 8 planet di orbit matahari. Pluto telah diklasifikasikan sebagai planet kerdil oleh persatuan astronomi di Praha, jadi Pluto tidak termasuk lagi menjadi planet.

Kai Qi tertawa sendiri mengingat hal itu. Hao Wei pun bertanya ada apa dengannya. Kai Qi berkata tidak apa-apa, hanya saja dia merasa dia bisa melihat Hao Wei dari masa lalu. Hao Wei lalu menyodorkan makanannya untuk dicicipi Kai Qi. Tiba-tiba Hao Wei bertanya siapa pria yang ada di kompetisi bersama Kai Qi. Hao Wei menyadari kalau pria itu sangat peduli pada Kai Qi. Ia memberitahu kalau pria itu (Ah Jie) pergi ke toko komik untuk mendapatkan edisi terbaru, bahkan juga memintanya untuk menjual komik. Kai Qi kaget, ia tak tahu ini sebelumnya. Hao Wei merasa Kai Qi dan Ah Jie tidak memiliki jarak. Kai Qi cepat-cepat berkata bahwa Ah Jie tak memiliki jarak dengan siapapun. Ia lalu bercerita kalau mereka adalan teman masa kecil. Itu sudah lama sejak mereka saling bertemu. Tanpa diduga, mereka bersatu kembali, seperti takdir. Kai Qi juga memuji-muji Ah Jie yang memiliki kepribadian yang baik.


Di restoran, semuanya sudah selesai makan. Young Qian datang mengagetkan Le Xuan dengan minuman lemon yang dibawanya. Xiao Li dan Linda kagum dengan minuman imut yang dihiasi payung kecil itu. Xiao Li bertanya kenapa hanya Young Qian dan Le Xuan saja, bagaimana dengan mereka? Young Qian kesal dan menyuruh mereka pergi. Kalau mau buat sendiri, katanya ketus. Le Xuan dengan senang hati menerimanya. Namun ia malah memberikan minuman itu untuk Ah Jie yang lagi membersihkan meja. Ah Jie tak mau menerimanya. Tiba-tiba tangan Ah Jie tergores meja sampai berdarah. Le Xuan langsung khawatir dan membantu Ah Jie, meskipun Ah Jie berulang kali menolaknya. Youn Qian hanya bisa menggeram kesal di belakang. “Apakah jarinya patah atau sesuatu? Bukankah kemu terlalu melebih-lebihkannya” geram Young Qian sambil merapatkan gigi. Ah Jie merasa tak enak dan berkata akan mengobatinya sendiri.


Setelah Ah Jie pergi Young Qian menatap Le Xuan curiga.

“Kamu. Mungkinkah kamu memiliki perasaan.. untuk karyawa magang?” Tanya Young Qian terbata-bata.

“Ya. Restoran ini tidak melarang kebebasan berkencan, kan?” Ujar Le Xuan.

Young Qian sangat syok, ia tak percaya mendengar pengakuan Le Xuan barusan. Matanya saja hampir keluar saking syoknya. LOL

Tak hanya Young Qian yang syok berat, yang lain juga tak menyangka diam-diam Le Xuan menyukai Ah Jie. Pupus lah sudah harapan Xiao Li dan Young Qian.
Young Qian berjalan lesu ke ruangannya. Ia berkata dengan sedih kalau ibunya sudah berbohong. Nyatanya dia bukanlah pria ideal, dia hanya sayuran hampa. Semua orang suka orang yang seperti Ah Jie.


Yang dibicarakan kini sedang menyapu halaman. Tak lama Ah Jie melihat Kai Qi kembali bersama Hao Wei. Hao Wei bersikap manis dengan membukakan pintu Kai Qi. Kai Qi lalu mengeluarkan buku untuk mencatat setiap kali mereka makan diluar. Dengan itulah Kai Qi membayar kembali hutang ayahnya. Kai mencap kolom pertama menggunakan cap bentuk Chopper. Hao Wei tersenyum, memuji Kai Qi yang kelihatan manis dengan menggunakan cap Chopper itu. Kai Qi malu dan menyuruh Hao Wei cepat pulang.

Sedangkan Ah Jie yang melihat itu cemburu berat kenapa Kai Qi tak membolehkannya memanggil “manis” sebelumnya, dan kenapa Hao Wei boleh? Setelah Hao Wei pergi, diam-diam Kai Qi berjalan di belakang Ah Jie dan langsung menekan pipi Ah Jie dengan jarinya, membentuk lesung pipi.
Kai Qi tersenyum gembira, ia bertanya kenapa Ah Jie menyapu ditengah matahari terik begini? Namun bagi Ah Jie cuacanya sangat nyaman. Kai Qi pun pergi dibalas tatapan kesal dari Ah Jie.

Di sebuah rumah mewah, Da Zhi membantu Ai Zi pindah dari rumah kak Bao. Tapi naas, sekumpulan mafia datang dan kak Bao, ketua mafia itu marah karena Da Zhi berusaha melarikan istrinya, Ai Zi. Da Zhi menyuruh Ai Zi pergi sedangkan dia yang akan menghentikan kak Bao. Anak buah kak Bao mengeroyok Da Zhi, tiba-tiba Kak Bao mengambil pecahan botol yang dilemparnya tadi, ingin melukai Da Zhi. Da Zhi menangkis, alhasil ia menjerit kesakitan karena kaca botol itu mengenai siku tangannya.


Young Qian mengabsen chef di dapur. Ia bertanya dimana Da Zhi. Tak ada satupun yang tahu. Young Qian kesal dan menghitung sampai tiga, jika Da Zhi tak muncul maka ia akan dipecat. Untunglah saat itu Da Zhi datang. Dengan wajah pucat ia berdiri diam menerima peringatan Young Qian. Sebelum kata-kata pecat keluar dari mulut Young Qian, Le Xuan protes akhir-akhir ini Young Qian sering masuk dapur. Tanpa mereka sadari, darah dari luka Da Zhi menetes di lantai. Bao Zhu kaget begitu melihatnya, dan saat Young Qian pergi ia bergeser untuk menutupi darah itu.
Young Qian menangis di ruangannya. Ia bingung kenapa tak ada satupun orang yang menyukainya, bahkan sisi hangatnya sekalipun.

Da Zhi menghampiri Kai Qi. Ia dengan serius meminta maaf. Kai Qi bertanya apa yang teradi padanya, tidak biasanya Da Zhi seperti ini. Da Zhi diam saja tak ingin menceritakan yang sebenarnya pada Kai Qi. Kai Qi pun membiarkan Da Zhi pergi.
Xiao Shu yang menguping dari tadi bertanya penasaran kenapa Kai Qi tak memarahi Da Zhi. Da Zhi juga diam, membuat Xiao Shu cemberut. Ah Jie melirik kebelakang melihat Kai Qi yang tersenyum senang. Ia bertanya pelan kenapa Kai Qi tersenyum. Kai Qi mengancamnya dengan sendok, menyuruhnya bekerja.


Da Zhi masuk ke ruangan diikuti oleh Bao Zhu. Bao Zhu bertanya apa yang terjadi, dia melihat Da Zhi berdarah. Tak lama Xiao Li dan Xiao Shu masuk. Mereka juga bertanya-tanya ada apa dengan Da Zhi hari ini. Xiao Shu menebak apa itu karena cinta pertama Kai Qi muncul sehingga Da Zhi galau seperti pohon willow yang ditiup angin. Da Zhi marah, ia menghentakkan loker di belakangnya sampai pintu yang berisi baju berdarahnya itu terbuka. Bao Zhu segera menyuruh Xiao Li mengambil kotak p3k. Tapi Xiao Shu lagi-lagi menambahi apa Da Zhi kembali menjadi pembuat onar karena tidak puas dengan gaji yang rendah juga hidup yang berat? Lalu Kai Qi datang dan kaget melihat itu semua. Tak ingin ketahuan Da Zhi pun pergi. Xiao Shu berkata dari 10 orang yang dipenjara, 9 akan kemabali lagi. Ia melihat bahwa keputusan ketua untuk tidak mengerjakan Da Zhi saat itu adalah keputusan yang tepat. Bao Zhu marah, apa mereka terganggu jika dulunya Da Zhi preman? Apakah ada hari dimana Da Zhi tidak rajin? Kai Qi pun meminta mereka untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Kai Qi lalu meminta Ah jie menunggunya karena ingin membicarakan sesuatu, tapi saat dia sudah selesai ganti pakaian Ah Jie malah sudah pulang duluan.


Ah Jie heran kenapa dia lari dari Kai Qi. Jika ada sesuatu yang ingin Kai Qi katakan padanya, sebagai teman, dia harusnya senang. Tak lama Kai Qi memencet bel rumah Ah Jie. Begitu dibukakan pintu Kai Qi lagsung menginterogasi Ah Jie hal yang tak dilakukannya. Melihat Ah Jie ketakutan, Kai Qi pun tertawa karena dia hanya bercanda. Dia lalu mengajak Ah Jie kerumahnya untuk makan oden.
Kai Qi memberitahunya kalau dia sudah tahu apa yang dilakukan Ah Jie untuk mendapatkan komik. Ah Jie menjawab lain bahwa dia pikir Kai Qi butuh waktu sesaat untuk berpikir tentang baikan dengan Hao Wei, tapi ia tak menyangka kalau Kai Qi akan memikirkannya dalam 1 hari. Kai Qi jujur sebenarnya dia agak takut bertemu dengan Hao Wei. Tapi Hao Wei lah yang datang menemuinya sendiri. Ah Jie bertanya heboh, pagi-pagi sekali? Kai Qi mengiyakannya. Ah Jie bergumul dengan pikirannya sendiri, ia tak menyangka ada orang yang bertindak begitu cepat. Baikan di pagi hari dan sudah pergi keluar untuk makan siang.

“Itu karena kami mencoba untuk mengejar ketertinggalan.” Ucap Kai Qi

“Mengejar ketertinggalan? Ketinggalan apa?” tanya Ah Jie penasaran.

“Mengejar ketinggalan dalam berteman. Kesalahpahaman yang sudah bertehun-tahun ini sudah hilang sekarang.” jelas Kai Qi lega.

Kai Qi berkata dengan begini Hao Wei tidak akan memandang rendahnyanya lagi. Hao Wei sebenarnya hanya peduli padanya. dia juga tak menyangka kalau mereka mash bisa berteman. Kai Qi cerita kalau ia agak canggung karena Hao Wei kelihatan berebda dari sebelumnya. Meskipun begitu dia memikirkan perkataan Ah Jie sebelumnya, orang yang mengakui kesalahannya harus bertanggung jawab. Kalau Ah Jie tidak menasihatinya kata-katai itu, maka dia tidak akan tenang. sekarang dia tidak malu lagi. Kai Qi pun berterima kasih pada Ah Jie.

“Lalu sekarang, setelah kalian bicara, apa rencanamu?”

Ah Jie menunggu jawaban Kai Qi, ia pun bertanya ada apa. Kai Qi menjawab ia tidak tahu. Ah Jie bertanya lagi apa yang Kai Qi tidak ketahui. Kai Qi mengatakan seandainya saja dia tidak berhenti kuliah, mereka akan lebih banyak bersama saat ini. Ah Jie langsung menatap tak percaya mendengar jawaban Kai Qi.

No comments:

Post a Comment