Yankee-kun to Megane-chan Episode 1 - 2

                           

Setelah kejadian di sekolah tadi Daichi tak langsung pulang ke rumah sampai malam hari. Ia ketemu musuh dan akhirnya berkelahi. Wajahnya memar-memar meskipun dia berhasil mengalahkan mereka semua. Saat ia hendak pulang, seseorang memanggilnya dan tidak diperlihatkan apa yang terjadi karena sekarang dia sudah kembali ke rumah dan mengobati wajahnya.

Ayahnya masuk dan bertanya apa yang Daichi lakukan. Daichi dengan ketus menjawab “memangnya tidak kelihatan habis ngapain”. Ayahnya tahu pasti berkelahi lagi dan bertanya siapa orangnya kali ini, juga apakah Daichi menang? Daichi menjawab memangnya dia pernah kalah.

“Apa yang dibanggakan dari hal itu?”

“Mau gimana lagi. Aku selalu lebih kuat.”

“Kau selalu melawan semua orang yang menantangmu. Kalau kau terus-terusan seperti itu, kau tidak akan mendapatkan keinginanmu.” Kata Ayah.

Daichi tak mengerti maksudnya. Ayah mengatakan jika Daichi terus menang, Daichi takkan punya pilihan dan akan terus berkelahi seperti itu. Pria sejati akan menyimpan saat-saat itu. Ayah bertanya serius buat apa Daichi ke sekolah. Daichi menelan ludah, tidak tahu. Ayah mengingat kalau Daichi sering diskors dan ikut remedial. Apakah pernah Daichi berpikir bagaimana perasaan ibunya ketika dipanggil oleh sekolah? Daichi membantah ayahnya kalau dia memang tidak suka sekolah. Ayahnya juga tidak pernah menyuruhnya sekolah dan kalau Daichi tidak mau ya tidak usah, kata ayahnya sambil melempar handuk ke wajah Daichi.





Daichi duduk termenung. Ia teringat saat ia mendaftar pertama kali di SMA Monshiro dan melihat nomor pendaftarannya ada di papan pengumuman. Seiun yang ada bersamanya saat itu berteriak senang kalau Daichi bisa masuk kedokteran jika ia sekolah disini. Daichi juga senang, ia berlari pulang untuk memberitahukan hal ini pada ayahnya. Tapi saat ia sudah di depan pintu ia melihat Kairi tengah menunjukan pada ayahnya surat tanda ia berhasil pindah jurusan ke kedokteran. Kairi berkata kalau Daichi tidak bisa diharapkan dan hanya dia yang bisa mengambil alih klinik itu. Mereka tertawa bahagia di dalam sedangkan Daichi kecewa mendengar kakaknya berkata seperti itu.



Esok harinya saat Daichi datang ke sekolah, Hana memanggilnya untuk menggambar bersama. Tiba-tiba seseorang meneriakkan nama Daichi dan orang itu adalah Geng yang berkelahi dengannya malam itu. Daichi minta pada anak buah ketua geng untuk melepaskan temannya tapi saat Daichi ingin mendekat untuk melepaskan ia malah ditonjok dan terjatuh di lukisan mural sampai lukisannya patah. Daichi tak tingal diam ia melawan mereka semua dan membuat peralatan lukis dan lukisannya hancur. Pihak sekolah datang dan akhirnya Daichi di skors karena ulahnya itu. Bukannya takut dia malah membentak pak Sakai dan menendang meja sambil keluar.

Daichi berjalan melewati teman-temannya yang lagi membereskan lukisan yang rusak. Semua memandanginya tak suka plus takut. Hana memanggilnya dan ketiga cewek melarangnya untuk berbicara dengan Daichi lagi karena mereka ada di dunia yang berbeda. Satu per satu mereka pulang meninggalkan Hana.


Daichi tidak langsung pulang kerumah, ia mampir ke bengkelnya Seiun. Seiun mengatainya sial karena ia selalu dianggap Hurricane Ada dan menjadi buruan. Daichi juga bingung, saat ia datang meyelamatkan Seiun di gudang saat itu, geng Akaboshi sudah di kalahkan oleh Hurricane Ada dan ia tidak tahu kenapa ia malah di julukin Hurricane Ada. Seiun berkata orang-orang mengajaknya berkelahi karena ingin jadi yang terkuat dan begitu juga di sekolah, selalu ada yang ingin jadi yang terbaik kalau memang niat belajar. Tapi, dia tidak bisa keduanya. Ia hanya berusaha buat ambil alih usaha keluarganya ini.

Daichi pun meminta pendapat Seiun apa sebaiknya dia berhenti sekolah saja. Ia merasa apa yang Seiun bilang benar, ia tidak cocok disana. Seiun berkata kalau Daichi selalu bilang tidak cocok tapi dia tidak pernah bilang mau berhenti. Seiun mengingatkannya saat mereka pulang setelah Daichi menolongnya saat itu. Daichi berkata kalau itu terakahir kalinya dia berkelahi dan seterusnya dia akan “belajar”. Kakaknya gagal masuk kedokteran jadi cuma dia satu-satunya yang bisa ambil alih klinik ayahnya.

Kini Seiun bertanya serius padanya apa yang terjadi dengan janji itu, dan bukannya Daichi masuk ke sekolah itu dengan tujuan? Seiun memberikan saran kalau Daichi tidak cocok disana maka Daichi lah yang harus mengubah diri. Daichi diam memikirkan kata-kata Seiun.


Suatu hari, Hana datang ke rumah Daichi. Daichi yang masih tidur mendengar Hana memanggilnya. Ia menemui Hana, ibu serta kakaknya memperhatikan mereka dari dalam. Hana mengajaknya untuk menggambar bersama lagi, tapi Daichi mengatainya bego karena dia lagi di skors sekarang. Hana tidak menyerah, ia datang setiap hari ke rumah Daichi dan akhirnya ia bisa masuk ke rumah Daichi. Daichi kaget mengetahui Hana ada di kamarnya dan menyeret Hana keluar.

Hana mengingatkannya kalau dia bisa mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada di skors kalau dia buat ulah lagi. Tapi Daichi tidak peduli dan malah bersyukur jadi tidak ikutan menggambar. Hana tetap memaksanya ikut dan Daichi mengatakan yang sebenarnya kalau yang lain tidak suka melihat kelakuan Hana yang seperti ini. Mereka juga terpaksa untuk ngecat. Hana memikirkannya sejenak, lalu dia berkata kalau dia tahu itu. Ia yakin, jika dia sungguh2 pasti mereka akan mengerti. Menurutnya belajar memang penting, tapi membuat kenangan bersama-sama itu juga penting. Tapi, Daichi berkata kalau orang tidak mungkin bisa dengan mudahnya berubah persepsi seperti itu. Sekali dia dicap sebagai preman, maka tetap dicap seperti itu selamanya. Meskipun dia belajar dan masuk sekolah yang bagus, nggak bakalan ada yang menganggapnya normal. Apalagi setelah dia disangka Hurricane Ada, orang2 selalu nantangin dia.

Hana dengan tulus berkata bahwa dia tidak pernah menganggap Daichi seperti itu. Dia ingat saat Daichi menggendongnya sambil berlari. Kalau Daichi bukan orang baik, maka takkan melakukan itu. Jika Daichi itu dia, maka dia akan menghapus “cap Preman” itu. Daichi marah, ia berkata Hana tak mungkin mengerti dia. Makanya Hana selalu disebut “KY” (singkatan dari Kuki Yomenai, orang yang tidak bisa bersosialisasi). Ia pun menyuruh Hana pergi. Hana tak bisa berkata apa-apa lagi, ia pergi dan meminta maaf pada Daichi.


Daichi tengah baca komik. Ia melihat jam, waktu Hana biasa datang ke rumahnya. Seseorang memencet bel dan memanggil namanya. Daichi berpikir itu Hana dan segera membukakan pintu. Saat ia bilang Hana tidak usah datang lagi, ia langsung mendapatkan tamparan. Ternyata itu bukan Hana melainkan Kairi, kakaknya. Kairi kesal Daichi melepaskan Hana begitu saja. Kalau Daichi terus seperti itu, ngga bakalan ada yang mau jadi pacarnya. Daichi menjelaskan kalau itu bukan pacarnya, hanya teman sekelas. Kairi gak percaya, tidak mungkin teman sekelas nemuin Daichi tiap hari. Ia mengingatkan Daichi, kalau Daichi biarin Hana gitu aja, pasti Hana bakalan direbut cowok lain. Kairi menceritakan saat dia bertemu Hana tadi. Hana bersama geng yang waktu itu datang ke sekolah. Ia memberitahu Kairi kalau mereka yang mendatangi Daichi kemarin dan mengajaknya berkelahi. Hana ingin bertanggung jawab, Daichi di skors adalah salahnya.

Kembali ke masa sekarang..

Daichi terkejut Kairi membiarkan Hana pergi begitu saja dengan geng itu. Kairi merasa sama seperti Daichi “itu bukan urusanku”. Daichi mencoba menglihkan perhatiannya dengan membaca komik, tapi dia tetap mengkhawatirkan Hana. Akhirnya ia pergi, dan Kairi tersenyum melihatnya.

Di sebuah gudang, Hana menjelaskan pada geng itu kalau karena berkelahi dengan mereka lah Daichi jadi di skors. Hana memohon agar mereka meminta maaf pada Daichi. Sementara itu Daichi terus berlari hingga sampai di gudang itu.


Saat melihat Hana ada bersama mereka, Daichi pura-pura melihat sesuatu, mengalihkan geng itu. Ia langsung menarik Hana pergi. Tapi mereka sudah dicegat oleh yang lain dan mereka berkelahi lagi. Hana menahan tangan Daichi dan memintanya untuk tidak berkelahi supaya dia bisa melepaskan cap premannya. Si ketua geng mulai marah dan salah satu anak buahnya ingin memukul Daichi. Hana cepat-cepat mengayunkan kakinya dan membuat si pria itu jatuh ke dinding sampai dindingnya roboh. Mereka semua terkejut. Si ketua geng bertanya siapa Hana sebenarnya. Hana mengaku kalau dia adalah Hurricane Ada. Daichi kaget mengetahui siapa Hurricane Ada yang sebenarnya. Dia teringat saat dia menyelamatkan Seiun waktu itu dimana Geng Akaboshi sudah dikalahkan oleh Hurricane Ada duluan.


Si ketua geng melawan Hana tapi dengan sekejap ia sudah kalah dan tercampak ke luar gudang. Daichi baru sadar kalau “Ada” di Hurricane Ada diambil dari Adachi. Daichi pun tahu alasan Hana berkata bahwa Hana mengerti dirinya. Lalu Hana menceritakan masa lalunya di SMP yang juga dikenal sebgai preman. Semua orang menjauhinya.

Suatu hari, kakeknya memberitahu bahwa sekolah adalah sesuatu yang harus dinikmati. Dari sepanjang hidup, kita hanya berada di sekolah selama beberapa saat. Untuk itulah kita harus menikmatinya. Dia hanya ingin menjadi gadis normal, makanya dia masuk ke sekolah ini. Ia ingin melakukan segala sesuatu seperti gadis normal pada umumnya. Tapi, sejak berhenti jadi preman, ngga ada yang benar2 berubah. Bukannya disukai, ia malah tidak diharapkan. Pada akhirnya ia sama saja dengan Daichi. Setelah mengatakan itu ia pun pulang.

Ia bercerita pada kakeknya kalau dia sudah ketahuan. Kakek Hana adalah kakek yang waktu di klinik ayah Daichi, bernama Adachi Tatsuo. Kakek merasa jika Hana menjadi dirinya yang seperti biasa juga tidak apa-apa.


Keesokan harinya, Hana datang pagi-pagi dan mendapati Daichi tengah mengecat lukisan mural. Hana tersenyum dan mengecat bersama Daichi. Teman-teman yang lain datang dan akhirnya mereka semua mengecat bersama dengan sukacita. Daichi tanpa sadar tersenyum melihat pemandangan itu.

Mereka lalu membuat gambar wajah mereka sendiri di atas sayap kupu-kupu. Membuat lukisan itu tampak sempurna sebagai kenangan untuk SMA Monshiro dan untuk mereka sendiri. Cowok yang menggosipkan Daichi saat itu mulai berpikir Daichi orang yang baik.

No comments:

Post a Comment