Yankee-kun to Megane-chan Episode 2 - 1

                                   

Daichi pergi ke bengkel Seiun. Seiun kaget mengetahui kalau Hurricane Ada itu sebenarnya cewek. Daichi juga memberitahunya kalau Hana selalu ngikutin dia dan membujuknya. Seiun berkata kalau itu berarti Hana peduli padanya. “Lo juga mikir kayak gitu?” tanya Daichi penasaran. Seiun yakin karena dia tidak pernah salah dengan urusan yang beginian. Daichi berteriak bingung apa yang harus dilakukannya saat Hana menyatakan cintanya nanti. Seiun menyarankan agar Daichi minta berteman aja dulu. Daichi pun setuju.

Esok harinya, Hana menemui Daichi yang tengah asyik baca komik di rooftop. Daichi jadi sedikit canggung gara-gara saran Seiun kemarin, padahal Hana Cuma mau mengajaknya ke rumah Chiba. Daichi mengbaikannya, ia pura-pura tidak dengar dan memakai earphone. Hana kesal, ia melepas earphone Daichi dan berteriak di telinganya. Daichi tak mau, ia tak kenal siapa Chiba. Hana memberitahu kalau Chiba itu duduk satu baris dibelakang Daichi. “Ah..anak yang selalu sakit itu?” ingat Daichi.
Hana membacakan hasil penyelidikan yang sudah ia dapatkan kalau Chiba sudah absen dari sekolah semenjak musim gugur kemarin, tapi dia tidak dirawat di rumah sakit. Ia penasaran sebenarnya Chiba itu sakit apa. Menurut Daichi itu lebih kayak sakit secara psikologis. Dan ia merasa ini adalah masalah bolos yang biasanya karena mood. Daichi memakan rotinya dan kaget saat Hana juga makan roti yang sama seperti dirinya.




Hana terus ngikutin Daichi kemana-mana, membujuknya agar mau ke rumah Chiba. Sebagai ketua kelas ia tidak bisa membiarkan masalah bolos seperti ini. Daichi kesal dan menyuruh Hana pergi sendiri saja kalau begitu. Hana marah, ia menuduh ini salah Daichi sehingga Chiba tak mau sekolah. Pada saat itu Chiba lagi duduk mau makan sandwich nya, Daichi datang dan mengusirnya pergi membuat Chiba ketakutan. Hana menunujukkan hasil penyelidikannya itu pada Daichi, tapi Daichi malah berkata ia tidak ingat dan mengejek tulisan Hana yang jelek banget. Hahaha

Hana mengatakan semenjak kejadian itu Chiba berhenti sekolah dan ini jelas-jelas salah Daichi. Akhirnya Daichi mau ikut ke rumah Chiba. Mereka kagum dengan rumah Chiba yang besar banget. Berpikir tak ada orang mereka pun pulang. Tiba-tiba ada yang memanggil mereka, Ibu Chiba. Daichi menoleh kebelakang, ia terpesona melihat ibu Chiba yang sangat cantik. Ia jadi semangat dan mereka pun masuk ke dalam. Ibu Chiba menghidangkan mereka kue. Daichi memuji kuenya sangat enak sambil tersenyum manis. Hana langsung menutupi pandangan Daichi ke arah ibu Chiba dan meminta tambahan kue. Daichi kesal “Jangan rakus!” katanya sambil mendorong Hana duduk.



Ibu Chiba menambahkan kue Hana. Ia mengaku ia juga sebenarnya tidak mengerti kenapa Chiba Seiya, anaknya, menjadi seperti itu. Seiya bahkan menolak bertemu dengan ortunya sendiri. Lalu Hana duduk di depan kamar Daichi, memperkenalkan dirinya pada Seiya. Ia juga meminta maaf atas kelakuan Daichi saat itu. Seiya yang ada di dalam perlahan mendekat ke pintu dan mendengarkan Hana. Tapi saat mendengar suara keras Daichi ia berlari menjauh. Sebuah kertas keluar melalui celah bawah pintu. Daichi menujukkannya pada Hana. Seiya menyuruh mereka pulang saja.

Malamnya, Ayah, Ibu, dan Kairi lagi melihat berlembar-lembar kertas saat Daichi turun hendak makan. Daichi juga ikutan dan sedikit kaget saat mengetahui itu adalah hasil ujiannya. Nilainya pada 8 dan 9 semua. Ayah bertanya ini skor dari berapa? Daichi menjawab ragu “Harusnya dari seratus”.

Ayahnya tertawa dan langsung menekan kepala Daichi dengan dua kepalan tangannya. Daichi mengeluh kesakitan. Ayah berkata jika Daichi terus seperti ini tak mungkin dia bisa masuk universitas. Kairi juga berkata Daichi bakal susah cari kerja bahkan bisa jadi pengangguran.

“Mirip siap sih anak bego ini?” tanya Ayah

“Mirip sama Ibu.” Jawab Ibu Daichi seakan tersinggung.

Ayah cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ke masalah lain. LOL


Pak Sakai mengabsen semua murid. Saat giliran Seiya, Seiya masih belum datang dengan alasan sakit. Setelah sekolah usai, Hana memaksa Daichi untuk datang ke rumah Seiya lagi. Daichi tak mau. Hana pun menunjukkan jurus ampuhnya dengan menununjukkan foto Ibu Seiya dengan apple pie yang dia masak hari ini. Suksess, Daichi mau diajak ke rumah Seiya lagi.

Hana kali ini sudah membuat pertanyaan angket untuk Seiya. Ia membacakan pertanyaan pertama “Tipe cewek yang Seiya suka”. Tidak ada jawaban dari Seiya. Daichi yang asyik makan pie nya berkata kalau Hana seharusnya tidak menananyakan hal itu duluan. Hana pun terus melanjutkan pertanyaannya tanpa dijawab sama sekali. Di dapur, Ibu Chiba khawatir melihat Seiya yang tetap tak mau keluar. Entah untuk apa tapi ibunya membuat banyak sekali kue.

Hana sudah selesai dan menunjukkan hasil angketnya pada Daichi. Ia berkesimpulan “Kecocokan Percintaan Seiya dan Daichi sebesar 80%”.

“Jangan seenaknya buat kesimpulan! Dan kenapa aku yang dijodohin sama dia?” Kata Daichi

“Mau gimana lagi? Selanjutnya, kecocokan antara aku dan kamu.” Ujar Hana dengan suara imutnya.


Daichi tercengang mendengarnya dan di dalam Seiya terus mendengarkan mereka dari balik pintu. Hana malu-malu menarik tangan Daichi, ingin memberitahu hasilnya. Daichi berpikir apakah akhirnya tiba? Ia sampai menghayal Hana menembaknya dan ia menjawab kalau sebaiknya mereka berteman saja dulu. Tapi ternyata semua salah, Hana menempelkan kertasnya di kening Daichi. Hasilnya mereka tidak cocok sama sekali, bahkan kecocokannya hanya 3%. Wkwkwk

Daichi sebal dan meremas kertasnya. Ia tiba-tiba menendang pintu kamar Seiya, membuat Seiya ketakutan dan berjalan merangkak ke tempat tidurnya. Hana mengingatkannya untuk tidak seperti itu. Ia menyuruh Daichi minta maaf pada Seiya agar Seiya mau keluar. Mereka berdebat panjang. Daichi berkata itu urusan Seiya kalau dia sampai tidak naik kelas. Hana tidak setuju karena Daichi tidak tahu bagaimana rasanya tidak naik kelas.

“Gimana aku bisa ngerti? Aku nggak pernah nggak naik sebelumnya. Kamu juga gak pernah, kan?”

“Aku ngerti.” Teriak Hana sedih. Ia tetap menunggu di depan kamar Seiya, sedangkan Daichi sudah muak dan akhirnya pulang duluan.


Suatu hari, Hana nyamperin Gaku di lokernya. Ia ingin meminjam catatan Gaku untuk diberikan pada Seiya. Gaku ragu-ragu memberikannya. Saat Hana berjalan pergi, Gaku berkata kalau sepertinya Seiya tidak butuh itu, Seiya super jenius. Hana tidak percaya. Gaku mengatakan kalau mereka sempat sekelas tahun lalu, tapi mereka tidak berteman. Hana pergi dan tetap membawa catatan Gaku.

Seiya ternyata mengisi angket dari Hana. Saat pertanyaan “Apa kamu punya teman”, Hana sudah menjawabnya duluan dengan menulis ia ingin berteman dengan Chiba-kun!! Seiya mulai gundah, ia berbalik ke belakang mendengarkan Hana yang sudah ada di rumahnya untuk yang ketiga kali. Hana memberikan caatatan Gaku dari bawah pintu. Ia meminta Seiya untuk mengajarinya, karena dari yang Gaku bilang Seiya itu sangat pintar. Hana hampir putus asa, ia meminta Seiya jujur saja kalau ia tidak suka dirinya datang seperti ini. Tak lama, terdengar jawaban Seiya kalau dia tidak membenci Hana. Hana tersenyum senang dan berjanji dia akan kembali besok.

Daichi ada di bengkel Seiun. Ia mengambil buku dari tangan Seiun yang lagi belajar. Daichi sebal, meskipun dia sekolah kejuruan ia harus tetap ujian. Daichi berkata, “Emangnya gak bisa ngarang aja?” Seiun menjawab tidak, ogah banget kalau sampai dia ngulang setahun lagi dan ketinggalan sama teman-teman yang lain. Daichi sedikt kaget mendengar Seiun menyebut teman. Seiun berkata mereka sudah berteman sejak kecil dan mereka akan bersahabat selamanya. Tapi setiap tempat pasti punya teman sendiri. Makanya Daichi juga harus cari teman di sekolah bukan cuma temenan sama dia aja. Teman-teman Seiun datang ingin membuat contekan. Daichi pun pulang tak ingin menganggu.


Daichi kepikiran terus tentang “teman” yang dibilang Seiun. Saat ia disekolah semua menghindarinya dan bahkan teman sekelasnya pun menunduk takut saat dilihat oleh Daichi. Seiya yang tak pernah keluar dari kamar diberitahu ibunya kalau temannya datang lagi. Seiya tersenyum mengira itu adalah Hana. Ia ketakutan begitu mendengar suara ketiga teman cowoknya dari luar. Hana datang lagi ke rumah Seiya, tapi Ibunya berkata kalau Seiya tidak ingin menemui siapa-siapa dulu.


Esok harinya, setelah kelas usai, Hana berdiri sendirian di kelas. Lalu Daichi datang dan bertanya kenapa Hana tidak ke rumah Seiya. Hana memberitahu kalau Seiya memintanya untuk tidak datang lagi.

“Seperti kata-katamu kemarin. Keras kepala hanya membuat aku tidak disukai.”

“Ya, mau gimana lagi?”

“Tapi, aku hanya ingin Seiya kembali ke sekolah. Kalau dia harus ngulang setahun, dia nggak punya tempat yang dituju sama sekali, kan?”

“Yah, kalau itu maunya dia, kita gak bisa ngapa-ngapain. Kenapa sih kamu selalu bersikeras soal ngulang setahun itu?” tanya Daichi penasaran. Ia merasa itu tak masalah sama sekali, cowok gak mikirin soal umur. Kalau itu dia, mungkin lebih senang.

“Apa kamu bisa lebih berperasaan sedikit? Kamu tahu nggak sih rasanya ketinggalan sendirian? Semuanya udah maju selangkah, tapi kamu harus kembali ke tempat yang sama. Padahal kita semua mulai sama-sama. Semua orang berlaku baik sama aku, tapi sebenarnya mereka kasihan. Apa kamu bahagia diperlakukan seperti itu?” ucap Hana.

Daichi berpikir sejenak, “Barusan kamu ngomong ‘aku’? Maksud mu?” teriak Daichi senang. Hana terkejut, ia mengaku kalau sebenarnya dia sempat tidak naik kelas saat SMP. Makanya dia nggak mau Seiya ngerasain hal yang sama. Daichi menertawakannya, Hana pun pergi meninggalkan Daichi. Tanpa mereka ketahui Gaku yang ada di luar kelas mendengar itu.


No comments:

Post a Comment