Yankee-kun to Megane-chan Episode 2 - 2

                                     

Hana melamun di teras rumah. Kakek bertanya apa Hana nggak makan? Hana menolak ajakan kakeknya. Kakek pun menyuruh Hana membawa makanan ini untuk Seiya besok. Hana berpikir kalau Seiya tidak akan suka makanan seperti itu. Ibunya selalu membuat biskuit, kue, dan pie apple di rumah. Hana merasa heran karena Seiya punya ibu yang cantik dan sabar, tipe ibu idaman. Tapi Seiya nggak mau keluar rumah bahkan menyuruhnya untuk tidak datang lagi.

Kakek mendekatinya, “Apa kamu mau menyerah? Kamu baru ditolak sekali dan semuanya berakhir begitu saja?”

“Tapi kalau aku terlalu keras kepala…”

“Kamu bisa disini sekarang, karena kakek terlalu keras kepala..kan?”

Kembali ke masa lalu..

Kakek terus mengikuti Hana kemanapun dia pergi meskipun sudah larut malam. Hana yang saat itu masih jadi preman tidak mempedulikan kakeknya sama sekali. Kakek membawakan ubi bakar dan mengajak Hana tinggal di rumahnya dan hidup sebagai gadis normal. Kakek berusaha meyakinkannya kalau hidup normal itu asyik, meskipun tidak akan seasyik pergi bersama teman2. Hana tidak suka, ia menepis tangan kakeknya hingga ubi yang dibawa kakeknya terjatuh dan pergi meninggalkan kakeknya begitu saja. Kakek berteriak memohon pada Hana untuk tinggal bersamanya. Salju pun turun. Kakek duduk di tangga sambil memakan ubinya seorang diri.
Tiba-tiba Hana datang dengan membawa payung untuk kakek. Ia juga menerima ubi yang diberikan kakeknya. Kakek tersenyum, tahu kalau Hana mau tinggal bersmaanya.



Kembali ke masa sekarang…

Hana berkaca-kaca mengingat masa kelamnya itu. Kakek berkata dia tidak akan menyerah, karena kalau dia menyerah Hana tidak akan tinggal bersamanya sekarang ini. Hana menangis, ia memakan kuenya bersama kakek.


Esok harinya, Hana sudah di rumah Seiya. Ia ragu-ragu untuk memencet bel sampai akhirnya Daichi datang dan menekankan tangan Hana di bel itu. Daichi melakukan itu karena menurutnya ini takkan sia-sia. “Ini kan bukan perlombaan lari. Meskipun lo mulainya telat, lo masih bisa menyusul” kata Daichi memberikan semangat. Lalu ibu Chiba menjawab dari intercom kalau Seiya masih belum mau menemui siapapun. Sekarang gantian Daichi yang tanya, apa tidak apa-apa? Hana mengatakan kalau dia akan datang lagi, “ini kan bukan perlombaan lari. Kita bisa lebih santai dan menunggu Seiya keluar sendiri.” ucap Hana sambil mengikuti gaya Daichi tadi. Daichi tertawa, mereka pulang tepat saat ketiga geng cowok datang ke rumah Seiya. Seiya berkeringat ketakutan mendengar suara cowok2 itu.



Gaku memberikan alamat blog si hikkomori (hikkomori = menarik diri dari komunitas/masyarakat) pada Hana. Ia merasa ini mungkin akan membantu. Hana senang, tapi ia bingung mengartikan alamat blog itu yang dalam bahasa inggris. Daichi langsung ambil alih dan mencarinya di internet. Ia menduga ini adalah blog milik Seiya.

Mereka membaca postingan Seiya satu per satu.

“Hari ini, ketua kelasku datang bersama cowok badung ke rumahku. Menakutkan.”

Hana yakin ini adalah saat mereka pertma kali datang ke rumah Seiya dan “Cowok badung” itu pasti Daichi.

“Hari ini ketua kelas dan cowok badung itu datang lagi. Mereka bertengkar. Bicara blak-blakan begitu, apakah tidak menyakitkan? Aku takut.”

Hana penasaran sebenarnya Seiya itu takut apa sih? Dia terus melanjutkan membaca sampai pada saat Seiya pertama kali masuk SMA. Seiya sangat bersemangat, dia akan berjuang supaya dia bisa berteman. Pada 20 Mei 2009, K mengajak Seiya nongkrong. Meskipun mereka nggak begitu nyambung, dia nggak keberatan. Ternyata K dan kawan2 Cuma mau morotin Seiya doang. Kemana-mana Seiya yang selalu bayarin mereka semua.

“21 Juni 2009. Orang2 itu datang lagi ke rumah. Apa yang mau mereka lakukan padaku? Aku takut.”

“22 Juni 2009. Mereka datang lagi. aku sangat ketakutan dan tak bisa meninggalkan kamar.”

Yah, sejak saat itu Seiya sama sekali tak pernah keluar dari kamarnya. Daichi berkesimpulan kalau Seiya harus membicarakan masalah ini dengan K untuk berhenti meminjam uang darinya. Daichi mau pergi tapi Hana menahannya dan menunjukkan tulisan Seiya selanjutnya. Hana berkata bahwa masalahnya ada pada diri Seiya sendiri. Ternyata Seiya sebenarnya takut kalau orangtuanya tahu kalau K selalu mengambil uangnya. Ia tak sanggup menerima pikiran ortunya nanti yang akan menganggap dirinya lemah. Hana berkata kalau masalah ini nggak diberesin juga Seiya bakal tetap seperti itu.


Ada komentar masuk di blog Seiya. Entah dari siapa, tapi komentar itu berisi kalau sebaiknya Seiya berbicara dengan ortunya. Seiya membalas “Aku malu kalau harus bilang pada mereka bahwa aku tidak punya teman. Makanya saat K mau berteman denganku, aku merasa senang sekali. Aku sangat terlambat menyadari , bahwa sebenarnya dia hanya mengincar uangku.”
Mereka terus berbalas komentar, sampai pada komentar terakhir yang meminta Seiya menjadi dirinya senidri dan berteman dengan orang2 yang menerimanya apa adanya. Seiya mengamuk, ia tak percaya ada orang yang seperti itu.

“Ada atau tidaknya orang seperti itu, itu terserah pada kamu yang akan menentukan.” Kata Daichi yang sudah ada di depan kamar Seiya. Ternyata Daichi yang berkomentar di blog Seiya tadi. Ia bertanya kenapa Seiya selama ini diam aja. Apakah baik dengan nggak ngasi tahu hal ini ke ortu? Seiya bisa ngomong seperti ini sekarang padanya apa itu tidak berarti teman? Daichi meminta Seiya cerita padanya sekarang, bukan cuma nulis di blog. Akhirnya Seiya membuka pintu kamarnya. Daichi dan Hana senang, perjuangan mereka tidak sia-sia. Hana langsung memberikan Senbe (Kerupuk beras) untuk Seiya.


Sebagai hadiah, Hana mendapat pie apple. Ia sangat senang karena besok Seiya akan kembali ke sekolah. Ia akan membagi pie applenya dengan kakek. Daichi kesal tidak mendapat bagian. Tiba-tiba ketua geng waktu itu muncul dan mengira Daichi dan Hana pacaran. Mereka berdua santai banget menghadapinya. Hana berkata dia masih punya pilihan yang lebih baik. Dia mengusir preman itu agar dia bisa pulang dan makan pie-nya. Tapi, Hana langsung dicegat oleh anak buahnya lain. Si preman itu menantang Hana. Hana melempar pie-nya ke Daihi dan hanya sekali tendangan si preman itu sudah tercampak. Daichi dan Hana pun pulang. Saat itu muncul seorang gadis yang mengucapkan “Pengkhianat” ke arah mereka berdua. Dia adalah Himeji Rinka.


Daichi sudah sampai di sekolah. Hana melihatnya dan mengucapkan selamat pagi pada Daichi, tapi Daichi tak menggubrisnya. Dengan kesal Hana melepas earphone Daichi dan berteriak selamat pagi. Selagi mereka bertengkar gara-gara selamat pagi, Seiya datang dan menyapa mereka dari belakang. Seiya langsung dihadang K dan mengajaknya berteman seperti dulu. Daichi dan Hana pun melihat Seiya. Belum apa-apa K sudah mau pinjam uang lagi sama Seiya. Hana kesal melihat itu dan ingin menghampiri mereka, tapi Daichi melarangnya.
Seiya mulai berani, ia melepaskan rangkulan K, “Kalau Lo butuh uang, coba cari penyelesaiannya sendiri. Aku udah punya temen baru.” Kata Seiya lalu berjalan menghampiri Daichi dan Hana. Mereka jalan bersama dengan gembira.

Pak Sakai mengabsen semua muridnya, ia kaget begitu mendengar Seiya mengatakan hadir. Ia bertanya tentang keadaan Seiya dan menyemangati Seiya agar bisa bertahan duduk di dekat Daichi. Daichi memukul meja, “Apa coba maksudnya?” kata Daichi sampai membuat pak Sakai terkejut. HAHAHA

Rinka berjalan di koridor sekolah sambil memukul tongkat kayu yang dibawanya ke lantai. Ia berdiri di depan kelas 2A dan menendang pintu hingga pintunya menimpa pak Sakai. Semua murid jadi takut melihat “preman” masuk ke kelas mereka. “Akhirnya ketemu juga! Adachi Hana.” Teriak Rinka. Semua ngelihatin Hana bertanya-tanya.

No comments:

Post a Comment