June 13, 2016

Yankee-kun to Megane-chan Episode 3 - 2

                          

Rinka dan Daichi berada di taman. Daichi menyesalkan perbuatan Rinka tadi yang berkata kasar pada Hana, orang yang kata Rinka penting untuknya. Rinka berkata karena Daichi tak mengerti perasaannya. Lalu ia bertanya tentang Daichi yang mungkin sudah berubah, karena sekarang ia sekolah di SMA persiapan. Daichi berkata itu bukan urusan Rinka. Rinka tahu itu bukan urusannya, tapi ia yakin kalau Daichi pasti mutusin hubungan dengan teman2 premannya dulu.

“Cowok yang tadi hampir masuk ke café itu teman lo, kan? Dia nyuekin lo dan pergi gitu aja. Aku bisa ngerti kondisinya. Apa lo nggak ngerasa kalau lo ditinggal sendirian?” ucap Hana.
Daichi hanya diam saja, menyadari itulah yang terjadi padanya. Rinka berpikir kalau Hana sudah memilih kehidupan baru. Dia Cuma perlu meninggalkan Hana disini. Kemudian Rinka pun pergi.

Hana berbaring di beranda rumahnya, ia teringat pertemuan pertama kalinya dengan Rinka.
Saat itu Rinka sedang dibully teman-temannya yang tidak suka padanya. Lalu Hana datang dan mengusir mereka. Rinka ingin tersenyum mengucapkan terimakasih, tapi Hana pergi, mengabaikannya. Semua orang menjelek-jelekan Hana yang tidak naik kelas dan tidak ada yang mau berteman dengannya. Hanya Rinka yang mau berteman dengannya dan sejak itu mereka mulai akrab.



Keesokannya, Daichi lagi asyik baca komik. Hana nyamperin dan menyuruhnya untuk menandatangani form rekomendasi agar dirinya menjadi ketua OSIS. Daichi tidak mau merekomendasikan orang yang tidak jelas kayak Hana. Seiya muncul dan memberikan tanda tangannya untuk Hana. Hana memaksa Daichi untuk menulis namanya, Daichi menolak. Ia merasa menjadi ketua OSIS itu lebih sulit daripada hanya menjadi ketua kelas, menurutnya Hana tidak bisa melakukan itu. Hana tetap memaksa bahkan terus mengikutinya. Tiba-tiba Daichi mengungkit masalah Rinka yang sepertinya sudah pulang. Ia tak habis pikir Hana lebih mementingkan jadi ketua OSIS daripada urusan temannya sendiri.

“Oke, kalau gitu.” Jawab Hana dan malah menulis nama Daichi sendiri. Daichi kesal Hana menulis tanpa ijin darinya.

“Kalau burung nggak nyanyi juga, aku akan membuatnya bernyanyi sendiri.” kata Hana sambil menempelkan cap jempol Daichi.

Hana berjanji akan berjuang. Daichi marah dan merampas form Hana, “Kemaren lo berjuang keras demi Seiya. Tapi kenapa yang ini nggak? Apa lo tetap berniat meninggalkan teman lama lo?"

“Bukannya aku udah pernah bilang. Aku udah bukan preman lagi.” balas Hana dan mengambil form nya kembali.

Setelah pulang sekolah Daichi datang ke bengkel Seiun. Ia cerita tentang Hana yang tak ingin berbaikan dengan Rinka. Menerut Seiun, Hana terus-terusan berkata dia bukan preman lagi untuk menyangkal dirinya sendiri dan ingin berubah, jadi dia udah nggak peduli lagi dengan teman-teman lamanya. Kalau tidak dia tidak akan berubah2. Seiun merasa Daichi juga sudah berubah, karena ia mulai mengkhawatirkan teman-temannya apalagi sekarang raut wajah Daichi tampak lebih bersahabat. Seakan tak percaya, Daichi malah mengacai wajahnya sendiri. Saat Daichi hendak pulang, tiba-tiba Naniwa (petugas kabaret) datang dan marah2 pada Daichi, karena gara-gara Daichi-lah dia dipecat dari kerjaannya.

“Kerjaan? Klub kabaret itu. Kamu yang masukin cewek umur 16 tahun dan malsuin jadi 19 tahun buat dipekerjakan…”

“Kalau gitu kamu yang salah dong!” tambah Seiun.

Naniwa semakin marah dan meremas kerah Daichi. Daichi dengan santainya menubrukan kepalanya ke kepala Naniwa sampai Naniwa mengaduh kesakitan.



Di sebuah café, Rinka membaca surat dari Hana yang memintanya untuk datang ke acara pidato kampanye ketua OSIS SMA Monshiro nanti. Rinka dengan kesal malah merobek surat-surat itu.
Tibalah waktunya pidato kampanye itu. Seiya datang ke kelas yang Cuma ada Daichi. Dia bertanya apa Daichi akan datang melihat pidatonya Hana. Dengan dingin Daichi menjawab, “Apa urusannya denganku? Palingan dia Cuma bilang ‘mari belajar dan berjuang bersama-sama. Mari mengikuti semua aktivitas klub untuk membuat kenangan bersama-sama’. Pasti si Hana bakal bilang kayak gitu.”Seiya merasa itu mungkin juga, tapi ada satu hal yang Daichi tidak tahu yaitu pidato Hana hari ini dibuat khusus untuk Rinka.

Flashback..

Hana berulang kali menghapus isi pidato yang akan ia baca nanti. Seiya datang dan menawarkan bantuannya. Dengan sopan Hana menolak, rasanya sia-sia kalau dia tidak membuatnya sendiri.

“Kalau dia tidak muncul bagaimana?” tanya Seiya tiba-tiba.

“Kalau itu pilihannya Rinka, aku tak-apa. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan sekarang.” Jawab Hana. Flashback end.

Daichi teringat ucapan Hana yang mengatakan kalau dia bukan preman lagi. Ia sudah berada di bengkelnya Seiun, meminjam motor Seiun dan pergi ke suatu tempat. Setelah Daichi pergi, dari belakang muncullah Naniwa dan teman-temannya.


Kemudian diperlihatkan pak sakai yang lagi berpidato di depan seluruh siswa. Di café tempat Rinka berada, Daichi datang dan menyeret Rinka keluar, membujuknya ikut untuk melihat pidato Hana. Tiba-tiba Naniwa menelponnya, memberitahu kalau ia sudah menyandera Seiun. Tapi itu Cuma akal-akalan Naniwa doang supaya Daichi mau datang. Seiun sebenarnya tidak disandera, ia malah merampas ponsel Naniwa dan ngobrol dengan Daichi. Daichi bertanya apa yang terjadi. Bukannya menjawab Seiun bertanya balik, apa Daichi berhasil ngebujuk Rinka? Sambil mengobrol Seiun terus melawan anak buah Naniwa satu per satu. Daichi khawatir dan bertanya dimana Seiun sekarang. Seiun tak mau memberitahunya dan berkata akan mengurus masalah ini sendiri. Teman-teman Naniwa berdatangan semakin banyak.

Seiun mengatakan dalam telponnya bahwa Daichi bukan preman lagi. Daichi berjuang dengan keras agar bisa masuk SMA Monshiro. Lakuin apa yang memang Daichi ingin lakuin. Dia sadar, jalan mereka berdua memang berbeda. Dia ditakdirkan buat kerja di bengkel. Sedangkan Daichi anak dari seorang dokter. Mereka terlalu berbeda untuk disatukan dari awal. Tapi dia senang mereka bisa berteman. Dia sebenarnya juga tahu, bahwa suatu hari mereka bakal pisah jalan. Seiun memintanya untuk berhenti berkelahi. Kalau tidak, Daichi bakal dikeluarkan dari sekolah. Dan gimana dengan teman-teman baru Daichi?

“Lo nggak perlu mengkhawatirkan keadaan gue! Lo harus urus urusan lo sendiri.” kata Seiun dan setelah itu ia melempar ponsel Naniwa dan mulai melawan mereka satu per satu. Tentu saja, karena ia hanya sendiri semua langsung mengeroyoknya. Daichi tak tinggal diam, ia pergi ke tempat Seiun berada. Seiun berteriak mengatai Daichi bego. Daichi tak peduli, berdua mereka mengalahkan Naniwa dkk.


Ternyata Rinka mengikuti Daichi ke tempat itu. Di sela-sela pertarungan mereka, Seiun berkata bahwa dia bosan melihat Daichi yang semenjak SMA selalu berantem tanpa alasan. Daichi bingung dia harus ngapain lagi.

“Ngga tau, pikir sendiri..bego!”
“Aku emang bego, makanya aku nggak ngerti!” teriak Daichi.
“Kalian berdua, stop berantem sendiri dan konsen sama perkelahian ini.” ucap Naniwa yang berada di tengah-tengah mereka.

Daichi dan Seiun kesal, mereka menubrukkan kepala mereka ke kepala Naniwa. Tanpa mereka sadari semua orang sudah jatuh tak berdaya. Seiun mengungkapkan keinginannya pada Daichi bahwa dia Cuma ingin Daichi jadi diri Daichi sendiri. Daichi kelihatannya udah mulai bisa beradaptasi dengan sekolah yang sekarang. Kalau Daichi tetap nongkrong dengan preman sepertinya, dia berpikir apa yang harus dia lakukan supaya Daichi bisa berubah.
Daichi bangkit, “Lo ini bego ya? Aku bisa jadi diriku sendiri saat bersama lo. Nggak peduli kita sekolahnya beda, persahabatan kita takkan pernah berubah.” Ucap Daichi Seiun pun tersenyum mendengarnya.
Melihat persahabatan Daichi dan Seiun, Rinka teringat saat dia bersama Hana berhasil mengalahkan lawan2 mereka. Disaat itu Hana berkata bahwa dia selalu bakal bantuin Rinka. Rinka memanggil Daichi dan meminta Daichi mengantarkannya ke tempat Hana.


Di aula sekolah, seluruh siswa sudah sangat bosan mendengar pak sakai menyebutkan 135 pasal aturan di sekolah mereka. Bahkan ada yang tidur sampai berdoa karena pak sakai seperti khotbah. Hahaha
Barulah setelah itu ia mempersilahkan para kandidat ketua OSIS untuk berpidato. Tepat saat itu Daichi, Rinka, dan Seiun sudah sampai di sekolah. Rinka masuk tapi Daichi tidak masuk. Hana mulai menyampaikan visi-misi nya. Ia berhenti sebentar saat menatap ke depan, melihat Rinka akhirnya muncul.

“Sekarang saya hanya tinggal dengan kakek saya. Sebelum saya tinggal bersamanya, saya tidak punya tempat tinggal. Baik di rumah maupun di sekolah , tidak ada yang menerima saya sama sekali. Tetapi lambat laun, saya merasa datang ke sekolah ternyata menyenangkan. Karena waktu itu, saya berpikir bahwa ada seseorang yang menghargai keberadaan saya. Sebagai seorang Adachi Hana. Berapa banyak dari kaian yang belum menemukan tempat yang sesuai bagi diri kalian? Pernahkah kalian mencoba mencarinya? Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Tempat itu adalah, tempat dimana orang-orang menerima dirimu apa adanya. Tempat dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri. saat kamu bisa jujur pada dirimu sendiri, itu adalah tempat dimana seharusnya kamu berada. Untuk orang-orang yang selalu berpikir bahwa mereka sendirian, untuk orang-orang yang tidak punya tempat tinggal atau tujuan, saya ingin menjadikan sekolah ini sebagai tempat, dimana orang-orang seperti itu bisa menjadi diri mereka sendiri.”

Itu adalah pidato Hana. Akhirnya Daichi masuk dan mendengarkan pidato Hana itu bersama Rinka dan seluruh siswa lainya. Saat sesi pertanyaan, Hana yang di belakang mengangkat tangannya. Semua siswa lantas menoleh kebelakang.


“Aku ingin selalu bersamamu, Nona Hana! Saat aku bersamamu, aku bisa jadi diriku sendiri.” kata Rinka

Hana tersenyum, “Kalau begitu, mari bersama-sama membuat sekolah ini menjadi tempat untuk Rinka.” Seiya bertepuk tangan dengan semangat dan yang lain akhirnya juga bertepuk tangan.

Rinka terharu, ia mundur kebelakang di dekat Daichi, berterima kasih padanya. Anehnya Daichi berkata “Kamu manis juga”. Rinka terkejut dan berkhayal Daichi memeluknya. Kenyataannya, Daichi Cuma ngambilin kepik yang sangkut di rambut Rinka. Rinka sebal dan menonjok perut Daichi, “Lo nyebelin bego” katanya.

Gaku maju ke podium. Ia mengatakan pada Hana bahwa sekolah bukan tempat untuk mencari Hana. Dengan mengambil mik, ia berbalik ke hadapan seluruh siswa.

“Saya adalah kandidiat ketua OSIS yang lain. Saya memilik visi-misi untuk membuat sekolah ini menjadi sekolah favorit. Saya berniat membuat para ‘preman bodoh’ yang ada disini sadar bahwa mereka salah tempat.” Ucap Gaku dengan angkuhnya.

No comments:

Post a Comment