Yankee-kun to Megane-chan Episode 4 - 2

                       

Gaku berjalan pulang di malam hari. Ia tidak sengaja menyenggol bahu siswa SMA lain yang lewat. Orang itu marah dan menarik seragam Daichi.

Beralih ke keluarga Shinagawa yang tengah makan malam. Ibu memperingatkan Daichi untuk memeriksa kantongnya dulu sebelum menaruh pakaian. Ibu pun memberikan sebuah kertas pada Daichi. Tapi Kairi yang jail banget langsung merampas kertas itu, mengira itu adalah nilai tes yang Daichi sembunyikan. Kairi terkejut begitu melihat itu adalah pertanyaan jurusan, apalagi Daichi memilih Sains. Ia bertanya heran, apakah Daichi ingin kuliah. Daichi menjawab ia tidak tahu. Ibu mengatakan Daichi ingin sekolah kedokteran makanya ia memilih Sains.



“Benarkah?” tanya ayah.

“Tidak benar. Aku belum memikirkan sejauh itu. aku berpikir tentang sekolah kedokteran tapi kakak sudah duluan. Itulah akhirnya.” Jawab Daichi.

Ayah marah karena Daichi menganggap enteng. Menjadi seorang dokter itu sangat sulit.
“Aku tahu. Itu benar-benar sulit. Aku hanya mencobanya! Aku tidak ingin jadi dokter.” Ucap Daichi dengan nada tinggi.

Dengan Daichi yang terlambat lulus SMA, apa yang akan dia lakukan. Ayah ingin Daichi untuk pikirkan masa depannya dulu sebelum memberitahu mereka. Daichi berteriak ia tak tahu. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dia inginkan dan apa yang harus dia lakukan.

“Aku bilang pergi mencari tahu, bodoh! Kau menipu dirimu sendiri, bodoh.” Teriak Ayah

“Bodoh-bodoh, diamlah!” kata Daichi marah. Ia merobek kertas jurusannya dan pergi dari rumah.
Dengan lembut Ibu memberikan selotip pada ayah, Daichi harus mengumpulkan jurusan pilihannya.


Sepanjang jalan Daichi terus mengeluh kesal. Tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut. Ia mendatangi arah suara itu. Betapa terkejutnya ia saat tahu orang yang tengah berkelahi itu adalah Gaku. Keesokan harinya, Daichi menemui Seiun, menceritakan apa yang dilihatnya kemarin. Seiun sudah menduga, karena ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Seiun mengingatkan Daichi kalau Gaku dulunya adalah ketua SMP Suminaga. Daichi tidak ingat sama sekali. Namun saat Seiun bekata bahwa saat Daichi dan Gaku bertarung mereka imbang barulah Daichi ingat. Seiun berkata sejak saat itu Daichi berhenti berkelahi dan Gaku juga berhenti menjadi seorang Yankee.

Di sebuah tempat kosong, Gaku berkelahi lagi dan seseorang melihatnya.
“Izumi-san, apa yang kau lakukan? Bukankah kau berhenti berkelahi?” tanya orang itu.
“Aku bosan. Jadi aku tidak bisa menhannya.” Jawab Gaku lalu pergi.


Suatu hari, Matsuyama Keisuke dan Yanagawa Toru (pakai kacamata) menjadi komentator dalam pemilihan ketua OSIS. Mereka menunjukan hasil pemilihan sementara. Awalnya persentase Hana dan Gaku sama, tapi tak lama persentase Hana turun menjadi 0%. Sontak semua yang ada disitu tertawa melihatnya.

“Kalian dapat lihat Gaku punya banyak dukungan. Analisanya, Matsuyana-san.” Ucap Toru.

“Sudah jelas. Aku kira kita tidak harus menunggu sampai hari pemilihan. Semuanya, pada hari pemilihan, kita harus memberikan suara kita!” kata Toru dan Keisuke bersama-sama.

Semua siswa bertepuk tangan. Ternyata kelompok Hana juga melihat itu. Mereka tak menyerah sedikitpun dan akan terus berjuang sampai akhir. Gaku lewat dan memandang remeh ke arah mereka.


Saat pulang sekolah, teman yang memergoki Gaku tengah berkelahi waktu itu memanggil Daichi. Ia mengenalkan dirinya, Kagawa, dari SMP Suminaga, yang ternyata adalah adik kelas Gaku. Mereka lalu mengobrol tentang masa lalu Gaku. Meskipun Gaku tidak disukai banyak orang tapi Kanagawa menganggap dia sangat keren dan ingin menjadi seperti dia.

Flashback..

Gaku dengan mudah berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Tapi ia bosan. Ia pikir jadi pemimpin akan lebih menarik, ternyata benar-benar tidak menyenangkan. Gaku berkata pada Kanagawa kalau dia akan berhenti berkelahi. Dia akan mencoba hal-hal lain, seperti belajar.
“Kekuatan dan kepintaran. Tidak banyank orang yang menaklukan keduanya.” Kata Gaku. Flashback end

Kanagawa berpikir kalau Gaku ingin menjadi ketua OSIS, sehingga dia selalu jadi no. 1. Ia pun memberitahu kalau Gaku mulai berkelahi lagi akhir-akhir ini. Ia tidak mengerti sama sekali kenapa Gaku bisa seperti itu. Mereka selalu bersama. Ia merasa hidup ketika bersama Gaku. Tapi mereka tidaklah sama. Makanya dia merasa kalau Gaku harus masuk SMA Monshiro.

“Gaku adalah orang besar. Sekali keputusan dibuat, tidak bisa dihentikan. Ia berbeda dengan kami. Karena itu, aku tidak ingin melihat dia berkelahi lagi.”

“Jadi, apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku tidak tahu..kau satu-satunya orang yang seimbang dengan Gaku.”

Setelah itu, Daichi berjalan pulang dan tiba-tiba ia dihadang sekelompok orang yang menuduh Daichi memukuli teman mereka, Gaku. Si Pria menoleh kebelakang, Keisuke dan Toru yang ketahuan mengintip langung berlari pergi.


Daichi berkelahi lagi dan dilihat oleh siswa-siswa lain. Karena kelakuannya itu ia diskors untuk yang kedua kalinya. Pak sakai mengingatkannya kalau ini adalah yang terakhir, jika Daichi mengulanginya lagi ia akan di keluarkan.
Semua orang membicarakannya. Hana berlari menghampiri Daichi. Ia khawatir tentang pemilihan OSIS mereka. Daichi hanya meminta maaf pada Hana. Keisuke dan Toru yang waktu itu mengintip tak menyangka kalau Daichi bukanlah satu-satunya Yankee di sekolah mereka, tetapi Gaku juga seorang yankee. Saat mereka tengah membicarakan hal itu muncullah Gaku di belakang mereka, mereka langsung terdiam ketakutan.


Daichi menemui Gaku di suatu tempat, karena Gaku memintanya datang. Daichi bertanya kenapa Gaku datang kesekolah ini. Apa Gaku pikir ia akan menjadi ketua OSIS karena dia pintar? Daichi mengatainya bodoh yang berkelahi tanpa tujuan. Gaku balas mengatainya bodoh. Ia tidak akan berterima kasih pada Daichi. Apa gunanya melakukan hal-hal untuk teman atau kenalan, itulah alasan kenapa aku mengatakan kau yang bodoh, ucap Gaku.

“Tidak ada yang ingin kulakukan selain melakukan hal-hal untuk temanku. Aku tidak punya alasan lain. Bagaimana denganmu? Apa tidak ada teman yang khawatir tentangmu?”

“Tidak ada satupun. Aku selalu sendirian dan akan selalu. Selama aku punya kekuatan semua orang akan mengikutiku.”

Daichi mulai emosi. Gaku melakukan hal itu, tapi ia menekan orang lain. Memilih berkelahi demi kesenangan dan berpura-pura menjadi siswa teladan tapi diam-diam berkelahi. Gaku membalas Daichi, “Diam. Menjadi yang terbaik dalam belajar dan berkelahi. Aku pikir aku akan menemukan sesuatu yang menarik tapi aku tidak bisa menemukan sesutau seperti itu. Aku pergi sejauh yang ku bisa. Apa yang ingin dan harus kulakukan? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu!” teriak Gaku. Tanpa sadar Gaku sudah mencurahkan isi hatinya. Daichi berkata kalau dia juga belum menemukan apa yang dia inginkan. Tapi itu bukan alasan untuk tetap seperti ini. Dia bermasalah karena dia belum menemukannya. Gaku semakin marah dan tidak bisa menahan dirinya. Mereka akhirnya berkelahi. Hana, Rinka, dan Seiya yang sedari tadi ada disitu menjadi khawatir. Hana meminta mereka berhenti, tapi mereka tidak peduli. Hana pun naik ke atas bangunan dan menendang drum hingga jatuh diantara mereka, barulah mereka berhenti.

Hana berkata pada Gaku, jika dia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan kenapa tidak datang ke sekolah tiap hari? Jika punya teman akan ada sesuatu untuk dilakukan. Sekolah adalah tempat untuk mencari teman dan membuat kenangan yang indah. Mereka memiliki harapan yang sama.

“Kau bodoh. Kita bukan anak SD. Tidak ada yang berpikir seperti itu.”

“Apa kau yakin? Aku sangat ingin tahu tentangmu. Kenapa kau membantuku waktu itu? Kenapa kau meminjamkan catatanmu, menyalinnya demi Seiya?”

“Karena itu menggangguku. Dan setiap hari selalu mengganggu.” Kata Gaku, memakai kacamatanya kembali.

Hana berkata itu salah. Sebenarnya, Gaku ingin punya teman. “Bahkan kau menjadi no. 1 atau ketua OSIS. Kau tidak bisa lakukan apapun jika kau sendirian. Kau tidak akan menemukan yang kau cari.” Ucap Hana. Gaku diam menyadari apa yang dikatakan Hana mungkin benar. Hana berniat mengundurkan diri jadi ketua OSIS agar Gaku yang jadi ketua OSIS. Mereka bisa bersama-sama menemukan hal yang baik di sekolah. Gaku tampak bimbang mendengar ajakan tulus Hana.


Ayah sudah menunggu Daichi pulang di depan pintu. Ayah sedikit kecewa melihat Daichi berkelahi lagi. Tak ingin berdebat, Daichi pergi begitu saja. Tiba-tiba ayah memanggilnya lagi dan memberikan kertas jurusan Daichi yang sudah di lem. Daichi tersenyum melihatnya.
Keesokan harinya, semua siswa mengumpulkan kertas jurusan pilihan mereka. Daichi paling terakhir mengumpulkannya. Saat pak sakai melihat pilihan Daichi, pak sakai kaget. Ia bertanya apa Daichi yakin? Pak Sakai lalu memberitahu kalau hari ini adalah hari pemilihan ketua OSIS. Tiba-tiba Gaku mengatakan kalau dia akan mengundurkan diri. Masih ada yang lebih baik darinya. Seisi kelas tak menyangka dengan pilihan Gaku ini. Akhirnya Hana lah yang menjadi ketua OSIS SMA Monshiro yang ke-81.

Mereka membersihkan sebuah ruangan yang akan menjadi ruang OSIS. Daichi mengeluh kenapa dia harus melakukan bersih-bersih juga. Hana berkata kalau Daichi itu wakil ketua OSIS. Daichi tak percaya, Hana pun menunjukkan peraturan yang ketiga “Jika calon itu terpilih, salah satu nominator akan jadi wakil ketua”. Hana tak peduli dengan kesalnya Daichi, ia berkata Seiya sudah mengajukan diri menjadi bendahara, jadi Daichi lah yang mendapat posisi itu.

Hana menarik tangan Daichi, “Apa kau belum tahu, Shinagawa-kun? Aku membutuhkanmu.” Kata Hana. Daichi berpikir perkembangan ini apa akan terjadi sekarang? Ia lagi-lagi menghayal Hana mengatakan kalau dia tidak bisa hidup tanpa Daichi. Tapi nyatanya Hana malah mengikatkan saputangan ke kepala Daichi, menyuruhnya membersihkan seluruh ruangan. Daichi kesal kenapa hanya dia yang disuruh, bukannya ada dua wakil ketua. Dan betapa terkejutnya Daichi saat Gaku muncul dan mengaku kalau dia juga wakil ketua. Meskipun posisi mereka sama tapi Gaku adalah wakil ketua satu, terpaksalah Daichi harus membersihkan seisi ruangan seorang diri.

No comments:

Post a Comment