Yankee-kun to Megane-chan Episode 6 - 1


News Monshiro melaporkan setelah acara Kontes pasangan terbaik yang diadakan OSIS, persentase kepemimpinan Hana meningkat menjadi 10% yang awalnya hanya 3%. Sejak itu, tak hanya Takuya dan Saori yang resmi berpacaran, namun banyak siswa lain yang mulai berpacaran di sekolah. Toru dan Keisuke juga berharap punya keberuntungan yang sama dengan mereka.



Dengan gembira, Hana memberitahu hal ini pada Daichi. Ia yakin dengan dukungan pada mereka yang semakin meningkat ia dan Daichi bisa mengikuti ujian susulan. Hana langsung mendorong Daichi ke kelas untuk ujian yang hanya terdapat beberapa orang.


Waktu ujian sudah habis. Daichi ingin mengambil pensilnya yang terjatuh, tapi seorang cewek sudah duluan mengambil pensil itu untuk Daichi. Daichi sontak mematung, mengingat saat seorang cewek yang dulu meminjamkan pensil pink itu padanya. Cewek itu tersenyum manis pada Daichi. Masih asyik memikirkan cewek itu, pak sakai malah memanggil Daichi karena lembar jawaban Daichi kosong. Daichi tak percaya, jelas-jelas dia sudah mengisinya. Pak Sakai pun menyuruhnya lihat sendiri. Ternyata itu memang bukan milik Daichi melainkan milik cewek yang tadi mengambilkan pesnsil Daichi, Miyagi Jun (Ishibashi Anna). Jun minta maaf karena tak bisa mengisinya. Pak Sakai berkata tak apa-apa, Jun tak perlu minta maaf. Ia mengatakannya pada Jun dengan lembut. Tapi ketika Hana tak mengisi satu soal matematikanya, Pak Sakai langsung memanggilnya dan memaharinya. Ia menyuruh Hana dan Jun untuk mengulang ujian lagi. Daichi berhasil lolos.


Di ruang OSIS, Hana dan Jun mencoba mengerjakan soal mereka, tapi apa daya mereka benar-benar tak tahu. Bukannya beajar mencari jawabannya dia malah senang bisa berteman dengan Jun yang sama bodohnya dengan dirinya. Hahaha
Seiya tak habis pikir bagaimana bisa Hana masuk ke SMA ini. Hana berkata itu hanya kebetulan, sama seperti Daichi. Daichi yang lagi baca komik menyahut, kalau dia belajar dengan baik. Terus Hana bertanya kenapa Daichi tak melakukan itu juga sekarang? Daichi menjawab dia hanya tidak mau. Jun berhasil menemukan jawabannya, namun tetap salah juga. Rinka menyarankan agar mereka menghapal jawabannya saja, itulah satu-satunya cara untuk lulus ujian. Jun tidak mau, itu takkan ada artinya jika dia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Sebelum melakukan itu, dia ingin belajar dulu.


Seiya bergeser ke belakang menghampiri Daichi. Dia berkata meskipun nilai Jun buruk tapi Jun cukup disiplin juga. Apalagi dia lucu, puji Seiya. Daichi berhenti membaca komiknya dan ikut memperhatikan Jun. Dia bertanya apa Jun itu tipe Seiya? Seiya berkata semua orang pasti menyukainya, karena dia cantik. Tapi, pada akhirnya kepribadian adalah yang paling penting. Merasa diperhatikan, Jun menoleh ke arah mereka dan bertemu pandang dengan Daichi. Jun tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Daichi, tanpa ragu Daichi menyambutnya dan tak menyangka di pertemuan pertaman hubungan mereka langsung seperti ini. “Ini menjijikkan” kata Jun mengagetkan Daichi.

Ternyata itu lagi-lagi imajinasi Daichi, yang sedang dirayunya adalah Seiya bukan Jun. Daichi langsung memukul Seiya, kenapa jadi kau? Katanya kesal.

“Kau yang memulainya. Apa yang kau pikirkan?” Tanya Seiya aneh.


Jun permisi pulang, karena ada sesuatu yang harus dia lakukan. Rinka tidak suka pada Jun yang sesuka hatinya saja pada Hana. Hana pun menenangkannya kalau Jun mungkin punya urusan yang penting.

Tapi tidak dengan Seiya, ia berpikir Jun pulang karena ingin kencan. Daichi tidak melihat Gaku, jadi ia bertanya dimana Gaku. Seiya memberitahu kalau Gaku sudah pulang karena ada urusan. Seiya pun berpikir kalau Gaku munkin berkencan juga.

Daichi memprotes Gaku, tapi Seiya balik memprotes Daichi yang kerjaannya cuma baca komik. Sejak sekolah mengadakan kontes pasangan terbaik, semua orang jadi ceria, Seiya merasa hanya dirinyalah yang tertinggal. Daichi pun nyambung kalau dia juga begitu. Tapi menurut Seiya tidak, karena Daichi punya seseorang yang dia sukai. Hana dan Rinka sontak beralih menatap mereka.

“Itu bukan urusanmu.” Teriak Daichi.

“Kita seharusnya tidak menyimpan rahasia.” Ujar Seiya.

Pak Sakai menuntut perangkat Osis untuk menentukan kapan waktu untuk mengadakan pertemuan antara orangtua dan guru. Pak sakai berhenti di dekat Daichi, tapi Daichi menolak. Lalu pak sakai menghampiri Gaku yang ternyata tidur. Tapi kok gak kayak tidur ya?
Pak Sakai berteriak padanya sampai Gaku kaget dan bangun.

“Ayo serahkan form pertemuan orangtua dan guru.” Tagih pak sakai.

“Aku lupa.” Jawab Gaku.

“Jangan membuat alasan seperti Daichi.”

Mendengar namanya disebut ia tak terima, ia tak pernah beralasan seperti itu. Pak sakai lalu menyimpulkan kalau Daichi membawa form nya dan menagihnya kembali. Tapi benar saja, Daichi akhirnya juga beralasan kalau dia lupa. Seisi kelas langsung menertawakannya dan dibuat terkejut saat melihat Gaku yang kembali tidur.



Di lapangan olahraga, Jun duduk sendirian. Daichi yang kebetulan lewat meperhatikan Jun saat ia menerbangkan sebuah pesawat kertas. Setelah Jun pergi Daichi mengambil kertas itu dan melihat ternyata itu adalah form pertemuan orangtua dan guru.
Saori, Yuki, dan Ayumi, pulang bertiga. Tiba-tiba mereka melihat Jun sedang bekerja paruh waktu. Mereka tak menyangka padahal sekolah melarang siswanya untuk kerja paruh waktu. Akibatnya Jun kena skors sama seperti Daichi waktu itu. Daichi yang lewat bertanya apa itu benar? Keisuke dan Toru yang takut langsung berubah menyemangatinya.


Hana berlari menemui Jun dan mengajaknya belajar bersama. Jun menolak karena ia harus pergi, lagipula sekolah telah menskorsnya karena ketahuan bekerja. Daichi juga menemui Jun dan menyerahkan form miliknya yang ia terbangkan waktu itu. Ia menyemangati Jun untuk tidak khawatir, ini hanya skors bekerja bukan skors berkelahi sepertinya. Jun berterimakasih tapi ia berkata bahwa orangtuanya tidak tahu tentang hal ini.



Sedang serius-seriusnya memikirkan pensil pink itu, ibu berteriak berulang kali menyuruhnya membukakan pintu. Dengan kesal Daichi membukakan pintu. Betapa kagetnya ia saat melihat pak sakai lah yang datang. Pak sakai datang untuk menagih form pertemuan itu pada Daichi. Mereka berdebat di depan pintu. Daichi pun meminta Pak sakai menunggu selagi dia mengambil. Ibu yang mendengar ribut-ribut keluar dan akhirnya bertemu dengan pak sakai. Daichi berteriak dari belakang melarang pak sakai masuk. Ibu langsung menghantamkan tangannya ke belakang dan tepat mengenai hidung Daichi sampai Daichi terjatuh dengan darah mengalir dihudungnya. Ibu meminta maaf pada pak sakai dan mempersilahkannya masuk.


Tapi bukannya langsung menceritakan masalah Daichi, pak sakai malah asyik cerita bersama kakek yang juga ada di rumah Daichi tentang Hana. Parahnya lagi ayah, ibu, dan Kairi juga asyik menikmati makan malam mereka tanpa terganggu sedikitpun. Daichi kesal yang mereka ceritakan malah Hana, kalau mau berceriat tentang Hana, pergi saja ke rumahnya, teriak Daichi. Barulah saat itu Pak sakai serius membicarakan masalah Daichi dengan ayah. Sedangkan kakek, ibu, dan Kairi menguping dari luar. Begitu pak sakai menununjukkan nilai Daichi yang buruk tapi ingin memilih sains, Ayah langsung menekan kepala Daichi dengan kedua tangannya yang terkepal.

“Kenapa kau selalu menyerah? Apakah kau pernah berpikir untuk berusaha keras?”

“Ini sudah terlambat. Bukankah dia mengatakan itu tidak mungkin?”

Ayah marah besar melihat Daichi yang memilih Sains tapi tak pernah mencobanya. Daichi selalu seperti itu.

“Umurmu sudah 16 tahun. Cobalah berjuang keras sekali sekali. kau masuk sekolah itu hanya keberuntungan. Tapi keberuntungan hanya keberuntungan. Ini bukan kemampuanmu yang sesungguhnya. Jangan hanya duduk disana untuk mendapatkan keberuntungan. Itu salah!”

“Aku tahu itu! aku tahu itu salah tapi.. aku benar-benar tidak pernah menyukai belajar. Dengan belajar tanpa tujuan aku tidak bisa melakukannya.”

“Jadi, kenapa kau masuk ke SMA itu? Apa niatmu setelah memasukinya?”

“Aku… punya alasan tersendiri.” Saat Daichi mengatakan itu, ia memandang ke arah Kairi. Dia tak ingin mengatakan pada ayahnya kalau dia ingin menjadi penerus dokter di keluarga mereka. Ayah semakin emosi dan menekan kepala Daichi lagi.


Di kelas, ketika pak sakai menjelaskan materi sinus cosinus, Daichi diam-diam mengintip Gaku yang lagi-lagi tertidur di kelas. Pak sakai langsung menghampirinya dan memukul kepala Gaku dengan buku.

“Jika kau terus tidur seperti ini, kau akan menjadi seperti Daichi.”

Setelah pelajaran selesai, Pak sakai menemui Daichi. Ia bertanya tentang Gaku yang akhir-akhir ini tanpak aneh. Daichi berkata kenapa tanya padanya? Itu karena mereka berteman. Daichi menampiknya dan menyuruh pak sakai berkunjung ke rumah Daichi juga. Pak Sakai memberitahu kalau dia mengunjungi rumah Gaku setelah dia ke rumah Daichi kemarin. Tapi tak ada satupun orang di rumah. Daichi berpikir kalau Daichi belajar keras setiap malam dan tidur saat di kelas pak sakai. Bukankah itu cara belajar yang efisien? Alhasil Daichi pun kena amukan pak sakai dengan ditekan kepalanya sama seperti yang ayahnya lakukan.


Sepulang sekolah Daichi diam-diam membuntuti Gaku. Merasa diikuti Gaku menoleh ke belakang, melihat tak ada orang ia pun berpikir ini hanya imajinasinya. Daichi ternyata sembunyi di tong sampah agar tak ketahuan gaku. HAHAHA

Ia berhasil mengikuti Gaku ke suatu tempat, namun tiba-tiba saja Gaku menghilang dan yang muncul malah Sagami, musuh bebuyutannya. Daichi tak menghiraukan ocehen Sagami. Ia mencari Gaku disetiap tong sampah yang ada di hadapannya, namun tak ada juga. Saat Sagami ingin memukul Daichi seseorang menghentikannya. Itu adalah Gaku yang sudah memakai seragam kerjanya. Daichi bertanya apa yang Gaku lakukan disini. Gaku hanya diam dan berlalu pergi. Itulah kenapa Gaku sering tertidur di kelas, karena ia juga bekerja paruh waktu.

No comments:

Post a Comment