Yankee-kun to Megane-chan Episode 6 - 2


Di ruang OSIS, Pak Sakai mengumumkan ada beberapa siswa yang ketahuan diam-diam bekerja paruh waktu. Sebagai anggota OSIS mereka harus menangani hal ini. Daichi dan Gaku saling melirik dalam diam. Mereka lalu bicara di atap. Gaku berkata meskipun Daichi melaporkannya ke guru, dia tidak akan berhenti dari pekerjaannya. Daichi tak mempermasalahkannya, yang menjadi masalah adalah bagaimana hal itu akan mempengaruhi Osis. Gaku tak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut Daichi. Bekerja paruh waktu adalah urusannya. Jika dia menyebabkan masalah untuk OSIS dia bisa berhenti.




Sepulang sekolah, Hana jalan-jalan sebentar. Ia melewati sebuah resto kecil tempat Jun bekerja. Awalnya ia tak menyadari, namun saat balik ke tempat itu lagi ia benar-benar melihat Jun bekerja disitu. Hana mengajak Jun bicara, ia bertanya alasan Jun diskors. Jun berkata haruskah dia mengatakan alasannya? Hana berkata jika Jun ingin mengatakannya maka dia mau mendengarkan.


Esoknya, Gaku datang ke ruang OSIS dan menyerahkan surat pengunduran diri pada Daichi untuk diberikan pada Hana. Dia sadar kalau dia sudah menyebabkan masalah. Daichi kesal dengan sikap Gaku ini. Kalau memang Gaku pikir itu buruk, maka berhenti dari pekerjaannya. Gaku tidak mau berhenti tapi dia juga tidak ingin mengatakan alasannya pada Daichi. Daichi pun menyuruh Gaku sendiri yang memberikan surat pengunduran dirinya pada Hana. Meskipun begitu Daichi tampak khawatir padanya.

Setelah pulang sekolah Daichi mengajak Sagami bertemu, ingin bertanya tentang Gaku padanya yang juga bekerja di tempat yang sama. Sagami marah karena Daichi bertanya tanpa kehormatan pada panutannya.

“Hah? Panutanmu?” tanya Daichi tak mengerti.

“Ya. Dia bekerja keras untuk membayar tagihan rumah sakit untuk penyakit ayahnya. Pengabdian berbaktinya itu langka di seusianya. Aku terkesan dan memutuskan untuk membantu sebanyak yang aku bisa.”

Diperlihatkan Daichi yang bekerja banting tulang. Bahkan rekan kerjanya salut dengan kemampuan Gaku yang luar biasa dalam mencuci piring. Lalu Daichi mendapat telepon dari Hana.


Hana ingin menunjunkkan Jun yang tengah bekerja. Lalu Hana mengajak Daichi ke tempat ia bertemu dengan Jun kemarin dan menceritakan kalau Jun bekerja demi membayar biaya sekolahnya. Ayah Jun di PHK dan ibunya meninggalkan rumah. Kalau Jun tidak bekerja ia tidak bisa bersekolah. Jun akhirnya menceritakan alasannya di skors pada Hana kemarin. Hana berpikir kalau mereka harus melakukan sesuatu untuk Jun, tapi dengan cueknya Daichi menyuruh Hana untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Hana yang kesal langsung pergi meninggalkan Daichi.

Keesokan harinya, Hana berlari ingin menemui Jun yang sudah mengepak peralatan sekolahnya. Semua siswa menggosipkannya. Di lapangan Jun menceritakan dirinya yang akhirnya ketahuan pihak sekolah karena berkerja paruh waktu dan dikeluarkan tanpa bisa protes sedikitpun. Dari awal Jun merasa sekolah ini memang terlalu bagus untuknya, jadi mungkin ini yang terbaik. Sebelum pergi Jun sempat mengajarkan Hana rumus matematika untuk menjawab soal mereka kemarin. Setelah itu Jun pun pergi meninggalkan sekolah. Hana hanya bisa memandangnya sedih.


Di atap, Daichi dan Gaku juga melihat kepergian Jun. Gaku menyerahkan surat pengunduran dirinya lagi pada Daichi. Dia benar-benar sudah memikirkannya. Tapi kali ini Daichi tidak protes sama sekali, dia malah menatap surat itu dengan sedih.

Malam harinya, Hana mengerjakan dengan serius soal matematika untuk remedialnya menggunakan rumus yang diberikan Jun. Dia berhasil menyelesaikan soal itu. Kakek menyemangati Hana pasti lulus karena sudah bekerja keras. Tapidari raut wajahnya Hana tampak menyimpan kesedihan.
Dia lalu bertanya pada kakek apakah yang orang dewasa pikirkan itu selalu benar? “Tidak, itu tidak selalu terjadi. Karena manusia punya saat-saat ketika mereka benar, dan saat-saat ketika mereka salah” jawab kakek.


Daichi tengah memberi makan ikannya. Wah, ikannya cantik banget. Tapi dia kembali gelisah saat melihat surat pengunduran diri Gaku. Dia berusaha keras memikirkannya hingga sampai keesokan harinya di sekolah ia masih tetap gelisah. Lagi asyik berbaring di sofa memikirkan Gaku, Seiya dan Rinka datang mengganggu. Mereka mengambil sesuatu di rak yang ada diatas Daichi sampai buku-buku pun berjatuhan meenimpanya yang membuat Daichi kesal.

Saat dia membereskan buku-buku itu, sebuah buku yang seperti catatan membuatnya tertarik. Ia kaget begitu melihat isinya dan langsung menyuruh Siya dan Rinka melihatnya juga. Entah apa yang ada di catatan itu tapi mereka tampak setuju dan memikirkan sesuatu.


Hana yang hanya seorang diri hari ini melaksanakan ujian remedialnya. Baru beberapa saat ia teringat perkataan Jun tentang alasannya untuk masuk SMA Monshiro. “Itu tujuanku untuk masuk SMA Monshiro. Semua orang khawatir dengan nilai nilai mereka. Setelah semua itu diperlukan begitu banyak perjuangan untuk masuk ke sekolah ini. Aku telah bekerja keras dengan tujuan lulus dengan baik”. Tiba-tiba Hana menatap pak Sakai serius. Ia tak terima Jun dikeluarkan begitu saja, padahal ia hanya ingin sekolah dengan baik. Hana pu memilih untuk menolak ujian dan langsung meninggalkan kelas.

Ia menemui teman-temannya dan mengabarkan kalau dia tidak bisa mengikuti ujian sendirian. Lalu Daichi melemparkan buku catatan yang tadi mereka lihat pada Hana. “Baiklah!” teriak Daichi semangat. Satu per satu mereka mengambil buku yang ternyata adalh buku panduan siswa.


Mereka berempat berjalan dengan gagah berani seperti orang yang akan berdemo. Mereka lalu berpencar, Hana menemui Jun dan Daichi menemui Gaku di tempat kerja mereka. Begitu bertemu Gaku Daichi langsung menyerahkan surat pengunduran diri Gaku. Surat itu harus disetujui Hana dan dirinya sebagai wakil ketua. Tapi dia tidak akan pernah menyetujuinya.
Sambil tetap melanjutkan pekerjaannya Gaku tetap dengan pilihannya, ia takkan pernah berhenti dari pekerjaannya ini. Walaupun ia harus rela berhenti sekolah seperti Jun. Namun bukan itu maksud Daichi, jika Gaku tetap ingin bekerja sambil sekolah maka dia bisa mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah.

“Jangan bodoh!” kata Gaku tak percaya.

“Kaulah yang bodoh! Kenapa kau bergabung dengan osis? Tanya Daichi mantap.

Lalu kembali pada Hana yang menemui Jun. Jun berkata dia tidak bisa berbuat apa-apa sendirian. Lalu silih berganti Daichi dan Hana mengatakan bahwa Gaku dan Jun memiliki mereka. Hal-hal seperti aturan mereka bisa merubahnya. Bukankah OSIS dibuat untuk hal-hal seperti itu?
Sementara itu, Seiya dan Rinka berdemo untuk merubah aturan yang ada di sekolah. “Silahkan tandatangani petisi kami jika kalian setuju!” teriak Rinka. Tampaknya para siswa lain juga merasa kurang setuju dengan adanya peraturan yang memberatkan itu, jadi berbondong-bondong mereka menandatangani petisi yang dipegang Seiya.


Pasal 134: Peraturan OSIS
“Jika lebih dari 2/3 dari seluruh siswa mendukung usulan maka revisi peraturan sekolah akan diakui”

“Baca ini dengan benar jika kau wakil ketua, bodoh” tunjuk Daichi pada Gaku.

Akhirnya ditempellah peraturan baru di mading yang menyatakan jika siswa mengajukan keinginan kerja paruh waktu dengan alasan yang dapat diterima maka akan diperbolehkan oleh pihak sekolah.
Gaku melihat orang-orang yang membaca peraturan itu dibalik tembok. Ia lalu pergi ke ruang OSIS dimana Hana, Seiya, dan Rinka menunggu hasilnya. Ya, Gaku akhirnya diijinkan bekerja hanya sampai ayahnya keluar dari rumah sakit. Mereka langsung senang, Daichi yang tengah membaca komik pun juga ikut senang mendengarnya. Tapi Gaku berkata jika dia tidak apa-apa walau harus mendapat hukuman untuk ini.

“Jika ada apa-apa tolong katakan padaku. Itulah yang dikatakan Shinagawa-kun.” Ucap Hana.
Tak ingin dipuji, Daichi lalu mengingatkan Hana bukankah ini waktunya Hana untuk ujian? Hana pun ingat, dia langsung berlari sambil menghapas rumus diikuti oleh Rinka dan Seiya yang menyemangatinya. Saat hanya tinggal berdua, Gaku dengan sedikit canggung mengucapkan terima kasih pada Daichi. Daichi bingung tapi ia kemudian tersenyum.


Jun pun sudah kembali bersekolah dan mengikuti ujian remedial itu bersama Hana. Namun saat melihat hasil ujian Jun, pak Sakai berkata kalau kali ini Jun punya masalah. Jun langsung berdiri, ia tak akan menyesal. Di lapangan Jun memberitahu keputusan terakhirnya bahwa dia akan benar-benar berhenti sekolah.

“Kenapa? Bukankah kau bilang kau ingin lulus dengan baik di sekolah ini?” tanya Hana terkejut.

“Ini sudah cukup. Memiliki orang-orang yang mau bekerja keras untukku, sudah cukup. Masuk ke sekolah ini ada yang berarti. Jika aku tidak datang ke sekolah ini, aku pikir aku tidak akan mendapatkan apa-apa. aku bisa mendapatkan hal yang jauh lebih baik daripada ijazah. Terim kasih.. ketua OSIS.” Kata Jun.

Sekarang tak ada penyeselan lagi baginya, inilah jalan terbaik yang akan dipilihnya. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Hana untuk berjabat tangan, tapi Hana tampak berat sekali, jadi Jun langsung mengambil tangan Hana dan menggenggamnya “sampai jumpa” Ucap jun. Ia lalu pergi meninggalkan Hana yang menangis mencoba menerima ini semua.


Daichi melihat Jun pergi dari atap. Ia memegang pensil pink-nya dan bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jun. Diapu berlari mengejar Jun “Miyagi” teriaknya keras sampai Jun menoleh ke arahnya. Daichi menyerahkan pensil itu padanya. Ia masih menganggap Jun lah orang yang meminjamkannya pensil ini saat ujian masuk Monshiro. Dia bersyukur karena pensil ini, dia berada di sekolah ini. tapi dia menjadi nakal dan bodoh. Dia menyia-nyiakan satu tahu ini.

“Aku harus mengatakan ini. Apakah kamu yang meminjamkan pensil ini? Aku kembalikan”

Jun mengambilnya, tapi dia berkata itu bukan miliknya. “Ini sesuatu yang penting bagimu? Karena itu kamu harus menyimpannya jika itu membantumu. Waktu yang kamu habiskan disini. Diterima di SMA Monshiro dan datang kesini, itu membuatku senang. Selamat tinggal”

Jun mengembalikan pensil itu kembali pada Daichi. Saat ia melangkah pergi ia berbalik lagi dan melambaikan tangan pada Daichi dengan senyum mengembang di wajahnya. Daichi hanya bisa menatapnya sedih.


Ia masuk ke ruang OSIS dan mendapati Hana terduduk sedih.

“Shinagawa-kun”

“Apa”

“Entah bagaimana, perutku terasa kosong”

“Jika kau lapar kemabali ke rumah”

“Bahkan jika pulang ke rumah, aku tidak akan merasa lebih baik, bahkan setelah makan. Aku yakin ini akan tetap terasa kosong. Apa yang harus aku lakukan?”

Daichi pura-pura tidak peduli. Ia lalu melihat pensil pink-nya dan bercerita pada Hana bahwa dia masuk ke sekolah ini bukan hanya karena keberuntungan. Ya, agar dapat diterima di sekolah ini, dia bekerja sangat keras. Mungkin dia harus bekerja lebih keras lagi.

“Kau bisa melakukannya!” semangat Hana.
“Ya” balas Daichi yakin.

No comments:

Post a Comment