Yankee-kun to Megane-chan Episode 7 - 1


Memasuki bulan Juni, pak Sakai mengumumkan akan adanya kamp belajar untuk test akademik mendatang. Semuanya langsung mengeluh. Pak sakai lalu membagikan buku catatan kamp pada mereka. Kamp akan berlangsung selama dua hari tiga malam, tidak ada TV dan video game, mereka hanya khusus untuk belajar dan saling membantu kesulitan satu sama lain. Semua siswa juga harus ikut tidak ada pengecualian. Di buku itu juga tertulis kalau mereka boleh membawa apel dan pisang sebagai persediaan, batas uang saku tidak boleh lebih dari 3000 yen, dan bagi siapa yang mabuk darat harus melapor terlebih dahulu. Hana sangat senang tapi Daichi malah tidak suka sama sekali.



Tibalah saatnya hari untuk kamp. Selama perjalanan Hana yang akan memandu mereka semua. Saat bus berhenti ia mengenalkan sebuah gedung disebelah kanan mereka sebagai museum terbuka Hakone, tapi Chiba memberitahu kalau museum itu sudah mereka lewati tadi. Hana pun meminta pak supir untuk balik, tapi jelas tidak bisa. Melihat Hana yang heboh sendiri, Pak Sakai pun memintanya untuk duduk dan diam saja.

Begitu geng Saori kembali dari membeli snack, ia langsung duduk di samping Takuya. Mereka lalu sibuk membicarakan akan mendapatkan pacar di tempat kamp nanti. Rinka yang duduk bersama Seiya menoleh ke belakang melihat Daichi yang belum apa-apa sudah tertidur pulas. Gaku yang duduk di belakang Rinka memperhatikannya saat ia memandang Daichi dengan wajah masam.


Saat tiba di penginapan, mereka langsung mengerjakan soal untuk mengetahui dimana kelemahan mereka. Hana sangat takut karena ia lemah di semua pelajaran, nilainya saja 9 dari 100. Pak Sakai yang akan memulai tutoring menyindir Hana terlebih dulu agar belajar dengan baik.
Setelah selesai, Pak Sakai lalu masuk ke sebuah ruangan tempat menyimpan barang, pengurus penginapan datang untuk mengambil kasur dan disusul oleh semua siswa yang ingin meletakkan barang-barang mereka, ruangan itupun langsung penuh membludak.

Beberapa siswa sudah berganti pakaian. Mereka juga punya jadwal sendiri-sendiri, Keisuke dan Toru pergi ke Onsen (pemandian air panas), geng Saori berebut antara pergi ke salon atau kuil cinta, sedangkan geng Hana masih dengan seragamnya hanya stay di penginapan itu. Seiya yang paling antusias mengajak mereka pergi tapi saat dia bertanya mereka hendak kemana malah yang ditanya sudah menghilang meninggalkannya sendiri.


Rinka mencari-cari Daichi yang pergi entah kemana, kebetulan ia melihat Gaku yang sedang main game di sebuah toko. Rinka bertanya padanya tapi Gaku juga tidak tahu. Disaat Rinka akan pergi Gaku bertanya kenapa Rinka tidak menyerah saja? Daichi sudah memiliki seseorang yang dia suka.

“Iu bukan urusanmu. Lagipula, aku tidak menyukainya.”

“Terserah”

“Apa pedulimu?” Kata Hana kesal dan kemudian pergi.

Yang dicari-cari rupanya tengah jalan-jalan seorang diri untuk melepas penat. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat ada anak kecil duduk di pintu masuk sebuah kuil. Sementara itu Pak Sakai mengajari Hana yang tinggal sendiri. Ia tak dibolehkan jalan-jalan sebelum menyelesaikan tugasnya. Pak Sakai dengan sabar mengajari Hana berulang kali dengan menghubungkan rumus matematika dengan kata-kata yang mudah dihafal. Jadi ingat pelajarn Kimia yang susah banget dihafal kalau nggak pake kata-kata yang lucu, tapi habis itu ya lupa juga. Hhahah


Daichi menghampiri anak itu lalu duduk disampingnya. Anak itu ternyata sedang menunggu ayahnya yang berjanji akan menjemput setelah pulang kerja. Tak lama seorang wanita berlari cemas memanggil-manggil Sota. Wanita itu langsung lega saat melihat Sota, anaknya yang tengah duduk bersama Daichi. Dari seragamnya ibu Sota tahu kalau Daichi murid SMA Monshiro, ia pun langsung pergi dan memaksa anaknya pulang. Dari belakang Seiya muncul mengatakan anak itu pasti takut dengan yankee. Lagi-lagi ia menunjukkan buku tempat destinasi yang akan mereka kunjungi dan menarik paksa Daichi untuk ikut.

Poor Hana, disaat teman-temannya sibuk berwisata dia malah harus terus belajar. Pak Sakai lalu mendapat telepon dan permisi sebentar, Hana menguping dan langsung cepat cepat balik saat pak Sakai mematikan teleponnya.


Hari beranjak malam saat Seiya dan Daichi sampai di sebuah bukit dengan pemandangan yang indah. Seiya sangat senang, ia memberitahu Daichi kalau namanya berarti bintang dan panah, itulah kenapa dia sangat menyukai bintang sejak kecil.

“Shinagawa-kun, pernahkah kamu bermimpi?”

“Mimpi?”

“Untuk menjadi astronot adalah mimpi masa kecilku. Aku tahu itu sulit, tapi aku berharap bisa belajar space engineering, makanya aku memilih science dan matematika”

Seiya lalu bertanya bukankah Daichi ingin masuk kedokteran dan mewarisi klinik ayahnya? Namun Daichi sendiri tidak yakin, orangtuanya tidak banyak berharap darinya. Seiya mengerti jika orangtua Daichi punya harapn tinggi pasti akan jadi stress. Ia pun mengajak Daichi kembali ke penginapan.

Hana sangat letih setelah seharian belajar tanpa berhenti. Rinka yang sedang melihat kuil cinta di buku destinasi lalu mengajak Hana mandi. Hana tertarik dengan buku itu dan melihat juga ada sebuah foot bath yang bisa membuat orang pintar. Ia langsung berlari senang menemui Daichi yang lagi di Onsen. Daichi berteriak kaget kenapa Hana disini? Hana lalu menunjukkan buku itu pada Daichi dan Seiya. Ia senang karena dengan pergi ke temapat itu nantinya ia tidak lagi menjadi peringkat terbawah. Daichi malah tak peduli sama sekali, ia langsung protes dan menyuruh Hana keluar. Apa Hana tidak tahu dia ada dimana sekarang?

“Memangnya aku dimana?”

“Ini adalah tempat mandi cowok. Apa kau tidak baca tulisannya?”

“Ahh, aku tidak bisa melihat karena kacamataku berkabut”

Daichi langsung melarang Hana untuk mengelap kacamatanya. Hahaha, Hana bahkan sampai menabrak tembok saat akan keluar.


Hana tak puas kalau tak mengganggu Daichi. Ia kembali menujukkan buku itu dan memastikan mereka harus pergi kesana. Daichi yang lagi santai di kursi pijat jadi tak menggubrisnya dan hanya mengiyakan singkat. Hana pun kesal, ia langsung mencabut stop kontaknya. Daichi tak mau pergi kesana, mana mungkin dengan hanya merendam kaki bisa membuat pintar, seharusnya Hana belajar, itu adalah cara satu-satunya. Saat Daichi pindah ke kursi pijat yang satunya lagi, Hana mencabut stop kontaknya juga hingga Daichi tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Gaku yang lagi membaca buku pun pergi karena tak tahan mendengar mereka ribut terus. Seiya dan Rinka memperhatikan mereka serius. Seiya merasa kalau mereka benar-benar menikmati pertengkaran itu.

Hana masih belajar saat Rinka bersiap tidur. Ia mengatakan ia harus belajar karena Daichi tak ingin pergi dengannya ke foot bath itu. Rinka lalu bertanya pada Hana apa Hana punya seseorang yang dia suka? Hana kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Rinka beralasan kalau semua teman-teman cewek pada pergi ke kuil cinta, apa Hana juga tertarik dengan hal semacam itu?

“Oh tidak, aku benar-benar tidak tertarik”

“Aku tahu. Kau tidak akan suka, kecuali pria yang lebih kuat darimu, kan?” Ujar Rinka senang dan meminta maaf sudah menanyakan ini pada Hana.

Hana gantian bertanya apa Rinka juga punya orang yang dia suka? Rinka langsung bangun lagi dan menjawab tidak. Ia tidak mau punya pacar jika Hana juga belum punya. Hana jadi bingung melihat reaksi Rinka padahal ia tak apa-apa kalu Rinka punya seseorang yang dia sukai.

Di kamar cowok, Seiya dan Gaku sudah tertidur pulas, sedangkan Daichi gelisah tak bisa tidur karena suara ngorok Seiya ditambah Gaku yang mengigau, bahkan di dalam igauannya pun Gaku mengatai Daichi bodoh dan menyuruhnya cepat menghafal. Tak tahan Daichi pun keluar dan dengan sengaja menedang bantal Seiya. LOL


Ia lalu berkeliling dan teringat saat Seiya bertanya apa dia punya mimpi? Ingatan masa kecilnya terlintas saat ia melihat ayahnya yang tengah mengobati pasien. Tiba-tiba Daichi melihat seseorang yang samar-samar tertutup uap airterjun. Itu membuatnya ingat akan sosok cewek yang meminjamkan pensil pink padanya. cewek yang tengah berdiri di dekat air terjun itu adalah Hana tapi Daichi tidak menyadarinya. Ia perlahan mendekat dan mengatakan kalau ia sudah lama mencari.

“Apa kamu ingat siapa aku? Aku Shinagawa Daichi dari SMA Monshiro”

“Tentu saja.”

Daichi senang dan menjelaskan dia sedang ikut kamp. Ia memberanikan diri mengajak Hana yang belum kelihatan jelas wajahnya pergi ke foot bath. Hana pun mengiyakannya, ia memang menunggu Daichi untuk mengatakan itu.
Di jembatan, ada tiga orang pria aneh yang berjalan dan melihat mereka. Pria-pria itu mengenali Hana dan juga Daichi. Daichi mengajak Hana bertemu jam 5 besok sore. Ia kemudian pergi tanpa melihat Hana yang sekarang wajahnya sudah kelihatan dengan jelas. Hana sangat senang karena dia akan segera pintar.


Seluruh siswa bersiap untuk tutoring, dan gara-gara di air terjun kemarin, Daichi jadi semangat sekali untuk belajar. “Ha, kamu akan belajar? Apa kamu demam” tanya Seiya aneh sambil membandingkan suhu badan mereka.

Pak sakai sudah mengabsen semua siswanya, tapi tiba-tiba Hana mengangkat tangan melaporkan kalau ada yang belum diabsen dan menunjuk seorang anak kecil yang duduk di belakangnya. Anak itu adalah Sota yang tetap membawa mainan kembang apinya. Daichi mengenalinya dan bertanya apa dia tidak bermain dengan ayahnya. Dengan polosnya, Sota mengajaknya bermain sekarang.

“Kenapa kau memintaku?” tanya Daichi bingung.

“Bisakah kita menyalakan kembang api, ayah?”

Seisi kelas menjadi bingung siapa yang dipanggil Sota ayah, dan kemungkinan satu-satunya adalah Pak Sakai yang tengah berdiri di dekat mereka. Semua tak menyangka saat pak Sakai membenarkan kalau dia adalah ayah Sota, apalagi mereka tidak mirip sama sekali. Untunglah kau tidak jelek seperti ayahmu, Ucap Hana. Pak Sakai pun langsung membentak Sota agar jangan bermian disini, tapi Sota tak mau. Ia pun lari dari kejaran Pak Sakai sampai bertemu dengan ibunya yang sudah ada di depan. Alhasil semua siswa pun keluar mengejar mereka. Mereka jadi berpikir kalau pak Sakai mengadakan kamp di Yugawara hanya untuk bertemu dengan keuarganya.


Pak Sakai tak menyadari kalau pertengkaran mereka dilihat siswanya. Selama ini pak Sakai sibuk kerja sampai melupakan keluarganya. Pak Sakai menjanjikan bertemu dengan Sota di kuil, makanya saat itu Daichi melihat Sota menunggu sendirian. Karena itulah istrinya pindah ke Yugawara agar menjauh dari Pak Sakai.

“Sota, ayo kita pulang. ucapkanlah salam perpisahan pada ayahnmu”

“Perpisahan? Kau membuatnya terdengar seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi”

“Ya, karena kita memang tidak akan bertemu lagi. Aku menceraikanmu dan akan membesarkannya sendiri”

Setelah mengatakan itu, Istri pak Sakai langsung membawa Sota pergi. Pak Sakai tak bisa mengelak di depan siswanya dan mengajak mereka lanjut belajar sementara semuanya masih syok dengan apa yang terjadi barusan.

1 comment: