August 14, 2016

Love Myself or You Episode 13 - 2


Kai Qi mengemasi barang Ah Jie, sementara Da Zhi yang tak terima melihat Kai Qi terluka langsung menghampiri Ah Jie. Ia menuntut penjelasan kenapa Kai Qi sampai semarah tadi. Namun, dengan tegas Ah Jie meminta Da Zhi melepaskan tangannya, ia yang akan menjelaskannya sendiri pada Kai Qi. Belum sempat Ah Jie berkata apa-apa, Kai Qi sudah melemparkan baju ke wajahnya. “Kamu tidak perlu menjelaskan. Kamu pembohong, yang akan meninggalkan Taiwan”. Sontak, semua orang kaget mengetahui Ah Jie akan pergi.



Dengan sekuat tenaga Kai Qi menahan air matanya. Ia tak menyangka betapa mudahnya Ah Jie mempermainkan perasaan orang. Ia langsung melempar kotak berisi barang barang Ah Jie dan mengusirnya pergi, tak perlu menunggu satu bulan.

“Apa yang kamu katakan? Bahwa kamu akan memberitahuku semuanya suatu hari nanti? Disaat terakhir? Kamu tidak mengatakan apapun. kamu sudah berencana untuk pergi lebih dulu kan?”


Ah Jie mencoba menjelaskan bahwa dia tidak memutuskan Kai Qi. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Semua yang dia lakukan untuk Kai Qi itu tulus. Tapi sayang, Kai Qi sudah tak percaya apapun yang Ah Jie katakan. Dengan penuh amarah dia langsung pergi. Ah Jie terus mencoba menjelaskan pada Kai Qi, tapi sekali lagi Kai Qi memperingatkannya, kalau tidak dia tak tahu apa yang akan dia lakukan pada Ah Jie jika Ah Jie tetap menahannya. Begitu juga dengan yang lain. Saat Ah Jie membereskan barang-barangnya yang berserakan, semua memandanginya seolah tak percaya.


Kai Qi melampiaskan kesedihannya dengan minum-minum. Hao Wei setia mendampinginya disana. Kai Qi bahkan sudah minum 12 kaleng bir, dan saat ingin menambah lagi Hao Wei cepat-cepat melarangnya. Dia pun mulai meracau, mengeluh tentang kehidupannya yang sangat tidak beruntung. Ya, dialah Du Kai Qi yang jatuh cinta pada seorang penipu. Du Kai Qi yang selalu kalah dalam hidup. Betapa kerasnya dia berusaha, tapi akan selalu ada orang yang menamparnya. Ia juga mengenang Du Kai Hui, kakaknya yang sudah meninggal dunia.


Hao Wei memandanginya bersimpati, ia perlahan mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Kai Qi, namun Kai Qi tiba-tiba berbalik dan mengomelinya juga. Hao Wei hanya diam mendengar semua curhatan Kai Qi dalam mabuknya itu, sampai akhirnya Kai Qi bersandar di pundak Hao Wei.


Ah Jie datang, ia duduk tak jauh dari Kai Qi dan saat ia melihat Kai Qi bersandar pada Hao Wei ia segera pergi. Hatinya juga terluka. Jelas, bukan maksudnya untuk menyakiti Kai Qi, hanya saja dia tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan semuanya dari awal.


Hao Wei mengawasi Kai Qi yang akan pulang di belakangnya. Ah Jie yang berdiri di luar langsung memegangi Kai Qi saat Kai Qi akan terjatuh. Ah jie lalu berkata akan mengantarkan Kai Qi pulang, tapi Kai Qi langsung tertawa. Bagaimana bisa Ah jie berpikir dia akan membiarkan Ah Jie mengantarnya? Kai Qi pun berjalan pulang tak memedulikan Hao Wei yang memintanya untuk menunggu.


Cemas, akhirnya Ah Jie mengikuti Kai Qi yang berjalan sempoyongan. Kai Qi mulai mual, ia bersandar di pohon dan dengan lembut Ah Jie mengelus-ngelus punggungya.

“Kai Qi, maafkan aku. Aku tidak tahu jika kamu akan jadi seperti ini. Saat aku kembali ke Taiwan, aku tidak berpikir kalau aku akan bertemu atau jatuh cinta padamu. Aku akui aku salah tidak menceritakan ini, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak pergi. Aku tidak bisa pergi.”


“Benarkah? Tentu saja. Sekarang, karena masalah ini sudah terungkap, kau bilang padaku bahwa kau tidak ingin pergi. Tapi bagiku, itu sudah tidak artinya. Aku sangat mempercayaimu. Setiap kata-kata yang kau ucapkan, kehangatan yang kau berikan padaku. Aku sangat percaya padamu. Tapi kenapa?”

Dan saat Ah Jie akan menjelaskan, mobil Hao Wei pun datang. Ah Jie mencoba menahan Kai Qi, tapi Kai Qi melepas tangannya dan pergi bersama Hao Wei.


Setibanya di rumah, sudah ada Bao Zhu yang membukakan pintu. Hao Wei meminta Bao Zhu tak usah khawatir, Kai Qi akan baik-baik saja. Saat mereka berdua akan pergi, Xiao Yi keluar dari kamar dan Kai Qi langsung memeluknya. Keduanya pun pergi, membiarkan Kai Qi menenangkan dirinya.


Kai Qi menangis memeluk Xiao Yi. Xiao Yi jadi heran apa yang terjadi dengan bibinya itu. Kai Qi mengatakan ia benar-benar menyukai Xiao Yi. Dia akan berjanji merawat Xiao Yi selamanya. Dia takkan meninggalkan Xiao Yi sendirian.


Ah Jie ingin menemui Kai Qi di rumahnya, tapi niatnya gagal karena Da Zhi memperingatkannya untuk membiarkan Kai Qi sendirian dulu. Walaupun sekarang dia tinggal di rumah Ah Jie, tapi dia tetap tidak suka saat ingat bagaimana Ah Jie memperlakukan Kai Qi. Jadi, Ah Jie boleh menendangnya keluar kapanpun. Da Zhi akan keluar dengan hanya memakai sandal jepit, Ah Jie pun bertanya Da Zhi mau kemana. Dengan ketus D A Zhi memnjawab dia mau mencari uang.


Ah Jie dan Kai Qi sama-sama tak bisa tidur, bingung akan masalah yang terjadi. Mereka mencoba menghilangkan bosan dengan nonton tv, tapi itu juga tak berhasil. Akhirnya Ah Jie pergi ke danau sementara Kai Qi pergi ke taman. Ah Jie teringat kata-kata Kai Qi yang mengatakan walaupun dia tidak jadi pergi, itu sudah tidak ada artinya lagi, toh Ah Jie sudah membohonginya. Ia mengulurkan tangannya, persis saat pertama kali Kai Qi mulai percaya padanya dan menyambut uluran tangannya dengan senyum bahagia. Namun sekarang, kepercayaan itu sudah hilang.


Kai Qi juga mengenang kalung pemberian Ah Jie. Ia termenung menatap langit saat Hao Wei kebetulan lewat di taman itu dan melihatnya. Ia segera bersembunyi ketika Kai Qi mengaduh karena digigit nyamuk, tapi malah terbentur setir sampai akhirnya dia ketahuan dan Kai Qi langsung menghampirinya.


Hao Wei pun mengaku kalau dia mengkhawatirkan Kai Qi. Ia tahu kebencian Kai Qi yang membuatnya sangat marah hingga pikirannya jadi tak karuan. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ia ingin tanyakan, setelah pertengkaran mereka di kuliah apakah Kai Qi pernah jalan sendirian di tengan malam? Kai Qi mengiyakannya. Hao Wei lalu bertanya lagi apa Kai Qi juga tak bisa tidur? Kai Qi juga mengiyakannya. Hal lain yang dilakukannya saat itu adalah memotong-motong semua lobak cina di dapur. Menggunakan sikat kawat untuk menggores pot hingga potnya pecah. Dia juga sering kerja shift malam dan menghasilkan banyak uang.


Hao Wei tersenyum mendengar jawaban Kai Qi. Mereka lalu duduk berdua di bangku taman. Hao Wei berkata bahwa perasaan seperti ini tidak asing lagi bagi Kai Qi. Ia tak tahu kenapa Kai Qi bisa sangat kuat, tapi setiap kali ada masalah Kai Qi langsung bersembunyi di dalam cangkang dan meminta semua orang pergi. “Kai Qi, kamu sudah dewasa. Apa kamu akan terus seperti ini?” Kai Qi mengelak, Hao Wei pun menasihatinya bahwa yang Kai Qi perlu lakukan adalah menjelaskan. Tak peduli siapa yang salah, keduanya tetap harus menjelaskan. Hanya dengan menjelaskannya, maka mereka akan tahu bagaimana memulainya. Kai Qi diam masih tak ingin menrima nasihat Hao Wei. Hao Wei pun mengajaknya pulang.


Sementara itu, Ah Jie menggambar jarinya sebagai perumpaan dia dan Kai Qi.

Kai Qi: “Fu Zi Jie, ada apa? apa suasana hatimu sedang tidak baik?”

Ah Jie: “Ya, aku merasa aku sangat kesepian. Gaya hidupku yang terlihat santai sebenarnya itu semu palsu. Saat aku mencoba untuk sedikit kembali pada diriku, dunia ini akan hancur. Jika aku tidak ingin dunia ini hancur, aku tidak punya pilihan lain selain melanjutkan kesendirian hidupku.”

Kai Qi: “Tidak perlu, kau masih memiliki aku”

Ah Jie: “Benarkah? Kau akan benar-benar menemaniku?”

Kai Qi: “Tentu saja. Karena kamu tidak bisa tinggal, aku akan pergi bersamamu. Jika dua orang pergi bersama tidak akan membosankan lagi.”


Ah Jie bergetar dan berkaca-kaca. Ia teringat saat mereka kecil, dimana Kai Qi berjanji menemani dirinya yang tidak bisa keluar dari lemari.

3 comments: