Sinopsis Thumping Spike Episode 4


~ Episode 4: Bubarkan ~


Jae Woong berlutut untuk memeriksa kaki Se Ra. Sakit? Tanyanya. Se Ra langsung mengaduh dan menjauhkan kakinya. Tentu saja sakit, karena Jae Woong memegangnya terlalu keras. Jae Woong tahu kalau Se Ra bohong, setiap kali Se Ra mendaratkan kakinya dia selalu merasa ngeri. “Pergilah ke rumah sakit” Ucap Jae Woong.



Saat Se Ra akan pulang, Woo Jin berlari menghampirinya, memuji pertandingan tadi lalu memberikan Se Ra jadwal latihan yang ternyata sangat padat. Tak lama ponsel Se Ra berdering, dari manajer. Manajer Kim menanyakan perihal kepala sekolah yang ingin bicara dengannya, apa Se Ra tahu soal apa itu? “Ohh.. itu..” jawab Se Ra terbata-bata.


Malamnya, Se Ra datang ke kantor manajer. Dia menceritakan kejadian siang tadi. Awalnya dia gak niat main, tapi itu terjadi begitu saja.

“Jadi siapa yang menang?” tanya manajer.

“Tentu saja tim ku yang menang!”

“Bayangkan, akan jadi tantangan besar kalau kau kalah melawan tim terburuk di Korea” Ujar Manajer tertawa geli.

Se Ra lalu bertanya apa besok dia perlu bertemu dengan kepala sekolah. Manajer berkata dialah yang akan mengurusnya. Manajer lega setelah memastikan Se Ra tidak benar-benar menyukai pekerjaan melatihnya ini. Saat manajer menawarinya minum wine, Se Ra langsung menolak dengan alasan harus cepat pulang, ada yang perlu dia periksa.


Ternyata yang mau diperiksa Se Ra adalah rekaman CCTV saat dia mabuk waktu itu.

Flashback..



Jae Woong meminta password pagar rumah Se Ra. Se Ra menolak memberitahunya, tapi dia yang mabuk secara tak sadar malah mengucapkannya, 114030. Begitu pagar berhasil dibuka, tiba-tiba Se Ra muntah sampai mengenai baju Jae Woong. Jae Woong pun masuk ke rumahnya untuk membersihkan baju yang kena muntahan Se Ra itu. Tapi lagi-lagi, Se Ra tak membolehkan Jae Woong pulang. Ia terus meracau tentang kebodohan tim mereka, dan melilitkan syal ke leher Jae Woong sampai Jae Woong terbelahak. Kesal, Jae Woong gantian melilit syal ke leher Se Ra dan memperingatkannya. Se Ra akhirnya jatuh tertidur di sofa. Flashback end..


Se Ra menontonnya dengan jijik, ia tak menyangka kalau ternyata dialah yang bersalah, bukan Jae Woong. Tapi sedetik kemudian ia ingat kalau bukan dia yang melempar sepatunya ke jalan.

Flashback..



Se Ra berteriak senang begitu sampai di rumahnya. Ia berdiri tak seimbang dan akan terjatuh kalau tidak segera ditahan Jae Woong. Se Ra yang masih dalam pegangan Jae Woong mengomel kesal kalau sebenarnya Jae Woong tahu kan dia itu Kang Se Ra ketika di taman hiburan? Jae Woong sama sekali tak tertarik dengan voli wanita. Bahkan jika Kang Se Ra pun mengaku, maka akan tetap sama saja. Jae Woong langsung membedirikan Se Ra. Kesal, Se Ra melepas sepatunya dan memukul-mukuli Jae Woong. Sampai akhirnya Jae Woong mencampakkan sepatu Se Ra. Flashback end..


Se Ra terkejut, ia berteriak malu melihat apa yang dilakukannya pada Jae Woong.


Di sebuah rumah tempat sebagian tim voli SMA Daehan tinggal, Han Sol keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi dan bergoyang ria memuji-muji kecantikan Soo Bin. Ia lalu memilih baju yang ada di keranjang sambil mencium baunya. Ups itu baju belum dicuci? Jung Il Young yang baru datang langsung menutup hidungnya kebauan, “Apa gunanya mandi? Eww..” sindirnya. Hahaha, tapi saat Han Sol bicara padanya, Il Young mengabaikannya seperti tak ada orang. Ia memilih menanyakan perban pada Jin Ah yang kebetulan lewat. Teman mereka yang satunya lagi, Kim Sang Gyun langsung melerai mereka dan memberitahu kalau Jae Woong punya perban.


Il Young pun lari dari Han Sol dan masuk ke kamar Jae Woong. Karena Jae Woong tak ada, Il Young langsung mengambil perban yang ada di meja. Ia akan keluar tapi sebuah ponsel dengan case pink menarik perhatiannya. “Apa ini? Apa ini hobinya?” Melihat ponselnya yang tampak mewah ia ingin mencobanya tapi muncullah password dengan wallpaper foto Se Ra. Jae Woong datang tak lama kemudian dan menegur Il Young yang tercengang kaget.


“Jae Woong! Aku akan jaga… rahasiamu” Kata Il Young tersenyum menggoda. Jae Woong diam saja tak mengerti, sampai kemudian dia melihat ponsel Se Ra dan langsung berteriak kalau ini bukan miliknya HAHAHAHA. Ia ingat password pagar rumah Se Ra dan iseng mencobanya tapi ternyata benar. Se Ra juga menggunakan password yang sama di ponselnya.


Esok paginya, anggota tim sudah berkumpul di tempat latihan dan tengah melakukan pemanasan. Se Ra juga ada disana, tapi ia hanya duduk sambil memandangi mereka dari kejauhan. Melihat jadwal latihan yang padat, ia berusaha menghiraukannya dan meyakinkan dirinya sendiri kalau dia datang karena kasihan pada Woo Jin yang sudah menunggunya. Namun sedetik kemudian, ia jadi sebal saat tahu Jae Woong lah pemain top di tim ini.


Setelah selesai pemanasan, mereka semua jadi heran karena Se Ra cuma duduk santai tak melatih. Il Young pun bertanya penasaran, jika saat itu Jae Woong menang apa dia akan tetap menendang pelatih Kang. Jae Woong membenarkannya. “Tapi, di hp mu, Pelatih Kang jadi wallpaper mu..” Bukkk, Jae Woong langsung melemparnya bola sebelum dia sempat membocorkan semuanya. HAHAHA, Sang Gyun pun ikutan menutup mulut Il Young.


Alhasil yang lain jadi bertanya curiga apa Jae Woong kalah dnegan sengaja? Semua menuntut jawaban, Jae Woong pun cepat-cepat berkata bahwa itu salah mereka yang mudah ditipu. Hahaha


Se Ra datang menghentikan mereka dan memerintahkan untuk bubar, latihan hari ini selesai. Semua senang dan berterima kasih, tapi Woo Jin langsung mengangkat tangan mengatakan mereka masih punya beberapa pengulangan untuk dilakukan. Kkekeke, semua jadi kesal melihatnya. Si Jin Ah malah menutupi ketiak Woo Jin agar tak kehilatan HAHAHAHA..


Se Ra lalu bertanya voli olahraga indoor atau outdoor. Il Young menjawab indoor. Se Ra langsung membenarkannya, karena itulah dia melarang mereka latihan di luar dengan permukaan yang keras. Hanya masalah waktu sampai lutut mereka menyerah.

“Bahkan kalau kalian berada di posisi terakhir se-…” Jae Woong menatap tajam memperingatkan Se Ra untuk tidak mengatakan itu lagi hingga Se Ra tak jadi mengatakannya. Ia pun berpesan, sebagai seorang atlet mereka semua harus melakukan pencegahan.


Se Ra tengah berada di kantor guru sambil menulis-nulis sesuatu. Woo Jin datang lalu memperhatikan Se Ra yang ternyata menulis formasi baru untuk tim mereka. Se Ra cepat-cepat berkata bahwa dia hanya bosan, tapi Woo Jin suka dengan formasi baru itu. Bagaimana pelatih bisa mengetahui semuanya dalam waktu singkat? Se Ra pun ikut senang.


Setelah itu Woo Jin langsung memberitahukan formasi ini pada yang lain. Sementara Se Ra menemui Jae Woong yang berlatih sendirian. Ia menyampaikan penyesalannya di hari itu. Dia mabuk.. makanya bersikap tidak waras.

“Oh.. Hp ku.” Pinta Se Ra

“Kamu.. Kamu meremehkan kami karena kami di posisi terakhir kan?”

“Apa?”

“Kamu gak lihat harapan sedikitpun. Jadi kenapa kamu membuang-buang waktumu? Aku memberimu kesempatan untuk pergi. Tapi, kamu berusaha keras dan menang.”

“Benar. Aku gak tertarik dengan tim kalian, atau menjadi pelatih kalian. Sebenarnya kalau bisa aku mau kalian menang. Tapi..”

“Tapi apa?”


Se Ra lagi-lagi tak bisa mengatakan isi hatinya dan hanya mengatakan dalam hati bahwa sebenarnya dia merasa terganggu saat melihat mata Jae Woong. Dia yakin rekan tim nya juga menatapnya dengan cara yang sama. Bahkan jika harus mematahkan pergelangan kakinya sendiri.. dia tak mau kalah lagi.
Ia lalu mengatakan kalau Woo Jin berubah pikiran. Woo Jin berusaha keras mau itu ada yang menonton atau tidak. Gak ada yang memenuhi syarat di tim ini kecuali.. Woo Jin! Jae Woong kesal, padahal satu-satunya yang gak berkualitas adalah Woo Jin.


“Apa masuk akal?” Kata salah satu rekan tim yang lain. Saking marahnya mungkin dengan ucapan Se Ra yang mengatakan Cuma Woo Jin yang memenuhi syarat, dia langsung melempar bola dengan sekuat tenaga kearah Se Ra. Secepat kilat, Jae Woong memeluk Se Ra membiarkan punggungnya yang terkena lemparan keras bola itu.


No comments:

Post a Comment