Sinopsis Thumping Spike Episode 5

~ Episode 5: Aksi Disiplin ~


Disaat anggota tim yang lain melihat formasi baru yang Se Ra buat, salah satu anggota tim tak terima dengan formasi baru itu. Dia kesal dengan Se Ra dan berniat melemparkan bola padanya, tapi secepat kilat Jae Woong langsung memeluk Se Ra untuk melindunginya. Dialah yang terkena lemparan bola itu.



Emosi, Jae Woong langsung menghampiri juniornya yang melempar bola tadi. Ia sangat marah, walaupun mereka di posisi terakhir, setidaknya mereka harus punya tatakrama.

“Pergilah kalau kau akan bersikap begini.” Ucap Jae Woong

“Lagian aku juga akan berhenti” balas si junior. Keadaan semakin rumit. Yang lain pun mencoba melerai mereka.


Manajer yang baru saja bertemu kepala sekolah menghubungi Se Ra kalau dia akan segera pulang. Tapi begitu mendengar suara berisik di tempat Se Ra ia jadi khawatir. Manajer serta kepala sekolah datang ke arena tepat saat perkelahian semakin menjadi. Pak kepsek pun sangat marah melihat mereka, sampai matanya melotot seperti mau keluar Hihihih. Dan Se Ra langsung ditarik pergi oleh manajer.


Setelah di luar, Se Ra melepas tangannya dan berkata dia harus memastikan pak kepsek gak salah paham. Manajer mengingatkannya untuk tidak terlibat dalam masalah. Bahkan kalau dia tidak berbuat apapun, hanya diam disana saja bisa menimbulkan masalah. Se Ra mengaku dialah yang salah. Dia mengganti posisi pemain.. “Apanya yang diganti? Apa kamu kesini untuk jadi pelatih sungguhan? Bawa pulang Se Ra!” perintah manajer. Manajer pun kembali lagi ke sekolah untuk mengurus semuanya.


Se Ra menunggu manajer di kantor. Begitu Manajer muncul, dia langsung menanyakan bagaimana hasilnya. Mereka memutuskan untuk menyingkirkan tim voli, jawab manajer. Se Ra tak percaya, ia pun bergegas pergi, tapi sekali lagi manajer mengingatkannya untuk tidak ikut campur. Se Ra berusaha menjelaskan bahwa ini semua salahnya. Dia mengganti posisi pemain utama dan pecahlah perkelahian karena mereka tidak bisa menerimanya. Jadi bagaimana bisa dia tidak ikut campur? Se Ra bersikeras dengan keputusannya untuk menyelesaikan masalah ini, tak peduli dengan manajer yang memintanya untuk tidak datang ke sekolah itu lagi.


Keesokan paginya, Se Ra datang ke sekolah. Ia mencari para siswanya di lapangan, tapi tak ada satu orangpun disana hingga muncullah Woo Jin dkk dari belakang. Mereka memberi salam sebelum Woo Jin mengatakan mereka tidak bisa latihan karena dalam masa percobaan. Latihan sendiri-sendiri diperbolehkan jadi mereka latihan secara terpisah. Sebagian ada di arena.


Se Ra menuju ke arena, tapi hanya ada Jae Woong yang berlatih sendirian. Se Ra meminta maaf, dia sangat menyesal. Kesal karena Jae Woong tak menanggapinya, diapun membalikkan kata-kata Jae Woong, “Kamu lupa dengan yang kamu bilang di taman hiburan? Saat berbicara dengan seseorang, setidaknya tunjukkan wajahmu” “Apa?” balas Jae Woong. Woo Jin dan yang lain pun datang, mereka heran karena Jae Woong cuma berlatih sendirian. Jae Woong menyangkalnya, dia berlatih dengan Sang Gyun dan Hyun Sung yang kemudian muncul bersamaan.


Woo Jin senang karena ternyata semua pemain utama yang dipilih Se Ra ada disini. “Itulah sebabnya kita semua ada disini. Apa ini lucu?” Ucap Jae Woong ketus. Se Ra meminta semuanya berhenti, tapi Jae Woong malah mengatainya tidak tahu malu.

“Sunbae. Kenapa kasar sekali? dia pelatih kita?” tegur Woo Jin.

“Pelatih? Siapa pelatih?” Sahut Jae Woong “Kau.. apa yang sudah kamu lakukan sebagai pelatih. Oh.. kau sudah membuat kami dalam masa percobaan.”

“Oke.. itu semua salahku. Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan pengampunan kalian?”
“Kalau kamu menyesal, bantu kami memenangkan Piala Presiden.”


Ha.. semua menganga tak percaya. Itu tidak masuk akal. Woo Jin pun protes. Dia tidak mengharapkan apapun yang spesial dari pelatih. Semua yang dia lakukan itu mengawasi mereka, dan tetap sebagai pelatih mereka. Pelatih bisa membantu mereka dalam pengembangan kemampuan. Sampai mereka sepenuhnya menguasai permainan di setiap aspek, itu saja sudah cukup!


Semua tercengang melihat betapa menggebu-gebunya Woo Jin membahas ini. Tapi kemudian Se Ra malah setuju untuk memenangkan Piala Presdien. Seketika, Jae Woong tertawa mendengarnya. Ia pun langsung berhenti saat Jin Ah mengatakan baru kali ini dia melihat Jae Woong tertawa. Hahaha


Setelah berganti pakaian, Se Ra kembali ke ruang guru. Dia mendapati Soo Bin sedang duduk santai di kursinya. Soo Bin pun langsung mempersilahkan Se Ra duduk. Se Ra tidak mengenalinya dan bertanya dia siapa.


“Aku Son Soo Bin. Kalau aku harus memperkenalkan diri.. aku putri pelatih Song Byung Joo, dan pacar Hwang Jae Woong. Anak-anak disini juga mengenalku sebagai ‘Anjing gila’.”


Se Ra merasa tidak mungkin. Soo Bin langsung bertanya bagian mana yang tidak mungkin. Putri pelatih? Atau pacar Jae Woong? Tanpa ragu Soo Bin menunjukkan foto selfienya dengan Jae Woong waktu itu. Se Ra pun lantas berpikir boneka itu untuk Soo Bin, padahal Soo Bin cuma pinjam buat foto. Hehehe


Dengan suara yang lebih lembut, Soo Bin akhirnya menyakatan maksudnya. Apakah Se Ra butuh pembantu utnuk tim voli? Se Ra tak mengerti, pembantu? Soo Bin pun mengakui kalau dirinyalah yang membawa seluruh siswa ke arena. Jadi, oppa Jae Woong melarangnya masuk ke arena sejak itu. Jika dia ingin masuk, maka dia butuh alasan.


Se Ra berkata bahwa pintu arena selalu terbuka, jadi Soo Bin bisa masuk. Apa hak Jae Woong melarangnya masuk? Soo Bin berteriak kesal sampai mengagetkan semua guru yang ada disitu. Hahaha, bisa-bisanya. Soo Bin lalu memperingatkannya agar mulai sekarang jangan bicara sembarangan tentang oppa Jae Woong-nya. Se Ra terkaget-kaget dengan sikap lebay Soo Bin. Dia pun mengiyakannya.


Telepon Se Ra berdering, dari manajer. Setelah Se Ra Tiba, manajer memberitahu tentang Se Ra yang akan mulai syuting besok dan memberitahu semua jadwal Se Ra. Namun, Se Ra meminta untuk jangan dijadwalkan apa-apa. Manajer berpikir Se Ra butuh istirahat dan menyuruhnya untuk mulai lusa saja, tapi sekali lagi Se Ra berkata tidak.


“Aku ingin menguji diriku sendiri. Bahkan kalau aku tidak bertahan sebagai atlet,aku ingin main voli selamanya, manajer. Jadi aku ingin memberikan kesempatan melatih ini tembakan yang fair.”

“Kamu trauma ditolak tim pro? Kamu takut gagal membuatnya masuk ke liga pro kan? kurasa itulah sebabnya kamu berpikir kalau melatih itu upaya terakhir. Tapi itu tidak akan terjadi. Kang Se Ra! Kamu cukup baik untuk bermain di lapangan. Pelatih Kang Se Ra? Kedengarannya membosankan..”


Se Ra tampak sedih. Ia lalu bertanya kalau dia bukan atlet, apa dia tak berguna? Dia merasa manajer sudah berubah. Biasanya manajer percaya padanya dan menyuruhnya melakukan yang terbaik dalam apapun yang dia pilih. Itu di awal saat kau tidak merugikan, kata manajer. Tapi sekarang ada banyak hal yang terjadi padanya. Lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. “Dan yang paling penting, kamu tidak perlu menjadi pelatih. Kamu bahkan tidak bisa mengontrol anak-anak” kata manajer memperingatkan.

Se Ra ingat kalau kontrak mereka akan berakhir. Di bulan lalu mereka sepakat dirinya harus menyetujui pekerjaan. Jadi, dia secara resmi akan membuat permintaan. Jangan jadwalkan apa-apa. Tiba-tiba manajer bertanya apa ada yang merekrut Se Ra? Apa itu sebabnya? Apa menurutmu kau akan berhasil tanpa aku? Ucap Manajer dengan nada tinggi. Se Ra hanya diam, tak menjawabnya sama sekali.


Dengan membawa koper, Se Ra keluar dari rumahnya. Sementara itu di rumah tim voli, Han Sol akan pergi membeli ayam, dan betapa terkejutnya dia begitu membuka pagar Se Ra sudah ada di hadapannya.

1 comment: