Sinopsis Thumping Spike Episode 6


 ~ Episode 6: Krisis ~


Han Sol tercengang tak percaya melihat Se Ra tersenyum melambai di hadapannya. Dan akhirnya Se Ra pun dipersilahkan masuk ke dalam. Ia langsung ke kamarnya Jae Woong, mengembalikan uang yang dipinjamnya waktu itu dan menuntut Hp nya kembali. Lucunya, Jae Woong mengembalikan Hp Se Ra persis seperti Se Ra memberikan uangnya tadi.



Se Ra berpikir Hp nya rusak karena tidak bisa dihidupkan. Jae Woong memberitahunya kalau baterainya sudah dilepas karena tidak ada yang pakai. “Oh.. kamu gak buka-buka hp ku tanpa izin, kan?” tanya Se Ra. Sontak Jae Woong terdiam, Se Ra pun curiga kalau Jae Woong sudah membuka-buka hpnya.

“Gimana bisa passwordnya sama dengan password rumahmu?”

“Biar aku gak lupa! Jadi kamu buka-buka hp ku?”


Dan tepat saat Jae Woong akan membalas tuduhan Se Ra, semua temannya yang lain muncul di depan pintu. Mereka heboh apakah Se Ra akan tinggal bersama mereka, dan sibuk melihat case hp Se Ra yang dikira mereka sama dengan milik Jae Woong. Woo Jin datang tak lama kemudian dan mengajak mereka makan ayam bersama.


Tapi mereka terlambat, karena semua ayamnya sudah dihabiskan Han Sol, yang tersisa hanyalah tulang-tulangnya.

“Hei, pelatih belum makan! Apa-apaan sih ini?”

“Apa? Kau hanya pesan tulang?” Hahahah, mereka semua mengeluh melihat kerakusan Han Sol.


Akhirnya Il Young lah yang memasak makan malam untuk Se Ra. Setelah mencicipi makanan buatan Il Young Se Ra bertanya pada Woo Jin kenapa Il Young yang masak, apa mereka tidak punya pembantu? Woo Jin mengatakan sejak pertama kali dia datang kesini, mereka (sekolah) menyingkirkan pemain paling berbakat timnya. Dan tahun lalu, pembantu mereka dipecat. Dan tahun ini, mereka dilarang latihan. Yah, inilah mereka. Tiba-tiba Se Ra bertanya kenapa Woo Jin main voli, padahal sekolah tidak mendukung sedikitpun. Woo Jin mengaku sudah mengatakannya di kantor polisi saat itu, “Alasanku itu kau, pelatih” ucap Woo Jin.

Se Ra tak mengerti bagaimana bisa Woo Jin main voli karenanya, tapi Woo Jin merasa bahwa panutan pria tidak harus seorang pria juga. Panutan dia adalah Se Ra. Se Ra tersanjung mendengarnya, namun ia masih penasaran kenapa sekolah masih belum membereskan rumah ini. Woo Jin gelisah melihat jam dan berkata akan pulang. Untuk melindungi rumah ini, dia harus pulang.


Se Ra bertanya-tanya maksud ucapan Woo Jin dengan “melindungi rumah ini”, jadi dia bertanya pada Jin Ah dan juga Il Young yang sedang mencuci piring tentang Woo Jin. Dari keduanya dia tahu kalau presiden Lee adalah ayah Woo Jin, tapi bukankah itu hal yang baik?

“Masalahnya.. dia tinggal bersama musuhnya” jawab Jin Ah cemberut

Mereka pun menjelaskan kalau sebenarnya pihak sekolah melakukan segala sesuatu yang mereka bisa untuk menyingkirkan tim voli. Woo Jin juga gak diizinkan tinggal di rumah ini. Dia harus pulang jam 10 malam. Dengan syarat dia harus mempertahankan nilai peringkat lima teratasnya, ayahnya mengizinkannya jadi kapten, dan berhasil menyelamatkan rumah ini.

Se Ra terkesan dengan sikap Woo Jin. Il Young juga setuju, tapi banyak orang yang tidak puas dengannya. Se Ra menebak itu pasti Jae Woong. Jin Ah berpendapat , jika dia melihat dari perspektif Jae Woong, dia mengerti juga. Karena ayah Woo Jin adalah salah satu orang yang menyingkirkan bakat utama mereka, tentu saja Jae Woong tidak suka Woo Jin. Jae Woong bilang kalau dulu timnya penuh dengan atlet sungguhan. Setelah Woo Jin datang, mereka menerima siapapun yang ingin bergabung. Itu sebabnya dari sudut pandang Jae Woong, hanya dia satu-satunya pemain yang bagus. Sedangkan mereka hanya gerombolan masa bukan tim sungguhan. “Lalu kenapa Jae Woong cuti?” tanya Se Ra kemudian. Sayangnya, Jin Ah dan Il Young tidak tahu karena mereka adalah siswa baru.


Se Ra menuju teras rumah dimana Hyun Sung dan Han Sol tengah olahraga. Dia pun mencari tahu alasan Jae Woong cuti dari mereka. Han Sol tidak ingat kejadiannya dan setahu Hyun Sung Jae Woong pingsan selama pertandingan dan dibawa ke rumah sakit. Sang Gyun lalu datang memberitahu kenapa Woo Jin cuti, itu karena selaput parunya. Dia cedera sebelum pertandingan, tapi sebagai pemain terbaik dia gak bisa bilang apa-apa. Han Sol ingat sejak Jae Woong tidak ada mereka tidak pernah menang pertandingan.


Setelah mendengar itu semua, Se Ra menemui Jae Woong di lapangan sekolah. Ia menasehati Jae Woong bahwa udara malam tidak bagus untuk paru-paru. Jae Woong yang lagi push up pun berhenti dan bertanya ada perlu apa Se Ra datang kemari. Se Ra beralasan kalu dia lupa pakai topi, tapi bukan itu maksud Jae Woong, sebenarnya kenapa Se Ra datang ke rumah mereka? Se Ra menjawab untuk melatih, memangnya ada alasan lain? Jae Woong lantas bertanya berapa lama Se ra akan melatih. Dia hanya tidak suka jika Se Ra melatih lalu berhenti di tengah jalan, itu hanya akan mengguncang hati para pemain. Lebih baik berhenti saja sekarang.

“Bagaimana denganmu? Apa hatimu terguncang?” tanya Se Ra

“Apa kamu gila?”


Mereka akhirnya pulang, namun selama di jalan Se Ra terus mengomel kalau dia itu khawatir pada Jae Woong. Tapi apa? Jae Woong malah mengatainya gila. Ya, dia pasti sudah gila karena mengkhawatirkan seseorang yang seperti Jae Woong. Tiba-tiba Jae Woong menarik Se Ra menepi melihat mobil melintas yang hampir menabrak Se Ra karena Se Ra tidak hati-hati. Dia pun gantian mengomeli Se Ra.


Keesokan paginya Se Ra terbangun, sekarang dialah yang menempati kamar Jae Woong. Sesuatu diatas langit-langit kamar menarik perhatiannya. Sementara itu diluar, Han Sol baru saja selesai mandi dan Jin Ah yang kebelet buru-buru masuk kamar mandi. Se Ra keluar, mengucap selamat pagi pada Han Sol, tapi belum selesai ia langsung melotot kaget melihat Han Sol telanjang dada dan cuma pakai handuk. Saking malunya, Han Sol langsung cepat-cepat lari sambil menutupi badannya dan malah menabrak Hyun Sung yang kebetulan lewat hingga handuknya pun terlepas. HAHAHAHA


OMG… Se Ra melotot sampai matanya mau keluar. Untunglah Jae Woong yang ada disitu segera menutupi matanya. Han Sol pun ngibrit melarikan diri sedangkan Se Ra diam membeku sebelum akhirnya juga lari masuk ke kamar.

Ini nih ekpresi Se Ra setelah Jae Woong menarik tangannya.. LOL


****


Akibat kejadian tadi, Lee Han Sol jadi super duper malu ketemu Se Ra. Se Ra memarahinya karena tidak serius latihan dan terlambat datang. Il Young dan Jin Ah jadi curiga dengan tingkah anehnya, pasti ada sesuatu, kan? Han Sol cepat-cepat menggeleng, dia cuma tidak enak badan. Tetap saja mereka tidak percaya, apalagi melihat Han Sol terus membelakangi Se Ra. Mereka bertanya penasaran apa yang Han Sol lakukan kali ini. Malu, diapun menghampiri mereka dan langsung menutup mulut Il Young.


Tak lama Woo Jin datang dengan payung untuk memayungi Se Ra. Se Ra menyuruh Woo Jin memperhatikan cara yang lain bermain. Han Sol dan Jin Ah sama-sama di posisi kiri tapi permainan keduanya sangat berbeda. Han Sol aslinya pemain ofensif dan Jin Ah punya pertahanan yang bagus. Kalau mereka bermain bersama, mereka akan membentuk tim yang bagus. Bukan begitu? Kekkeke… Woo Jin hanya berdeham kikuk karena dari tadi dia tidak mendengarkan penjelasan Se Ra tapi memandangi wajah cantik Se Ra sambil senyam-senyum.


Setelah selesai latihan, Soo Bin datang membawa banyak sekali makanan. Dia ingin menyuapi Jae Woong tempura, tapi Jae Woong langsung mengalihkan tangan Soo Bin kearah Han Sol dan secepat kilat Han Sol langsung menyambar tempura itu.

“Lee Han Sol, makan yang banyak. Tapi kalau kau jalan-jalan cuma pakai handuk lagi, aku akan membuatmu lari satu putaran di komplek.” Ancam Jae Woong.

“Benar-benar.. kita harus melindungi gadis kita” tambah Il Young

Kesal, Soo Bin pun memaksa Jae Woong untuk memakan tempuranya. Han Sol meletakkan sendoknya tak nafsu makan, patah hati melihat Soo Bin hanya perhatian pada Jae Woong.


Pelatih Song memberikan Se Ra berkas susunan untuk masuk ke piala presiden. Begitu Se Ra menandatanganinya, mau hidup atau mati, mereka ada di perahu yang sama. Se Ra merasa tidak mungkin. Mereka hanya punya waktu kurang dari sebulan sampai turnamen. Gimana bisa mereka keluar dari masa percobaan dan latihan sebelum itu?

“Kita harus bertemu Kepsek besok agar kita bisa memintanya untuk mencabut masa percobaan tersebut.” Ucap Se Ra dan memutuskan untuk menandatanganinya.

“Lagipula kita perlu tandatangan untuk susunan ini, jadi kita harus bertemu dengannya.” Kata pelatih Song


Dan keesokan harinya, Se Ra bersama pelatih Song sudah ada di ruangan Kepsek. Se Ra memohon agar masa percobaan dicabut. Piala Presiden akan segera dimulai, latihan secara terpisah tidak akan meningkatkan keterampilan kerja sama tim mereka. Kepsek merasa tidak suka dengan Se Ra yang hanya sementara di sekolah ini, tapi sudah ikut campur. Dia sudah menjaga sekolah ini selama bertahun-tahun dan akan terus melakukannya di masa depan. Saat siswa berkelakuan buruk, dia punya kewajiban! Itu sebabnya dia menempatkan mereka dalam masa percobaan.

Pelatih Song mencoba membujuk Kepsek dengan memberikan secarik kertas untuk ditandatangani, tapi dengan tegas pak Kepsek memberitahu bahwa tim voli akan ditiadakan. Se Ra terkejut tak percaya.

No comments:

Post a Comment