Sinopsis Thumping Spike Episode 7 - 8

 ~ Episode 7: Kesempatan ~


Pelatih Song dan Se Ra mencoba melobi Kepsek, tapi kepsek langsung mengatakan kalau tim voli akan ditiadakan. Presdir Lee sudah sepakat, mereka akan segera mengumumkannya. Saat mereka menyingkirkan pemain utama harusnya mereka (pelatih Song dan Se Ra) sudah mengira ini bakalan terjadi. Dia juga sudah memberi pelatih Song waktu tiga tahun, bukankah itu lebih dari cukup? Pelatih Song pasrah, tak ada yang bisa dilakukannya lagi jika itu memang keputusan dari atas.




Setelah keluar dari ruang kepsek, pelatih Song merasa menyesal karena dia malah membuat masalah semakin besar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Se Ra berpikir pelatih Song menyerah, tapi pelatih  berkata bahwa sekolah ini juga sekolahnya. Dia dulu adalah pemain voli disini dan di sekokah ini juga karirnya berakhir.
Se Ra mungkin bertanya2 bagaimana bisa si kerdil seperti dia main voli. Tingginya memang seperti anak SD, tapi semangatnya mengalahkan tingginya sendiri. Namun dunia ini tidak pernah mempedulikan usahanya, dan hanya melihat tinggi badannya. Ini hal yang sama, dunia ini juga tidak ada yang bertepuk tangan untuk posisi terakhir. Kalau mereka tidak punya kemampuan sebaiknya enyah saja daripada berakhir seperti ini.
Se Ra kemudian bertanya, jika pelatih Song menyukai sesuatu, apa asa yang benar atau salah? Apa tidak bisa menyukai voli meskipun tidak berbakat? Se Ra sangat kecewa.



Di rumahnya, Woo Jin sudah akan pergi latihan ketika ayahnya menegur dirinya yang tak pernah diam dirumah. Woo Jin memberitahu kalau sebentar lagi piala presiden akan dimulai, makanya dia rerus latihan. Ayahnya heran, apa pelatih Song tidak memberitahunya apa-apa? Tim voli akan ditiadakan.


Woo Jin kaget, dia langsung ke rumah Ttim untuk memberitahu Se Ra tentang ini. Se Ra sudah tahu, dia menyuruh Woo Jin diam, takut yang lain akan dengar dan tepat saat itu Hyun Sung dan Sang Gyun datang, mengatakan mereka akan latihan sendiri tanpa Jae Woong. Untunglah mereka tidak dengar. Woo Jin lalu menanyakan dimana yang lain, tapi ternyata semua punya acara masing2 hari ini.

Setelah mereka pergi, Se Ra menanyakan darimana Woo Jin tahu. Woo Jin tahu dari ayahnya, dan Se Ra juga bilang kalau dia tahu dari Kepsek. Kepsek sudah menyingkirkan pemain utama, memecat pembantu, dan membuat mereka dalam masa percobaan, Se Ra merasa ini adalah labgkah terakhir mereka. Woo Jin khawatir kalau sampai sekolah benar2 membubarkan tim voli, apa yang akan mereka lakukan?
Han Sol dengan mulut penuh mie tiba-tiba muncul, ia bertanya bingung apa yang dibubarkan? Keduanya diam, Han Sol kembali bertanya dengan berteriak menuntut jawaban mereka.


Ternyata Jae Woong pergi ke rumah sakit, mengunjungi adiknya dan membawakan boneka waktu itu sebagai hadiah. Jae Eun sangat senang, malahan bonekanya lebih besar daripada Jae Eun sendiri.
Jae Woong sampai ke rumah saat malam hari. Ketika akan masuk terdengar suara Han Sol mengatakan tim voli akan bubar. Ternyata di dalam semua sudah berkumpul membahas ini. Jae Woong kaget karena dia sendiri yang tidak tahu. Ia kemudian masuk dengan membanting pintu dan marah karena mereka malah subuk memikirkan diri sendiri saat tim bubar nanti, apa mereka hanya menunggu sampai tim voli dibubarkan? Jae Woong langsung masuk ke kamar, melampiaskan emosi dengan menjatuhkan barang2 nya.



Tak lama ia keluar dengan membawa tas, pergi dari rumah itu. Se Ra mencoba mengejarnya, tapi bus yang Jae Woong naiki sudah jalan. Ketika Se Ra balik ke rumah, pelatih Song dan Soo Bin sudah ada disana. Pelatih bertanya, apa Se Ra menemukan Jae Woong? Se Ra mengatakan Jae Woong naik bus, jadi dia tidak bisa mengejarnya. Besok dia akan pergi ke rumah Jae Woong dan bicara padanya.
Soo Bin langsung menyahut kalau Jae Woong tidak punya rumah. Adiknya sakit keras. Pelatih Song mencoba menghentikan ocehan anaknya itu, tapi Soo Bin tak peduli. Dia lanjut menceritakan kisah hidup Jae Woong dengan nada kecewa. Soo Bin bilang ortunya Jae Woong berhenti bekerja, bahkan menjual rumah mereka. Saat oppa Jae Woong cuti, setiap hari dia kerja di taman hiburan dan tinggal di asrama sebelum datang keaini. Jae Woong oppa tidak punya tempat lain untuk didatangi! Keluh Soo Bin.


Jae Woong menemui temannya, sepertinya malam ini dia akan menginap di tempat temannya itu. temannya membelikan soju, tapi sebelum itu dia bertanya apa Jae Woong tidak apa-apa minum? Jae Woong kan masih sekolah? Aku sudah berhenti, jawabnya. Temannya heran, bukankah masih ada satu semester lagi? Dia juga bilang bahwa Jae Woong akan menunjukkan kemampuannya di piala presiden dan bergabung dengan tim mereka. Jae Woong bingung, kapan dia mengatakan itu? Ternyata pelatih Song yang menemui teman Jae Woong, pelatih ingin Jae Woong masuk ke tim mereka. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi Jae Woong harus bertahan sedikit lagi. Dia hampir sampai. Jae Woong tampak memikirkan perkataan temannya itu.


Se Ra berkunjung ke rumah sakit. Ia tersenyun mengetahui pemilik boneka yg  sebenarnya adalah adik Jae Woong bukan Soo Bin.
Tak lama ibu masuk dengan membawakan makanan untuk Se Ra. Ibu terlihat senang sekali karena Se Ra datang (secara atlet terkenal). Se Ra jadi merasa tidak enak, dia minta maaf sudah mengganggu tengah malam begini.
Ibu tak masalah, malah ibu yang seharusnya minta maaf karena sudah menitipkan Jae Woong pasa Se Ra tapi ibu sendiri tak pernah menyapa, habisnya Jae Woong tidak pernah bilang kalau Kang Se Ra adalah pelatihnya. Bahkan td dia bilang pelatuhnya pindah kerumahnya, tapi ibu benar2 tidak tahu kalau itu adalah Se Ra. Se Ra lalu bertanya, apa maksud ibu dengan "tadi"? Ibu mengatakan Jae Woong datang tadi sore. Se Ra pun tahu kalau Jae Woong setidaknya seminggu sekali pasti datang ke RS menjenguk Jae Eun.



Se Ra akhirnya menunggu Jae Woong di ruang tunggu RS. Dia pakai hoodie + masker supaya tidak ketahuan orang. Dia mengintai kedatangan Jae Woong sampai hari ke-4 dengan baju yang sama dari posisi tempat duduk yang sama, hingga ketiduran dan rambut berantakan HAHAHAHA. Akhirnya Jae Woong datang juga, Se Ra langsung menghampiri dan memegang kuat tangannya agar tak bisa melarikan diri.



Mereka kemudian mengobrol di luar. Se Ra memintanya kembali, tapi menurut Jae Woong tak ada gunanya, untuk apa dia kembali kalau tim bubar? Se Ra mengatakan ia akan berusaha, mereka akan tetap bertanding di piala presiden. Tapi apa gunanya kalau Jae Woong tidak kembali? Jae Woong menoleh padanya dengan tatapan tidak suka, apa agensimu membiarkanmu berkeliaran seperti ini? Kenapa dewi voli punya banyak waktu luang? Dengan sedikit sedih Se Ra mengatakan dia sudah berhenti. Jae Woong bertanya heran, apa bisa berhenti semaumu? Se Ra berkata, kalau dia tidak bisa main di lapangan, mungkin dia juga akan berhenti. Jae Woong penasaran, kenapa? Se Ra melihat ke kakinya yang cedera dan tiba-tiba dia menangis, membuat orang yang lewat memandangi mereka HAHAHA.


Jae Woong malu, ia menutup kepala Se Ra dengan hoodie dan bicara kuat-kuat supaya orang tidak berpikir macam-macam, “jadi, apa yang dokter bilang? Kang Se Ra, kau tidak bisa bermain di lapangan lagi. Kurasa dokter akan bilang begitu.” Se Ra melepaskan hoodie nya dan bilang dia tidak pernah ke dokter. Saat dia di operasi lima tahun yang lalu, dokter bilang akan sulit untuk di operasi, tapi dia bersikeras. Mereka bilang aku harus berhenti main voli kalau kambuh. HAHAHAH

Bukannya sedih aku malah ngerasa ini lucu, karena seharusnya Se Ra bujuk Jae Woong pulang tapi malah dia yang dibujuk Jae Woong untuk ke dokter. Jae Woong mengajak Se Ra ke dokter, tapi Se Ra tidak mau, dia takut. Jae Woong berkata dia akan menemani Se Ra. Se Ra tidak mau bukan karena takut sama dokternya tapi dia takut orang-orang akan mencari tahu. Dia Kang Se Ra. Dia hanya berharga disaat dia menjadi atlet. Dewi di lapangan.
Jae Woong kesal, bisa-bisanya Se Ra berpikir begitu, mau Se Ra main atau tidak apa pedulinya dengan orang lain? Apa tidak masalah menyabotase kesempatannya menjadi seorang atlet? Se Ra gantian bertanya, bagaimana denganmu? Apa gak keberatan membuang kesempatanmu menjadi seorang atlet? “Pergilah ke dokter. Dapatkan diagnose yang tepat!” kata Jae Woong kemudian pergi. Se Ra berteriak, apa kamu gak mau masuk ke Universitas Hanbit? Ayo kita menangkan piala presiden dan masuk ke universitas Hanbit, Hwang Jae Woong! Jae Woong meringis tak percaya, tapi sekilas ia tersenyum seperti berubah pikiran.


~ Episode 8: Bersatu  ~



Woo Jin menunggu di depan rumah tim, dan saat menoleh ia melihat Se Ra pulang bersama Jae Woong ‘horeeee’. Woo Jin kelihatan tidak suka, ia bertanya kenapa mereka bersama? Se Ra berbohong, dia mengatakan mereka tak sengaja bertemu. Se Ra menyuruh Jae Woong masuk dan juga menyuruh Woo Jin pulang karena sudah jam 10 malam.

Dengan wajah serius, Woo Jin menarik tangan Se Ra yang akan masuk, apa ini artinya senior Jae Woong akan kembali? Se Ra mengangguk mengiyakan. Woo Jin bertanya lagi, apa Se Ra yang meyakinkannya? Se Ra pura-pura mengeluh, memangnya Jae Woong itu tipe pria yang mudah diyakinkan? Dia memutuskannya sendiri dan kembali. Dia lalu bertanya apa dia bisa bertemu ayah Woo Jin? Woo Jin kaget, tapi sepertinya Woo Jin setuju karena sekarang Se Ra sudah berhadapan dengan ayah Woo Jin.



Malam itu juga Se Ra menemui presdir Lee. Presdir Lee menyindir Se Ra yang sepertinya menjalani hidup dengan sangat mudah melihat dari cara dia menangani sesuatu yang sudah diputuskan. Dengan bersikap santai namun berani, Se Ra mengatakan dia pikir presdir tidak suka dengan cara mudah, kalau begitu haruskah dia memasang poster dulu? Kalau dia memasang poster protes dan mendapatkan tanda tangan dari guru dan juga siswa yang menentangnya lalu mengirimkannya ke dewan sekolah, itu tidak akan mudah, kan? HAHAHAH, presdir akhirnya bersedia membatalkan pembubaran asalkan mereka menang juara pertama.
Woo Jin menyela, bagaimana bisa mereka menang juara pertama? Kalau begitu, apa kalian ingin dapat posisi terakhir? Bentak presdir. Se Ra kemudian setuju, dia sangat yakin mereka pasti akan menang. Presdir mengingatkan kalau mereka tidak mendapat juara pertama, tim voli akan DITIADAKAN!



Woo Jin mengantar Se Ra pulang. Se Ra sangat senang karena dia berhasil menyelesaikan masalah ini, Jae Woong sudah kembali, dan masa percobaan dicabut. Yang harus mereka lakukan berikutnya adalah latihan keras. Tapi beda dengan Woo Jin, ia tak yakin mereka bisa juara pertama. Kemungkinan dapat posisi terakhir lebih besar daripada juara pertama HAHAHAH bener juga. Se Ra menegur sikap pesimisnya, tapi Woo Jin dengan serius berkata, mereka tidak bisa menang hanya karena mereka ingin! Se Ra langsung mendesah kesal, dia pikir Woo Jin hanya beruntung, tapi ternyata Woo Jin itu musuh sungguhan!
Dia berusaha meyakinkan Woo Jin kalau dia akan membuat mereka juara pertama, tunggu saja! Se Ra kemudian jalan duluan, tapi berbalik lagi untuk menanyakan Woo Jin sekolah apa yang mendapat peringkat pertama sekarang. HAHAHAHA, Woo Jin beneran kesal, mungkin dalam hatinya berpikir, bagaimana bisa Se Ra seyakin itu kalau dia saja tidak tahu sekolah mana yang akan menjadi lawan mereka.



Sekarang Se Ra sudah bisa tersenyum santai di kamarnya yang merupakan bekas kamar Jae Woong. Ia melepas poster universitas Hanbit milik Jae Woong yang ada di langit-langit dan menambah tulisan ‘YOU CAN DO IT’ di kedua sisinya. Ayo kita ke universitas Hanbit, kata Se Ra tersenyum puas.


Esok harinya, Pelatih Song dan Se Ra kembali bertemu kepsek yang tengah bersama presdir Lee. Kepsek memberitahu kalau mereka membatalkan pembubaran berkat presdir Lee. Presdir kemudian bertanya apa Se Ra tidak meberitahu pelatih Song tentang yang mereka bicarakan kemarin? Se Ra mengaku belum, ia pun memberitahu pelatih Song saat itu juga. Wajah pelatih Song langsung berubah kesal, ia seperti hendak menantang presdir Lee, tapi saat presdir bilang mereka bisa menyerah sekarang kalau mereka tidak percaya diri, wajah pelatih Song kembali bersahabat LOL. Tapi sedetik kemudian kepsek menyindir pelatih Song yang pasti tidak menang malah hanya akan bikin malu. Pelatih Song tentu saja kesal dan berlanjut adu mulut sampai ke masalah pribadi (tinggi badan) dengan presdir Lee. HAHAHAH aku yakin pelatih Song dan Presdir Lee dulunya adalah teman baik, karena pelatih Song tahu kehidupan presdir Lee, dia juga bilang kalau presdir Lee tidak bisa kuliah karena dia bodoh, bisanya cuma menghabiskan uang orangtuanya dgn belajar di luar negeri. Pelatih bahkan mengancam dia akan memberitahu Woo Jin soal ini HAHAHAHAH.


Se Ra cuma bisa bengong melihat Presdir Lee dan Pelatih Song bertegkar sampai tarik-tarikan, sementara Kepsek ditengah berusaha melerai mereka HAHAHA. Kini gantian kepsek yang memarahi presdir dan pelatih Song, dan keduanya tampak takut melihat wajah serem kepsek LOL. Malu, presdir kemudian pergi. Pelatih Song masih saja bertanya presdir mau kemana, presdir menjawab dia akan mengambil omong kosong yang seukuran dengan pelatih Song. Hei, baj*****.. hei! Hei, sini! Teriak pelatih Song mengejar Presdir HAHAHAH, ngakak liat tingkah lucu mereka, gak ingat umur.



Se Ra yang masih ada di ruangan kepsek akhirnya diberitahu kalau presdir Lee dan Pelatih Song adalah mantan alumni sekolah ini. Keduanya juga satu tim voli. Se Ra pun mengerti. Kepsek lalu bertanya berapa lama Se Ra akan berada disini sebagai pelatih. Manajer Se Ra sangat khawatir. Manajer? Se Ra bingung. Masih dengan nada kesal, kepsek mengatakan manajer Se Ra setiap hari menghubunginya menanyakan tentang Se Ra. Kalau dia penasaran, dia bisa datang kesini sendiri… atau dia bisa mengubungimu langsung, astaga apa ini?


Setelah dari sekolah, Se Ra langsung ke kantor manajernya. Disana cuma ada sek Kim yang memberitahu manajer baru saja pergi. Se Ra pun bersedia menunggu karena dia datang tanpa memberitahu. Sek Kim bilang kalau Se Ra selalu seperti itu, datang tanpa pernah memberitahu. Meskipun begitu, saat manajer sedang sibuk, dia selalu mengesampingkan semuanya, meluangkan waktu untuk Se Ra. Dan benar saja , Manajer sampai di kantor dengan nafas terengah-engah karena berlari. Se Ra tampak merasa bersalah.


Di café, manajer Kim bertanya soal Se Ra yang akan menandatangani ulang kontrak dengannya. Dia kan tidak direkrut orang lain. Se Ra heran bagaimana manajer bisa tahu, dengan gaya sok lucu manajer berkata, aku Kim Ki Joon. Kamu gak tahu kalau dunia ada diujung jariku? Se Ra tersenyum singkat, kemudian manajer bertanya apa Se Ra tidak nyaman tinggal di rumah itu? Se Ra penasaran kok manajer tahu dia pergi? Apa perlu ku bilang lagi? Aku Kim Ki Joon! Hubungan mereka yang sempat memanas karena Se Ra memutuskan kontrak begitu saja mulai kembali baik. Manajer juga minta maaf atas kata-kata kasarnya hari itu. Sebenarnya dia kecewa karena Se Ra tidak konsen, padahal dia bisa membantu Se Ra meningkatkan kualitas bintangnya. Ayo kita tandatangani ulang. Kalau skandalnya terendus sekarang, tidak ada yang bisa kulakukan untukmu. Se Ra berkata dia akan memikirkannya.


Begitu manajer tiba di kantor, sek Kim menanyakan apakah pembicaraannya berjalan dengan baik? Manajer menghela nafas, dia rasa Se Ra akan kembali padanya sambil menangis. Sek kim mengerti, dia lalu mengatakan kalau masalahnya adalah Se Ra tidak akan kembali, apa mereka tidak bisa membuatnya kembali? Manajer terlihat memikirkan ide itu ‘membuat Se Ra kembali’.


Malam harinya, Se Ra datang menemani Jae Woong berlari di lapangan. Jae Woong mengungkit soal cidera Se Ra, dia bilang kalalu Se Ra punya waktu untuk melakukan pelatihan per orang, kenapa gak pergi ke rumah sakit? Se Ra bertanya, Kenapa? Gak mau kalau dia membantu? Maksud Jae Woong bukan begitu, ada periode optimal untuk melakukan operasi dan perawatan, jangan sampai seperti dia yang terlambat, kalau saja dia melakukan perawatan dini maka kondisinya tidak seperti ini. Se Ra tak percaya kalau Jae Woong sakit karena kelihatannya sangat sehat. Jae Woong tertawa ramah dan mengacak-ngacak rambut Se Ra yang tertutup hoodie.

Se Ra protes, hei bagaimanapun juga aku empat tahun lebih tua darimu, dan aku pelatihmu! Jae Woong meledeknya, oh begitu? Tapi kamu masih main dengan boneka beruang? Boneka beruang. Jae Woong kembali mengganggunya. Tanpa mereka sadari ada orang yang memotret kedekatan mereka. Jae Woong udah mulai ada rasa ni.


Keesokan harinya, Se Ra datang buru-buru ke rumah sakit. Ia langsung ke resepsionis menanyakan pasien yang bernama Hwang Jae Woong. Belum sempat petugasnya menjawab, tangan Se Ra sudah ditarik seseorang, Hwang Jae Woong, yang ternyata tidak sakit. Se Ra marah, apa Jae Woong tahu betapa takutnya dia saat mendengar Jae Woong ada di RS? Dengan santainya Jae Woong tersenyum lalu menarik Se Ra ikut bersamanya.


Jae Woong membawanya ke bagian Ortopedi (bagian tulang) agar Se Ra diperiksa dan bisa membuat keputusan. Setelah berdiri cukup lama di depan pintu, Se Ra akhirnya masuk. Mungkin hasilnya buruk, karena setelah keluar dari RS Jae Woong meminta Se Ra menangis saja,tidak usah ditahan-tahan. Se Ra merasa tidak ada gunanya menangis, operasi sudah tidak mungkin dan mereka tidak bisa menjamin pengobatannya akan berpengaruh. “Kenapa kamu harus membuatku menyedihkan?” ucap Se Ra merasa Jae Woong lah yang membuatnya tahu hal menyakitkan ini.



Malamnya, Se Ra menemani Jae Woong lari lagi. Jae Woong senang melihat Se Ra datang dan membawakan minum juga handuk untuknya. Tapi saat Jae Woong minum, Se Ra sengaja menyenggol botol minumnya sampai Jae Woong tersedak HAHAHAH. Se Ra masih kesal soal tadi siang, ia memperingatkan Jae Woong untuk tidak membuat lelucon rumah sakit lagi, atau dia akan pastikan membuatnya jadi kenyataan. Jae Woong bertanya apa dia tidak apa-apa? Se Ra berkata mencari tahu kebenaran itu memang menyakitkan, tapi itu sesuatu yang pada akhirnya harus dia lakukan.

Jae Woong berpendapat Se Ra harus mendapatkan pengobatan, tapi Se Ra kemudian bilang jangan ikut campur, ini masalahnya. Jae Woong tiba-tiba memanggil Se Ra dengan boneka beruang dan dengan tatapan lembut Jae Woong berkata dia ingin melihat Se Ra bermain di lapangan. Se Ra terdiam kikuk mendengar harapan Jae Woong untuknya.

No comments:

Post a Comment