Sinopsis A Girl & Three Sweethearts Episode 9 - 1


Sakurai terlambat pulang ke rumah. Kanata terkejut mendengar Sakurai berkata dia menjatuhkan kuenya apalagi ketika Chiaki datang Sakurai pura-pura sakit perut dan batal merayakannya hari ini. Kanata tampak sedikit kesal, dia sudah menyiapkan makanan spesial dan menunggu lama tapi malah tidak jadi.



Sakurai memberitahu Wakaba soal Chiaki yang memeluknya kemarin. HAHAHAH Wakaba antusias sekali mendengarnya, dia yakin Chiaki pasti menyukainya. Sakurai merasa itu mustahil, mungkin Chiaki memeluknya hanya karena situasi sedang sulit, Wakaba langsung membantah, pria tidak akan memeluk gadis yang tidak disukainya. Dia lalu bertanya bagaimana dengan jawaban Sakurai, Sakurai berkata karena yang terjadi dengan Chiaki dia melewatkan kesempatan itu, apalagi dia mengingkari janji untuk merayakan bersama dengannya. Wakaba merasa kasihan pada Kanata, dia meminta Sakurai segera memberitahu Kanata kalau Sakurai memang menyukainya, Kanata takkan mungkin selamanya menunggu Sakurai.


Sakurai keluar dari kamarnya, tapi yang ada hanya Touma, diapun bertanya dimana Kanata. Touma berkata Kanata sudah pergi memeriksa tempat dining out, apakah dia meninggalkanmu? Jangan bilang kalau terjadi sesuatu lagi dengan Kanata?! Sakurai cepat-cepat menyangkalnya. Dia melihat Touma hendak memakan hamburger, dia yakin itu buatan Kanata semalam.

Merasa bersalah, Sakurai langsung pergi menuju Enoshima Candle, tempat diadakannya dining out. Kanata sudah ada disana sedang mengukur-ngukur lantai. Sakurai protes karena Kanata jadi dingin lagi padanya, kalau dia mau pergi kenapa dia tidak diajak juga? Kanata tidak berkata apa-apa, dia hanya menyuruh Sakurai mengambil foto tempat itu. Saat Kanata akan pergi Sakurai menghentikannya, hei… maafkan aku, aku yang bilang kalau kita seharusnya merayakannya bersama kemarin, dan kau bahkan sudah susah payah memasak juga, aku benar-benar minta maaf. Kanata tersenyum, ia tidak apa-apa karena mengira Sakurai sedang sakit dan mengajaknya pergi kalau sudah baikan.


Chiaki sedang menunggu Kaede, dan tak lama Kaede muncul. Chiaki langsung bilang ada sesuatu yang ingin dikatakannya, wajah Kaede tampak sedih seperti tahu apa yang akan dikatakan Chiaki, tapi ia langsung senyum dan mengajak Chiaki ke suatu tempat sebelum Chiaki mengatakan apa yang ingin dikatakannya itu.

Kaede mengajaknya ke taman bermain. Dia sangat ingin kesana bersama Chiaki. Chiaki minta maaf karena tidak tahu, dan Kaede mengatakan kalau Chiaki merasa bersalah habiskan waktu sepanjang hari dengannya. Mereka pun bermain, lalu pergi ke tempat2 seru lainnya, tapi hanya Kaede yang tampak senang sedangkan Chiaki hanya menuruti Kaede. Ia meminta Kaede mendengarkan setelah mereka turun dari cable car tapi Kaede tidak mau, masih ada satu hal lagi yang ingin dia lakukan bersama Chiaki, setelah itu dia akan mendengarkan.


Di lain tempat, Sakurai galau teringat perkataan Wakaba yang memintanya cepat memberi jawaban karena Kanata tidak mungkin menunggu selamanya, dan tiba-tiba lamunannya buyar karena Kanata menyodorkan minuman dingin ke pipinya.

Sakurai ingat saat dia masih kecil dia sering sekali minum minuman ini. Dulu dia sangat ingin kelereng Ramune yang ada didalamnya (Ramune adalah minuman Jepang dengan botol khusus yang terdapat kelereng di dalamnya untuk menyumbat botol), tapi dia tidak pernah bisa mengeluarkannya dari botol, jadi dia membuang semua botol kosong yang masih ada kelerengnya. Kanata heran kenapa dia ingin kelerengnya, bukannya itu tidak bisa digunakan?

“Gadis Kecil menyukai benda yang berkilau seperti ini, kau tahu? ini membuat jantung mereka berdebar.”

“Aku tidak mengerti sama sekali!” ucap Kanata, HAHAHHA.

Menurut Sakurai masa kanak-kanak yang manis itu ialah ketika mengumpulkan barang rongsokan, kemudian ia bertanya apa yang dulu Kanata mainkan saat kecil. Kanata tidak tahu, dia selalu membantu ayahnya memasak, itu satu-satunya hal yang terlintas dipikirannya. Sakurai kagum, karena sekarang mimpi Kanata menjadi kenyataan. Kanata juga berkata hal yang sama, sekarang Sakurai sudah mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan. Sakurai membenarkannya tapi mimpinya sebenarnya adalah bekerja di toko kue luar negeri. Dia besar di toko dumpling, jadi dia selalu mendambakan melihat dunia yang benar-benar berlawanan dengan itu. waktu kecil dia selalu bermimpi seperti itu, tapi setelah dewasa, dia dengan cepat membuang mimpi sia-sianya.


Kanata merasa Sakurai lah yang membuat itu menjadi sulit, mungkin saja mimpi itu tiba-tiba menjadi kenyataan lewat pencapaian yang kecil. Kanata lalu mengambil gantungan kunci Tokyo tower miliknya dan membuka tutup botol Ramune dan keluarlah kelereng yang ada didalam. Lihatlah, salah satu mimpimu menjadi kenyataan , ucap Kanata sambil menunjukkan kelereng itu. Jadi jangan buang mimpimu, peganglah dengan erat.

Sakurai tersenyum sambil menggenggam kuat kelerengnya dan berterima kasih pada Kanata. Suasana semakin indah ditemani sunset dihadapan mereka. Sakurai mengatakan setelah dining out selesai ada yang ingin disampaikannya, kali ini sungguhan. Jadi, ayo berjuang bersama! Ya.. jawab Kanata tesenyum manis.


Chiaki menemani Kaede sampai malam, mereka bermain kembang api bersama sampai kembang api terakhir habis. Kaede sangat senang meskipun musim panasnya benar-benar berakhir. Saat Chiaki akan mengatakan sesuatu yang dari tadi ingin dikatakannya, Kaede berdiri duluan dan bilang kalau dia ingin mengatakan sesuatu pada Chiaki juga.

“Chiaki, ayo kita putus. Temanku membuka sebuah sekolah piano di Boston. Mereka memintaku bekerja disana, dan aku juga bisa belajar music lagi. Aku memutuskan untuk mencoba mimpiku sekali lagi. Chiaki, jujurlah pada dirimu sendiri. Kau menyembuyikan perasaanmu karena kau tidak ingin menyakiti siapapun. Tapi ada orang yang terluka ketika mereka melihatmu melakukannya. Jadi jangan bohong tentang perasaanmu lagi.”

Kaede mengulurkan jari manisnya agar Chiaki berjanji, dan setelah Chiaki melakukanya Kaede meminta Chiaki pergi ke orang yang dia inginkan. Kaede tersenyum menerima permintaan maaf Chiaki, tapi setelah Chiaki pergi ia tak bisa menyembuyikan rasa sedihnya lagi.


Kaede dijemput Nobuyuki dan Mikako menuju bandara. Mereka sampai sedih mendengar cerita Kaede yang akhirnya putus dengan Chiaki. Meskipun begitu Kaede tetap senang karena musim panasnya menjadi tak terlupakan karena Chiaki. Dia sangat berterima kasih pada Chiaki yang sekarang tengah berlari memperjuangkan cintanya. Ia tiba di restoran dengan nafas terengah-engah dan memanggil Sakurai, saat dia akan pergi karena mengira Sakurai tidak ada di restoran, Sakurai memanggilnya.


Tanpa basa-basi Chiaki langsung berkata dia menyukai Sakurai. Dia tahu ini sangat terlambat, dan dia tahu siapa orang yang Sakurai suka. Meskipun begitu, dia tetap menyukai Sakurai. Kau tidak harus memberikanku jawabannya sekarang juga, jadi bisakah kau coba memikirkannya? Sakurai terdiam kaget, dan ketika sampai di rumah Chiaki langsung bilang pada Kanata kalau dia sudah mengungkapkan perasaanya pada Sakurai. Tapi Sakurai belum memberinya jawaban. Dia hanya ingin berkata jujur.


Saat sampai di rumah, Sakurai berusaha menghindari Kanata yang duduk di ruang tamu, tapi Kanata menghentikannya dan bertanya apa yang Sakurai lakukan semalam. Kau sebenarnya bersama aniki, kan? Benarkan? Sakurai ingat saat Chiaki memeluknya malam itu dan membenarkan dia memang bersama Chiaki. Sakurai minta maaf karena sudah berbohong, tapi Kanata yang sudah terlanjur kecewa mengucapkan selamat karena mimpi Sakurai menjadi kenyataan. Bukankah Sakurai selalu menginginkan Chiaki menyukainya?
Sakurai marah karena Kanata selalu bersikap seperti ini, egois, membuat keputusan tentang apapun tanpa mendengarkan apa yang orang lain katakan. Kanata tak terima, kau yang egois! Kau yang tidak pernah mempertimbangkan perasaan orang lain! Aku sangat marah saat melihatmu sekarang. Aku harap kau tidak pernah datang kesini! Sakurai pun membalas, aku harap aku tidak pernah bertemu denganmu!

2 comments: