Sinopsis 109 Strange Things Episode 4

Hai, readers setiaku. Sorry bgt udah lama gak update ataupun posting lagi. Sampai-sampai aku juga gak tau kpn trakhir kli aku nge-post di blog yg udah sawangan ini hahahah. Tiga bulan terakhir aku sibuk dengang urusan kuliah, magang, dll yang buat aku gak sempat nulis lagi. Buka blog aja baru beberapa minggu terakhir dan senang rasanya bca comment2 kalian yang minta sinop dramanya di lanjut lagi. Emmm jadi curcol nih, btw aku tetap berusaha buat ngelanjutin drama yg udah aku buat sinopnya ya, meskipun sekarang banyak drama2 baru yang menarik hati dan para blogger yang konsisten nulis gak kayak aku. Hiks...hiksss... aku jugan pengin konsisten tapi apa daya... I've my own real life yang harus diutamakan. Selamat membaca kembali..... :)


Episode 4 : Anak yang Hilang


Sebuah panel surya terbang terlempar ke arah KDI dan Ki Won yang sedak asyik ngobrol. Ternyata itu adalah ulah Berry (anak buah Dr. Jung) yang bersembunyi di belakang mereka dengan tatapan tajamnya. KDI yang memegangi Ki Won bertanya khawatir apa dia baik-baik saja? Dengan suara yang masih terdengar syok, Ki Won mengangguk mengatakan ia baik-baik saja, tapi KDI melihat kearah kaki Ki Won dan mengatakan kalau Ki Won terluka.






Mereka berada di sebuah cafe. Dengan telaten KDI mengoleskan obet luka di lutut Ki Won. Mendengar Ki Won meringis kesakitan KDI mengatainya lebai padahal cuma tergores sedikit saja HHAHAHHA. Ki Won memperhatikan KDI sejenak, ia lalu bertanya apa ia boleh berbicara santai saja pada KDI, meski KDI lebih tua darinya? KDI mengiyakan, Ki Won kan majikannya, jadi tentu saja boleh. Ia lalu menaruh kedua tangannya yang ditekuk di bawah dagunya, kemudian menggoyang-goyangkannya sambil tersenyum manis seperti anjing peliharaan HAHAHAHAHAH. Tingkah anehnya itu berhasil membuat Ki Won tersenyum ceria.




Saatnya makan malam. Semua anggota keluarga berkumpul menikmati hidangan yang dibuat KDI, tapi KDI sendiri hanya berdiri menonton mereka. Ki Won menepuk lantai di sebelahnya untuk menyuruh KDI duduk agar juga ikut makan bersama, tapi KDI menolak karena dia tidak makan. Ki Won tetap menyuruhnya duduk, mereka ini kan keluarga jadi tidak baik jika KDI terus berdiri sementara mereka makan. Hyung Bum dan Ki Yeon juga memintanya makan tapi sambil romantis-romantisan hahhaha.

Setelah KDI duduk, Ki Eun bertanya bagaimana bisa KDI berada di sini, tidak mungkin kan dengan teknologi masa depan? KDI tidak bisa mengatakan jawabannya karena itu menyangkut masa depan LOL. Ki Yeon juga ikut bertanya dengan gaya sok imut, dia bertanya tentang umur KDI, apa umurnya 21 tahun? 22 tahun? KDI menjawab bahwa robot itu memiliki umur yang terbatas. Dia berusia 3 tahun. Ha? Waktu seperti terhenti saat itu juga, karena semua langsung berhenti makan dan beralih menatap KDI dengan tatapan tidak percaya WKWKWKWKWK.
“Apa? 3 tahun? Three?” Ucap Ki Eun, anggota keluarga termuda diantara mereka sambil mengacungkan tiga jarinya. Hahahahah
“Aku bisa hidup selama tiga tahun saja. Aku memiliki 263 hari, 1 jam 49 menit dan 52 detik.” Kata KDI menjelaskan.
Mereka semua tak percaya, bagaimana bisa robot punya waktu yang lebih singkat daripada smartphone? KDI mengatakan, itu karena mereka gagal mengembangkan sistemnya yang berkaitan dengan filososfi dan manusia, maka dari itu robot hanya bisa hidup selama 3 tahun saja. Ki Won tetap tak percaya, bagaimana mungkin KDI hanya bisa hidup selama tiga tahun? “Tidak apa-apa. Kami adalah robot. Kami tidak memiliki emosi.” Jawaban itu lantas membuat semuanya sedih dan tidak nafsu makan lagi.


Di sebuah ruangan, sepertinya ruang penelitian Dr. Shin (Ayah Ki Won), KDI berdiri tegak disana (lagi di cas hahahah matanya juga bercahaya warna-warni). Sementara itu Ki Yeon duduk didepannya sambil menikmati minuman. Ia sebenarnya tahu bahwa robot juga memiliki emosi, ayahnya lah yang mengatakan itu. Ayah sudah menemukan kode untuk emosi robot. Tapi mereka tidak bisa mengungkapkan informasi itu, karena itulah mereka (Ayah dan Ibu) lari. Dengan tatapan sendu Ki Yeon mengungkapkan rasa rindunya pada ayah dan ibu mereka. Semoga disana mereka baik-baik saja. Dia juga berterima kasih pada KDI. Dia tahu KDI pasti dikirim oleh ayah-ibu untuk melindungi keluarga mereka.



Di tempat Dr. Jung, Hally dengan antusiasnya mengabarkan bahwa Berry sekarang sudah bisa menghancurkan pertahanan yang dibuat oleh KDI di rumah keluarga Shin. Berry pun mengulurkan tangannya, dari telapak tangannya itu muncullah cahaya merah.



Pagi hari saat Ki Won hendak berangkat wawancara kerja, ia mendapat telepon yang memberitahu bahwa Ki Eun bolos sekolah. KDI yang tengah menyiram bunga menawarkan diri untuk menjemput Putri Ki Eun. “Putri Ki Eun? Apa maksudmu Putri?” Tanya Ki Won heran. Rupanya Ki Eun lah yang meminta KDI memanggilnya seperti itu, dan KDI menurutinya. Ki Won protes “Dia bukan seorang Puti. Akulah Putri disini. Aku satu-satunya Putri, oke?” hah ada apa dengan Ki Won? Apa dia cemburu? Ahhaahha.



KDI menghampiri Ki Eun yang lagi asyik ngobrol bersama teman-temannya. Bukannya menuruti ajakan pulang KDI, Ki Eun malah mengajaknya hang out bareng dan mengenalkan KDI pada teman-temannya sebagai “oppa-nya”. Teman pria Ki Eun mencoba memalak KDI yang langsung ditegur oleh Ki Eun agar mereka jangan membully KDI. Pria itu tidak suka, apalagi saat mendengar KDI memanggil Ki Eun dengan sebutan Putri. “Putri Ki Eun? Apakah kau memanggilnya Putri tadi? Hei, Bawa dia!” Tiba-tiba kedua gadis yang duduk diujung kursi menarik paksa Ki Eun menjauh. Ki Eun memberontak, Si Pria berceloteh heran “Kau tidak memiliki teman di sekolah, tetapi kau seorang putri di rumah? Dan kau ingin bergabung dengan kelompok kami? Tanpa membayar?” Pria itu langsung bicara pada KDI, berapa banyak KDI akan membayar mereka? KDI hanya diam menatap tajam pria SMA itu. Kesal, dia langsung menyurh dua gadis temannya tadi untuk mendorong Ki Eun di depan truk yang sedang melaju. Ki Eun berteriak, dan dengan cepat KDI menahan truk itu sampai penyok, terlihat juga seperti percikan api dari lutut KDI yang bergesekan dengan aspal. Alhasil tiga berandal tadi kabur ketakutan.



Setelah tiba di rumah, Ki Won memarahi Ki Eun yang menangis dan meyesali perbuatannya tadi. Kalau memang Ki Eun tak mau sekolah labih baik dia bekerja di peternakan saja, marah Ki Won. Ki Yeon dan Hyung Bum membela Ki Eun dengan mengatakan Ki Eun sudah menyesal jadi tak perlu sampai bekerja di peternakan. Ki Won beralih melihat KDI yang seperti mengobati dirinya sendiri. Ki Won bertanya apa KDI baik-baik saja? Apa ada yang terluka? KDI berbalik memperlihatkan luka jahitan di lututnya. Ia mengaku tak apa-apa, lukanya akan segera sembuh. Kemudian dia menyerahkan selebaran berisi kursus yang bisa diikuti oleh Ki Eun di sekolah. Ki Eun tampak senang dengan kursus itu karena tak perlu ikut tes untuk masuk.



Keesokan paginya. Ki Eun sudah tampil rapi, ia akan berangkat sekolah dan sebelum pergi ia membungkuk hormat. Ki Yeon dan Ki Won heran, bagaimana bisa sikap adiknya itu berubah hanya dalam semalam? Ahahahah. Tak ingin mendengar ocehan Ki Yeon, Ki Eun langsung minta diantarkan KDI dan menggandeng tangan KDI menuju sekolah.
Sesampainya di tempat kursus sekolah, Ki Eun terlihat sangat senang, ia bahkan mengatakan akan menulis artikel tentang mereka (tiga berandal kemarin) untuk dikirim ke sekolah. Lalu ada seorang siswa perempuan yang asyik nge-dance yang membuat Ki Eun tertarik. Tubuhnya langsung berekasi menari dan hal itu juga malah diikuti oleh KDI dengan gerakan kakunya.



Bersambung.....

No comments:

Post a Comment