Sinopsis Thumping Spike Episode 14


Episode 14 : Pengakuan


Jae Woong berjalan masuk ke tempat latihan dengan santai. Ia jadi heran melihat semuanya diam membisu. Teman-teman Jae Woong langsung mengungkapkan kekecawaannya yang membuat Jae Woong bertambah bingung. Mereka menuntut penjelasan darinya apakah dia menerima transferan itu atau tidak, tapi saat Jae Woong ingin menjelaskan Se Ra menghentikan ulah mereka semua yang memprotes Jae Woong. Jae Woong melihat Se Ra sesaat, ia mengibaskan jaketnya kesal dan pergi dari arena. Mereka pun yakin kalau Jae Woong telah menerima transferan.



Malam harinya Se Ra menemani Woo Jin latihan. Kali ini Jae Woong tidak latihan, hingga Woo Jin hanya sendiri. Saat dijalan menuju rumah, Woo Jin tiba-tiba mengatakan bahwa dia melihat apa yang Jae Woong lakukan pada Se Ra malam itu (mencium pipi Se Ra di ep 12). Dia kecewa kenapa Se Ra tidak memarahi Jae Woong?

“Suruh dia berhenti. Kenapa kau membiarkan dia memperlakukanmu seperti itu? Kau tidak bersikap begitu padaku. Kau tidak bersikap seperti itu pada yang lainnya. Kenapa kau… menatapnya dengan cara begitu?” Mata Woo Jin berkaca-kaca.

“Bagaimana caraku.. menatap Jae Woong?” tanya Se Ra tidak mengerti.

“Kau menatapnya dengan khawatir. Terkadang dengan menyedihkan. Caramu menatap Jae Woong selalu berubah-ubah. Tapi gimana bisa aku mengatakan itu dengan bibirku sendiri?” Batin Woo Jin dihatinya. Tanpa ada sepatah katapun lagi yang keluar dari mulutnya, ia pergi meninggalkan Se Ra.


Se Ra duduk seorang diri diluar rumah. Begitu Jae Woong pulang dia langsung bertanya Jae Woong dari mana. Tapi Jae Woong melengos masuk mengabaikannya. Se Ra kesal, bahkan kalau Jae Woong akan transfer, mana bisa sikapnya seperti ini! Sontak Jae Woong langsung berhenti.

Sekarang dialah yang gantian mengomel atas sikap Se Ra yang menganggapnya sudah transfer. Padahal dia saja tidak mengatakan apapun. Se Ra bertanya memastikan, kalau begitu apakah tidak? Jae Woong menantang, kalau dia bilang dia akan transfer, memangnya apa yang akan Se Ra lakukan? Jika Se Ra memikirkan tim, maka dia ingin menghentikan Jae Woong. Tapi kalau dia memikirkan Jae Woong, dia rasa transfer bukanlah ide buruk. “Ch.. aku selalu ingin tahu apa kamu pernah memikirkan diriku. Tapi sekarang kau menggoyahkanku seperti ini. Aku mulai berubah pikiran.” Kata Jae Woong berlalu. Sepertinya dia menolak transferan itu.


Keesokan harinya, Han Sol, Jin Ah, dan dua temannya yang lain mencoba membujuk Jae Woong untuk ikut latihan, tapi dengan tegas Jae Woong mengusir mereka dan memilih tidur-tiduran. Akhirnya Se Ra dan yang lain pun pergi. Jae Woong seperti memikirkan sesuatu, dia lalu keluar dan mengetuk salah satu pintu kamar. Keluarlah Sek Kim, Jae Woong pun berkata bahwa dia tahu usulan transfer itu ulah sek Kim, kan? Sek Kim melotot terkejut.


Se Ra mengantuk saking bosannya hanya duduk diam di ruang guru, ia bahkan diperhatikan oleh guru-guru lain. Saat Se Ra keluar, ia mendengar suara pukulan bola dari dalam arena. Ia lantas masuk dan mendapati Jae Woong latihan seorang diri. Se Ra bertanya apa Jae Woong tidak masuk kelas? Aku tidak peduli, jawab Jae Woong ketus. Se Ra mengomel, “kau tidak latihan, dan sekarang kau tidak masuk kelas. Jadi kau akan begitu, hah?”. Jae Woong membentak Se Ra mengatakan ia sudah benar-benar tidak tahan. Dia hanya tidak latihan sekali, dan saat itulah tim akan dibubarkan. Apa dia pelanggar berulang? Dan bagaimana bisa dia pergi ke tim lain dan diam saja dengan sedikit waktu yang mereka punya ini? Piala presiden akan berakhir saat dia beradaptasi dengan tim yang baru. Se Ra pun menyimpulkan bahwa Jae Woong tidak menerima transferan itu. Jae Woong mengiyakannya masih dengan nada kesal.


Se Ra yang baru pulang langsung dibuntuti Sek Kim yang nampak gelisah. Sek Kim menjelaskan soal transfer-mentransfer itu. Manajer melakukannya bukan untuk niat buruk. Se Ra yang tadinya tidak tahu apa-apa malah jadi tahu akibat ulah Sek Kim sendiri yang mengira Jae Woong sudah memberitahu Se Ra soal ini. Se Ra langsung pergi lagi untuk menemui manajer. Ketika Sek Kim berusaha mengejarnya, niatan itu langsung hilang melihat Jae Woong sudah berada diluar sambil nge-gym santai hahahahah.


Setelah bertemu manajer di kantor, Se Ra langsung protes bagaimana bisa manajer diam-diam mengatur transferan itu? “Kalau ada sesuatu yang aku inginkan, aku bebas pakai metode atau cara apapun. itulah prinsipku. Permainan fair? Itu hanya ada dalam olahrga.” Jawab manajer santai.
Se Ra tidak mengerti, memang apa untungnya untuk manajer dengan mengirim Jae Woong ke tim sekolah lain? Manajer juga mengatakan hal yang sama pada Se Ra, untuk apa Se Ra mati-matian membela dan melatih mereka yang notabene adalah tim peringkat terakhir? Kenapa Se Ra mau memikul beban dan resiko itu? Itu karena… meskipun mereka ada di posisi terakhir, Se Ra tertarik pada seseorang, benarkan?

“Di tim voli Daehan. Untuk Hwang Jae Woong, yang membuatmu tertarik, aku akan membiarkan dia sukses di tempat lain agar kamu bisa menyerah menjadi pelatih! Itulah sebabnya aku melakukannya…” Ungkap Manajer pada akhirnya.

“Aku tidak suka kalau kamu berada diluar jangkauanku. Aku tidak suka kalau aku tidak tahu dimana keberadaanmu. Kalau aku bisa… aku akan membuatmu disisiku sepanjang hari.” OMMO ini pengakuan manajer, berarti selama ini manajer…….??? Se Ra hanya bisa melongo tak percaya.


Sampai Se Ra pulang pun dia masih nampak seperti orang linglung yang baru dihipnotis hahaha. Jae Woong tiba-tiba muncul di depan Se Ra yang sama sekali tidak sadar akan kehadiran pria itu. Jae Woong mengingatkannya, bukankah dia sudah bilang agar Se Ra mengambil rute lain kalau mau pulang? Dari mana dia? Se Ra menjawab kalau dia dari agensi. Agensi? Jae Woong berpikir sejenak, sebelum akhirnya Se Ra menceritakan semua yang dikatakan manajer tadi pada Jae Woong. Semuanya.

“Dia sebal kalau dia tidak tahu dimana kamu berada. Dia sebal kalau kamu berada diluar jangkauan (hahahah udah kayak telepon ya diluar jangkauan!). Sepanjang hari… dia ingin membuatmu disisinya.”

“Hei, sekarang bukan itu yang penting!” Ucap Se Ra kesal karena Jae Woong malah memikirkan itu, bukan kenyataan berada di posisi terakhir yang berulang kali diucapkan manajer padanya. Dia saja marah dari ujung kepala sampai ujung kaki saat mendengar kata “posisi terakhir” itu. Dia bertekad akan memenangkan piala presiden tidak peduli apapun.


Tiba-tiba Jae Woong berkata bahwa dia bukanlah anak kecil. Tidak sampai 100 hari lagi dia akan lulus sekolah. Jadi Tunggu. Tunggu apa? Tanya Se Ra bingung.
“Aku bilang, sekarang aku sangat menyukaimu! Seorang pria yang bernama Hwang Jae Woong, menyukai seorang gadis yang bernama Kang Se Ra!” Katanya setengah berteriak karena kesal.


Jae Woong memegang pundak Se Ra yang sedang menatapnya tidak percaya. Dia bersuara dengan lebih lembut “Bagiku, kamu bukan Dewi Voli atau pelatih, tapi kamu Kang Se Ra. Kamu seseorang yang menikmati, menyukai, dan mencintai voli. Kang Se Ra, yang tidak berkecil hati dengan kemungkinan kalau dia mungkin tidak bisa bermain lagi. Saranghanda (Aku mencintaimu). Sangat.”
Jae Woong memegang pipi Se Ra lembut. Perlahan dia mendekat akan mencium Se Ra. Se Ra yang masih kaget dengan pengakuan Jae Woong perlahan juga menutup matanya. Dan bersambung deh…

No comments:

Post a Comment