Sinopsis Thumping Spike Episode 15


Episode 15 : Jawaban


Entah apa yang terjadi selanjutnya setelah Jae Woong mengungkapkan perasaanya, tetapi sepertinya Se Ra belum memberikan jawaban. Dirinya tak bisa tidur karena terus memikirkan hal itu, dia lalu bertanya pada Sek Kim yang sebentar lagi tertidur (Sek Kim tidur di lantai hahahha) tentang pasangan beda usia, apa pendapatnya tentang hal itu?



Sek Kim yang tengah berada diambang batas antara sadar dan tidak pun menjawab pertanyaan Se Ra sambil tutup mata. Menurutnya, usia rata-rata laki-laki dan perempuan sangat ideal kalau wanitanya lebih tua. Tampak sekilas senyum di wajah Se Ra. Dia pun bertanya lagi, berapa tahun beda usia yang sesuai menurut Sek Kim. Masih dalam keadaan tutup mata, Sek Kim menjawab kalau dalam kasus Baek Ji Young dan Jung Suk Won, mereka beda sembilan tahun. Se Ra lalu memikirkan kalau begitu “dia” berumur 15 tahun dan sama saja dirinya mengencani siswa SMP. Se Ra tertawa sendiri membayangkan dirinya yang berumur 24 tahun pacaran dengan siswa SMP kalau menurut Sek Kim beda usia idealnya 9 tahun. Dia jadi lega karena beda usia Jae Woong dan dirinya tidaklah terlalu jauh. Sek Kim yang medengar Se Ra ketawa jadi kesal dan membuka matanya sambil emosi karena dia pikir Se Ra cuma menanyakan satu pertanyaan. “Yang terpenting itu apa yang kamu rasakan, bukan usiamu!” Kata Sek Kim sebal dan hal itu langsung membuat Se Ra menjadi gelisah.


Jae Woong di kamarnya juga tak bisa tidur, sedangkan Han Sol dan Jin Ah yang sekamar dengannya sudah mimpi kemana-mana. Jae Woong duduk, menghembus nafas berat karena frustasi memikirkan pernyataan cintanya tadi. Ia pun keluar kamar dan duduk di halaman untuk menenangkan diri. Tak lama Se Ra keluar dan duduk disamping Jae Woong.

“Apa kamu insomnia?” Tanya Se Ra memulai pembicaraan.

“Hari ini, penyebab insomnia ku itu kau, Kang Se Ra. Apa menurutmu mudah untuk seorang pria mengakui perasaannya pada seorang wanita?” Kang Se Ra menggeleng.

“Aku seharusnya tidak mengaku di jalanan, dan aku menyesali keputusan bodohku. Tapi yang paling menggangguku itu, aku tidak dapat jawaban!” Jae Woong mengatakan isi hatinya itu dengan nada sedikit tinggi karena kesal.

“Jawabanku…” Jae Woong menatap wajah Se Ra serius menunggu jawaban itu meluncur dari mulutnya. Tapi tiba-tiba SeK Kim keluar menghampiri mereka, “Kalian harus latihan subuh-subuh. Kenapa tidak tidur?” Hahahaha Jae Woong berusaha menahan kekesalannya saat Se Ra mengucapkan selamat malam dan masuk ke rumah.


Sek Kim langsung mengintrogasi Jae Woong kenapa Jae Woong tidak memberitahu Se Ra soal transferan itu. Berkatnya, dia yang mengatakan sendiri kalau manager mencoba untuk mentransfernya.

“Kenapa kau membencinya?” Tanya Jae Woong tiba tiba yang membuat Sek Kim bertanya apa maksud Jae Woong.

“Kang Se Ra! Kenapa kau membencinya?”

“Aku tidak pernah membencinya.”

“Kau tidak tahu kalau itu tertulis di wajahmu, kan?”

“Orang-orang seperti Kang Se Ra.. adalah orang yang paling ku benci. Dengan wajah cantik dan tubuh yang bagus, dia bisa dapat segalanya yang dia inginkan tanpa usaha. Dengan senyum saja, dia bisa mendapatkan hati sesorang, atau kontrak, dalam sekejap.” Ucap Sek Kim akhirnya.

Jae Woong mengatakan bahwa Kang Se Ra yang dia kenal adalah seorang pemain voli, dia tidak tahu kalau soal yang lain. Tapi Sek Kim tidak berpikir kalau voli adalah olahraga yang gampang, yang bisa dimainkan hanya dengan senyum indah, kan? Kalau Sek Kim memang berpikir begitu berarti dia gila. Wajah Sek Kim sudah merah menahan amarah, apalagi saat Jae Woong berkata alasannya tidak mengadukan soal sikap manajer karena dia tidak mau menjadi sepertinya. “Aku peringatkan! Berhenti muncul dimana-mana mulai sekarang! Aku tidak bisa dapat jawaban karenamu!” Teriak Jae Woong kesal setengah mati. Sek Kim diam mendengar semua omelan Jae Woong. “ Kau tahu si jalang yang tidak melakukan apa-apa disini itu kau, bukan? Astagaa….” Ucap Jae Woong di depan wajah Sek Kim. Jae Woong langsung masuk setelah menyampaikan semua uneg-unegnya, sementara Sek Kim mengepalkan kedua tangannya, rasanya ingin sekali dia mencakar-cakar wajah Jae Woong saat Jae Woong mengatainya jalang.


Esok harinya, seperti biasa, Se Ra memantau tim Daehan latihan. Dia terus curi-curi pandang ke arah Jae Woong. Akhirnya semua teman-temannya tahu kalau Jae Woong tidak menerima transferan itu. Satu per satu dari mereka meminta maaf dan mulai sekarang mereka tidak akan meragukan dan mempercayai apa yang tidak mereka lihat lagi. Jae Woong melirik ke arah Woo Jin yang hanya diam saja. “Maaf, Baek Woo Jin. Aku harus ditransfer demi kepentinganmu.” Sindir Jae Woong, karena Woo Jin tidak meminta maaf padanya hahahha. Mendengar mereka ngobrol Se Ra langsung menegur mereka.


Latihan sudah selesai. Saatnya pulang ke rumah. Tapi yang tak terduga adalah, Sek Kim dengan sikap ramahnya membimbing Jae Woong dkk menuju meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam hidangan. “Ta-da. Aku mengetes keterampilan memasakku untuk pertama kalinya. Aku tidak mengulur-ngulur waktu, tidak melakukan apa-apa disini, kan?” Ucapnya menyindir Jae Woong.


Semua menganga tak percaya melihat di meja penuh makanan. Apalagi Han Sol dan Jin Ah yang sudah ngences hahah. “Kau gila?” tanya Il Young kemudian. “Tidak” Balas Sek Kim melotot. Il Young protes karena makanan yang di masak Sek Kim sekarang harusnya cukup untuk satu minggu. Apa Sek Kim mau mereka kelaparan dengan memasak semuanya? Sontak Sek Kim kaget, merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau jadinya bakalan seperti ini. HAHAHAH akibat kata-kata Jae Woong kemarin nih yang bilang dia gak ada kerjaan. Han sol yang sudah tidak tahan pun berkata lebih baik mereka makan saja, kan sayang sudah dimasak banyak-banyak. Jin Ah langsung menepuk tangan Han Sol yang sudah bergerak mengambil makanan HAHAHAHA.


Di kelas. Jae Woong tampak bingung dengan ponselnya. Dia mengetik pesan “Jawab Aku!”, lalu dihapusnya dan mengganti dengan “Kapan.. punya waktu?” lalu pesan itu dihapusnya lagi. Jae Woong mendesah kesal, apa sih yang dilakukannya sekarang? Tapi kemudian dia memutuskan untuk mengajak Se Ra bertemu setelah latihan.


Pelatih Song masuk ke arena. Dia mengabarkan kalau pelatih Kang tidak bisa melatih sekarang karena ada urusan. Dia pun bertanya dimana pemimpin tim alias Woo Jin. Il Young manjawab kalau Woo Jin tidak ada. Mendengar itu, Jae Woong langsung berdecih dan segera pergi. Ia berpikir pasti Se Ra dan Woo Jin sedang bersama. Tak lama setelah Jae Woong keluar, Woo Jin masuk dari pintu yang berbeda.


Jae Woong langsung menelpon Se Ra. Dia bertanya posesif dimana Se Ra sekarang? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Rupanya Se Ra ada di rumah sakit yang membuat Jae Woong lega karena Se Ra tidak sedang bersama Woo Jin. Jae Woong pun bertanya apa Se Ra menerima pesannya, dan dijawab iya oleh Se Ra.


Hari sudah berganti malam. Se Ra pulang naik taksi. Si supir senang sekali karena penumpangnya ternyata Kang Se Ra. Dia lantas memberitahu kalau ini pertemuan kedua mereka. Yang pertama dulu waktu di karaoke saat Se Ra menyayikan lagu aneh dan memukuli seorang pria. Apa pria itu baik-baik saja sekarang? tanyanya penasaran. Se Ra mengiyakannya sopan. Lalu si supir bertanya kenapa akhir-akhir ini Se Ra tidak bermain voli lagi? Se Ra menjawab karena dia menjadi pelatih sekarang. Se Ra minta berhenti di pinggir jalan, karena ternyata Jae Woong sudah menunggunya disana. Jae Woong membukakan pintu taksi itu untuk Se Ra, dan begitu Se Ra keluar orang-orang langsung mengenalinya dan mengerubunginya. Sigap Jae Woong pun memakaikan topinya ke kepala Se Ra agar orang-orang tidak mengenalinya lagi.


Sambil berjalan menuju rumah, Jae Woong bertanya apa pengobatannya sulit? Apa dia kesana sendirian? Se Ra mengiyakannya singkat. Tiba-tiba Jae Woong mengalihkan pembicaraan mereka dengan bertanya tentang jawaban. Se Ra lantas bertanya jadi itu sebabnya Jae Woong mengirim pesan dan menelponnya untuk pertama kali dan menemuinya seperti ini?

“Berhenti membuatku menderita seperti ini. Aku sudah bilang ini sebelumnya, jawabannya bisa ya atau tidak. ‘Aku harus memikirkannya’ ‘lain kali’.. aku tidak menerima jawaban seperti itu.”

“Benarkah? Kalau gitu jawabanku… tidak.”

“Kenapa?”

“Fokuslah pada Piala Presiden!”

Jae Woong kesal, dia pun mengatakan kalau dia akan fokus jika Se Ra menyuruhnya fokus. Tapi Se Ra tetap pada pendiriannya dan memilih berjalan duluan meninggalkan Jae Woong walaupun ada sekilas senyum di wajahnya.


Sekarang Jae Woong sedang berlari bersama Woo Jin. Ia berteriak frustasi melihat Woo Jin hanya diam tanpa bicara sama sekali. Rupanya Woo Jin tahu saat Jae Woong mengungkapkan perasaanya pada Se Ra. Malam itu Woo Jin bersiap pulang ke rumah ayahnya. Tiba di depan pagar dia mendengar Jae Woong berteriak tentang perasaanya dan akhirnya Woo Jin pun tahu. Ia langsung keluar tepat saat Jae Woong dan Se Ra akan berciuman. Mendengar suara gerbang dibuka dan juga dehaman Woo Jin, sontak mereka berdua merubah posisi mereka hingga batal kiss.


Sebelum Se Ra pergi ke rumah sakit siang tadi, Woo Jin menghampirinya dan memberitahu kalau dia mendengar pengakuan Jae Woong. Apa Se Ra sudah menjawabnya? Se Ra menjawab belum. Woo Jin meminta Se Ra jangan menjawabnya. Katakan tidak. Dia tidak akan berpihak untuk saat ini.
Se Ra sedikit terkejut melihat respon Woo Jin, “Apa karena itu Jae Woong?” Tanya Se Ra kemudian.
“Aku menyukaimu. Aku menyukaimu juga!” Balas Woo Jin berteriak.

Woo Jin tak habis pikir bagaimana bisa Jae Woong selalu kepergok. Ia pun berlari mengejar Jae Woong yang sudah jauh di depan. Keduanya sama-sama berteriak frustasi.


Se Ra masuk ke kamar diikuti oleh Sek Kim. Se Ra mengeluh kalau hari ini adalah hari yang sangat sulit. Tapi Sek Kim mengatakan dialah orang yang punya hari sulit. Bagaimana tidak, dia rela harus pergi ke pasar untuk belanja stok makanan satu minggu. Di setiap kamar dia menyedot debu, mencuci pakaian, mengeringkan selimut, membersihkan sepatu, rak, dan juga kebun. Huhhhh…
Sementara Se Ra, ini hari yang sulit karena dia mendapat dua pengakuan. Satu demi satu. “Huhhh gadis yang beruntung.” Ucap Sek Kim sambil menghembuskan nafas lelah. Saat Se Ra menatapnya Sek Kim langsung minta maaf hahahahha.


Se Ra sudah duduk di halaman rumah bersama Jae Woong. Jae Woong mengatakan dia bukanlah tipe orang yang memohon dua atau tiga kali, tapi izinkan dia bertanya sekali lagi. Apa pengakuan tulusnya sudah tersampaikan dengan baik? Ya, Jawab Se Ra. Tapi jawabannya tidak? Tanya Jae Woong berusaha merubah pikiran Se Ra. Se Ra tetap dengan pendiriannya, Jae Woong pun mengerti sehingga ia langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah pasrah patah hati.


Keesokan harinya, di kantor agensi. Sek Kim melapor pada manajer kalau mesin cuci dan penyedot debunya sangat lambat. Dia saja sampai lecet-lecet. Manajer melongo tak percaya melihat sikap sek Kim hahahaah. Apa nanti manajer akan membelikan mesin cuci dan penyedot debu baru? Wkwkwkw


Tim voli Daehan beserta Se Ra dan juga Sek Kim telah berada di sebuah sekolah, tempat diadakannya Piala Presiden tahunan ke-49. Se Ra bertanya apa mereka siap. Semua kompak mengiyakannya. Se Ra beralih menatap Jae Woong dan Jae Woong juga balas menatapnya.

 

No comments:

Post a Comment