December 19, 2017

Love Books Love Series: Secret & Summer Episode 4 part 2


Ploy datang menemui Summer yang lagi sibuk belajar di kantin. Mereka saling bertukar kabar tentang Summer yang sudah tidak bekerja lagi di Pub DNA dan Ploy yang merasa senang karena Dian sudah tidak ada lagi disana, mungkin dia dipecat. Summer senang mendengarnya, kalau Ploy bekerja dan menyimpan banyak uang, nanti kan dia bisa pinjam hahahah. Ploy dengan senang hati menawarkannya.



Disela-sela candaan mereka, seorang pria dengan pakaian serba hitam dan pakai masker tampak sedang mengintai seseorang. Orang itu membuka maskernya saat ponselnya bordering. Ya, dia adalah Secret.

Silver yang menelponnya menanyakan dimana Secret sekarang. Secret menjawab dia lagi di kampus, membuat Silver kembali menggodanya, “Kau khawatir padanya sampai sejauh ini dan kau masih bilang tidak mencintainya, huh?”

“Cinta apa sih? Aku cuma gak mau orang lain dalam masalah!”

“Iyalah Mr. Tight Lipped. Ngomong-ngomong apa kau memakai topi untuk menyembunyikan wajah dan mata seperti di film-film?”

“Hey, banyak omong banget sih. Kalau mau ngomong sesuatu bilang aja, atau aku matiin telponnya?”

“Iya.. iya. Aku baru saja menelepon Hia, memberitahu kalau Some Change sudah ditutup. Dan aku juga meyakinkan kalau kau adalah orang yang menutupnya. Tapi Hia acuh. Kalau begitu besok ikuti dan rayu gadismu itu. Jangan khawatirkan hal yang disini, aku akan mengurusnya.”

“Iya baiklah. Bagaimanapun juga, terima kasih banyak. Sampai nanti.”

“Ya. Kiss… Kiss… Kiss.” Ucap Silver lalu memutuskan panggilan.

Sementara itu, Ploy dan Summer menoleh ke arah suara berisik di luar. Tak ingin ketahuan, Secret langsung sembunyi dibalik tong sampah di dekatnya HAHAHAHHA. Summer curiga, ia seperti merasa ada yang memperhatikannya diam-diam akhir-akhir ini. Tapi Ploy hanya menanggapinya dengan candaan dan sibuk memperbaiki penampilannya agar terlihat cantik saat dimata-matai hahahah.


Setelah pulang kampus, Summer dijemput oleh Point. Point lalu mengajaknya makan diluar. Secret diam-diam memperhatikan mereka dan mengikuti mereka sampai ke mall. Dilihatnya dari jauh, Summer dan Point bercanda bersama sambil berselfie ria. Dia terus mengikuti kemana mereka berdua pergi.


Hari beranjak malam. Jay tampak menunggu seseorang yang ternyata adalah Dian. Dia memberikan uang pada Dian untuk biaya kesehatan. Dian berterima kasih. Dia mengatakan kalau dia sudah mulai sembuh. Besok dia bisa kembali bekerja.

“Kau masih punya wajah untuk kembali bekerja?” tanya Jay meeremehkan.

“Apa maksudmu?”

Jay pun menjelaskan kalau ketua mereka, Hia Mai sudah tak menginginkan Dian lagi. Dia membiarkan Secret datang dan memukulinya saat di toko. Apa dia pikir yang dilakukannya itu benar? Itu benar-benar memalukan. “Kau tak tahu malu!” Ucap Jay. Dian tak terima dibilang seperti itu, apa sekarang Jay mau cari masalah dengannya? Jay tidak takut, ia meremas kerah baju Dian dan memperingatkannya agar jauh-jauh kalau tidak mau mati. Dian menatap kepergian Jay dengan tatapan penuh benci.


Point membawa Summer ke warung makan yang menjual Giam Ee. Summer sangat senang, dia lantas memesan semangkuk Giam Ee spesial. Disana juga ada Secret yang duduk tak jauh dari mereka sambil sesekali menghindar saat Summer menoleh ke arah sekitar.
Tak lama ponsel Secret berdering, dari Dian. Dian mengancam Secret. Secret boleh saja menang sekarang, tapi nanti dia yang akan menang melawan Secret. Secret tak mengerti maksud Dian, dia langsung memutuskan panggilan. Saat Summer dan Point sudah membayar makanan mereka dan bergegas pulang, Secret kembali mendapat telepon dari Dian sampai dia tidak sadar kalau Summer sudah pergi.


Secret tetap mengikuti mereka hingga sampai di rumah Point. Secret lega karena Summer tidak hanya berdua dengan Point melainkan ada orangtua Point juga, yang menyambut mereka dengan hangat begitu sampai di rumah. Lalu pesan dari Silver masuk.

“Kau sering sekali mengikutinya. Hati-hati cemburu, P’!Oh, aku lupa! Kau kan tidak mencintainya? Benarkan?” HAHAHAHAH

“Hey. Orang seperti aku tidak selemah itu!” balas Secret kemudian pergi saat sudah puas mengikuti Summer hari ini.


Summer dan Point menonton lakorn bersama. Rupanya Point sudah tertidur duluan, membuat Summer tidak enak lalu membangunkannya dan menyuruhnya tidur saja. Point tidak mau, dia hanya ingin menonton bersama Summer. Maksudnya, dia tidak suka menonton sendiri. Point langsung meralat kata-katanya saat melihat perubahan di wajah Summer.


Summer pun memilih untuk tidur juga. Mereka bisa menonton bersama lain kali. Point langsung menghentikan Summer. Dia berterima kasih karena Summer mau tinggal disini. Hari ini dia bisa melihat Summer tersenyum, dia sangat bahagia.

“Iya. Aku juga ingin berterimakasih.” Balas Summer kikuk dengan kondisi mereka yang tiba-tiba bicara serius seperti ini. Dia lalu menguap, entah pura-pura atau tidak, sebagai alasan untuk bisa pergi sekarang juga. Tapi lagi-lagi Point memanggilnya.

“Aku menyukaimu!” Kata Point saat itu juga.


Summer terdiam beberapa saat, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang. Dia hanya meminta Point agar tidak mengatakan seperti itu.

“Aku.. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu sejak kita kecil. Aku juga berpikir selama ini jika aku mengatakan aku mencintaimu, aku akan kehilangan seorang teman sepertimu. Tapi ketika kamu datang dan dekat denganku, aku mulai berpikir tidak peduli apa resikonya aku harus mengatakannya padamu.”

“Apa kamu tahu? Kenapa dari awal aku tidak mau tinggal disini? Bukan karena aku takut pada genk bodoh itu. Tapi aku malah takut kamu akan berpikiran seperti ini padaku.”

“Ini karena pria tukang pembasmi itu, kan?”

Summer berhenti melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Point itu, tapi kemudian dia pergi ke kamarnya tanpa berucap satu patah katapun. Point benar-benar kecewa.


Keesokan harinya, Summer sudah kembali ke rumahnya sendiri diantarkan oleh Point dan orangtuanya. Karena pengakuan Point semalam hubungan keduanya agak sedikit berbeda. Meskipun begitu Point tetap bersikap biasa dan mengingatkan Summer kalau dia selalu ada untuk Summer, kapanpun.


Sementara itu diluar sudah ada Dian. Dia mengintip apakah Point dan keluarganya sudah pulang atau belum. Saat mobil sudah menjauh dan Summer sudah mengunci pagar, terlihat seringaian licik di wajahnya. Di rumah Point, Secret bolak-balik dengan motornya mengintai keberadaan Summer. Saat dirinya melihat-lihat kedalam dari luar pagar, Point tiba-tiba muncul dan menahan leher Secret dengan tangannya.


Summer kembali ke makanan asalnya, yaitu Mie instan. Saat tengah asyik makan, terdengar gonggongan Little Tiger. Summer pun pergi melihat si Little Tiger yang ternyata sudah terkulai lemas di tanah. Summer mulai panik sambil menggoyang-goyang tubuh anjing kesayangannya itu, tapi tetap tak ada respon. Summer akan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang saat tiba-tiba Dian muncul dari belakang dan membekap mulut Summer.


Point bertanya pada Secret apa yang dia lakukan di depan rumahnya. Secret malah balik bertanya dengan nada nyolot. Maklum orang cemburu, tapi gak mau ngaku hahaha. Akhirnya dia bertanya dimana Summer walaupun harus diancam dulu. Point kesal mengetahui kalau Secret selalu mengikuti Summer. Apa yang akan dia lakukan, untuk apa lagi Secret mengganggunya?

“Melakukan apa, huh? Aku adalah orang yang mempercayakannya padamu. Jadi dimana Summer?” Tanya Secret dengan nada yang agak kesal.

“Dia tidak ingin tinggal disini. Jadi dia pulang ke rumah!” Jawab Point dengan enggan.


Mendengar kata rumah, Secret jadi panik dan langsung bergegas menuju motornya. Point yang juga takut terjadi apa-apa dengan Summer meminta ikut dengan Secret. Setelah sampai di rumah Summer, mereka melihat pagar yang terbuka dan cepat-cepat masuk ke dalam. Keduanya berpencar mencari Summer di sekeliling rumah, namun Summer tidak terlihat dimanapun. Point pun mengusulkan akan mencari Summer diluar dan akan melapor pada polisi. Secret terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia ingat tentang Dian dan langsung meneleponnya.

“Aww! Secret. Kau merindukanku?” Kata Dian diujung sana.

“Dimana Summer?” Tanya Secret langsung.

“Kan sudah kubilang. Bahwa kau akan bertemu denganku!” Tuttt… Dian memutuskan panggilan.

Tak lama Dian mengirim lokasi dimana keberadaanya sekarang, yang juga sedang bersama Summer. Secret segera menuju ke alamat yang dikirim Dian tadi.


Dia sampai di sebuah tempat, seperti gudang, dimana Summer memang ada disana, duduk dengan tangan terikat dan tak sadarkan diri. Diam-diam Secret masuk dan memperhatikan keadaan sekitar yang tidak ada orang. Namun, saat dia mendekati Summer, keluarlah Dian dengan memegang balok kayu.

Dian hendak memukul Secret dengan balok kayu itu dari belakang, tapi dengan sigap Secret menghindar. Mereka berdebat singkat sebelum akhirnya Dian mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Secret. Secret menantangnya, kalau Dian berani tembak saja! Dian melemparkan pistol itu dan kemudian memukul Secret. Secret balik memukulnya, tak peduli dengan teriakan Summer yang terus memanggil namanya dan berteriak untuk berhenti. Dian sudah mulai lemas dengan pukulan bertubi-tubi dari Secret. Sambil memegang kerah jaket Dian, Secret memperingatkannya, “Jangan buang waktumu untuk berkelahi denganku!”


Dian jatuh terkulai dan itu dimanfaatkan Secret untuk melepas ikatan di tangan Summer. Namun, yang tak mereka sadari, Dian sudah merangkak mengambil pistol yang tadi dilemparkannya. Secret membantu Summer berdiri, saat itulah Summer melihat Dian sudah hampir menarik pelatuknya untuk menembak Secret. Refleks Summer mendorong Secret hingga akhirnya dialah yang terkena tembakan Dian di bagian perut.

No comments:

Post a Comment