Sinopsis The Big Boss Episode 1 - 1


Jam Weker berbunyi tepat di pukul setengah tujuh pagi. Di Kamar yang berbeda seorang gadis dan pria sama-sama bangun untuk memulai aktifitas mereka. Saat si pria mendengar alarmnya berbunyi dia langung bangkit, berolahraga sebentar lalu meminum susu sebelum akhirnya bersiap berangkat ke sekolah. Hidupnya sungguh teratur, berbeda dengan gadis satu ini. Bukannya langsung bangkit dari tidur dia malah uring-uringan dulu, dan begitu bangun dia langsung menenggak cola dingin dari kulkas.




Gadis itu adalah Ye Mu Xi (Eleanor Lee), seorang gadis SMA biasa yang sangat energik dan tampak periang. Sebelum berangkat sekolah ia sibuk bermain jurus kungfu bersama kakaknya sambil membicarakan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu hahahahah.


Ini adalah hari pertama Mu Xi masuk SMA. Kakaknya itu berkata tak peduli Mu Xi di SMA, kuliah, atau lulus nanti, Mu Xi tetaplah adik kecilnya. Dia bahkan ngotot akan mengantar Mu Xi ke sekolah walaupun Mu Xi protes. Mu Xi akhirnya naik di boncengan sepeda. Dengan gaya cool kakaknya memakai kacamata dan merapikan rambutnya ke belakang. Berangkat!

Mu Xi tersenyum gembira. Dalam hati ia berkata ini adalah hari yang pantas untuk dikenang dan diabadikan. Ketika sampai di ujung gang keluarlah seorang pria dari balik kabut asap tebal dengan sepedanya. Pria itu adalah teman masa kecil Mu Xi. Maksudnya, musuh abadinya. Kakaknya menyapa Dan Yi. Ya, namanya adalah Liao Dan Yi (Huang Jun Jie)


Masih jelas dalam ingatan Mu Xi, saat mereka masih kecil Dan Yi selalu berada didekatnya. TK, SD ataupun les. Dia juga selalu menjadi ketua kelas. Selalu menentangnya. Dia adalah mimpi buruk masa kecilnya. Parasit yang menempel di sepatu. Parasit yang membuatnya menderita.


Mu Xi menghampiri Dan Yi dengan tangan berkacak pinggang dan bibir yang dimanyunkan tanda tidak suka. Berbeda dengan Mu Xi, kakaknya itu malah memuji penampilannya hari ini yang sangat tampan. Dan Yi membalas tatapan benci Mu Xi, membuat kakak Mu Xi bertanya heran ada apa dengan mereka. Dengan wajah ketus bin dingin, Dan Yi melihat penampilan tidak rapi Mu Xi. Dasi aut-autan, kaus kaki panjang pendek, dan tali sepatu tidak kencang.

Kak Ye, kakak Mu Xi langsung membenarkan ikatan tali sepatu Mu Xi. Dan Yi masih dengan wajah dinginnya berkata agar kak Ye jangan melakukan itu, kalau tidak Mu Xi tidak akan bisa melakukannya sendiri.

“Tak apa. Mu Xi ku hebat dalam segala hal. Tapi terkadang dia sedikit ceroboh.” Ucap Kak Ye.

“Semester baru sudah dimulai. Kamu akan meninggalkan kesan buruk.” Kata Dan Yi pada Mu Xi.

Dengan senyum pura-pura Mu Xi membalas “Kamu pikir aku tidak senang? Karena kamu sudah menggangguku? Tidak sama sekali. Karena mulai hari ini, sembilan tahun wajib sekolah sudah berakhir. Jadi, mulai hari ini aku diluar kendalimu. Mulai hari ini kita tidak satu kelas. Hari ini tidak ada satupun yang akan merusak mood ku.”


Mu Xi pun mengajak kakaknya untuk berangkat ke sekolah diikuti oleh Dan Yi di belakang. Mu Xi kesal melihat Dan Yi tidak juga berbelok arah. Ia meminta kakaknya dan juga Dan Yi berhenti. Ia menyuruh Dan Yi pergi saja ke sekolahnya, tidak perlu berbaik hati mengantarnya segala. Dengan santai Dan Yi berkata dia memang sedang pergi ke sekolahnya. Mu Xi hanya bisa menahan kesal karena Dan Yi akan satu sekolah dengannya lagi.


Di lain tempat, seorang gadis dengan seragam yang sama dengan Mu Xi juga tengah bersiap di rumah mewahnya. Bahkan ada bodyguard yang memakaikannya blazer serta tasnya. Gadis itu adalah Guang Xin Yi (Deng Xin).


Baru saja dia masuk ke halaman sekolah, orang -orang langsung menoleh karena wajah cantiknya. Begitupun di kelas, sudah ada seorang laki-laki yang menunggunya. Dia sudah mencarikan tempat duduk Xin Yi yang sangat strategis. Berada di tengah, barisan no 3 yang tidak terlalu dekat dan jauh dari papan tulis, juga di dekat jendela agar sinar matahari bisa menampilkan siluetnya. Dia juga bilang bahwa dia sudah dekat dengan semua teman di kelas ini. Dan mereka setuju kalau Xin Yi adalah kandidat terbaik ketua kelas mereka.

Dengan wajah dingin dan datar, Xin Yi berkata itu tidak perlu. Bukankah dia memang pantas menjadi ketua kelas? Laki-laki yang sudah seperti ajudannya itu mengangguk lalu duduk tepat di belakang Xin Yi. Senyum muncul di wajahnya saat memperhatikan Xin Yi dari belakang.


Kak Ye berhenti di depan sekolah Mu Xi. Ini hari pertama Mu Xi ke sekolah, semoga hari ini baik-baik saja, kata kak Ye menyemangati adiknya sambil merapikan anak rambut Mu Xi dengan penuh perhatian.


Mu Xi memasuki halaman sekolah dengan wajah sumringah dan senyum merekah. Dilihatnya gedung sekolah yang tampak megah itu. Pagi-pagi seperti ini guru bahkan sudah menghukum para muridnya dengan berbagai alasan khas anak sekolah. Apalagi kalau bukan menyontek, terlambat, bolos, dan juga cinta monyet.

Lalu keluarlah segerombolan cewek-cewek yang membawa poster sambil berteriak heboh memanggil-manggil orang yang bernama Xue Xiao Dong. Bodyguard Xiao Dong langsung bergerak cepat agar cewek-cewek genit itu tidak mengganggu tuannya. Orang dengan tampilan keren plus kaca mata hitamnya itu adalah Xiao Dong (Dai Jing Yao). Dia berbalik arah untuk menghindari insiden di pagi hari. Sementara itu dua cowok lain sibuk menaiki Segway mereka dengan bernyanyi-nyanyi riang. Benar-benar hari pertama sekolah yang menyenangkan.

Mu Xi terus berjalan menuju kelasnya. Memperhatikan siswa-siswa lain yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang tebar pesona, pacaran, nge-bully, main basket, atau yang hanya sekedar jalan-jalan.


Mu Xi berdiri depan sebuah gedung yang ia pikir adalah gedung kelas sepuluh, tempat dimana tiga tahun kedepan dia akan menghabiskan masa SMA nya, masa yang kata orang adalah masa yang paling indah. Dia bertanya pada siswa laki-laki yang lewat dimana ruangan 10-10. Siswa itu memberitahu kalau ruangan yang ada di depan Mu Xi ini adalah ruangan kelas sebelas. Ruangan kelas sepuluh ada di paling pojok sekolah. Mu Xi hanya bengong mendengar penjelasan ribet siswa itu. Diapun bergegas pergi ke kelasnya.


Mu Xi bernarasi bahwa SMA Maple Leaf, SMA nya sekarang , menentukan kelasnya dari jumlah nilai. Meskipun Liao Dan Yi sekolah di sekolah ini, dia tidak akan satu kelas dengannya. Kecuali dia melewatkan satu ujian. Mu Xi sangat senang. Kebahagiaannya, kebebasannya, kehidupan sekolah tanpa Liao Dan Yi akan dimulai sekarang.


Mu Xi membuka pintu ruang kelas 10-10 dengan senyum lebar. Ia menghirup udara kebebasan disana. Dan pandangannya berubah masam saat orang yang paling tidak ingin dilihatnya ternyata sudah duduk manis di dalam kelas. Seperti bom yang meledakkan suatu bangunan, Mu Xi berteriak frustasi saat itu juga. Ya, Liao Dan Yi, orang yang paling dia benci ternyata harus satu kelas dengannya lagi.


Mu Xi keluar dari kelasnya lalu masuk lagi memastikan bahwa ini hanya halusinasinya, tapi Dan Yi tetap ada disana. Dengan wajah yang siap menerkam , ia duduk di sebelah Dan Yi. Ia bertanya soal ujian masuk SMA Dan Yi. Apa dia menjawab soal dengan tutup mata? Mendengar video dengan telinga tersumbat? Gimana bisa dia berakhir di kelas ini? Dan Yi menjawab kalau dia melewatkan satu ujian karena demam. Mu Xi tak habis pikir apa yang ia khawatirkan rupanya benar-benar terjadi. Ia lalu bertanya kenapa tadi Dan Yi tidak pakai seragam saat ke sekolah? Dan Yi berkata ia masih demam saat pembagian seragam, dia baru mengambilnya hari ini. Saking kesalnya Mu Xi bahkan berharap Dan Yi mati karena demamnya itu. Dia berbicara sendiri untuk menguatkan tekad agar tiga tahun yang mengagumkan ini, masa mudanya, tidak akan dirusak oleh Liao Dan Yi. Dan Yi hanya diam dengan wajah datar mendengarnya.


Lalu masuklah guru pria yang akan menjadi wali kelas 10-10, Guru Wu Heng. Guru Wu meminta mereka memperkenalkan diri satu persatu. Ada yang semangat sekali untuk memperkenalkan dirinya, malu-malu, bisik-bisik, dan yang biasa-biasa saja. Giliran Dan Yi memperkenalkan dirinya. Dia menulis namanya di papan tulis. Dengan percaya diri dia memanfaatkan ajang perkenalan diri ini sebagai kampanye pemilihan ketua kelas. Tiba giliran Mu Xi. Dia juga menulis namanya di papan tulis, tapi semangatnya untuk memperkenalkan diri sudah hilang sejak saat pertama mengetahui dirinya sekelas dengan Dan Yi. Dia berkata dengan lemas bahwa jangan memilih Dan Yi. Setelah itu barulah dia menyebutkan namanya.


Guru Wu kembali berdiri di depan kelas. Sekarang adalah waktunya pemilihan panitia kelas. Pemilihan ini harus dilakukan secara demokrasi. Dia senang Dan Yi sudah merekomendasikan dirinya tadi. Itu tandanya dia orang yang bertanggung jawab. Dan Yi manggut-manggut setuju dirinya dipuji oleh Guru Wu, sedangkan Mu Xi sibuk menggambar dengan raut wajah kesal. Siapa yang bisa memberikannya ide sekarang?


Dan tiba-tiba suasana berubah menjadi persis seperti apa yang digambar Mu Xi. Dirinya yang menggunakan gaun seperti seorang ratu berdiri di tengah tengah tiang dengan lampu cantik yang menghias diatasnya.

“Sekarang seluruh dunia tahu. Liao Dan Yi yang menyebalkan itu mau menjadi ketua. Siapa? Siapa yang bisa menghentikannya majulah?”

Keluarlah dua orang dengan kostum dinosaurus dan keledai. Mu Xi bertanya siapa mereka? Si Dinosaurus menjawa dia adalah Mr. Wolong. Mu Xi menciptakannya ketika dia berumur tujuh tahun. Pria Keledai lalu menyahut. Namanya adalah Sima Yi. Mu Xi menciptakannya tiga menit setelah si hijau itu (si dino).


“Sima Yi, Mr. Dinosaurus. Kelasku sekarang lagi ribut. Tapi Liao Dan Yi melawanku untuk posisi ketua. Kalau dia ketua, kelas ini bakalan habis.”

Si Dino menyarankan Mu Xi yang ia panggil dengan Wonder Girl untuk membangkitkan pemberontakan dan menggantikannya.


Saat itulah Mu Xi tersadar dari lamunannya sebelum Pak Guru Wu mengumumkan siapa ketua kelas 10-10. Mu Xi menggebrak meja, “Tunggu!” Sontak semua siswa menoleh menatapnya.

“Aku, Ye Mu Xi, ingin mengajukan sebagai ketua.” Teriaknya dengan semangat berapi-api.

Guru Wu setuju. Diapun menyuruh Dan Yi dan Mu Xi untuk menyiapkan pidato mereka di rumah, karena besok adalah pemilihan ketua kelas.

“Apa yang kamu lakukan?” Kata Dan Yi tidak suka.

“Menghentikanmu!” Balas Mu Xi tidak takut.

No comments:

Post a Comment