Sinopsis The Big Boss Episode 2 - 1


Para siswa cowok berkumpul di kelas dengan Mu Xi berada di tengah-tengah. Mereka berjongkok di depan Mu Xi seakan-akan memuja dirinya. Lalu terdengarlah suara rintihan Dan Yi di belakang. Bajunya compang-camping, rambutnya berantakan. Dia memohon-mohon agar Mu Xi memaafkannya. Dia buta, dialah yang salah. Huang Nan yang berada dalam kumpulan itu berkata Dan Yi adalah pengkhianat yang tidak mempercayai Mu Xi. Mereka akan mengutuknya. Pastikan dia tidak akan pernah bangkit lagi. Dan Yi ketakutan, dia menampar dirinya berulang kali agar Mu Xi percaya padanya dan memaafkannya. Huang Nan sudah tidak sabar ingin mengirim Dan Yi ke neraka. Tapi Mu Xi menghentikannya.


“Dia adalah orang berdosa. Dan kalian melempar batu karena kalian pikir kalian tidak berdosa.”

Cowok-cowok itu berhenti dan meletakkan batu yang masing-masing mereka pegang karena merasa bersalah. Tapi tiba-tiba Mu Xi lah yang mengambil batu paling besar duluan dan melemparkannya ke kepala Dan Yi. Yang lain pun ikut menimpukinya dengan batu. HAHAHAH yakin banget deh kalau ini mimpinya Mu Xi.

Back to real world.


Mu Xi keliling-keliling di depan meja Dan Yi yang lagi fokus belajar. Semenjak dia menjadi ketua kelas, dia selalu memanggil Dan Yi dengan sebutan ‘siswa biasa’. Apa Dan Yi membutuhkan bantuan dari ketua? Dan Yi menolak. Berikan saja dia ruang dan jangan mengganggunya. Dan Yi memperingatkan nikmati saja dulu kesenangan Mu Xi ini. Karena segera dia akan sadar menjadi ketua bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Yeah.. yeah. Anggur pun jadi asam karena kamu tidak bisa memakannya.” Kata Mu Xi menyidir.

“Lima belas hari.” Ucap Dan Yi.

“Apa?”

“Batas mu adalah lima belas hari. Kemudian kamu akan lari padaku dengan air mata dan memohon padaku untuk mengambil alih beban ini. Dan semuanya akan kembali normal. Akulah ketua kelas. Dan kamu adalah siswa ku yang paling onar. Seperti saat SD dan SMP. Semua akan kembali ke jalur.”


Mu Xi tersenyum manis menanggapinya. “Hhahahaa. Liao Dan Yi, dengarkan aku. Tidak peduli itu mau lima belas hari, satu semester, atau satu tahun. Aku akan menjadi ketua yang lebih baik dari pada dirimu. Aku akan membencimu pada posisi ini. Sebagai big boss selamanya. Hahahhaha” Tawa Mu Xi menggema di kelas.


Mu Xi mulai menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas. Pak Wu memerintahkan apa saja yang harus dilakukannya, mulai dari menghapal nama2 temannya, mengambil buku, dll. Pak Wu tak henti-hentinya berbicara menyuruh ini dan itu pada Mu Xi sambil bermain game di ponselnya membuat Mu Xi tak memilik waktu sedetik pun untuk protes. Bahkan saat Mu Xi sudah mendapatkan giliran untuk bicara Pak Wu kembali memotongnya dengan menyodorkan sebuah kunci. Hal yang penting, kunci kelas mereka.

Selama Mu Xi menjadi ketua kelas, dialah orang yang harus membuka dan menutup kelas mereka. Otomatis dia juga menjadi orang yang pertama datang sekaligus orang yang terakhir keluar dari kelas. Woaaaaahhhh… ingin rasanya Mu Xi menjerit sekuat-kuatnya mendengar ia harus datang setengah jam lebih awal ke sekolah. Setelah mengatakan semua yang harus Mu Xi lakukan Pak Wu pun pergi tanpa peduli dengan wajah speechless Mu Xi.


Seperti saran Pak Wu tadi agar Mu Xi membicarakan tugasnya dengan para seksi masing-masing, disinilah Mu Xi mengobrol dengan Yuan Keer sebagai seksi hiburan. Ia mengutarakan pendapatnya tentang ide mading mereka nanti. Tapi Mu Xi hanya memasang tampang bingung saat mendengar Yuan menyebut Van Gogh, Picasso, Mondrian, dan orang-orang yang sepertinya sangat dikenal Yuan itu.

Entah saking muaknya dengan penjelasan menggebu-gebu Yuan tadi ia bahkan sampai lupa duo Huang, yang mana Huang Nan dan Huang Yi saat dia akan memberikan tugas untuk mereka. Teman-temannya juga mengerubunginya menanyakan ini itu, apa mereka punya seragam musim panas, daftar piket, menyerahkan pr, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat Mu Xi gerah dan melarikan diri.


Muncullah khayalan Mu Xi dimana ia menjadi seorang tukang angkut penumpang dengan setting jaman lampau. Seorang penumpang gendut datang dan duduk di kursi. Ya, penumpang gendut itu adalah ‘tanggung jawab’ yang harus Mu Xi hadapi dan pikul. Tapi bagaimanapun dia berusaha menarik si pria ‘tanggung jawab’ itu kereta sorong nya tak bergerak sama sekali. Wkwkwkwk

Back to real world.


Mu Xi pasrah. Dia tak menyangka jadinya seperti ini. Tidak sama sekali seperti apa yang dibayangkanya. Dari meja sebelah, Dan Yi melambai-lambaikan tanganya seakan mengejek Mu Xi dengan tatapan ‘baru tau kan lo gimana enaknya jadi ketua kelas’. Mu Xi yang kesal langsung pergi meninggalkan Dan Yi.


Mu Xi kembali dalam lamunannya saat pelajaran Bahasa Inggris. Dia bertanya pada Mr. Dino, apa dia punya ide? Dan Mr. Dino malah menceritakan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi Mu Xi sekarang. Tapi setelah Mu Xi menendang-nendangnya Mr. Dino memberikan satu saran yaitu “You can do it!”.


Hanya dengan kata itu semangat Mu Xi berkobar. Saat berpapasan dengan Yuan Keer ia berkata ia percaya Yuan Keer bisa mengurus mading, “Kamu bisa melakukannya” kata Mu Xi. Yuan Keer jadi sumringah dan percaya diri. Setelah itu Mu Xi menemui duo Huang dan meyerahkan kuci lab pada mereka. Ia yakin duo Huang bisa melakukannya. “Kamu bisa melakukannya” kata-kata itulah yang ia katakan pada semua temannya yang hendak bertanya padanya dan membuat Mu Xi akhirnya bisa tenang dengan tugasnya sebagai ketua kelas.


Dirinya yang sudah duduk di sebelah Dan Yi terus tersenyum mengatakan ini adalah pekerjaan yang mudah. Tapi Dan Yi berkata, “Tunggu dan lihat! Kamu terlalu ceroboh. Ini akan menjadi berantakan. Kamu tidak bisa menggunakan ‘kamu bisa melakukannya’ sebagai solusi atas semuanya.”

Mu Xi melihat daftar tugas apa lagi yang harus dilakukannya. Tugas selanjutnya adalah ‘dua siswa yang absen ke sekolah’. Mu Xi merasa ini hanyalah tugas yang sangat mudah. Mereka pasti ada di rumah, kalaupun tidak ada maka dia akan mencarinya. Dan Yi berkata ini tidak semudah itu. Peraturan sekolah mereka tidak lebih dari lima absen dalam satu semester. Dan mereka tahu itu, tapi mereka tidak muncul selama dua hari. Mu Xi tak masalah, ia tidak takut sama sekali. Ia gantian bertaruh pada Dan Yi. Ia akan membujuk si cewek yang absen dan Dan Yi yang cowok. Siapa diantara mereka yang berhasil membuat salah satunya masuk sekolah, maka dialah pemenangnya. Dan Yi menolak, ia tidak tertarik sama sekali. Namun, karena Mu Xi terus mengejek dirinya takut kalah, ia pun menerimanya dan meminta alamat si cowok.

No comments:

Post a Comment