Sinopsis Stay The Series Episode 1 - 2


Setelah acara makan malam yang menyenangkan, Juk membersihkan dirinya dengan berendam di bathtub. Besok dia harus bangun cepat karena Mee mengajaknya ke pasar. Esok hari, sesuai dengan janji Mee, mereka berangkat ke pasar subuh-subuh. Setelah sampai di pasar tradisional yang tidak begitu ramai, Juk merekam suaranya.

“Hari ke-2 pagi hari, berada di Pasar. Pasar apa, kak? Yobuko. Terkenal akan pasar seafoodnya.” Mee menjawab pertanyaan Juk dalam rekamannya itu, yang otomatis suara Mee juga terekam.


Sembari Mee berbelanja, Juk memotret-motret apa yang dijual para pedagang. Mereka lalu menikmati siput panggang, yang orang Jepang sebut dengan Sasae. Tak lupa Juk kembali merekam apa yang mereka lakukan sekarang.

“Akhirnya aku mencicipi siput laut. Baru pertama kalinya. Manis, kenyal dan segar. Ketika kau mengunyahnya, rasanya akan sedikit asin. Intinya, sangat bermanfaat datang ke Pasar Yobuko hari ini.”


Mee hanya tersenyum memandangi kebiasaan Juk itu, merekam apapun yang dilaluinya setiap hari.
Bibi penjual Sasae sangat suka dengan Juk. Ia bahkan menanyakan apakah Juk suka cowok Jepang? Anaknya tampan sekali lo. Juk yang sebelumnya minta diterjemahkan dulu oleh Mee, dengan sopan menolak karena dia sudah punya pacar. Mee lalu mengambil ponsel Juk dan merekam suaranya.

“Hari ke 2 di Pasar Yobuko. Aku jadi menantu pedagang siput laut.” Juk langsung merebut ponselnya dari tangan Mee.


Setelah mereka sampai di rumah, sudah ada Naomi yang lagi beres-beres di restoran. Mee lalu memberikan rumput laut kering yang dia beli untuk Naomi. Naomi senang, mungkin itu makanan kesukaannya. Diapun mengucap kata “ayoy” untuk menyebut “aroi” dalam bahasa Thai yang artinya enak. Tahu kalau itu salah, Mee membenarkannya dengan menyebut “Aroi” dengan fasih. Juk tersenyum memperhatikan mereka berdua.


Sorenya, Juk dan Naomi berada di Onsen (tempat pemandian air panas). Setelah pulang dari pasar tadi, Naomi mengajak Juk ke Onsen dan Juk menyetujuinya dengan senang hati. Juk mengatakan ini pertama kalinya dia ke Onsen. Dia sangat malu. Naomi tertawa mendengarnya. Dia memberitahu kalau dia sering datang kesini. Air panas ini bisa membuat kulit cantik.

“Aku akan menikah bulan depan. Berharap aku bisa menjadi pengantin yang cantik.”

“Naomi kamu sangat cantik.” puji Juk.

Mereka pun bercanda sambil Naomi yang menyanyikan lagu Thailand. Juk tidak menyangka Naomi tahu lagu itu. Naomi mengatakan Kuma-kun mengajarinya. Dia lalu meminta diajari bagaimana menyebut nama Kuma-kun dengan benar dalam bahasa Thai. Juk mengajarinya, namun agak sulit untuk Naomi mengucapkannya sampai dia bisa dan Juk meminta agar Naomi mengingat cara pengucapan nama Mee itu dengan benar.


Keesokan harinya. Juk diminta untuk mengantarkan pesanan pembeli. Naomi agak khawatir karena Juk harus pergi sendirian. Tapi Paman mengatakan kalau Juk tidak akan apa-apa. Dia pasti bisa melakukannya sendiri. Lalu Mee muncul untuk memberikan peta pada Juk dan mengingatkan Juk untuk mengatakan “Obento no Haitatsudesu” yang artinya makanan datang, saat sampai di rumah pelanggan nanti. Tak ingin lupa, Juk mengambil ponselnya dan merekam suara Mee. Ia juga merekam suaranya sendiri setelah itu.

“Aku kemari 6 hari yang lalu. Pertama kalinya mengirim makanan, aku bersemangat.”


Juk pun berangkat dengan sepedanya. Dengan sesekali melihat peta, akhirnya dia sampai di rumah pelanggan. Namun ternyata saat Juk mengatakan ‘Obento no Haitatsudesu’, paman itu melambaikan tangannya mengatakan ia tidak memesan. Juk jadi bingung dimana rumah pelanggan itu. Diapun mencari lagi, keluarlah ibu-bu dari dalam rumah. Ibu itu juga tidak memesan makanan. Juk memutuskan bertanya alamat yang dia cari. Ibu itu tahu alamatnya, tapi tentu saja Juk tidak mengerti karena ibu itu menjelaskannya dengan bahasa Jepang. Juk semakin bingung dia harus pergi kemana. Sekarang sudah rumah ketiga yang dia datangi, namun masih saja bukan rumah pelanggan yang memesan makanan. Juk juga ingin menelepon paman tapi tidak ada sinyal.


Sementara itu, terdengar bunyi telepon restoran yang berdering. Paman segera mengangkatnya. Rupanya itu dari pelanggan yang mengeluh karena makanannya belum datang. Paman heran karena dia sudah mengirim Juk untuk mengantar pesanan. Paman pun meminta maaf dan mengatakan akan mengantarnya tepat waktu lain kali.

Mee yang baru mau masuk ke dapur langsung diberitahu paman kalau pesanan pak Namaya belum sampai. Mee meminta Paman untuk menghubungi Juk tapi tidak ada Sinyal. Mee yang tampak khawatir mengatakan pada paman kalau dia yang akan mencari Juk.


Sekarang Juk semakin kebingungan. Dia belum juga menemukan alamat si pelanggan, ditambah ban sepedanya juga kempes. Dengan susah payah mencari sinyal, akhirnya dia berhasil menghubungi paman.

“Juk-chan? Kau dimana?” Tanya paman khawatir.

“Paman, aku tidak tahu dimana.” 

“Tenang, tenang Juk. Sekarang Kuma sedang mencarimu.” 

“Aku tidak mengerti paman bilang apa. Bisa minta Mee meneleponku?”


Juk sudah gelisah. Dilihatnya ada bapak-bapak yang lewat. Dengan bahasa Thai, Juk meminta bapak itu bicara pada paman di telepon. Bapak itu bingung dan tidak mengerti apa yang Juk katakan. Tapi dia menerima uluran ponsel Juk dan bicara pada Paman. Paman mengatakan pada bapak itu kalau dia mengenal Juk dan menjelaskan kondisi Juk sekarang yang sedang tersesat. Paman meminta agar membawa Juk ke Gosaro dan berterima kasih padanya.


Juk dibawa ke sebuah tempat yang bernama Gosaro. Dengan bahasa Jepang bapak itu menyuruh Juk menunggu disini, seseorang akan menjemputnya nanti. Jangan kemana-mana. Tentu saja Juk tidak mengerti karena dia pikir bapak itu akan mengantarkannya pulang. Juk berteriak memanggil bapak itu yang sudah pergi meninggalkannya.


Karena tidak tahu kemana arah jalan pulang, Juk terpaksa menunggu disitu. Dia sudah menangis saking takutnya. Dia mencoba menelepon Copter, tetapi tidak aktif karena tidak ada sinyal. Dia ingat waktu itu dia pernah meminta Copter untuk merekam suara. Diputarnya rekaman itu dan terdengar suara Copter.

“Ingatlah untuk memikirkanku! Aku sangat ingin tahu.. berapa kali kamu akan mendengarkan ini. Jaga dirimu, Juk.”

Juk terus memutar rekaman itu berniat untuk mengurangi rasa takutnya, tapi air matanya seakan tidak ingin berhenti mengalir. Rasa takut yang bercampur dengan kerinduan.


Tak lama Mee berhasil menemukan Juk. Mee meledeknya yang tadi mengatakan kalau pekerjaan mengantar pesanan ini mudah, yang lantas membuat Juk sedikit tersenyum. “Sudah, berhenti menangis” ucap Mee menenangkannya.


Setelah mengantarkan pesanan ke alamat yang benar, Juk dan Mee berjalan pulang sambil menuntun sepeda. Karena sepeda yang dipakai Juk kempes. Juk lalu meminta maaf karena sudah banyak membuat masalah hari ini. Mee mengatakan tidak apa-apa, yang penting Juk selamat.

“Kak Mee. Sudah berapa lama disini?” Tanya Juk kemudian.

“Sekitar… 3 tahun mungkin.”

“Bagaimana kamu terbiasa hidup disini? Kamu tidak rindu kampung halaman?” Menyadari Mee belum menjawab pertanyaannya, Juk kembali bertanya, “Ada sesuatu yang kamu hindari?”

“Sok tahu kamu.” Balas Mee sambil tersenyum.

“Eh, kak. Kemarin, aku pergi ke pemandian air panas dengan Naomi. Dia terlihat bahagia.”

“Naomi suka pemandian air panas.”

“Lebih tepatnya, Naomi bahagia karena mau menikah. Dia terlihat gembira karena akan menikah bulan depan.”

“Gembira itu wajar bagi siapapun yang akan menikah dengan seseorang sepertiku.” Ucap Mee dengan percara diri.


Mereka berdua pun tertawa. Juk penasaran, jadi dia bertanya bagaimana Mee melamar Naomi. Melihat ekspresi Mee, Juk sadar kalau dia sudah kebanyakan bertanya. Mee tidak apa-apa. Dia pun menceritakan bahwa dirinya dan Naomi akan menikah begitu saja. Dia tidak punya waktu untuk melamar Naomi secara khusus berdua karena Paman pasti mengganggu mereka. Jadi, tidak ada lamaran nyata seperti bilang “ayo kita menikah!”. Dia tidak pernah mengatakan itu.

“Itu tidak dihitung melamar namanya. Wanita ingin dilamar juga. Jika aku jadi dia, aku tidak mau.” Kata Juk.

“Tapi pacarku mau, tuh!”

“Ketika wanita tidak berkata apa-apa, bukan berarti dia tidak ingin.” Jawab Juk.


Di bandara, terlihat dua orang cowok menyeret kopernya. Mereka terus berjalan, hingga tanpa sadar keduanya bertabrakan. Cowok satunya langsung mengusap jaketnya yang kena senggol tadi, membuat cowok satu lagi menatapnya tajam.


Di rumah, Juk lagi skype-an dengan Copter. Dia menceritakan dirinya yang tersesat tadi siang. Tapi Copter hanya diam tanpa ekspresi, membuat Juk bertanya ada apa dengannya. Copter kecewa karena Juk tidak pernah meneleponnya. Kalau kejadian ini tidak terjadi, Juk tidak akan meneleponnya, kan?

“Benar sekali. Jangan bilang kau sedang bad mood.” Kata Juk.

“Kamu tersesat karena ulahmu sendiri.”

“Ter, aku sibuk setiap hari. Jangan marah, aku janji.” Juk menunjukkan jari kelingkingnya untuk pinky promise. Dengan ogah-ogahan, Copter pun membalas pinky promise Juk.

Copter tidak marah lagi. Mereka ngobrol biasa dan membicarakan seseorang yang bernama Jeang, yang katanya sedang libur sekolah. Mengingat tentang Jeang, Juk merindukannya, karena disini tidak ada yang mengganggunya.


Di dalam pesawat, rupanya kedua cowok tadi duduk berdekatan. Mereka saling pandang jutek, sebelum seorang cewek cantik muncul dan menempati kursi yang ada ditengah mereka. Senyum keduanya mengembang melihat wajah cantik itu.

“Kursiku di sebelahmu. Bolehkah aku duduk?” Tanya gadis itu dalam bahasa Inggris.

“Ya, Oke.” Jawab cowok yang dipinggir.

Keduanya lalu berkenalan. Cewek itu bernama Kate (Claudine Craig ) dan pria yang dipinggir bernama Jeang (Teeradon Supapunpinyo ). Kate lalu memberikan headphone pada cowok satu lagi yang duduk disampingnya. Mereka pun berkenalan. Cowok yang duduk di samping kanan Kate itu bernama Men ( Bank Thiti ).
Saat keduanya mengobrol, wajah Jeang nampak kesal. “Jeang dan Men, menurutku kita bertiga bisa berteman.” Ucap Kate senang. Namun, keduanya kompak menjawab “NO”. Hahahahah

No comments:

Post a Comment