December 26, 2017

Sinopsis Stay The Series Episode 2 - 1


Men sudah pulas tertidur. Jeang yang masih terjaga, sambil tersenyum penuh maksud beranjak ke toilet. Rupanya dia sengaja menunggu Kate di depan toilet sebagai alasan untuk mengobrol berdua dengannya. Jeang mengutarakan maksudnya yang ingin mengenal Kate lebih dekat, tapi ternyata Kate tidak ingin pergi ke Jepang seperti tujuan Jeang, melainkan Hawaii. Ia akan menikmati liburan musim dingin disana. Jeang sedikit kecewa karena ia pikir Kate akan ke Jepang. Dipandanginya wajah Kate lama-lama sampai Kate tersipu malu dan mulai melontarkan rayuan gombalnya. Jeang lalu menanyakan instagram Kate. Kate pun mengetikkan username nya di ponsel Jeang.


Men tersadar dari tidurnya. Ia langsung kaget saat melihat tidak ada siapa-siapa disampingnya, tapi lebih kaget lagi saat mendapati Jeang tengah asyik berbincang dengan Kate. Rasa kesalnya hilang seketika saat Kate muncul dan duduk disampingnya seorang diri, karena Jeang masih di toilet. Tak ingin hilang kesempatan dia gantian mengobrol dengan Kate, bahkan bersikap gentle dengan memberikan selimutnya pada Kate yang kedinginan. Kate memuji Men cowok yang sangat baik, dan ia pun berterima kasih. Setelah puas menggombali Kate, Men juga meminta IG nya.


Di kediaman paman Hatori, mereka lagi sarapan bersama. Sepertinya paman, Naomi, dan juga Mee sudah memaklumi Juk yang sebelum makan selalu memotret semua masakan terlebih dahulu. Mee memulai pembicaraan dengan memberitahu paman kalau nanti dia akan pergi ke stasiun untuk menjemput adiknya. Paman dan Naomi sangat senang karena mereka bisa bertemu dengan adik Mee.
Kasihan dengan Juk yang hanya diam saja, Mee pun memberitahunya juga kalau hari ini dia akan menjemput adiknya di stasiun. Adiknya itu akan tinggal disini sampai pernikahannya.


Mereka bertiga sudah sampai di Jepang, setelah sebelumnya Kate mengucapkan selamat tinggal karena dia harus lanjut ke penerbangan yang selanjutnya. Mee sampai di stasiun Karatsu. Dan ternyata adik Mee adalah Men. Men langsung berlari ke pelukan Mee saat mendengar Mee memanggil namanya.

“Aku sangat merindukanmu.” Ucap Men yang memeluk Mee seperti bayi koala.

“Ini sudah tiga tahun. Kau semakin berat.” Men pun melepaskan pelukannya. Mereka saling bercanda sesaat sebelum akhirnya pulang menuju Saga.


Paman, Naomi, dan juga Juk menyambut kedatangan Men dirumah. Mee lantas mengenalkan adiknya itu pada mereka. Dan lanjut mengenalkan Naomi dan Paman pada Men. Saat Mee ingin mengenalkan Juk, Men malah mengira dia itu adiknya Naomi dan memujinya sangat imut sekali. Lucunya, Men malah mengucapkan Arigato. Mee mengoreksinya kalau itu salah, harusnya mengatakan salam dengan “Hajimemashite”. Men langsung mengucapkannya, tapi sedetik kemudian Mee mengatakan kalau mengucapkan “Sawadee Khrub” juga tidak apa-apa, karena dia orang Thailand. Mereka puas tertawa melihat Men yang sudah dikerjai kakaknya sendiri.

“Benar, nama kakak Juk. Aku baru disini satu minggu.”

“Saya Men. Senang bertemu denganmu.” Balas Men.


Di kejauhan, sebuah mobil pick-up putih nampak melaju mendekat ke arah rumah paman. Mereka yang berada di halaman kompak melihat ke arah mobil itu. Paman menduga ini pasti mobil yang mau menjemput sayuran, tapi ternyata seorang cowok muncul dari bak belakang mobil yang masih berjalan. Dan cowok itu adalah Jeang.

“Apa? Rivalku?” Ucap Men kaget.

Juk juga terbelalak kaget. Dia langsung berjalan menghampiri Jeang.

“Kesini pakai apa?” itulah kalimat pertama yang dia lontarkan.

“Tentu saja naik pesawat. Paman tadi memberiku tumpangan.” Jawab Jeang. Jeang lalu memandang ke area sekitar dimana terhampar ladang-ladang dan perbukitan. Dia kembali bersuara, “Kau tidak akan bisa hidup di pedesaan. Disini bahkan tidak ada toserba.”

Juk tampak sedikit kesal, dia pun bertanya kenapa Jeang kemari. Jeang malah bertanya balik kenapa bisa Juk pergi kesini sendiri. Tentu saja dia akan mendampingi Juk.


“Siapa ini Juk?” Tanya Mee dari belakang. Mereka semua sudah mendekat ke tempat Juk dan Jeang. Begitu Jeang melihat Men, dia langsung menurunkan kaca mata hitamnya, “Oh lubang hitamku. Tidak salah lagi.”

Juk lalu mengenalkan kalau ini adalah adiknya, Jeang. Dia bahkan tidak tahu apa tujuan adiknya itu datang. Jeang langsung saja mengatakan kalau dia datang untuk menggantikan temannya Kak Juk dan menyerahkan sebuah amplop pada Mee. Mee membukanya lalu memberitahu paman kalau laki-laki ini adalah adiknya Juk yang datang untuk menggantikan teman Juk bekerja disini. Paman pun paham, lalu menyuruh mereka semua masuk ke dalam.


Perang dingin antara Men dan Jeang masih berlanjut. Jeang yang ingin mandi harus menunggu sebentar karena kamar mandi masih dipakai. Lalu keluarlah Men dari kamar mandi yang langsung membuat Jeang kesal. Men tersenyum mengejek dan mempersilahkan Jeang masuk. Ia keluar sambil bersiul senang, karena ia sudah membuat kamar mandinya sedikit berantakan. Hahahahha


Setelah Men masuk ke kamar, Mee bertanya padanya ada apa diantara mereka. Bertengkar? Men membantahnya, dia ini sudah dewasa. Anak itu saja yang kekanak-kanakan. Dan dia punya nama yang bodoh.

“Bodoh kenapa?” Tanya Mee heran.

“P’ nama dia Jeang, kan? Di pesawat, dia berkenalan dengan wanita memakai nama Jeangsohu (terdengar seperti so cool). Jadi, di pesawat aku sudah risih dengannya.”

Mee tertawa mendengarnya. Dia merasa mereka itu sudah ditakdirkan untuk bertemu. “Jangan bodoh kak, kau kebanyakan nonton tv. Ada-ada saja.” Kata Men tak terima. Mereka pun lalu bercanda soal desa yang mereka tinggali sekarang, boro-boro nonto tv sinyal saja susah. Hahahah

Mee kemudian mengalihkan pembicaraan mereka dengan menanyakan kabar rumah. Men mengatakan kalau ayah dan ibu sehat. Mereka senang ketika ada kabar kak Mee akan menikah. Mereka akan jadi kakek-nenek. Men lalu tak sengaja melihat foto Mee dan Naomi di nakas. Ia memuji kalau pacar kakaknya itu ternyata imut juga. Sepertinya dia orang yang baik.

“Dia imut dan punya hati yang baik.” Ucap Mee mengulangi seolah membenarkan.

“Kak, kenapa kau memilih menikahi wanita Jepang? Ada banyak wanita cantik di Thailand.”

“Karena… sudah kupikirkan matang-matang.” Jawab Mee.


Sementara itu di kamar Juk, Jeang juga membahas hal yang sama. Dia mengeluh kenapa dia bisa bertemu Men lagi. Apa nanti dia akan bertemu Men setiap hari?

“Benar sekali! Sungguh membuatmu frustasi, kan? Dan ide siapa ini? Katakan!” Tanya Juk kesal.

“Ketika ayah dan ibu tau kau kesini sendiri, mereka menyuruhku mengawasimu.”

“Mengawasiku?” Juk langsung menjewer telinga Jeang.

Jeang yang sudah sangat kesakitan akhirnya mengaku kalau sebenarnya ini adalah idenya kak Ter. Juk melepaskan jewerannya sampai Jeang terdorong sedikit. HAHAHAH


Juk kesal, pantas saja dia tidak mendengar kabar Ter hari ini. Dan tepat saat itu, Copter men skype-nya. Juk langsung menjewer telinga Jeang lagi dan menariknya mendekat agar Copter bisa melihatnya. Juk mengomel, ini ulahnya, kan? Copter berkata dia tidak bermaksud begitu, tapi orangtua mereka menyetujui ide ini. Juk mengeluh, kenapa dia tidak diberitahu dulu? Diakan sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. “Tidak akan lucu kalau kami beritahu” sahut Jeang. Langsung saja Juk menguatkan jewerannya di telinga Jeang. Copter lalu menginterupsi mereka, bukannya Juk kangen dengan Jeang? Jeang pun jadi besar kepala mengetahui kakaknya itu kangen padanya. Terus kenapa dia malah diperlakukan seperti ini? Mereka pun lanjut bertengkar lagi dengan ejek-ejekan dan pukul-pukulan.


Keesokan paginya, Juk bekerja membantu Mee di ladang. Dari jauh terlihat Men dan Jeang juga turut membantu dengan membawakan keranjang sayur. Men protes, dia disini untuk kondangan bukan untuk membawa sayuran. HAHAHAHA

“Sudah kubilang nikahku bulan depan, salah sendiri buru-buru datang.” jawab Mee terkekeh.

Jeang juga mengeluh, ini sudah 10 kali, berapa lama lagi mereka harus melakukan ini (bolak-balik mengantar sayuran)? Juk pun menjawab, “Kau datang dengan suka rela, kenapa masih rewel? 5 kali lagi, lakukanlah!” perintahnya. Dengan terpaksa keduanya menurut. Namun, saat mereka balik sebuah pemandangan aneh membuat mereka terdiam heran. Dari kejauhan tampak Juk dan Mee yang asyik bercanda, tidak terlihat kecanggungan sama sekali diantara mereka.


Suara teriakan paman membuat mereka sadar . Paman memanggil Mee, memberitahu ada yang pesan sayuran. Bisakah siapapun yang tidak sibuk mengantarnya? Mee mengiyakannya, lalu bertanya pada Men dan Jeang siapa diantara mereka yang bersedia mengantar. Keduanya kompak mengangkat tangan. Dan alhasil mereka berdualah yang ditugaskan untuk mengantar sayuran itu.


Mereka naik sepeda dengan Men yang membonceng, sementara Jeang duduk menghadap ke belakang dengan memegang keranjang sayur.

“Kakek tua, kenapa kau ikut angkat tangan? Kau membuat sepeda ini lambat!” Keluh Men kesal.

“Kalau kempes, tiup saja bannya. Fokuslah menyetir.” Balas Jeang tak kalah kesal. Sepanjang jalan mereka terus saling mengejek, tak sudi jika harus bersama. Wkwkwkwk


Malam hari. Sekarang gantian Men yang menunggu Jeang Mandi. Begitu Jeang keluar, dia langsung marah karena Jeang lama sekali, dia sampai bosan menunggu. Jeang membalas, kalau dia tahu Men menunggu maka dia akan mandi lebih lama lagi. “Hari ini aku pup banyak sekali. Cukup untuk menyegel klosetnya. Jika kau masuk setelahku, oh baunya…” Wajah Men sudah meringis jijik, “Sial. Menyebalkan sekali.” HAHAHAHA, sumpah ini lucu abis, Jeang sengaja ngomong gitu untuk membalas Men. Padahal kan kamar mandi sama toiletnya terpisah ruangan. Dan nyatanya dia berhasil mengerjai Men. wkwkwk


Juk mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Mee yang kebetulan lewat memilih ikut bergabung dengannya. Dia heran kenapa Juk mengerjakan tugasnya disini? Juk menjawab kalau disini sangat hangat. Nyaman sekali. Saking hangatnya, dia tidak mau kemana-mana. Juk lalu bertanya meja yang dipakainya, yang diselimuti oleh selimut tebal ini apa namanya. Mee mengatakan ini namanya Kotatsu. Juk langsung mengeluarkan ponselnya dan merekam suaranya.

“Hari ke-10, malam hari. Duduk dengan kak Mee, bekerja di ruang keluarga dan mulai menyukai…” Juk terdiam sesaat memandangi wajah Mee yang juga balas memandangnya, sebelum akhirnya Juk melanjutkan dengan sedikit kikuk, “Kotatsu. Meja yang membuat orang malas.”

Juk tertawa mendengar Mee menyebut “meja yang membuat orang malas”. Dia memutuskan kalau sekarang meja ini adalah meja kerjanya. Melihat Juk yang sibuk, Mee bertanya apa dia butuh bantuan? Juk pun cerita soal cumi-cumi transparan, yang setelah tahu dari Mee bahwa namanya adalah Ika no Ikizukuri. Karena cumi-cumi inilah dia ingin datang kesini. Jeang yang baru selesai mandi tadi, lewat di depan ruang keluarga dan mendengar perbincangan antara Juk dan Mee.


Diam-diam Jeang mengintip kebersamaan mereka, dan Men yang baru saja dari kamar mandi juga ikut mengintip. Mereka menganga kaget apalagi saat Mee mengajak Juk akhir pekan ini untuk mencicipi cumi-cumi itu. Mereka bahkan melakukan pinky promise. Jeang menolehkan pandangannya ke depan, dimana di ruang makan Paman sedang mengobrol dengan Naomi. Men pun melakukan hal yang sama. Mungkin mereka berpikir kenapa kak Mee malah menemani Juk bukan Naomi. Akibat suara ribut-ribut mereka, Juk tersadar dan langsung mengajak keduanya untuk ikut jalan-jalan. Dengan kompak mereka mengiyakannya. Lebih tepatnya kompak karena gugup ketahuan.


Weekend pun tiba. Jeang dan Men sudah semangat sekali pergi jalan-jalan. Paman dan Naomi juga ikut. Tapi tiba-tiba Naomi mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia mengatakan pada Mee kalau kepalanya pusing, dia ingin instirahat saja di rumah. Paman pun tidak jadi ikut karena ingin menjaga Naomi. Setelah Mee menjelaskan kondisi Naomi pada Jeang, Men dan juga Juk mereka akhirnya pergi berempat dengan Juk duduk di depan sementara Jeang dan Men di bak belakang pick up.

No comments:

Post a Comment