Sinopsis Stay The Series Episode 3 - 1


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Semua terbangun akibat teriakan dari ruang keluarga. Jeang dan Men bertengkar seperti orang gila. Juk dan Mee terpaksa memegangi mereka kalau tidak ruang keluarga bisa hancur hahahaha. Mereka terus adu mulut mengejek satu sama lain. Jeang berkata pada paman, jika dia disuruh mengirim barang dengan si kunyuk ini, maka suruh saja orang lain. Paman dan Naomi sangat shock melihatnya, meskipun tidak mengerti sama sekali.


Paginya, Juk lah yang menemani Jeang mengantar pesanan. Dia mencoba membahas masalah pertengkaran malam tadi. Jeang berkata kalau ini tidak akan terjadi kalau Men tidak cari gara-gara. Juk kesal melihat Jeang yang tahunya hanya berkelasi saja. Namun, Jeang mengatakan bahwa dia hanya mengkawatirkan Juk.

“Khawatir denganku? Khawatirkan dirimu sendiri dulu.” Protes Juk.

“Aku khawatir ketika kakak dan kak Ter berdebat. Sudah baikan dengan kak Ter?”

“Sudah.” Jawab Juk.

Jeang mengatakan kalau kak Ter sangat mencintai kak Juk. Pikirkan dirinya dulu sebelum melakukan hal bodoh. Juk kesal, apa Jeang sekarang menceramahinya? Jeang lalu bertanya asal, apa menurutnya kak Mee itu cocok dengan Naomi. Juk berkata kalau Mee adalah orang yang baik. Dan Naomi juga cantik. Mereka memang cocok satu sama lain.

Jeang menoleh ke belakang sekilas sambil tersenyum, “Sama seperti kakak dan kak Ter.” Ucapnya menenangkan.

“Jeang.” Panggil Juk kemudian. “Aku ingin bertanya padamu. Ter membayarmu berapa?” HAHAHAH

Jeang tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, yang tentu saja tidak bisa dilihat Juk.


Sementara itu, Men sedang membantu Mee membersihkan restoran. Dengan takut, dia minta maaf pada Mee atas pertengkarang tadi malam. “Terserah” itulah jawaban Mee. Melihat kakaknya itu hanya diam, Men mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab. Dia akan tidur dengan paman, jadi tidak masalah jika kak Mee mau tidur dengan Naomi. Hanya jaga-jaga. Jika kakaknya itu butuh ciuman atau pelukan. HAHAHAHH

“Apa yang kau bicarakan?” Tanya Mee tidak mengerti.

“Aku hanya khawatir kakak akan kesepian karena tidak bisa bermesraan dengan pacar kakak.”

“Kata ‘bermesraan’ itu berarti orang lain tidak boleh lihat.”

“Mendengarmu berkata begitu membuatku tenang.” Jawab Men.

Mee tak mengerti apa maksudnya dengan tenang. Men berkata, menurutnya Naomi merasa diabaikan karena Mee tidak punya banyak waktu dengannya. Mee tidak habis pikir bagaimana bisa Men mengkhawatirkan hal lain. Sementara dirinya sudah membuat kacau bisnis orang. HAHAHAHHA
“Ohh P’. Maksudku adalah ini ditakdirkan. Sebagai orang asing disini, dan tinggal di daerah pedesaan. Kakak dan Naomi berhasil bertemu satu sama lain.” Mee tersenyum melihat tingkah sok dewasa adiknya itu. Diapun melempar lap kotor ke arah Men.


Hari beranjak malam. Lagi-lagi Men dan Jeang bertemu di kamar mandi. Namun, bukanlah pertengkaran yang terjadi kali ini, melainkan sebuah persekutuan. Mereka saling menjabat tangan. “Ini baru kerja sama.” Kata Jeang. “Kerja bagus.” Jawab Men.
Ya, pertengkaran malam itu adalah bagian dari rencana mereka untuk memisahkan Juk dan Mee. Dan itu terbukti cukup berhasil.

3 HARI KEMUDIAN


Paman, Naomi, Juk-Mee, dan Jeang-Men, tengah menikmati malam mereka sambil bercengkrama ria. Dengan kondisi yang sudah agak mabuk, paman berkata masih ada beberapa hari lagi sebelum mereka bertiga pulang. “Malam ini ayo kita minum.” Ajak paman. Dia juga sangat senang bisa bertemu dengan mereka semua.


Juk sudah minta tambah minuman lagi. Mee bahkan menggombali Naomi yang dusuk di sebelahnya, dengan mengatakan dia mabuk karena Naomi. Melihat mereka tertawa lepas bersama, Men menghampiri keduanya.

“Kalian berdua… sedang dimabuk cinta.” Katanya dengan sedikit mabuk.

“Cemburu ya?” Balas Mee. Juk dan Jeang langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Men lalu merangkul Naomi dan kakaknya itu. Dia senang sekali melihat mereka bisa bersikap mesra seperti ini. Karena sudah sedikit mabuk, dan mengantuk, akhirnya Naomi pun pergi tidur. Sementara yang lain masih betah berlama-lama.


Minuman pun habis. Mee menyuruh Men membeli minuman lagi. Tapi, Men tidak mau, dia tidak bisa berjalan normal kalau lagi mabuk. Dia menyuruh Jeang saja yang beli, tapi Jeang juga tidak mau. Akhirnya Mee lah yang membeli minuman, dan Juk juga ikut menyusul Mee.

Detik itu juga Men dan Jeang sadar dan saling menyalahkan, karena telah memberi kesempatan Mee dan Juk untuk kembali dekat. Tak terima dirinya disalahkan Men, Jeang malah menyalahkan paman yang tak mengerti sama sekali dengan bahasa mereka.

“Kau benar, ini salah paman. Paman harus memperhatikan mereka. Jika menantu paman punya selingkuhan, jangan bilang aku tidak mengingatkan paman.” Paman hanya menganggukkan kepalanya. Wkwkwkwkw

Men pun menambahi, “Paman, bagaimana bisa kau dipanggil kepala rumah tangga? Mereka berdua saling naksir (Mee-Juk), dan kau bahkan tidak melihatnya. Kami berdua tidak punya waktu melihatnya.”

“Sulit dipercaya. Paman lahir duluan daripada kita, dan dia tidak bisa melihatnya. Matanya terlalu sipit.” HAHAHAH

“Tidak usah khawatir, paman. Serahkan saja pada kami berdua. Aku, Men, akan mencari tahu.”
“Nantinya, keluarga paman akan sejahtera.”


Keduanya sudah merangkul paman, bahkan Men membekap mulut paman agar tidak mengatakan terima kasih pada mereka. Dialah yang harusnya berterima kasih pada paman dan Naomi yang telah membuat kakaknya senang. Dia dan Jeang langsung membungkuk dan mengucapkan Arigato pada paman. Paman yang tak mengerti pun, malah ikut-ikutan membungkuk dan terus mengucapkan Arigato bersama-sama. (HAHAHAHAH, sejauh ini episode ini lah yang paling lucu. Karena Men dan Jeang mulai beraksi dan benar-benar menyadari ada sesuatu di antara kakak-kakak mereka).


Karena Juk yang tadinya terburu-buru menyusul Mee, jadilah dia tidak membawa jaket dan kedinginan. Mee lalu memberikan jaketnya pada Juk. Awalnya Juk tidak mau, tapi karena dipaksa Mee akhirnya dia mengenakan jaket itu.

“Waktu terasa cepat sekali. Beberapa hari lagi, aku akan kembali.” Ucap Juk memecah kesunyian.

“Jika waktu masih lama, itu akan lebih baik.”

“Kita tak bisa menghentikan waktu. Kita bukan doraemon. Semua yang bisa kita lakukan hanyalah memanfaatkan waktu yang tersisa. Itu saja.” Ucap Mee.

Juk lalu menayakan bagaimana Mee tahu kalau Naomi adalah satu-satunya? Yang akan menghabiskan sisa hidup dengannya. Mee pun bercerita, kalau sebelumnya dia pernah punya seseorang yang dia mau untuk menikah dan hidup bahagia selamanya. Tapi, waktu yang tidak tepat.
“Dulu, aku punya pacar yang bertanya padaku. Apa aku mau menikah dengannya. Aku jawab ‘iya’. Tapi aku tidak siap dan tidak bisa katakana padanya kapan aku akan siap. Jadi dia bilang padaku, dia tidak akan menunggu. Seketika itu aku paham, pernikahan punya batas waktu.”

Flashback..


Mee menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dia mendengarkan mempelai pria yang memberi sedikit ucapan untuk sang mempelai wanita. Dalam ucapannya itu, sang mempelai pria mengatakan bahwa mereka telah putus nyambung berkali-kali, sering berbeda pendapat dan selisih paham, tapi yang dia tahu, dia ingin wanitanya ini bersama dirinya sampai akhir hayatnya. Awalnya Mee turut senang mendengar ucapan-ucapan manis itu sama seperti para undangan lain, namun kata-kata terakhir dari mempelai pria membuat wajahnya berubah sendu. Ia bahkan muntah-muntah dan sejak hari itu hari-harinya tidak lagi bahagia. Dia tidak tahu apa yang ia inginkan. Sampai kemudian dia melihat gelas kopinya yang bergambar balon dengan tulisan saga di dalamnya.”

Flashback end..


Juk serius memperhatikan wajah Mee, sebelum dia bertanya, “Kak Mee datang kemari karena cangkir bergambar balon?”

Mee tersenyum, “Dan kau Juk, datang kemari hanya karena cumi-cumi menath di internet?”

“Jadi intinya, Naomi adalah seseorang yang muncul di waktu yang tepat?”

Mee menggumam sebagai jawaban. Juk lalu bertanya kembali, Jika Mee punya mesin waktu, maukah dia kembali untuk merubah segalanya? Mee menjawab dia lebih baik menatap masa depan untuk melihat ada apa disana. Lalu, apa jadinya jika dia tidak suka masa depan itu? Masihkah dia mau kembali untuk merubah segalanya? Mee menatap Juk lama, “Kurasa begitu” jawabnya.

No comments:

Post a Comment