Sinopsis Stay The Series Episode 3 - 2


Setelah pulang membeli Sake, mereka lanjut berpesta lagi sampai semuanya ketiduran di ruang keluarga. Men kemudian bangun karena kebelet pipis. Dia begitu terkejut saat melihat Juk dan Mee tidur berdekatan, apalagi Juk tidur dengan tangan Mee sebagai bantalnya. Ketika di kamar mandi, dia berpapasan dengan Naomi. Naomi bertanya dimana Mee. Dengan gelagapan, Men menjawab kalau Mee mabuk dan sedang tidur di kamar. Naomi berkata mungkin ayahnya tidur di ruang keluarga. Dia akan mengeceknya nanti.


Takut kalau Naomi memergoki Juk dan Mee, Men langsung lari dan membangunkankan Jeang. Jeang sontak terkejut melihat posisi tidur Juk yang sekarang seperti memeluk Mee. Akibat Men yang bilang kalau Mee sudah tidur di kamar, terpaksalah mereka memindahkan kakaknya masing-masing. Jeang menggendong Juk, dan Men menggendong Mee di punggungnya. HAHAHAHA


Saat lewat di depan toilet, mereka mendengar Naomi bersenandung kecil. Men tak habis pikir, calon suaminya mau direbut gini, dia kok masih bisa nyanyi HAHAHAH. Jeang sudah meletakkan Juk di futon. Nafasnya hampir habis karena menggendong Juk. Sementara itu, Men langsung saja melempar kakaknya ke futon. Mee menggeliat mencari posisi yang nyaman. Men menggeleng-geleng melihat kakaknya itu. “Untuk seseorang yang akan menikah, bagaimana aku tidak khawatir kalau kelakuanmu seperti ini?” katanya kecewa.


Pagi harinya, Jeang mengirim pesan pada Copter untuk menelepon kakaknya. Jeang menunggui Juk di kamar mandi sampai Juk kesal karena Jeang selalu mengikutinya. Jeang berkata karena Juk tidak bisa bertanggung jawab, jadi dia akan terus mengawasinya. Jeang bahkan menunggui Juk yang sedang mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Tak lama Copter menelepon. Juk senang sekali, tapi begitu tau ini ulah Jeang dia langsung mencubit kaki Jeang.


Copter bertanya keadaan Juk, apa baik-baik saja? Semalam kan dia habis minum-minum. Juk berbohong kalau dia semalam karokean makanya tenggorokannya jadi sakit sekarang. Men dan Mee kemudian datang bergabung ke ruang keluarga. Mendengar Juk mengatakan mereka karokean, Men jadi kesal sendiri. Karoke apaan? Tidak enak di dengar yang lain, Juk lalu keluar. Dia berusaha membujuk Copter agar tidak marah. Dia hanya minum satu teguk semalam, habis menyanyi dia langsung tidur. Copter mencoba percaya, hanya saja jika Juk berbohong dia pasti akan tahu. Sedangkan Jeang dan Men yang masih bisa mendengar percakapan Juk hanya berdecih kesal.


Setelah selesai menelepon, Juk berbalik ke ruang keluarga. Dia malah mendapati Mee yang sedang tertawa karena ucapan bohongnya tadi pada Copter. Tangan Juk bahkan sampai berkeringat. Mee lalu menawarkan teh hangat padanya. Dengan polosnya Juk bertanya apa teh hangat bisa menghentikan keringat di tangan? HAHAHAH Mee menjawab, tentu saja tidak. Teh ini untuk pelepas dahaga. Dia kemudian memberitahu kalau hari ini restoran tutup, karena dia dan Naomi akan foto pre-wedding. Dia juga meminta Jeang dan Men pakai baju yang bagus untuk foto nanti. Tapi keduanya hanya cemberut, masih kesal mengingat kejadian semalam.


Mee lalu ijin pergi untuk memberi makan ayam. Juk langsung minta ikut. Tapi, dengan cepat Men menyahut dan menyuruh Juk istirahat saja. Dia yang akan membantu kak Mee. Masih dengan wajah kesal, Jeang diam-diam mengacungkan jempol pada Men. Dan Men dengan tangannya mengkode agar Jeang terus mengawasi kakaknya itu. Wkwkwkw, jangan sampai lepas kali ini.


Men yang baru saja masuk ke kandang ayam, bertanya pada Men apa yang terjadi tadi malam. Mee bingung, mereka kan minum-minum. Memangnya apa yang terjadi?

“Kau tidak ingat sesuatu?” Wajah Men sudah mengeras menahan emosinya.

“Aku tidak ingat… bagaimana aku bisa naik tangga ke kamar. Apa yang aku lakukan? Melakukan hal bodoh?”

Men langsung mengatakan tidak ada dan menarik keranjang tempat makan ayam dari tangan Mee. Mee yang tidak mengerti kenapa Men jadi seperti ini memintanya katakan saja apa yang terjadi. Men tiba-tiba membuang keranjang tempat makan ayam itu. Dia bertanya serius, sangat serius. Apa sebenarnya Mee benar-benar ingin menikahi Naomi?

“Apa maksudmu berkata begitu?” Tanya Mee bingung.

“Jika kau benar-benar ingin, kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu.”

“Ngomong apa sih?” Tanya Mee masih tidak mengerti.


Men meminta Mee berpikir atas tindakannya. Dia bukanlah anak kecil lagi. Mee mulai terpancing emosi melihat Men yang berbicara tanggung jawab padanya. Apa pangkatnya?

“Semua yang kau lakukan adalah menghindari masalah. Jika sesuatu terjadi, apa kau akan lari dari masalah itu lagi?”

“Bisa tutup mulutmu?”

“Kau bisa egois semaumu. Tapi pikirkan juga ayah dan ibu. Kau tahu betapa sakitnya mereka ketika kau tinggal pergi?! Mereka sakit hati. Tapi mereka rela menerima apapun, karena mereka mencintaimu. Mereka ingin kau senang.”


Mee menggeram, dia tiba-tiba mendorong Men sampai terjatuh. Namun setelah itu, terlihat raut menyesal di wajahnya. Dia pun pergi meninggalkan Men. Men berteriak, “Pukul aku semaumu! Tapi takkan kubiarkan kau menyakiti hati ayah dan ibu lagi!”


Naomi yang melihat Mee keluar dengan wajah marah berusaha mengejar dan menenangkannya. Mereka berjalan menyuri Kasegawa river. Sekarang Mee sudah lebih tenang. Hanya saja dia tidak mengerti kenapa Men tiba-tiba marah.

“Kuma-kun. Bagiku aku seperti cermin. Contohnya, aku terlihat marah, kan?” Naomi menunjukkan wajah marahnya pada Mee, lalu dia berkata, “Antara wajah marahku, dan wajah senyumku, mana menurutmu yang lebih baik?”

“Yang tersenyum.” Jawab Mee.

Naomi mengangguk, “Jika kau ingin melihatku tersenyum, maka kau harus tersenyum juga. Itulah kenapa aku seperti cermin.”

Mereka saling pandang sesaat sebelum akhirnya tertawa bersama. Naomi berkata, apapun yang terjadi dia akan selalu di samping Mee. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan serta menyanyikan sebuah lagu yang Mee ajarkan pada Naomi bersama-sama di tengah indahnya sunset di tepi sungai Kasegawa.


Mereka sampai di rumah saat makan malam telah selesai dihidangkan. Menu kali ini adalah sushi. Paman mencontohkan pada mereka semua bagaimana cara memakannya. Juk tidak lupa untu merekam aksi paman. Mee sesekali melirik pada Men, tapi dia hanya diam saja dengan wajah tertunduk.


“Men-kun.” Panggil Naomi kemudian. “Kuma-kun bilang kau sangat suka sushi. Makanlah.” Kata Naomi mencoba memperbaiki suasana hati Men. Mee juga menoleh menatap Men, dan tiba-tiba saja ia sesenggukan. Perlahan air matanya menetes. Men membungkuk minta maaf dan prig meninggalkan meja makan. Semuanya terheran-heran, lalu beralih menatap Mee yang sudah berkaca-kaca dengan penuh tanda tanya.


*****

No comments:

Post a Comment