Sinopsis Thumping Spike Episode 16


Episode 16: Penolakan


Tim Daehan sampai di sebuah sekolah, tempat dimana akan diadakannya Piala Presiden ke-49. Se Ra tak lupa untuk menyemangati anak didiknya. Tak lama terdengar suara Soo Bin yang memanggil Jae Woong. Dengan malas Jae Woong menghampiri Soo Bin yang rupanya bersama Pelatih Song. Mereka kaget melihat kaki Pelatih Song di perban, bahkan ia berjalan menggunakan kruk di kiri kanannya. Ia menyemangati Tim Daehan dengan heboh, sementara mereka hanya menyahut tak semangat melihat kondisi mengenaskan Pelatih Song hahahahah.




Tim Daehan lengkap dengan pelatih, Soo Bin, dan Sek Kim sedang berkumpul bersama menikmati makanan di kantin. Bukan hanya Tim voli Daehan yang sedang makan, tapi juga tim dari sekolah lain. Salah seorang dari tim itu mengenali Se Ra. Tempat duduk mereka berdekatan sehingga apa yang mereka gosipkan jelas terdengar. Jae Woong dan Woo Jin tersulut emosi, mereka langsung menghampiri orang itu. Jae Woong lebih dulu menarik kerah orang yang mulai bicara tadi, mukanya sudah memerah karena marah. Dia tak peduli dengan teman-temannya yang terus mencoba melerai supaya tidak terjadi perkelahian. Se Ra lantas berteriak menyebut nama Jae Woong hingga Jae Woong berhenti dan perkelahian tidak terjadi.


Se Ra dan Jae Woong bicara empat mata. Se Ra meminta Jae Woong agar tidak bersikap begini. Jangan menimbulkan masalah. Dan juga selama turnamen, jangan latihan sendiri, karena itu dilarang. Jae Woong meminta Se Ra jangan bersikap seperti mengkhawatirkannya, karena itu membuatnya berpikir kalau Se Ra tertarik padanya. Tepat saat itu Woo Jin datang memotong pembicaraan mereka. Jelas terlihat raut kebencian di wajah Woo Jin saat melihat Jae Woong.


Begitu sampai di hotel, Sek Kim menunjukkan berbagai macam vitamin yang dibutuhkan untuk pemain. Ia tidak mau kalau sampai pemain tidak bertenaga nantinya. Se Ra tersenyum senang. Ia merasa Sek Kim sudah banyak berubah semenjak pertama kali dia datang. Sek Kim berkata dia hanya ingin akhirnya sukses. Tidak ada maksud apa-apa lagi. Dia lalu bertanya apa Se Ra yakin mereka menang besok melawan tim posisi kedua terakhir? Dengan yakin Se Ra menganggukkan kepalanya.


Seperti biasa, sebelum tim memulai pertandingan, para pelatih akan memberikan semangat dan bimbingan begitu juga dengan Tim Daehan sekarang. Mereka akan bertanding melawan SMA Ilhae. SMA peringkat dua terbawah. Karena ini pertandingan pertama, jadi semangat diantara tim lawan masih menggebu-gebu. Diawal permainan tim Daehan masih menyesuaikan diri hingga mereka mulai mendominasi dan akhirnya menang dengan skor 25-15. Para supporter berteriak heboh apalagi Jae Woong lah pencetak skor terakhir. Dengan hanya satu kali pukulan block, bola berhasil mendarat di kandang lawan. Para penonton kompak menyerukan nama Hwang Jae Woong. Euforia kemenangan memenuhi arena.

Jae Woong berbalik, melepaskan diri dari teman-temannya yang masih asyik berpelukan. Ia menatap Se Ra penuh arti. Ditariknya tangan Se Ra yang masih dalam euphoria kemenangan itu hingga Se Ra hanya bisa menurut mengikuti Jae Woong.


Rupanya Jae Woong menghampiri tim Ilhae. Menghampiri Leader yang telah menjelek-jelekan nama Se Ra di kantin waktu itu. Jae Woong mengatakan sekarang Ilhae telah menjadi tim dengan posisi terakhir se-Korea. Minta maaflah pada Se Ra. Orang itu pun meminta maaf dengan ogah-ogahan dan juga suara yang pelan. Jae Woong tak suka, dia menyuruh orang itu mengatakannya dengan benar. Orang itu menolak, tapi saat Jae Woong mengancam akan memanggil pelatihnya, dia pun meminta maaf dengan membungkuk hormat. Se Ra merasa tersentuh dengan perbuatan Jae Woong. Tim Daehan juga tersenyum puas melihat Ilhae kalah apalagi orang itu bersedia meminta maaf.


Malamnya, Jae Woong keluar seorang diri untuk latihan. Se Ra kemudian datang dan langsung merentangkan tangannya untuk menghalangi Jae Woong pergi. Dia mengingatkan Jae Woong agar jangan latihan sendiri. Kalau dia terluka bagaimana? Se Ra lalu memuji permainan Jae Woong yang sangat hebat hari ini. Jae Woong berkata dia akan pastikan mereka menang di turnamen ini. Se Ra turut senang mendengarnya.

“Aku akan berterus terang agar menang. Aku akan menaruh piala kemenangan di tanganmu. Kehormatan sebagai pelatih? Aku akan mengamankannya. Itu sebabnya aku tidak akan terluka. Aku tidak boleh terluka.” Ucap Jae Woong lalu pergi. Se Ra tersenyum melihat Jae Woong yang sudah menjauh.


Tanpa keduanya sadari, Woo Jin dan Soo Bin melihat kebersamaan mereka dari jauh. Mereka masih terpaku walaupun Se Ra dan Jae Woong sudah tidak ada di tempat. Woo Jin terkejut melihat Soo Bin menangis. Padahal dirinya juga menangis melihat pemandangan tadi. Mereka sama-sama sakit melihat orang yang mereka sukai bersama orang lain. Hiks.. hiks sedih lihatnya, yaudah deh Woo Jin sama Soo Bin aja. Kan sama-sama cinta bertepuk sebelah tangan heheheh


Esok pagi. Para anggota tim Daehan sibuk bercengkrama dan melepas rindu dengan orang tua mereka masing-masing. Dari jauh Woo Jin melihat pemandangan itu dengan tatapan iri. Hanya dirinya sendiri yang tak mendapat kunjungan. Se Ra yang melihat hal itu diam-diam menelpon ayah Woo Jin. Dia meminta ayah Woo Jin untuk datang menyaksikan pertandingan terakhir Woo Jin tahun ini. Ada banyak momen-momen luar biasa terjadi. Di momen-momen itu melihat wajah anggota keluarga bisa memberikan aliran energi dan tekad. Dia yakin Presdir Lee pasti mengerti karena dia juga seorang pemain voli, kan? Presdir Lee tidak bisa. Apa Se Ra tidak tahu kalau dia sangat sibuk? Se Ra berkata dia tidak meminta Presdir Lee untuk datang. Tapi yang dia minta adalah Ayah Woo Jin. Kata Se Ra memohon.


Para pemain sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di kamar hotel. Melihat Jae Woong akan pergi, dengan siap siaga Soo Bin melarangnya. Ia takut kalau Jae Woong akan bersama Se Ra seperti tadi malam. Jae Woong membentak Soo Bin akibat ulahnya ini. Han Sol yang mendengar itu langsung menghampiri Jae Woong. Ia marah karena Sikap Jae Woong pada Soo Bin yang menurutnya terlalu kasar. Jangan pernah Jae Woong menganggap karakter dan perilaku Soo Bin itu buruk. “Untuk seseorang yang datang ke Inje untukmu, kau seharusnya tidak boleh memperlakukannya begini!” teriak Han Sol membela Soo Bin.

Soo Bin malah teriak balik ke Han Sol. Apa kau gila? Memangnya siapa orang yang kau teriaki? Soo Bin tak terima kalau Jae Woong oppa-nya dimarahi. Han Sol tak habis pikir, bagaimana bisa Soo Bin malah bersikap kasar padanya padahal dia telah membela Soo Bin. Jae Woong menegur Soo Bin dan mengajaknya bicara diluar. Soo Bin langsung tersenyum senang. Sementara dua teman yang lain berusaha menenangkan Han Sol.


Jae Woong sudah di luar bersama Soo Bin. Dengan lembut dia meminta Soo Bin untuk berhenti mengikutinya. Mata Soo Bin berkaca-kaca. Apa Jae Woong segitu membencinya? Jae Woong berkata dia menyukai Soo Bin. Soo Bin itu imut. Tapi caranya menyukai Soo Bin dan cara Soo Bin menyukainya berbeda sekali.



“Oppa.. kau tidak tahu perasaanku. Kau tidak tahu betapa aku menyukaimu, oppa.”

“Aku menyukai seseorang.”

“Siapa?”

“Kenapa? Supaya kamu bisa mencari dan menjambak rambutnya? Aku akan marah kalau kamu melakukannya. Menurutmu, aku akan membiarkannya karena kamu seorang perempuan, kan?”

“Kenapa kamu menyukai Kang Se Ra? Kenapa tidak menyukaiku?” Teriak Soo Bin sudah akan menangis.

Jae Woong dengan suara yang lembut mengatakan bahwa dia memikirkan Soo Bin sama dengan dia memikirkan adiknya, Jae Eun. Kalau terjadi sesuatu hal pada Soo Bin dia tidak akan bisa diam saja. Jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jangan salah kaprah. Jae Woong memohon pada Soo Bin.
“Jae Woong oppa, aku membencimu. Aku benci sekali dirimu. Kenapa kamu membuatnya sulit sampai aku membencimu? Memangnya siapa kau itu, oppa?” Ucap Soo Bin masih belum menerima. Diapun pergi meninggalkan Jae Woong.

Lalu Jae Woong menghubungi Se Ra yang berada di balkon. Dia bertanya pada Se Ra, apakah begini rasanya saat Se Ra menolaknya? Dia tidak apa-apa, tapi rasanya sedikit sakit. Se Ra tidak mengerti maksud Jae Woong yang tiba-tiba berkata begitu. Namun saat dia berbalik arah, dia melihat Woo Jin berdiri di bawah sana sambil menatap sendu kearahnya.

No comments:

Post a Comment