[C-DRAMA] Sinopsis Best Lover Episode 2


*****

Xie Cheng tersenyum mengejek kearah Huan Ying yang minta tolong padanya. Dia kemudian melambaikan tangan dan pergi. Yong Jian berhenti saat melihat ada sesuatu yang aneh dari Huan Ying. Mereka berdua ini pernah punya dating skandal saat masih jadi idol. Cepat tanggap, Yong Jian langsung mengambil kipas milik wanita yang ada disebelahnya lalu melemparkannya pada Huan Ying. Huan Ying berhasil menangkapnya dengan baik sehingga ulah mereka ini menjadi aksi menarik di tengah red carpet. Dengan gaya cool, Yong Jian menghampiri Huan Ying dan menyampirkan jasnya di bahu Huan Ying. Yong Jian pun berjalan disampingnya. Meskipun sudah diselamatkan Huan Ying tetap bersikap ketus.


Acara sepertinya telah selesai. Xie Cheng keluar dari kamar hotelnya, tak sengaja ia bertemu Yong Jian di lift. Yong Jian tersenyum sambil berbasa-basi tentang investasinya di sebuah film. Xie Cheng menggeram, karena dari dulu Yong Jian terus merendahkannya.


Sampai di parkiran Xie Cheng berjalan menuju mobil milik seorang wanita. Wanita yang bernama Jia Ren itu langsung memeluk lengan Xie Cheng. Xie Cheng tampak tidak enak. Dia meminta Jia Ren untuk tidak seperti ini. Jia Ren selalu memanggilnya hanya ketika dia butuh. Sekarang waktunya tidak pas. Jia Ren bertanya, apa Xie Cheng takut tertangkap kamera? Xie Cheng tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja tempat ini berbahaya. Ini adalah hotel suaminya Jia Ren. Seolah tidak ingin mendengar ucapan Xie Cheng selanjutnya, Jia Ren mengucapkan selamat atas kesuksesan film box office Xie Cheng. Dengan wajah sendu dia memuji Xie Cheng lalu kembali memeluk Xie Cheng.

“Aku sangat merindukanmu. Meskipun kita sudah putus, kamu selalu ada di hatiku.” Ucap Jia Ren menempelkan tangan Xie Cheng di dadanya, agar Xie Cheng bisa merasakan detak jantungnya.

“Jia Ren! Kamu sangat berbahaya…” Xie Cheng belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Jia Ren sudah mengalungkan tangannya di leher Xie Cheng.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memotret momen yang terlihat mesra itu. Orang itu langsung menelepon mengabarkan dia punya berita besar saat ini. Huan Ying duduk santai di dalam mobil, menunggu managernya selesai menelepon. Dengan wajah sedih si manager mengabarkan bahwa Ayah Huan Ying, CEO Ye, meminta Huan Ying menemuinya di kantor beok. Ayahnya itu sedang sakit karena penyumbatan pembuluh darah. Dia akan dioperasi. Dia bilang dia merindukan Huan Ying dan ingin bertemu dengan putri satu-satunya itu. Huan Ying hanya diam mendengarkan tanpa peduli sedikitpun.


CEO Ye tetap menjalankan tugasnya meski kondisinya tidak terlalu sehat. Dia akan memilih sendiri karyawannya sesuai tradisi yang selalu mereka lakukan. Dengan santai CEO Ye berjalan menaiki tangga menuju lantai 23, kantornya, sekaligus tempat dia akan mewawancari calon karyawan. Sedangkan yang lain sudah ngos-ngosan.

Dengan sedikit berkeringat, CEO Ye sampai. Dia sengaja melakukan hal tadi agar tahu mana yang sungguh-sungguh dan mana yang tidak. Bagi siapa yang belum sampai maka mereka akan kehilangan kesempatan menjadi bagian dari Ziyi Corp.


Huan Ying sudah ada di kantor ayahnya. Ayahnya sedang menulis surat wasiat. Kemudian ayahnya menunjukkan dua krystal ungu di depan Huan Ying. Ziyi Corp memproduksi krystal ungu terbaik di dunia, dan Huan Ying adalah satu-satunya putri dari Ziyi Corp. Ayah tiba-tiba memasukkan kedua krystal ungu ke dalam gelas berisi wine. Lalu mengambil krystal ungu milik mereka dan menjelaskan keunggulannya. Ayah memberikan krystal itu pada Huan Ying, dan berkata jika ada sesuatu yang terjadi dengannya Huan Ying harus menjaga krystal itu yang berarti dia harus meneruskan Ziyi Corp.
Huan Ying protes, dia kan sudah bilang sebelumnya kalau dia tidak tertarik pada bisnis. Tidak peduli, ayah langsung meminta sekretarisnya untuk menuliskan apa yang dia katakan.

“Ye Huan Ying adalah satu-satunya orang di dunia yang aku cintai tanpa syarat. Demi putriku, aku akan membuat penawaran yang tidak bisa ditolak. Sahamku di perusahaan ini akan jatuh ke putriku Ye Huan Ying.”

Ayah lalu berkata ini bagian yang terpenting. Tulis dengan tinta merah.

“Putri keras kepalaku Ye Huan Ying. Kamu harus menemukan pria yang dapat dipercaya untuk dinikahi. Andaikan pernikahannya harus berakhir selama tiga tahun, Huan Ying harus menunjukkan padanya dia telah berubah, dan aku akan menyerahkan perusahaan ini untukmu.”

Huan Ying protes. Ayah melanjutkan, sebelum perusahaan ini diwariskan ke Huan Ying, pamannya akan mengambil alih.


Di rumahnya, Huan Ying mengingat ucapan ayahnya tadi. Pernikahan? Bukankah ayahnya selalu bilang kalau itu adalah kuburan dalam hidup. Sekarang ayahnya ingin dia pergi dan mati?
Huan Ying lalu mengangkat telepon dari manager yang memberitahu kalau Huan Ying terpilih jadi most photogenic actress. Awalnya Huan Ying malas mendengar itu, karena media selalu menaikkan mereka dan tiba-tiba menjatuhkannya. Tapi setelah telepon terputus Huan Ying langsung mengambil tabnya dan melihat berita itu. Dia sangat senang dan memuji dirinya sendiri yang terlihat sangat cantik. Moodnya pun berubah jelek saat melihat foto Xie Cheng. Dia langsung melempar tabnya kesal dan mengatai Xie Cheng jelek.


Esok harinya, Huan Ying serta manager menemui seorang pria yang memberitahu bahwa Han Yang Corp ingin mengundang Huan Ying sebagai pembicara mereka. Manager sangat antusias sekali, sementara Huan Ying pura-pura biasa saja untuk menjaga imagenya. Pria itu kemudian berkata bahwa ada satu syarat yaitu, Huan Ying harus berpartisipasi dalam program liburan spesial. Love Story International Version.

“Love Story? Bukankah itu reality show pernikahan pura-pura untuk pendatang baru? Kenapa aku harus melakukan ini?” Tanyanya tidak suka.

Si pria menjelaskan ini bukan hanya sekedar love story, tapi ini versi spesial International. Manager merasa itu bagus. Siapa partnernya?

“A big name. Superstar baru Asia, Yan Xie Cheng.” Jawab pria itu semangat.

Manager langsung menatap horror Huan Ying yang masih dengan ekspresi biasanya. Huan Ying kemudian bangkit sambil memakai kacamatanya. “Aku tidak akan melakukannya” Katanya memutuskan, lalu pergi begitu saja.


Tapi, pada akhirnya Huan Ying bersedia meskipun karena terpaksa. Karena kalau tidak semua kontraknya dengan Han Yang Corp akan dibatalkan. Huan Ying sudah berada di lokasi syuting reality show itu. Dia bersantai seorang diri sambil menikmati sepiring cake lezat. Tapi yang dia makan hanya buah cherry nya. Tak lama, Xie Cheng datang bergabung dengannya, dan meminta cake Huan Ying. Huan Ying menyodorkan cake itu yang langsung disantap oleh Xie Cheng. Bahkan dia juga meminum jus milik Huan Ying saat Huan Ying pura-pura menawarinya. HAHAHAH
Huan Ying membelalak tak percaya. Jika orang-orang melihat, mereka akan berpikir kalau dia dan Xie Cheng dekat. Xie Cheng berkata mereka memang dekat. Jangan lupa, mereka adalah pasangan yang sudah menikah.


Jengah mendengarnya, Huan Ying buru-buru pergi. Tak sengaja ia menyenggol ponsel Xie Cheng sampai terjatuh ke tanah. Diambilnya ponsel itu lalu melihat fotonya terpampang sebagai wallpaper. Huan Ying bertanya penasaran, kenapa fotonya dijadikan wallpaper? Apa karena Xie Cheng memandangi fotonya setiap malam dan mengutuknya? Xie Cheng hanya tersenyum sebagai jawaban. Lalu terdengar suara kru yang memanggil memberitahu mereka sudah siap. Sedangkan Huan Ying masih terpaku di tempatnya, tidak percaya.


Syuting dimulai dengan adegan Xie Cheng yang membasuh kaki Huan Ying. Xie Cheng melakukannya dengan sempurna. Bahkan saat sutradara mengcut, Xie Cheng tetap membasuh kaki Huan Ying, mengelapnya dan memakaikan sepatunya. Huan Yi ingin menolak tapi Xie Cheng dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya melakukan itu semua dengan sangat lembut. Sutradara saja sampai memerintahkan kameramen untk menyalakan kembali kamera mereka dan merekam momen romantis itu. Entahlah itu pura-pura atau tidak, tapi saat Xie Cheng menarik tangan Huan Ying untuk ditempelkan di dadanya, wajah Huan Ying berubah antara kaget plus gugup. Para kru yang melihat itu jadi senyum-senyum. Si ice beauty sudah mencair.


Huan Ying pun beranjak pergi, tapi baru saja melangkah Xie Cheng tiba-tiba memeluknya dari belakang. Para kru bertepuk tangan, senang melihat kedua insan itu yang mungkin saja berpacaran. Xie Cheng berbisik, “Aku menunggu shooting selesai. Tidak ada lagi shooting. Realiti dimulai sekarang. Dari saat aku melihatmu, aku jatuh cinta padamu. Aku tidak tahu itu, bahwa aku akan bertemu seorang wanita sempurna. Itulah kenapa aku melakukan hal-hal yang mengerikan.” Huan Ying tersenyum, dia senang mendengar pengakuan Xie Cheng.
Dan seorang kru yang mengucapkan terima kasih membuyarkan khayalan Huan Ying. Ya, itu semua hanya khayalannya. Dia memang berhenti melangkah, tapi bukan karena dipeluk melainkan mengkhayal HAHAHAHH.


Karena hal itu juga, dia menemui Xie Cheng, menanyakan kenapa Xie Cheng melakukan hal tadi (membasuh kaki sampai memakaikan sepatu). Kalau memang ada yang ingin Xie Cheng katakan, katakan saja karena dia tidak punya waktu untuk menebak. Xie Cheng lantas tertawa. Dia tidak percaya kalau Huan Ying akan jathu karena itu. Apa Huan Ying ingat apa yang dikatakannya tiga tahun lalu?

“Kau bilang ketika aku sudah belajar bagaimana caranya berakting sungguhan, itulah ketika kita harus bertemu lagi. Di script tidak ada dialog hanya situasi. Itu merupakan cara spesial dalam pembuatan film. Hanya improvisasi yang bisa menunjukkan kemampuan seorang actrees dan actor.”

“Improvisasi?”

“Kita berdua profesional. Sunbae, terimaksih untuk hari ini.” Kata Xie Cheng lalu pergi.


Huan Ying memanggilnya, “Apa mungkin debaran jantung juga improvisasi?” Setelah mengatakan itu Huan Ying berbalik pergi, tapi Xie Cheng menghentikannya. Dia berkata inilah waktu saat mereka bertemu lagi. Diambilnya check yang dulu pernah Huan Ying berikan. Dan dia membuangnya ke tanah, persis seperti yang Huan Ying lakukan dulu.

“Sweater yang aku pakai tiga tahun lalu dirajut oleh ibuku. Itu adalah brand yang unik namanya Warmth. Maaf mengatakan ini, Warmth tidak bisa dibeli dengan uangmu.”

Setetes air mata Huan Ying jatuh. “Tidak mungkin. Apakah Ice beauty kita sungguh menangis?” sindir Xie Cheng. Huan Ying menatap Xie Cheng penuh kebencian, tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia berbalik pergi.


Di salon, manager melihat berita tentang Huan Ying dan Xie Cheng yang menurut netizen sangat cocok. Huan Ying menegur, jangan pernah sebut nama itu di hadapannya.

Di tempat fitness, Xie Cheng tengah ditelepon Ren. Ren bertanya apa Xie Cheng sungguh tidak mau berakting dengan Huan Ying? Xie Cheng membantah, wanita itulah yang tidak mau berakting dengannya. Ren heran kenapa begitu, bukankah para actress di luar sana ingin berakting dengannya? Xie Cheng menjawab mungkin Huan Ying tidak berpikir begitu. Baginya, harga dirinya lebih penting.


Xie Cheng melanjutkan fitness nya. Tak lupa dia menanyakan kabar ayah yang sekarang sedang santai menikmati pemandangan sambil menjaga ternak mereka yang sekarang semakin banyak. Ayah benar-benar bahagia. Masa tuanya akan sangat baik. Begitu juga dengan ibu Xie Cheng yang sekarang sudah berubah menjadi ibu-ibu sosialita.

Suami Jia Ren, ganteng kan?? HEHEHEH
Di kantor agensi CEO Ren, dia membicarakan karir Xie Cheng yang terus meningkat. Bahkan film yang dibintanginya menduduki peringkat satu box office.

Sementara itu, di rumahnya, Jia Ren menyambut sang suami yang baru saja pulang. Tapi tanggapannya tidak begitu menyenangkan. Setelah suaminya pergi, Jia Ren bertekad dia akan mempertahankan pernikahan ini. Dia harus melindungi keluarganya, inilah satu-satunya cara untuk menebus masa lalunya.


Yong Jian ditelepon oleh paparazzi yang memotret Xie Cheng waktu itu. Dia berkata padanya untuk melakukannya. Buatlah sedramatic mungkin. Xie Cheng melakukan press con terkait karirnya yang semakin memuncak. Xie Cheng menjawab semua pertanyaan para reporter dengan ramah, hingga satu orang pria, yang merupakan paparazzi yang memotretnya dengan Jia Ren bertanya apa Xie Cheng lagi berkencan sekarang? Xie Cheng menjawab tidak. Paparazzi yang bernama Choi itu tidak percaya, dan kemudian dia menekan tombol remote. Lalu turunlah sebuah layar yang menampilkan foto Xie Cheng dengan Jia Ren yang tidak terlihat jelas di foto itu. Xie Cheng terkejut tidak percaya melihatnya. Sedangkan para reporter lain sibuk mengambil gambar itu.


*****

No comments:

Post a Comment