January 7, 2018

[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 1 - 2


Waen duduk sambil membaca e-mail yang masuk tanpa semangat sama sekali. Dungjai, temannya, yang duduk di belakang Waen, bertanya apa Waen sudah dapat issue? Waen mengeluh, e-mail yang dia dapat hanyalah pertanyaan yang berhubungan dengan anak-anak. Anak yang kena sakit ADHD, umur 10 tahun masih ngompol, menggoda cewek, dll. Kenapa anak-anak punya banyak sekali masalah sih? Dia tidak paham sama sekali. Semakin dia membaca, semakin dia menolak. Kenapa orang-orang ingin punya anak?
Dungjai berkomentar, dia pikir Waen hanya tidak ingin menikah. Apa dia juga membenci anak-anak? Waen berkata dia rasa begitu. Obrolan mereka terhenti karena Saitaan menelepon Waen. Saitaan mengajak Waen pergi ke suatu tempat dan dia akan menjemput Waen. Waen senang, dia juga mengajak Dungjai bersiap-siap untuk pergi.


Di sebuah wedding studio, Laising fokus dengan laptopnya sementara ada seorang pria yang memotretnya. Pria yang bernama Tha itu memuji Laising yang sangat tampan. Mereka kemudian mengobrol tentang dirinya yang akan menjadi saudar ipar Laising. Seorang wanita lalu datang menyuruh Tha pergi untuk menemui customer. Tha bahkan sempat mengejek Laising kalau wanita itu alias calon pacar Laising sudah memanggilnya. Ya, wanita itu, Khem, kelihatan memang menyukai Laising. Dia terus mencuri-curi pandang saat Laising memilih fokus dengan Laptopnya sambil menunggu klien mereka, Saitaan. Namun, Laising tampak biasa-biasa saja.


Ternyata Saitaan yang menjadi klien mereka, adalah teman Waen dan Dungjai. Mereka baru saja tiba di Wedding studio. Waen protes pada Saitaan. Dia kira Saitaan akan mengajaknya ke coffee shop. Minum kopi dan mengambil gambar2 yang keren. Kenapa dia malah dibawa kesini?
Taan berkata pacarnya tidak bisa datang, jadi merekalah yang akan menemaninya. Dia punya janji sama WO hanya sebentar saja. Waen tidak suka dibohongi seperti ini. Kalau dia tahu mau kesini, dia tidak akan ikut. Dungjai mencoba membujuk Waen kalau mereka hanya menemani Taan saja. Tapi Waen yang sudah terlanjur kesal berkata, “Aku tidak suka sesuatu yang berbau pasangan ataupun keluarga. Aku tidak suka pink. Aku benci bentuk hati. Aku benci perasaan ‘kita telah berjumpa, jadi jangan biarkan apaun memisahkan kita’. Bla… bla… bla. Ewww! So cheesy.” Ucapnya muak, lalu pergi tanpa memedulikan keduanya yang berteriak memanggil-manggilnya.


Taan dan Dungjai kemudian masuk ke dalam tanpa Waen. Begitu Dungjai melihat Laising dia langsung senyam-senyum terpesona HAHAHAH. Dan saat memperkenalkan dirinya pada Laising dia juga menambahkan kalau dia itu single wkwkwkw. Laising tertawa singkat lalu mulai menunjukkan referensi buket bunga pada Taan. Dan lagi-lagi Dungjai ambil kesempatan dengan ikutan menggeser laptop itu sambil memegang tangan Laising.
Taan mendekat dan berbisik pada Dungjai agar dia bersikap hormat. Sing adalah saudara dari kakak iparnya. Dungjai mesem-mesem dan merubah sikapnya HAHAHAHAH.


Waen pergi ke mall seorang diri. Dia lalu mendapat pesan Line dari Dungjai yang mengatakan kalau Laising itu sangat tampan. Paling tampan. Sungguh eye-catching. Dia menginginkannya. Saat yang lain sibuk dengan urusan wedding itu, Dungjai juga sibuk chat-an dengan Waen. Waen membalas agar Dungjai tenang. Jangan lebai. Emangnya siapa dia? Dungjai membalas kalau pria itu adalah orang yang mendekorasi bunga di pernikahannya Taan. Sayang sekali, Waen melewatkannya. Waen malas membalas pesan-pesan Dungjai lagi. Dia lalu melihat-lihat pakaian dan tertarik pada kemeja putih yang harganya 500 baht.


Si pramuniaga mengatakan baju itu diskon kalau dibeli sepasang. Harganya jadi 800 baht. Waen tidak mau, dia cuma ingin beli satu. Pramuniaga itu bilang kalau beli satu tidak ada diskon, lagian kasihan baju satunya lagi nanti kesepian. Apa Waen tidak takut bajunya akan kesepian nanti? Waen tercengang, dalam hatinya dia berkata kesal ‘kesepian apanya? Itu cuma baju!’.
“Jadi, aku putuskan untuk membiarkan mereka disini dan berbahagia bersama. Ada banyak, jadi mereka tidak akan pernah kesepian.” Ucap Waen tak jadi membeli. HAAHHAHAH


Dan begitulah seterusnya, semua tempat yang didatangi Waen lebih men-spesialkan pasangan daripada orang yang single. Bahkan saat dia ingin beli minum pun, minuman itu dijual untuk couple dengan sedotan dempet yang ada bentuk love di tengahnya. Jadilah Waen menikmati minuman couple itu sendirian HAHAHAHHA. Disaat sedang kesal-kesalnya minum, seseorang bernama Sathu menelepon Waen. Pria yang bernama Sathu itu mengajak Waen ketemuan. Waen mengiyakan tapi setelah dia pulang bekerja.


Laising baru sampai rumah, ketika adik perempuannya, Kaew, ingin pergi keluar. Dia ingin bertemu teman-temannya, malas mendengarkan omelan ayah nanti. Laising kemudian bergabung bersama keluarganya di meja makan. Kakak ipar Laising, Fah, bertanya tentang Taan. Apa dia pemilih? Laising berkata tidak sama sekali. Sangat senang mengobrol dengan adiknya Fah. Dia juga punya ide yang bagus. Dan Fah tidak usah khawatir. Dia akan all out saat wedding nanti.


Ayah Lasing kemudian menyinggung soal bunga yang Laising letakkan di vase di tempat beribadah. Dia lebih suka bunga teratai, bukan bunga yang Laising letakkan kemarin. Dan keluhan itu pun berlanjut sampai ke masalah pekerjaan (Laising lebih memilih bekerja di toko bunganya daripada perusahaan ayahnya) dan pacar. Kapan Laising akan menumakan pacar? Ting, keponakan Laising, membela kalau saat workshop ada banyak cewek cantik kok disana.

Abang Laising, Kaobin, pun bertanya apa Laising sudah menemukan satu diantara mereka? Laising menggeleng. Dan gelengan itu langsung disambut teguran dari ayah Sing lagi.

“Sing, kenapa kamu begitu pemilih? Kamu sudah semakin dekat umur 30. Kita semua harus menikah.”

“Yah, aku tidak mau cepat-cepat. Bahkan umur 40 aku baik-baik saja.”

“Kamu 40, dan Ayah 70 tahun. Mungkin Ayah mati duluan sebelum kamu menikah.”

Hahahaha, Ting dan yang lain hanya senyum-senyum mendengar teguran kakeknya itu. Laising mencoba membuat mereka mengerti. Dia baik-baik saja hidup seperti ini. Jadi, dia bisa mencaga cucu-cucu ayah. Tidak perlu dengan anaknya. Kaobin menyahut, akan lebih baik baik kalau Laising memiliki keluarganya sendiri. Dia akan belajar untuk memimpin dan bertanggung jawab. Hidup Laising mungkin akan lebih sempurna. Ayah juga menambahi kalau dia ingin lebih banyak anak-anak lagi. Rumah akan terasa semakin hidup. Dan jika mereka besar, mereka bisa saling membantu. Ting juga ikutan, dia menyarankan agar Laising pacaran saja ditahun ini, lalu menikah tahun depan, dan punya anak secepatnya. Laising menoleh ke arah Ting. Dia menyuruh keponakan tersayangnya itu untuk diam dan makan saja. Lagipula, Ting juga akan mendapatkannya (omelan).


Lalu keluarlah Dao, kakak perempuan Laising. Dia meminta maaf karena terlambat. Anaknya, Tuktik sedang diare. Ayah bertanya apa mereka perlu membawanya ke dokter? Dao mengatakan tidak perlu, anaknya tidak separah itu kok. Ayah lalu menanyakan Sathu, dimana dia? Dao mengatakan dia tidak tahu, tapi dia bilang akan pulang. Ayah langsung menegur, telpon saja. Berhenti menghayalkan sesuatu. Mungkin Sathu lagi sibuk. Jadi mereka tidak akan menungu. Apa dia harus mengatakan segalanya? Detik itu juga Dao menelepon Sathu, suaminya. Sepertinya Ayah Laising adalah tipe orang yang mengurusi semuanya, bahkan sampai hal kecil sekalipun. Termasuk urusan rumah tangga anak-anaknya.


Sementara itu, orang yang ditunggu-tunggu sedang asyik menikmati hidangan di sebuah restoran bersama Waen. Waen melihat ponsel Sathu berbunyi, dari Dao, istrinya. Waen menyuruh Sathu mengangkatnya, setidaknya dia harus bilang apa yang dia lakukan sekarang pada Dao. Sathu tidak mau. Dia tidak ingin memikirkan orang lain sekarang. Dia lalu bertanya apa Waen punya sesuatu yang lucu untuk diceritakan? Sesuatu yang menghibur tentang hari baru Waen misalnya? Waen mengatakan itu tidak menghibur sama sekali. Dia akan cerita tentang seorang bocah yang bernama “Gong Yoo”. Baru saja Waen mulai menceritakan kenakalan bocah itu, lagi-lagi Dao menelepon. Waen menyuruh Sathu mengangkatnya, tapi Sathu langsung menon-aktifkan ponselnya.


Di rumah, Dao harus menahan kesal di depan keluarganya, karena Sathu tidak menjawab panggilanya. Kali ini Dao lah yang mendapat ceramah dari ayah agar dia lebih memperhatikan Sathu lagi, bukan hanya anaknya. Lihatlah Fah, dia bisa menyeimbangkan pekerjaan dan merawat keluarga. Dao mengiyakan singkat. Ayah bahkan membangga-banggakan Kaobin dan Fah di depan mereka semua. Membuat Dao risih dan pura-pura tersenyum.

No comments:

Post a Comment