[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 2 - 1


Waen dan Laising menatap satu sama lain. Mereka masih belum sadar akan posisi mereka dan pandangan orang-orang yang penuh tanda tanya. Dungjai langsung berlari ke tengah halaman. Dengan begitu heboh dia mengatakan kalau Waen adalah temannya. Dia meminta Waen berdiri. Tapi Waen dan Laising hanya terdiam bingung. Fon bahkan menyemangati Waen dan begitu juga dengan keluarga Laising. Terutama ayahnya yang heboh menyuruh Laising cepat berdiri dan maju ke depan. Saling pandang beberapa saat, keduanya bergerak bangkit diiringi tepuk tangan dari seluruh tamu.


Namun, yang terjadi selanjutnya adalah mereka oper-operan bouquet bunga itu sampai lempar-lemparan karena tidak mau mendapatkannya. Padahal bouquet nya cantik, loh. Semua pada mengernyit bingung, apalagi saat Waen yang dengan kesalnya melemparkan bouquet itu ke dada Laising lalu kabur begitu saja. Dan tak lama kemudian, Laising juga kabur menyusul Waen, tanpa peduli dengan Dungjai dan Ayahnya yang sudah marah-marah. HAHAHAHHA ada-ada aja.


Berhasil mengejar Waen, Laising langsung menyodorkan bunga itu padanya. Waen tidak mau, kan itu punya Laising. Mereka pun berdebat tentang siapa yang menangkap bouquet itu duluan. Laising benar-benar tidak percaya dengan Waen, bukankah semua wanita ingin mendapatkan bouquet ini? Tak kunjung mendapat penyelesaian, akhirnya Laising memutuskan untuk membagi dua bouqet itu. Satu untuknya dan satu lagi untuk Waen. Waen tidak bisa menolak lagi, dia lalu pergi meninggalkan pesta.
Setelah sampai di parkiran, Waen melemparkan setengah bouquetnya begitu saja di bagasi mobilnya yang sudah penuh sesak. Dia kemudian mengirim pesan pada Dungjai, mengatakan dia akan menunggu Dungjai.


Waen dan Nuan sama-sama kesal. Bedanya Nuan kesal karena tidak mendapatkan bouquet itu. Dia yang lagi jalan berdua dengan Piak mengomel panjang lebar kenapa tadi dia gagal mendapatkannya, padahal dia sudah berlatih bertahun-tahun. Piak hanya tertawa lebar menanggapinya.
Laising yang kebetulan mendengar semua omelan Nuan tadi, berjalan menghampirinya dan menyodorkan bouquet itu untuk Nuan. Nuan langsung mengubah gayanya menjadi sok anggun.

“Apa ini? Please, jangan bilang kalau kamu mulai melihat kita sebagai soulmates?” Tanyanya percaya diri.

“Kau serius?” Ejek Piak.

Laising meminta Nuan melihat dengan jelas. Ini adalah bouquet pengantin. Wanita tadi tidak menginginkannya, jadi dia putuskan untuk dibagi dua saja. Bukannya Nuan mau ini? Saat si pengantin tadi melempar bouquet nya, dia lihat Nuan benar-benar menginginkannya. Laising bahkan memeragakan gaya Nuan saat melompat ingin mendapatkan bouquet tadi. Tanpa menunggu jawaban Nuan, Laising langsung menaruh bouquet itu dalam genggaman Nuan, membuat Nuan tersipu malu. HHAHAHHA



Tak lama Ting datang. Dia menarik tangan Laising untuk merangkul bahunya, lalu melepaskannya kembali. Ya, dia memeragakan bagaimana kejadian Laising dan Waen tadi, yang sudah seperti drama saja.

“Dia cute. Siapa namanya?” Tanya Ting penasaran.

“Aku tidak tahu.” Jawab Laising jujur.

Ting tidak percaya. Tadi dia lihat Laising langsung lari mengejarnya. Apa pamannya ini terlalu malu untuk bertanya padanya? Atau pamannya mau dia yang bertanya pada wanita tadi?

“No. That’s okay.” Jawab Laising langsung.

Ting berusaha membujuk Laising. Dia mengatakan kalau kakek ingin mereka berdua (Laising dan Waen) menjadi sepasang kekasih. Laising harus membuka hatinya.

“Pergi bilang ke kakekmu, tidak akan ada, dan lupakanlah tentang itu.” Suruh Laising.

“Paman bilang sendiri. Aku terlalu takut, kakek bisa ngamuk.” Jawab Ting.

“Jangan khawatir. Dia tidak akan memarahimu. Tapi kalau aku, dia akan marah.”


Lalu terdengarlah suara Dungjai ke seluruh tempat, yang mengatakan mereka pasti sangat malu untuk kembali. Maka dari itu acara pun akan dilanjut. Jika ada yang ingin tahu siapa wanita tadi bisa mengontaknya secara langsung. Dan untuk si pria, maaf karena Dungjai mengaku itu adalah miliknya. HAHAHAH. Acara berlanjut ke lantai dansa. Ting berkata terserah Laising mau bilang apa ke kakek. Dia lalu menggamit tangan Piak dan Nuan, mengajaknya berdansa. Piak berkata dia ingin sekali pergi, tapi dia tidak mau meninggalkan seorang wanita tua sendirian (Nuan). Dia mungkin saja menjadi beban di masyarakat. Terus, bagaimana jika dia lagi ngisi pot dan tiba-tiba pingsan lalu mati? Siapa yang akan menyiapkan pemakamannya? HAHAHAHHA, Nuan pun berkata itu tandanya Piak sudah memilihnya. Nuan dan Piak pun berjoget-joget di halaman.


Di tempat dansa, Ting sibuk memotret momen-momen keceriaan itu. Bersama kedua pengantin dan juga Dungjai. Sementara itu Kaew tengah bersama Jay. Sikap dingin Kaew ke Jay jelas sekali terlihat. Kaobin membawa Tungtay mengambil biskuit. Setelah itu dia menyuruh Tungtay yang masih kecil itu untuk kembali ke kakeknya. Sedangkan dia sengaja tetap disana untuk mengobrol dengan wanita yang ditemuinya waktu itu. Wanita itu memuji anak Kaobin yang sangat tampan. Kaobin bertanya penasaran apa si wanita mengenalnya? Wanita itu bilang semua orang pasti mengenal Kobin, keluarganya kan sering muncul di majalah.

“Aku tidak tahu kalau kamu ada hubungan keluarga dengan pengantin perempuannya. Aku adalah teman dari pengantin pria.” Ucap Wanita itu memperkenalkan diri.

“Oh, senang bertemu denganmu. Apa kamu sudah punya pengantin pria (menikah)?” Tanya Kaobin.
“Aku masih mencari.”

“Bagaimana dengan seseorang yang ada di depanmu?” Rayu Kaobin.


Kaobin asyik tebar pesona dengan wanita itu, disaat keluarganya tengah makan bersama dan Fah yang terus melihat ke sekeliling karena melihat suaminya itu belum muncul juga. Karena anak-anak sudah kelihatan lelah, Ayah pun mengajak mereka pulang. Fah dan Dao lantas mencari suami-suami mereka yang menghilang. Wajah Fah menggeram saat melihat suaminya asyik mengobrol dengan wanita tadi. Dipasangnya senyum pura-pura lalu menggandeng tangan Kaobin di depan wanita itu, dan mengajak Kaobin pulang karena anak-anak sudah mengantuk. Wanita tadi mengucapkan salam pada keduanya dengan sopan. Tapi Fah yang kesal berkata, dia tidak ingin mengenal si wanita, jadi jangan bicara padanya. Setelah hampir sampai di meja mereka, keduanya sempat berdebat kecil tentang si wanita tadi.


Dao mencoba menghubungi Sathu, namun panggilannya tidak di jawab sama sekali. Waen yang sudah bosan menunggu Dungjai akhirnya kembali lagi ke tempat pesta. Saat dia sampai di ruang dansa, dia melihat Dungjai yang asyik berfoto ria bersama Ting dan yang lain. Thu, fotografer diacara inilah yang berbaik hati untuk mengambil gambar mereka dengan ponsel Ting. Diam-diam dia juga memotret Ting dengan kameranya.Waen berulangkali memanggil Dung, tapi Dung tetap tidak mendengar saking asyiknya berjoget. Kesal, dia pun pergi. 


Ketika akan memasuki mobilnya, Sathu muncul menanyakan apa dia mau pulang? Waen berbalik dan menghampiri Sathu. Sathu memintanya tinggal sebentar lagi. Diapun membahas masalah tadi. Saat Waen menatap Laising. Jadi, kenapa mereka tidak tukaran nomor telepon dan line?

“Aku bukan sepertimu. Aku tidak suka apa yang kamu katakan.” Kata Waen frontal.

“Apa kamu menghinaku?”

“Sedikit.”

Sathu semakin menggoda Waen, sebelum ponsel Sathu bergetar. Panggilan masuk dari Dao. Waen menyuruhnya cepat kembali sebelum Dao marah, dia juga akan pulang. Setelah Sathu pergi, Waen mencoba menghubungi Dungjai sekali lagi, tapi tidak diangkat. Akhirnya Waen pun pulang, meninggalkan Dungjai.


Sathu menemui Dao yang sudah kesal setengah mati. Lagi-lagi mereka bertengkar karena Dao curiga pada Sathu yang belum mau pulang karena ingin menemui wanita lain, bukan teman-temannya. Walaupun Sathu membantahnya, Dao tetap tidak percaya. Sathu meminta kunci mobil. Dao mengeluarkan kunci mobil dari dompetnya lalu mengangkatnya tinggi, dan tiba-tiba dia menjatuhkan kunci itu ke dalam sayur sop. Dia menantang Sathu agar mengambil kunci itu. Tanpa memedulikan pandangan orang-orang yang sudah tertuju kearah mereka, Sathu segera mengambil kuncinya beserta sayur sop itu. Dan tanpa diduga ia menaruh sayur yang ada di genggamannya ke bahu Dao.

“Bagaimana, apa kamu suka? Ini, pakai topping nya juga.” Ucap Sathu menabur daun seledri ke bahu Dao. “Kau mengganggu.” Katanya kemudian, lalu pergi. Meninggalkan Dao yang menangis. Huh, keterlaluan banget tuh si Sathu.


Laising bersama Nuan dan Piak sedang membereskan bunga-bunga. Tiba-tiba Nuan mengaduh kesakitan sambil memegang pinggangnya. Laising dan Piak tertawa. Piak berkata, itu pasti karena berjoget tadi. Dia tidak terkejut sama sekali, nenek.

“Nenek? Nenek ayahmu.” Kesal Nuan, yang malah membuat Sing dan Piak semakin tertawa.

Nuan menegur Sing. Seharusnya dia melindunginya, bukannya malah ketawa. Laising tidak menanggapi ocehan Nuan itu. Dia menyuruh Piak memuat bunga-bunga ini dan membawanya kembali ke toko. Tidak perlu menatanya, mereka akan melakukannya besok. Nuan menawarkan bantuan pada Piak. Tapi Piak malah mengatainya lagi dan menyuruhnya pulang saja. HAHHAHAH


Saat Laising akan masuk ke dalam untuk mengambil makanan, dilihatnya Dao keluar dengan baju yang kotor karena kuah sop tadi, juga daun seledri yang masih menempel di kulitnya. Laising menarik tangan Dao. Dia melihat Dao menangis. Dengan khawatir dia bertanya apa mereka bertengkar lagi? Dao tidak bisa cerita sekarang, dia lalu pergi meninggalkan pesta.


Fah dan Kaobin sudah menidurkan dua anak mereka. Tiba-tiba Kaobin seperti mencari-cari sesuatu yang ternyata adalah ponselnya. Dia rasa ponselnya tertiggal di tempat pesta tadi. Ayah yang juga ada disana, meminta Kaobin cepat mencarinya. Tapi Fah menuyuruh Kaobin minta Sing saja yang mencarikan. Lagipula Sing masih ada di tempat pesta. Keduanya sempat berdebat, sebelum Ayah menyuruh Kaobin saja yang pergi. Fah harus menahan kesal, dia curiga pada suaminya itu.


Dan kecurigaan Fah benar adanya. Kaobin berpura-pura mengatakan ponselnya ketinggalan di tempat pesta agar dia punya alasan untuk pergi dengan wanita tadi. Dia juga menghubungi wanita itu dengan ponsel yang berbeda. Mereka pergi menuju ke sebuah apartemen. Karena Kaobin akan menemani wanita itu untuk mencari apartemen.
Fah sudah lima kali menghubungi nomor Kaobin. Kaobin sengaja tidak mengangkatnya. Fah yang berpikir ponsel suaminya benar-benar ketinggalan, akhirnya menelepon Sing minta tolong untuk mencarikan ponsel Kaobin. 


Sing yang lagi mengantri mengambil makanan pun mengiyakannya. Tak lama Dungjai datang. Ia nampak agak risih dengan si Dungjai yang kemayu itu HAHAHHA. Sing lalu beralasan kalau antriannya panjang dan beralih ke meja lain. Namun, Dungjai tetap mengikutinya. Dia lalu menanyakan bouquet yang didapat Sing tadi. Apa dia memberikannya pada temannya? Sing berkata dia membaginya. Awalnya wanita itu tidak mau, tapi setelah berdebat lama, dia berhasil membujuknya.

“Ya, itulah Waen,” Komentar Dungjai. “Dia tidak percaya pada hubungan. Dia suka jadi single. Dia bilang itu lebih mudah untuknya. Sebenarnya, banyak pria yang mengajaknya kencan. Tapi dia tidak suka satupun. Mungkin, dia tidak suka laki-laki. Tapi aku… Aku suka laki-laki.” Dungjai tersenyum malu mengakui dirinya.

“Aku juga berpikir begitu.” Jawab Sing sambil tersenyum.

Dungjai langsung melotot tak percaya. Sing yang sadar dengan jawaban ambigunya pun meralat kalau maksud dia tadi dia berpikiran sama dengan Waen, bukan tentang dia yang juga suka laki-laki. HAHAHHAH, wajah Dungjai cemberut seketika.

“Jadi, apa kamu menyukainya? Kalau iya, aku bisa menghubunginya untukmu.” Kata Dungjai patah hati.

Wajah Dungjai kembali berseri saat Sing mengatakan dia tidak menyukai Waen. “Apa kamu tidak menyukai wanita? Apa kamu menyukaiku?” Tanya Dungjai langsung, wkwkwkkwkw. Dia bahkan menyelipkan bunga yang ada di sakunya ke saku Sing, setelah sebelumnya dia mengecup bunga itu. Sing jadi geli, dengan agak takut-takut dia mengembalikan bunga itu ke saku Dungjai dan pergi mengambil minuman. Nafsu makannya hilang karena melihat Dungjai HAHAHHAHA.


Sing belum terbebas, karena Dungjai tetap mengikutinya. Dia menawarkan minuman alkohol pada Sing saat Sing lebih memilih minum Roselle Juice. Sing hanya memegang gelas pemberian Dungjai lalu mengembalikan minuman itu padanya. Dia permisi ke toilet dulu. Dungjai mengangguk. Ia berpesan jangan lama-lama, dia akan merindukan Sing. HAHHAHAHAHH
Dan ternyata, Sing bukan ke toilet tapi pulang ke rumahnya. Malas meladeni si Dungjai. WKWKWKKW

No comments:

Post a Comment