[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 5 - 1


Ayah Sing terkejut begitu melihat Dung ada di kamar Sing apalagi cuma pakai handuk yang sempat melorot. Ayah bertanya siapa Dung pada Sing. Sing pun menjelaskan dengan wajah gugup. Patyod akhirnya ingat siapa Dung, dia bertanya seolah meyakinkan kalau Dung itu gay kan? Dung hanya cengengesan mendengarnya.


Ketika Sing ingin mengambilkan baju ganti untuk Dung di lemari, dia spontan menjerit melihat Waen ada di dalam. Sing langsung menutup lemari itu cepat sampai kening Waen sakit dan dia pura-pura menggesek penggungnya di lemari itu, gatal. Namun, teriakannya tadi malah membuat Patyod curiga. Apa jangan-jangan ada orang lain lagi? Patyod benar-benar tak menyangka dengan kelakuan anaknya ini.


Dengan paksaan dan tarik-tarikan pintu lemari, Patyod berhasil membuka pintu lemari itu, tapi dia tidak melihat ada siapapun. Hanya baju-baju Sing yang berantakan. Patyod mengusap-usap kepalanya, dia benar-benar frustasi. Dan sebelum keluar dia bertanya sekali lagi pada Dung, apa Dung beneran Gay? HAHAHHAHA, Lagi-lagi hanya senyum yang bisa diberikan Dung. Namun, setelah Patyod keluar wajahnya berubah kesal, dia merengek-rengek sambil melihat tubuhnya seolah sudah ternodai Wkwkwkwkkw.


Diluar, Patyod kembali bertanya tentang Dung. Dia tadi beneran cuma numpang mandi, kan? Sing mengiyakannya. Dia itu gay, kan? Sing mengiyakan lagi lalu bertanya kenapa. Patyod ternyata melihat pada malam pesta pernikahan Taan Dung tengah menggoda Sing, makanya dia sedikit was-was. Tak lama si Dung muncul, di bersikap sangat sopan dengan Patyod, bahkan memanggilnya Ayah, membuat Patyod jadi makin curiga dengan mereka berdua HAHAHAH.


Setelah Dung dan Ayahnya pergi, Sing buru-buru kembali ke kamarnya untuk mengeluarkan Waen yang masih sembunyi di lemari. Waen mengaduh kesakitan sambil memegang keningnya. Dengan perhatian Sing mengecek kening Waen, bertanya apakah itu sakit? Waen mengangguk, tapi kalau tidak berdarah tidak apa-apa. Sing meminta maaf, dia refleks menutup pintu lemari karena dia panik.
Sing pun menceritakan kejadian tadi. Ayahnya sekarang curiga padanya karena melihat Dung ada di kamarnya dengan kondisi hampir naked. Waen tertawa terbahak-bahak terlebih melihat Sing yang memperagakan ekspresi ayahnya. Waen bertanya menggoda apa Sing beneran suka pada Dung? Dia bisa mengontak Dung untuk Sing. Tak usah malau-malu, ikuti saja kata hati Sing. HAHAHAHHA


Setelah Waen puas tertawa, mereka kemudian balik ke acara Lovely Family. Namun, Sing melarang Waen balik dari depan karena mungkin saja Ayahnya akan melihat dia. Waen berkata sambil menahan tawa, setelah apa yang terjadi tadi dia rasa dia akan baik-baik saja. Sekarang Sing bisa bilang pada ayahnya kalau dia suka pria, bukan wanita. Jadi, dia akan aman wkwkwkwkw.
Sing menuntun Waen berjalan ke pagar-pagar di samping toko bunganya.Ternyata disana ada sebuah celah kecil yang biasa digunakan Cookie untuk pergi ke Lovely Family. Sing menyuruh Waen keluar melalui celah itu, ukuran Waen kan sama dengan Cookie HAHAHAH.
Waen kesal, jadi Sing mengatainya anjing? Sing membalas Waen juga mengatainya gay tadi. Kemudian Waen pun keluar melalui celah itu.


Sing mengucapkan terima kasih kepada para peserta sebagai tanda berakhirnya acara. Patyod langsung menarik Sing menuju tempat Waen berada. Awalnya cuma bicara basa-basi, tapi setelahnya Patyod meminta Waen dan Sing agar saling mengenal. Hahahah Ayah Sing pantang menyerah banget.


Ketika Fon datang dan menanyakan soal kening Waen, disitulah Waen punya kesempatan untuk pergi menghindar, namun dia malah bertemu Dung yang marah padanya. Dung kesal, tega sekali Waen meninggalkannya. Sing sudah melihat semuanya.

“Tidak, dia tidak melihat. Tapi ayahnya yang melihat.” Jawab Waen tertawa

Dung mengancam akan memukul Waen, teman macam apa Waen ini? Tega sekali dia meninggalkannya untuk menghadapi mereka semua. “Oh My God! Bagaimana bisa aku menghadapinya setelah itu? Aku beneran marah padamu Waen!” Ucap Dung mendramatisir.
Waen meminta maaf, dia tidak tahu harus melakukan apa, itu semua refleks. Dung masih kesal apalagi tadi dia tidak pakai bra. Waen menyahut memang Dung biasanya tidak pakai bra, HAHAHHAH.


Melihat Waen dan Dung asyik mengobrol, Patyod langsung mendorong Sing agar bicara dengan Waen. Waen bertanya mengintrogasi, kali ini apa yang ayah Sing ingin ketahui tentangnya? Ulang tahunnya atau tahun kelahirannya? Sing menampik. Dia hanya ingin bertanya tentang rencana mereka. Mereka kan masih belum memutuskan. Dung yang malu pada Sing memilih pergi, tapi Waen menahannya. Dia meminta Dung menemaninya karena semua orang tengah memperhatikan dia dan Sing.

Waen meminta agar ngobrolnya nanti saja, ini bukanlah waktu yang tepat. Dung mengusulkan agar mereka berdua teleponan, tapi Sing dan Waen menggeleng, mereka tidak punya nomor masing-masing. Dung heran, jadi bagaimana cara mereka berhubungan selama ini? Melalui merpati? HAHAHAHH.


Sing pun meminta nomor Waen, tapi Waen tidak mau karena merasa Sing mau pdkt padanya. Ingin balas dendam, Dung langsung menyebutkan nomor Waen dan panggilan dari Sing pun masuk di ponselnya HAHAHAH. Dung puas, Waen tidak bisa berkutik. Sedangkan Patyod, Fon, dan Nuan yang sedari tadi memperhatikan langsung tersenyum senang.


Setelah makan malam, Patyod bicara serius pada Kaobin dan Fah. Ia mengatakan alasan kenapa Sing tidak punya pacar adalah karena dia tidak menyukai perempuan. Kaobin merasa lucu mendengarnya. Patyod pun menceritakan soal kejadian Dung tadi siang. Kaobin dan Fah kompak berteriak, APAAA? Mereka tidak percaya kalau Sing begitu, meskipun Sing suka bunga bukan berarti dia suka laki-laki. Patyod menceritakan bahwa setelah kejadian itu dia menyuruh Sing meminta nomor Waen tapi apa Sing malah meminta nomor Dung. HAHAHAH Ayah Sing salah paham dia pikir yang disebutkan Dung tadi adalah nomornya, padahal kan nomor Waen.

Karena itu Patyod bertekad untuk mencarikan Sing pacar agar Sing tidak menjadi gay, dan satu-satunya kesempatan mereka adalah Waen. Patyod bahkan memaksa mereka semua untuk membantu termasuk Fon, Wkwkwkwkkwkw.


Sing menemui Dao yang masih stress memikirkan masalahnya. Dao berpikir meskipun mereka menikah karena MBA, hidup mereka akan baik-baik saja. Dia pikir Sathu mencintai anaknya karena tidak menyuruhnya aborsi, tapi malah jadi seperti ini. Dia rasa mereka butuh waktu. Mungkin mereka menikah terlalu cepat. Bahkan mereka bersama tidak sampai setahun. Sing berkata itu bukan masalah waktu tapi cinta. Ada kok pasangan yang bertemu hanya sebentar lalu menikah dan langgeng. Dao berkata itu benar. Hanya saja sekarang dia tidak tahu bagaimana perasaannya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sing mengusap kepala Dao, mengatakan agar dia tenang dan jangan terlalu stress memikirkan ini.


Waen lagi ngemil di kamarnya dengan bungkus-bungkus snack yang sudah bertebaran di tempat tidur. Tak lama Sing menelepon. Dia bertanya apa dia mengganggu Waen. Waen menjawab kalau Sing cuma mau flirting dan ngobrol tidak jelas maka iya. Jika masalah bisnis dia akan bicara. Sing langsung membahas soal Thu. Dia kembali bertanya soal hubungan Thu dengannya. Apa Thu mencintainya? Waen menjawab tidak. Itu tidak akan mungkin terjadi, lagian Thu bukan tipenya. Menurut Waen, Sathu mungkin tidak mencintai Dao lagi terlihat dari mereka yang setiap hari berantem, dan Sathu selalu mengeluhkan tentang itu. Dia rasa perceraian lebih baik daripada hidup seperti itu. Obrolan mereka pun berlanjut sambil sesekali bercanda namun masih tetap membahas masalah Dao dan Thu. Dan untuk pertama kalinya mereka bisa mengobrol dengan santai serta saling bertukar pikiran. Bahkan Waen bilang Sing bisa menghubunginya jika dia ingin bicara. Tidak ada nada kesal dan cuek seperti apa yang dia lakukan selama ini.

No comments:

Post a Comment