January 24, 2018

[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 7 - 1


“Nenek” Ucap Waen terkejut, mendapati neneknya tengah memergoki dirinya berpelukan bersama Sing, meskipun nyatanya tidak begitu. Sing yang juga kaget sampai lupa melepas pelukannya, hingga Waen harus memukulnya dulu.

Waen mengenalkan kalau wanita yang ada di depannya itu adalah neneknya dan yang di belakang adalah orangtuanya. Nenek dengan wajah sangarnya menuntut penjelasan siapa dirinya? Kenapa main peluk-peluk cucunya? Sing mengatakan bahwa ini tidak seperti yang nenek pikirkan. Mereka hanya bercanda. Bercanda? Emosi nenek sudah di ubun-ubun, dia langsung mengeluarkan stun gun (alat kejut listrik) dari dalam tas dan menodongkannya pada Sing. Nenek berpikir kalau Sing adalah orang yang sudah membuat Waen menangis. Alhasil nenek pun kejar-kejaran dengan Sing sampai Sing harus bersembunyi di belakang Waen HAHHAHAHHAH. Serem amat sih neneknya Waen LOL
Sing pun menjelaskan pada neneknya kalau ini karena Waen yang menantangnya duluan dengan menyuruh teman gay nya bermain dengannya. Nenek bertanya pada Waen apa benar? Waen mengangguk takut-takut. Nenek dan orangtua Waen pun menyalahkan Waen yang memang salah itu.



Setelah nama Sing bersih dan urusannya beres dia langsung pergi dengan mengucapkan salam sopan. Keluarga Waen juga sudah ada di dalam kantor Waen. Sang ibu bertanya siapa pria tadi. Kenapa mereka peluk-peluk? Mereka seperti teman dekat. Waen membantah, mereka hanya teman kerja. Teman kerja? Tapi bisa memeluk? Lalu dimana dia kerja? Siapa dia? Dimana dia tinggal? kapan mereka bertemu? Waen dibuat gelagapan dengan pertanyaan beruntun ibunya. Waen pun menjawab kalau pria tadi punya toko bunga di dekat kantornya. Namun, kedua orang tua Waen masih tidak percaya. Untunglah si nenek mengerti dan membuat kedua orangtua Waen paham dengan kondisi tadi.


Akhirnya nenek dan orangtua Waen pulang ke apartemen Waen. Di depan, mereka bertemu dengan Tomtong. Ibu Waen lalu menghentikan Tomtong dan bertanya apa dia mengenal Waen? Tomtong menjawab dia mengenal Waen, Waen teman kerjanya. Ibu pun mengorek informasi hubungan antara Sing dan Waen dari Tumtong yang jelas tukang gossip itu.


Waen langsung ke meja Dung dan mengomelinya atas kejadian tadi. Dung juga marah dan balas mengomeli Waen karena peristiwa ‘handuk’ itu yang sampai sekarang masih belum bisa dilupakannya HAHHHAHAH. Waen jadi tidak enak, dia pun berkata kalau begitu mereka impas.

Dia lalu cerita soal Sing yang sudah balas dendam padanya dengan cara memeluknya di depan umum. Dung terkejut, berarti orang-orang pada ngelihat dong? Waen mengiyakan, tapi masalahnya bukan itu. Kalau orang lain yang melihat maka mereka pasti akan lupa, tapi ini kedua orangtuanya dan neneknya melihat itu juga. Parahnya mereka tidak mengerti masalah ini. Ini semua salah Dung yang telah menimbulkan masalah untuknya.


Tepat saat itu Tumtong datang mengganggu mereka. Waen yang moodnya lagi buruk meminta Tumtong mengurusi urusannya sendiri. Jangan urusi urusan orang lain! Lagian Tumtong kenapa baru datang, sekalian saja datangnya besok. Tak lama Fon menghampiri mereka. Dia berkata Tumtong sudah izin datang terlambat. Waen tidak terima, kenapa Tumtong bisa datang terlambat dan Fon tidak mengatakan apapun? Fon berkata itu karena ada acara di sekolahnya Gong Yoo yang mengharuskan orangtua untuk ikut. Mendengar itu, Tumtong lantas mengejek dan menyindir Waen.

Fon meminta Tumtong tidak menambah keruh suasana. Dia kemudian bertanya soal project Wedding. Bagaimana? Apakah Waen sudah melakukan interview? Waen menggeleng. Fon menyuruh Waen menginterview Sing untuk yang pertama, karena dia yang paling mudah. Waen menolak, bisakah dia menginterview Sing terakhir saja? Fon tidak mau, dia tetap menyuruh Sing yang pertama. Waen pun mengangguk pasrah. Setelah Fon pergi, lagi-lagi Tumtong mengejek dan menyindir Waen. Dia puas kali ini melihat Waen yang tidak bisa membalasnya.


Di toko, Sing lagi merangkai karangan bunga untuk orang meninggal. Nuan yang baru datang bersama Piak bertanya bunga itu untuk siapa? Piak langsung menjawab untuk Nuan HAHAHHA. Nuan membalas sambil tersenyum, “Tidak sakit. Aku sudah biasa” dan Piak membalas kalau dia sudah mati rasa LOL.

Tak lama, Patyod datang ke toko bunga. Dia ingin bicara dengan Sing. Nuan lantas bertanya apa bicara serius? Haruskah mereka pergi? Patyod menjawab ini serius, tapi mereka tetap disini saja.

“Ayah akan bertanya langsung. Jawab ayah sebagai seorang pria. Apapun jawabannya, ayah bisa terima.”

“Apa itu, yah?”

“Sing, apa kau gay?”


Sing tak percaya ayahnya bertanya begitu? Apa maksudnya, apa ayahnya bercanda? Ayah mengatakan dia tidak suka bercanda. Jujurlah, apa Sing tertarik pada laki-laki? Aku rasa tidak, jawab Sing. Kalau begitu apa ada wanita yang Sing sukai? Aku rasa tidak, jawab Sing lagi. Ayah langsung kesal sampai berteriak bahwa seharusnya dia tidak mengijinkan Sing membuka toko bunga. Sing heran, apa hubungannya toko bunga dengan gay? Ayah berkata semenjak remaja sampai kuliah Sing tidak pernah membawa seorang gadis pun. Hingga dia membuka toko bunga ini. Harusnya dia tidak membiarkan Sing. Awalnya dia pikir Sing hanya pemilih, tapi apa. Dia kecewa.


Ayah terus marah-marah menuntut Sing untuk membawa pacarnya ke rumah. Biar dia tahu kalau memang Sing itu normal HAHAHHAHA. Sing bingung, memangnya harus bawa ke rumah? Ucapan Sing itu lantas membuat Ayah tersenyum berharap Sing tengah berpacaran sekarang. Ayah pun bertanya siapa orangnya? Tanpa diduga Nuan mengangkat tangan. Ayah sontak menoleh kearahnya dan Sing bergantian. “Apakah Nuan?” Ayahnya bereriak tak percaya. Sing buru-buru menjelaskan kalau dia tidak suka barang antik HAHAHHAHA. Nuan langsung menelan ludah, sakit banget hahhaha.


Sing lanjut mengatakan kalau Nuan mengangkat tangan karena ada yang ingin dikatakannya. Apa Nuan? Nuan pun mengatakan kalau sebenarnya dia melihat Sing bicara dengan wanita. Ya, Nuan menyelamatkan Sing dari amukan ayahnya. Mereka berdua lantas bergosip. Melihat itu, Sing pun berkesempatan untuk kabur dengan alasan mengantar rangkaian bunga. HAHHAHAH


Setelah kepergian Sing dan Piak, keluarga Waen datang ke toko bunga. Nenek bahkan sempat meng-add facebook toko bunga Sing. Ayah Waen bertanya pada Nuan apa Sing adalah pemilik toko bunga ini? Ayah Sing mengiyakan, tapi Sing lagi keluar. BIcara saja padanya, dia ayahnya.

“Ayahnya? Sempurna.” Jawab nenek.

“Apa ada masalah?” Tanya Ayah Sing penasaran.

Akhirnya ayah Waen pun menjelaskan masalah yang terjadi tadi di kantor Waen. Ayah Sing sontak tersenyum senang. Dia langsung bertanya memangnya siapa yang Sing peluk. “Anak kami. Waenpetch.” Jawab Ayah.

Ayah makin senang tentunya. Dia berkata dia mengenal Waen. Kemarin Waen disini membantu anaknya merangkai bunga. Mendengar itu Nenek langsung bergosip, jadi apa mungkin yang dikatakan wanita itu (Tumtong) benar, kalau mereka sedang berkencan? Mungkin saja, jawab ayah.
Sementara itu, Ayah Sing juga menggosipkan hal itu pada Nuan. Apa benar mereka berkencan? Nuan berkata itu mungkin. Akhir-akhir ini mereka dekat, bahkan mereka mencoba menyelesaikan masalah Thu dan Dao. Tiba-tiba Nuan langsung menutup mulutnya, dia keceplosan. HAHHAHAHA


Ayah jadi menuntut penjelasan, Nuan cepat-cepat berkata dia tidak tahu masalahnya. Mengesampingkan hal itu dulu, ayah lalu bertanya apa yang keluarga Waen inginkan. Ayah Waen menjawab, “Aku hanya ingin tahu apakah anakmu dan anakku berhubungan atau hanya teman. Karena setiap kali ditanya dia selalu bilang dia single. Sekarang apa? Mereka bermain-main.” Ayah mengaku dia tidak tahu. Malahan sekarang dia tahu dari mereka. Nenek kembali mengomel panjang lebar mengonfirmasi apakah Sing mencampakkan cucunya karena dia lihat di IG Waen hastag nya sedih-sedih selalu. Ayah Sing pun lantas berkata dia akan bertanya pada anaknya.


Ting mentarktir Piak makan di sebuah restaurant. Ting juga bersama teman kuliahnya, Aum. Piak merasa tidak enak, karena dia tidak biasa makan di tempat seperti ini. Ting lalu berkirim pesan pada Tha mengatakan dia lagi di restaurant bersama teman-temannya. Tha ingin lihat teman-teman Ting. Ting pun selfie bertiga. Melihat Ting yang asyik dengan ponselnya, Aum merebut ponsel Ting lalu melihat obrolan Line mereka. Aum bertanya apa dia pacar Ting? Belum, jawab Ting malu. Mereka pun mengobrol urusan perempaun, membuat Piak benar-benar canggung berada diantara mereka.

Setelah dari sini Ting ingin mengajak mereka ke tempat lain. Ke hotel tempat Kaew performance. Piak menolak, dia akan membantu Nuan menutup toko. Ting mencoba membujuk Piak. Tapi, Aum berkata ngapain Ting memaksa, kalau memang dia tidak mau ikut biar mereka saja yang pergi. Ting pun mengiyakan. Emmm kasihan banget Piak.

No comments:

Post a Comment