[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 7 - 2


Jay masih menunggu Kaew di hotel. Dia kira Kaew akan pulang bersamanya, tapi Kaew bilang dia akan bertemu dengan temannya. Dan tak lama Tha datang. Dia mengucapkan salam pada Jay, juga mengatakan dia akan malam berdua dengan Kaew. Mereka bergegas pergi sambil berangkulan mesra tanpa mempedulikan perasaan Jay. Di restaurant, Ting dan Aum berpisah dengan Piak. Piak tampak sedih melihat Ting asyik dengan dunia yang jelas berbeda dengan dunia Piak.


Sing menemui Ayah di kamar. Ayah awalnya menanyakan tentang Ting, apa dia sudah kembali. Sing menjawab belum, katanya dia pergi dengan temannya. Sing yakin bukan itulah yang ingin ditanyakan ayah sampai harus bicara pribadi seperti ini. Ayah mengangguk, lalu membahas soal berkencan. Dia tidak akan lepas memikirkan Sing itu gay sebelum Sing menikahi seorang wanita HAHHAHAHA.


Cerita pun berlanjut ke masalah peluk-pelukan. Ayah memberitahu bahwa tadi keluarga Waen datang ke toko Sing. Mereka kelihatan tidak suka Sing meluk-meluk anak mereka seperti tidak menghargai apalagi sampai bilang cinta. Sing membantah, dia hanya ingin membalas Waen karena Waen juga telah menipunya. Mereka cuma main-main. Ayah mengerti, tapi para orangtua tidak bisa berpikir seperti itu. Apa Sing tidak berpikir bagaimana perasaan si wanita? Bagaimana perasaan orangtuanya? Bagaimana bisa Sing berpikir ini bukan masalah besar?

“Ambil Ting sebagai contoh, jika kau melihat saudara perempuanmu di peluk laki-laki, akankah kau baik-baik saja dengan itu?”

“Tidak! Aku mungin akan memukul laki-laki itu.”

“Kau lihat? Sama kan. Kau tida bisa berpikir hanya tentang dirimu.”

“Kalau begitu aku akan pergi dan meminta maaf pada mereka lagi.”


Ayah berkata tidak perlu. Dia tidak ingin Sing meminta maaf, tapi mungkin mengajak Waen berkencan. Dia mendukung Waen. Waen itu wanita pekerja keras, dan sopan, dia menyukainya. Sing mencoba menjelaskan bahwa dia tidak memikirkan Waen seperti itu. Dia tidak menginginkan siapapun sekarang. Dia ingin sendiri.

“Sampai kapan?” Teriak ayah kesal. “Kau bukan anak-anak lagi. Kau makin tua tiap hari. Kau harus memikirkan masa depanmu. Saat aku makin tua dan ubanan dan kau masih saja sendiri kau akan mengingat kata-kataku.”

“Yah, ada banyak orang yang memilih single sampai mereka tua dan ubanan.” Jawab Sing, mencoba membuat ayah mengerti kalau dia adalah salah satu dari orang itu.

“Jangan membantah! Dan orang-orang itu, apa mereka bahagia? Mereka tua dan kesepian. Saat mereka sakit, tidak ada siapapun yang akan merawat mereka.”

Sing diam saja, sesekali dia melirik ayahnya. Ayah tidak tahu lagi bagaimana caranya memberitahu Sing, semua yang dia katakan salah. Pembicaraan mereka pun selesai dengan Ayah yang kesal setengah mati melihat Sing tetap keukeuh dengan pendiriannya.


Di apartemen Waen, neneknya lagi asyik insta live. Gaul banget ni neneknya, lebih gaul daripada Waen HAHAHAHHA. Waen yang baru pulang langsung menghampiri ibunya yang lagi masak kari nenas. Ibu mengatakan kalau dia memasak ini semua untuk Waen. Berikan juga untuk pacar Waen. Waen kaget, pacar apa? Pria yang tadi siang, jawab ibu Waen.

Mood Waen berubah buruk mendengarnya. Lebih parah lagi saat ayah memberitahunya bahwa mereka sudah bicara dengan Ayah Sing. Orang yang ditoko bilang mereka berdua sering bersama di toko. HAHHAHAHHA, Waen benar-benar tidak menyangka keluarganya sampai bertindak sejauh ini.

Ibu juga memberitahu, saat mereka bicara tadi ayah Sing kelihatan sangat menyukai Waen. Dia juga tampak baik-baik saja. Waen berkata, benarkah? Tapi mereka bukan pasangan. Mereka tidak bersama. Dan apa yang terjadi dengan Sing dan Ayahnya tadi juga terjadi dengan Waen, meskipun tidak separah Sing. Ya, keluarganya meminta Waen mencari orang yang Waen sukai kalau dia memang tidak suka dengan Sing.


Di hotel, Kaew dan Tha mengobrol berdua di bar. Ting dan Aum juga sudah sampai. Aum berkata pada Ting kalau dia merasa kasihan pada Piak. Ting bertanya, kenapa? Apa Ting tidak melihat wajah Piak saat dia bilang ingin bertemu pacarnya. Ting tidak peka sih. Ting sudah mematahkan hatinya. Ting meminta Aum berhenti mengada-ngada. Piak itu sudah lama bekerja di toko pamannya. Jika Piak menyukainya, dia akan tahu. Aum berkata mungkin saja Piak takut dengan paman Ting.
Mereka pun tak membahas masalah itu lagi. Aum menyuruh Ting menelpon pacarnya. Meskipun Ting membantah Tha bukan pacarnya, tetap saja Aum tak percaya. Ting awalnya tidak mau menelepon Tha, karena Tha bilang dia masih kerja, namun setelah dipaksa akhirnya Ting menelepon Tha juga.

Tha yang mendapat telepon dari Ting pamit sebentar pada Kaew dengan alasan ingin ke toilet. Karena panggilan Ting tidak sempat diangkat, Tha meneleponnya kembali. Dia bertanya Ting dimana. Ting tidak ingin memberitahu sampai Tha selesai kerja dan pergi menemuinya. Setelah itu Ting menelepon Kaew, meminta Kaew menjemput mereka diluar.


Dengan malas Kaew pergi keluar bar dan menjemput Ting. Begitu Ting masuk, dia mendapati Tha ada disana. Dia tidak tahu kalau sedari tadi Tha bersama Kaew, jadi dia mengenalkan Tha ke Kaew. Ting berkata apa Kaew ada pertemuan disini, kebetulan sekali. Wajah Kaew sudah berubah seram, dia menatap Tha dengan sinis. Apalagi Tha berbohong dengan mengatakan dia ada kerjaan diatas. Teman Ting menahan Tha yang ingin pergi, dia bertanya apa Tha orang yang mengobrol dengan Ting? Tha menjawab Ting adalah anak magang di studionya. Setelah itu Tha pun pergi.

Kaew langsung bertanya siapa Tha? Apa dia yang Ting bilang kemarin? Ting mengiyakannya, ternyata Kaew ingat. Kaew berkata dia ingat. Dia lalu menyuruh Ting dan Aum pergi, sebelum pihak bar mengecek ID mereka. Ting agak kecewa, tapi mereka akhirnya pun pulang.


Sementara itu Kaew pergi mengejar Tha. Dia ingin mengonfirmasi masalah tadi. Dengan santainya Tha menjawab dia mengenal Ting karena Ting magang di tempatnya. Dia tidak tahu kalau Ting keponakan Kaew.

“Benarkah? Tapi dia bilang kau lagi mendekatinya? Jadi, dia berbohong?” sindir Kaew.

“Benarkah? Dia berkata begitu? Aku pasti sudah terlalu ramah padanya, dia mungkin salah paham padaku.” Jelas Tha berbohong.

“Berhenti buat alasan. Aku tidak peduli siapa yang kau goda. Tapi, dia keponakanku!”


Mereka berakhir dengan adu mulut, sampai akhirnya Kaew menampar Tha dan mengatakan sudah tidak ada apa-apa lagi diantara mereka. Apa yang telah terjadi dia akan menganggapnya sebagai kebaikan hati. Tha emosi dia ingin menampar Kaew balik, tapi sebuah tangan menahannya. Jay mengancam jika dia berani menyentuh Kaew, maka dia akan menyesal.

Kaew bertanya, Jay masih disini? Jay berkata bagaimana bisa dia meninggalkan Kaew? Tha menyahut, dia itu pria atau anjing. Tanpa babibu lagi, Jay lagsung menjotos Tha. Mereka pun jotos-jotosan, sebelum akhirnya Kaew menarik Jay untuk pulang.


Di parkiran hotel, Ting menelepon Tha mengabarkan dia akan pulang. Setelah itu mereka pun pergi ke rumah Ting. Di rumah, Fah yang curiga dengan Kaobin yang akhir-akhir ini terlihat aneh memutuskan mengecek ponsel yang diletakkannya di mobil Koabin. Awalnya dia tidak menemukan, tapi setelah ditelepon dia mendapati ponselnya sudah berada di tempat yang berbeda dari yang ia letakkan dulu. Tak lama Ting sampai, Fah cepat-cepat meletakkan kembali ponselnya.

Ting mengenalkan temannya pada Fah, lalu mereka pun masuk dengan senang. Fah curiga dengan sikap Kaobin, apalagi Kaobin yang terlihat lelah akhir-akhir ini. Saat Fah mengomeli Kaobin, terdengar teriakan orang nyebur di kolam. Kaobin pun pergi untuk mengeceknya.


Ternyata suara itu berasal dari Ting dan Aum yang lagi bermain di kolam. Ting bertanya tidak enak, apa mereka mengganggu? Sedikit, kakek lagi tidur, kata Kaobin. Ting pun berkata mereka tidak akan ribut lalu lanjut berenang lagi. Bukannya malah pergi, Kaobin malah asyik memandangi Aum sambil senyum-senyum. Aum juga sesekali melirik kearah Kaobin. Dasar tua-tua keladi! Ingat umur dong HAHAHHAHA

No comments:

Post a Comment