February 22, 2018

[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 8 - 2


Halo aku balik lagi. Pada kangen gak ni sama Sing dan Waen?
Kemarin nyempetin buat buka laptop khusus untk nulis recap, biasanya sibuk ngetik tugas. Seperti janji aku sebelumnya, aku bakal usahain kok buat ngelanjutin lakorn ini, aku juga penasaran gimana endingnya hahhaha. Karena aku juga gak sempat nonton.

Karena udah lama gak update, mungkin kalian pada lupa gimana ceritanya. Kalau pada lupa, baca aja episode yang sebelumnya, jadi biar enggak bingung. Thanks for supporting me, guys. Komentar kalian buat aku makin semangat. Xoxo


Hari hujan, saat Waen sampai ke toko bunga Laising. Nuan lah yang datang menyambutnya, lalu bergegas memanggil Sing dengan mengatakan pacar Sing datang. Waen hanya memasang raut wajah kesal.
Setelah Sing keluar, Waen langsung ingin mewawancarainya. Tapi, Sing tidak bisa karena dia harus ke San Rak studio sekarang. Waen tak masalah, dia akan pergi dan mewawancarai Sing lain waktu. Sing menahan Waen. Dia mengajak Waen ikut, bukannya kata Fon Waen juga harus ke San Rak studio?

Belum sempat Waen menjawab, Nuan sudah menyahut menyuruh Waen ikut saja. Baliknya jangan buru-buru. Ngobrol, dan saling mengenal satu sama lain. Makan bareng, nonton film. Dia akan menjaga toko. Sing memelototi Waen, bukannya takut Nuan malah semakin menggoda mereka. HAHAHAAH… dan akibat ulahnya itu Waen pun bersedia ikut, terpaksa.


Di dalam perjalanan, Waen bertanya soal Sing yang mengiriminya pesan. Ada apa? Sing menjawab itu soal keluarga Waen yang datang ke tokonya. Waen tahu, terus apa yang dikatakan ayah Sing? Mereka kan tidak berpacaran, tapi ayah Sing berkata begitu ke ortunya. Keluarganya terus bertanya tentang Sing. Dia jadi stress.

“Ayahku bilang hal yang sama. Dia bilang aku harus punya pacar. Dia mau aku menikah.”

“Lihat, kaulah yang salah disini.” Ucap Waen agak kesal.

Sebenarnya dia tidak masalah atas kejadian peluk-pelukan itu, tapi keluarganya terus mengganggunya. Dia tidak mengerti sama sekali. Padahal diluar sana banyak orang yang single. Sungguh menyebalkan, sampai rasanya dia tidak ingin pulang ke rumah.

Sing berkomentar, keluarga Waen kan sudah kembali ke Prachuab, jadi Waen bisa hidup ‘single’ seperti biasa. Lagian ini semua salah Waen. Siapa suruh Waen membuat Dungjai mengganggunya? Obrolan mereka pun berlanjut serius ke masalah Dao tadi pagi yang membersihkan muntahan Thu. Sing merasa tidak enak. Atas idenya ini hubungan mereka makin parah. Harusnya dia tidak usah ikut campur masalah mereka.

“Sekarang Thu bebas melakukan apapun seperti yang dia inginkan.” Jawab Waen tidak enak.

“Orang mencintai dengan cara yang berbeda-beda. Adikku mungkin sangat mencintainya.” Ucap Sing.


Piak terlihat rapi hari ini, dengan kemeja putih seperti mahasiswa yang akan ujian. Ting kemudian datang dengan mobilnya. Dia meledek Piak, apa Piak akan ujian? Mau dia doakan? Mereka pun bertingkah seperti anak yang lagi minta restu ibunya. HAHAHHA

Piak lalu bertanya Ting mau pergi kemana. Ting menjawab dia akan menemui seseorang yang mengurus magangnya. Piak bertanya lagi, dimana? Kalau Piak ingin tahu ikuti saja dia, jawab Ting. Tertantang, Piak pun langsung memakai helmnya dan mengendarai motornya untuk mengikuti Ting. Ting sampai di depan studio Tha. Tha langsung masuk ke mobil Ting dan di belakang Piak memberhentikan motornya saat melihat Tha lah orang yang Ting temui.


Waen dan Sing sudah berada di studio San Rak. Waen merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Dia langsung buang muka saat melihat dekorasi yang berbau ‘cinta’ seperti bantal love yang ada di dekatnya.

“Ini aneh sekali. Apa kau tidak merasakannya? Aku tidak suka perasaan ini! Hati dimana-mana, warna pink, gambar pose romantis yang pura-pura.” Ujar Waen

Sing tertawa, Waen berlebihan sekali. Dia tidak merasakan apapun. Waen berkata itu karena Sing sudah terbiasa, tapi dia tidak. Ini sama seperti orang yang punya claustrophobia, yang harus berada di lift dengan banyak orang. Sing mengangguk mengerti, dia lalu berjalan duluan tapi matanya melirik ke arah bantal berbentuk love yang terpajang di sana. Happ… dia langsung melemparkan bantal itu ke arah Waen, hahahhaha. Waen berdiri kaku saking gelinya dengan bantal itu.


Mereka kemudian masuk ke dalam. Tak lama Kaem datang. Ia sedikit kaget melihat Sing tidak datang sendirian. Waen yang seperti tahu maksud Kaem pun menjelaskan bahwa dia tidak ada apa-apa dengan Sing, dia datang untuk wawancara.

Klien mereka datang, sepasang calon suami istri yang agak-agak gimana gitu. Waen langsung duduk menjauh saat dilihatnya dua insan itu pakai baju couple berbentuk love dan tangan mereka yang saling menggenggam. Dia juga memberikan bingkisan baju yang sama kepada Kaem. Alhasil Sing dan Waen membelalak tak percaya saat mereka berdiri berdekatan sehingga setengah hati di masing-masing baju mereka menyatu. Lalu mereka berbalik dan menunjukkan tulisan yang ada di belakang baju mereka. Si cowok dengan tulisan 'I Love You’ dan si cewek dengan tulisan ‘You Love Me’. HAHAHHAHAHAH


Tak tahan lagi dengan tingkah pasangan itu, Waen pergi dengan alasan haus, dan rasa gelinya masih terus menghantui Wkwkkww. Di coffee shop, tak sengaja Waen melihat Ting bersama Tha. Dia membelalak kaget melihat Ting menyuapi Tha, seperti orang pacaran.


Pasangan tadi akhirnya pulang dengan sempat-sempatnya memperagakan baju mereka, sekaligus menggombal HAHAHAHAH. Dan ketika bertemu Waen di depan mereka juga sempat mengatakan ‘saranghaeyo’ Wwkkwkwkw.


Kini giliran Waen yang akan wawancara. Kaem akan menelepon fotografer mereka agar Waen lebih banyak mendapatkan informasi. Sing yang juga ikut mengantar pasangan tadi pergi bertanya pada Waen kenapa dia lama sekali. Waen mengatakan sebenarnya dia sudah selesai dari tadi, tapi dia sengaja menunggu di luar. Tidak tahan bertemu dengan pasangan itu.

“Cinta mereka terlalu berlebihan untukku. Menurutku, pasangan yang suka pakai baju, celana, topi, sepatu, kaus kaki yang kompak itu menjijikkan. Apa tidak bisa mereka saling mencintai dalam diam? Kenapa mereka harus mengumumkan pada dunia kalau mereka jatuh cinta. Iihhh… mau muntah rasanya.”

Sing sebenarnya juga geli melihat pasangan tadi, tapi dia berkata pada Waen mungkin seperti itulah gaya mereka. Waen bertanya heran, apa Sing membela pasangan itu? Atau Sing mau jadi seperti mereka? Sing mengatai Waen lebay. Lagian kenapa jadi ngurusin ini. Waen kan mau wawancara, kalau Waen lama-lama disini, dia yakin Waen akan jadi lebih gila HAHAHHAHA.
Waen setuju, tapi sebelum itu bolehkah dia bergosip? Dia baru saja melihat seseorang, tapi janji Sing jangan panik. Sing mengangguk.


“Keponakanmu juga lagi jatuh cinta. Baru saja, aku melihat Ting dan pacarnya lagi pacaran disekitar sini. Di coffee shop.”

“Pacar?” Tanya Sing kaget. Waen mengangguk.

“Kenapa? Ting punya pacar? Apa itu aneh?” Tanya Waen bingung.

“Dia mungkin hanya teman.”

“Dengar… aku tidak salah. Beneran pacarnya. Teman tidak bertingkah seperti itu.”

Sing kelihatan panik, dia ingin menemui Ting saat itu juga. Tapi Waen melarangnya, Sing harus membiarkan Ting untuk menikmati hidupnya. Tepat saat itu Kaem datang bersama Tha.


Kaem mengenalkan Waen pada Tha. Tha mengucap salam sopan padanya dan sedikit merayu Waen. Dia kira Waen itu pacarnya Sing. Tapi baguslah kalau bukan, jadi dia tidak kecewa. Sing menegur Tha, Tha tidak perlu merayu setiap wanita yang dia temui. Tha membantah, dia tidak mengatakan itu pada setiap wanita kok. “Jangan percaya apapun yang dia bilang,” kata Tha pada Waen. Waen hanya diam saja, meneliti sikap Tha.

Tha kemudian bertanya apa Waen sudah menikah? Waen hanya menarik nafas, membuat Tha menyimpulkan belum.

“Jika kau belum menikah dan ingin mencari tahu… aku dengan senang hati akan memberikan detailnya.

“Aku belum menikah. Dan aku juga tidak ingin. Sing, apa kita sudah selesai disini?” Tanya Waen.

Sing mengiyakan. Waen pun mengajak Sing kembali untuk wawancara di tokonya saja. Sedangkan dia akan mewawancarai Kaem dan Tha lain waktu. Tha membukakan pintu kaca itu untuk Waen, tapi Waen tahu Tha bukanlah pria baik-baik.


Waen berjalan kea rah coffee shop tadi. Sing bingung karena Waen celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Apa dia kesal dengan Tha? Lupakan saja, Tha itu memang playboy. Waen berkata dia baik-baik saja, dia hanya khawatir pada keponakan Sing. Tha adalah orang yang bersama Ting. Sontak Sing terkejut mendengarnya.


Fah sedang menemani anak-anaknya belajar saat Ting pulang membawa satu box berisi detox juice dari Aum yang katanya untuk Fah dan Bin. Fah bingung kenapa Aum memberikan ini untuk mereka. Ting berkata itu karena Fah sudah mengantarnya. Walau heran, Fah tetap menerima minuman itu.


Disaat Ting keluar, dia bertemu dengan Sing. Sing langsung mengintrogasinya kenapa dia tidak singgah ke toko. Lalu Tha menelepon. Dengan senyum malu-malu Ting mengangkatnya. Sing bertanya siapa yang menelepon tadi. Ting menjawab hanya teman.

“Teman? Teman tidak berbicara dengan suara yang seperti itu. Apa ini teman yang membuatmu bolos kuliah? Ting, aku tahu kamu sudah besar. Aku tidak masalah kamu memiliki teman dekat. Tapi sekolah adalah yang utama. Jangan sampai aku melihatmu bolos kuliah hanya untuk bertemu dengannya lagi.”

Sing menasihatinya dengan lembut. Ting pun berjanji tidak akan bolos kuliah lagi. Sing lantas mengingatkan, apapun yang Ting lakukan pikirkanlah dulu. Gunakanlah otak seperti orang dewasa. Ting agak kesal, dia berkata dia juga tidak menjudge Sing dan Waen. Sing mengatakan ini berbeda. Ting bilang dia sudah dewasa, maka bertingkah dan bicaralah layaknya orang dewasa.

“Thapana sedang mendekatimu, kan? Apa kamu tahu dia itu playboy? Dia merayu semua gadis yang dia lihat. Tolong, jauhi dia.”

Ting tidak terima. Menurutnya Tha tidak seperti itu. Dia tidak bertingkah seperti yang Sing katakan. Sing hanya cemburu. Tak mau lagi mendengar teguran Sing, Ting langsung pergi.


Karena kejadian itu, Sing jadi tidak fokus bekerja. Dia kemudian menelepon seseorang untuk janjian bertemu dan orang itu adalah Waen. Mereka bertemu di tukang mie yang biasa menjadi tempat Waen makan. Waen makan sambil berdiri HAHAHAHHA.


Dia kesal, dia saja belum mewawancarai Sing, tapi sekarang dia malah harus mendengarkan curhatan Sing tentang keponakannya. Waen malas mendengarkannya. Dia lagi makan sekarang, lagipula dia marah. Sing benar-benar tidak memiliki seni untuk memilih kata-kata. Ting itu masih remaja. Semakin Sing mengontrolnya, maka Ting semakin tidak mematuhi Sing. Tanpa sadar Waen yang tadi menolak mendengarkan malah memberikan masukan. Demi kebaikan Ting, Sing memikirkan bagaimana caranya agar Ting berhenti menemui Tha.

“Hey, rayulah dia jadi keponakanku bisa lihat.” Pinta Sing

“Bagaimana jika kamu tidak datang tepat waktu dan dia memperkosaku?”

“Terus apa dong? Anggap saja ini keuntungan.”

“Untung apanya?” jawab Waen kesal HAHHAHAHHA. Setelah itu ada telepon masuk dan Waen langsung kembali ke kantor.


Rupanya Thu sudah menunggunya. Dia protes karena Waen sudah meninggalkannya makan siang. Waen berkata pulang saja ke rumah, makan dengan anak istri. Istri apanya? Tanya Thu. Dia ini single. Thu merasa Waen berbeda. Sekarang Waen menolak semua ajakannya. Sekalian saja Waen tidak usah bicara padanya. Thu berusaha membujuk Waen sambil memegang tangan Waen. Dan hal itu dilihat oleh Tumtong. Langsung saja dia melaporkannya pada Fon dengan dibumbui supaya lebih hot, Wkwkwkwk. Setelah Fon pergi karena termakan omongannya, Tumtong tertawa puas. Devil!


Fon tidak menemui Waen, melainkan menemui Dung. Dia bertanya apakah hubungan mereka (Waen dan Thu) tidak terlalu dekat untuk seseorang yang sudah memiliki istri dan anak? Dung gantian bertanya memang apa yang mereka lakukan? Siapa yang memberitahu ini pada Fon? Fon berkata itu tidak penting. Dung menjelaskan bahwa semua orang juga tahu kalau mereka itu teman dekat. Fon tahu, tapi dia masih tidak suka dengan itu. Bagaimana jika Dao tahu, bagaimana perasaannya? Dung memastikan mereka hanya teman dekat dari dulu. Tidak lebih. Bahkan Thu meminta nasihat Waen saat Thu berpisah dengan Dao. Dung langsung mengerucutkan bibirnya, dia keceplosan HAHHAHAH.

“Apa? Thu dan Dao berpisah?” Tanya Fon kaget. Dung hanya bisa memegang-megang kukunya, bingung harus jawab apa akibat mulut embernya itu.

“Apa mereka akan bercerai?” Tanya Fon lagi, menghentikan Dung yang akan pergi.
“Eh… eh…,” hanya itu yang keluar dari mulut Dung.

***

1 comment: