[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 9 - 1


Fon terus menuntut jawaban dari Dung. Ia tak mengijinkan Dung pergi sampai dia buka mulut. Terdesak, akhirnya Dung melemparkan jawaban kalau dia mendengar berita ini dari Waen, kalau mau bertanya, tanya saja Waen. Dung tidak menyangka kalau detik itu juga Fon pergi menemui Waen, padahal dia tadi cuma asal-asalan.


Fon langsung to the point menanyakan apa yang Dung bilang tadi. Disitu juga masih ada Thu hingga keduanya kompak terdiam kaget. Waen mengatakan kalau omongan Dung itu tidak benar. Mereka tidak berpisah, hanya pertengkaran kecil. Thu lantas mengiyakan. Fon bertanya heran, lalu kenapa Dung mengatakan hal seperti itu?

“Memangnya apa yang dia katakan?” Tanya Waen.

“Dia bilang kalau kau dan Thu sudah dekat sejak lama. Layaknya adik-kakak yang saling memberi nasihat. Bahkan sebelum mereka berpisah, Thu masih meminta nasihatmu.” Jawab Fon.

Thu garuk-garuk kepala, sedangkan Waen merutuki mulut ember Dung. Waen mencoba menutupi semuanya dengan mengatakan Dung salah paham atas obrolan mereka .Fon mengerti, dia meminta berulang kali agar Waen meninggalkan Thu sendirian. Dia saja bisa salah paham apalagi orang lain yang tak mau mendengarkan penjelasan. Thu pergi sementara Waen harus menerima teguran akibat ulah Thu.


Setelah permisi pergi pada Fon, Waen mengirim pesan pada Thu untuk tidak bertemu terlalu sering. Dia harus bekerja, jadi bicarakan masalah ini nanti. Begitu sampai di meja kerjanya, Waen langsung menghampiri Dung dengan wajah seram. Dung menganga ketakutan, HAHAHHAH.

“Aku benar-benar tidak bisa memberitahumu apapun. Kau membuatku dalam masalah. Apa yang kau bilang padanya? Bilang padaku sekarang!” Teriak Waen

Dung berlari menghindari amukan Waen. Mereka pun kejar-kejaran di dalam kantor. Thu yang masih di luar membalas pesan Waen, dia meminta maaf karena sudah menjadi pembuat masalah. Tepat saat itu Dao menelepon, tapi Thu merejectnya. Dao yang lagi makan siang bersama keluarga terpakasa berbohong dengan pura-pura bicara pada Thu dan mengatakan kalau Thu tidak bisa ikut makan malam nanti.


Tak lama, Kaew dan Jay datang. Keluarga Patyod tampak menyukainya. Ayah bertanya tentang Jay, kenapa dia jarang datang akhir-akhir ini. Jay mengatakan dia agak sibuk, dia kemudian bertanya tentang Ting. Kenapa Ting tidak ada? Ayah mengatakan katanya Ting pergi dengan temannya. Dia memang jarang ikut makan bersama sekarang. Kaew menyahut, apa benar itu teman? Itulah yang ayah khawatirkan. Ting kelihatan aneh. Dia juga sering melihat Ting menelepon diam-diam. Sepertinya dia punya pacar. Ayah meminta Kaew mengawasinya karena kamar mereka bersebelahan. Tapi Kaew menolak, dia tidak mau ikut campur.

Ayah pun meminta Sing untuk memata-matai Ting. Dia tidak mau Ting berpacaran di usia yang masih terlalu muda. Sing lantas menyahut, terus kenapa ayah memaksanya cepat-cepat?

“Dia masih muda dan masih kuliah. Ini bukan waktu yang tepat. Tapi kau sudah tua. Kau sudah harus punya pacar dan menikah. Bagaimana hubunganmu dengan Waen sekarang?” Tanya Ayah. Sing langsung mengalihkan pembicaraan ke makanan Jepang yang dibawa Jay. HAHHAHAHHA
Kaew mengantar Jay sampai depan rumah. Jay bertanya apa Ting dekat dengan fotografer itu (Tha). Kaew sebaiknya memperingatkan Ting. Kaew tidak suka mendengarnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan, jadi tidak usah memberitahunya. Kaew langsung masuk ke rumah.


Di sebuah café, Piak ingin membeli snack (kayak pocky) tapi mungkin uangnya kurang. Jadi dia cuma bolak-balikin kotaknya lihat harga. Ting tiba-tiba muncul, langsung menyambar snack itu dan membayarnya untuk Piak. Piak merasa tidak enak. Ting sudah sering membelikannya. Ting memaksa, kalau Piak tidak mau dia akan marah. Piak pun mengambilnya dan berpura-pura memesan banyak minuman. Ting bingung, tapi melihat Piak yang tertawa diapun ikut tertawa.

Piak kemudian bertanya kenapa Ting belum pulang? Ting berkata dia menunggu telepon, dan tak lama Tha meneleponnya. Piak mengejek suara Ting yang sok lembut. Mereka pun bercanda sebentar sebelum Ting pergi dan memperingatkan Piak agar tak mengikutinya.

Piak masih memandangi Ting dari dalam café. Nuan lalu menelepon menanyakan dimana dia. Piak menjawab dia masih di kampus. Baru saja kelasnya selesai (Oh ternyata Piak kuliah di kampus yang sama dengan Ting, kirain Piak seumuran Nuan). Setelah itu dia menjemput Nuan yang lagi belanja bunga dengan pick up.


Hari sudah beranjak malam. Ting dan Tha masih bersama. Mereka berdua jalan-jalan menikmati suasana malam hari kota Bangkok dengan Ting yang dijadikan objek foto. Sesekali Tha merayu Ting. Ting senang sekali.

Mobil yang dikendarai Piak berhenti di lampu merah. Disaat itu Tha dan Ting menyebrang jalan dengan bergandengan tangan. Sontak, Piak dan Nuan terkejut melihatnya. Nuan berkata, bukankah itu Ting? Piak masih fokus memperhatikan mereka sampai mobil lain yang dibelakang membunyikan klakson berulang kali. Nuan yang tahu perasaan Piak pun menepuk-nepuk bahunya.


Setelah sampai di toko, Sing menghampiri mereka. Sing bertanya apa Piak bertemu Ting di kampus. Piak mengiyakan. Sing bertanya lagi Ting bersama siapa. Piak menjawab saat itu Ting sendirian, tapi dia bilang dia ingin menemui temannya. Sing pun cerita kalau akhir-akhir ini Ting sering pulang terlambat dan jarang menjawab teleponnya. Piak berkata mungkin Ting takut. Sing yakin Ting tidak pergi dengan seorang teman. Piak dan Nuan saling pandang membuat Sing heran dan menebak pasti ada sesuatu.

Keduanya tolak-tolakkan tak ada yang mau bicara hingga Piak lah yang menceritakan tentang Ting tadi. Sing menggeram, pasti orang yang bersama Ting itu Thapana. Nuan mencoba menenangkan Sing, “Mereka hanya remaja. Mereka akan segera kembali. Jangan khawatir.”


Fon masih berada di kantor. Dia kembali teringat percakapannya dengan Dung dan Waen tadi. Bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Fon pun memutuskan untuk menelepon Fah. Dia bertanya benarkah Thu dan Dao berpisah? Fah membantahnya. Fon kemudian menceritaan kejadian tadi siang pada Fah.


Fah lalu menemui Dao. Dia bertanya apa dia dan Thu sering bertengkar? Awalnya Dao tidak ingin cerita, tapi melihat kepedulian Fah dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa mereka memang berpisah (bukan cerai ya, pisah-pisah gitu). Dia tidak mengerti dengan sikap Thu. Menelepon salah tidak menelepon salah. Semua yang dia lakukan salah dimatanya. Dia jadi bingung. Karena itulah mereka berpisah tapi tetap bersama untuk Ayah. Ini semua memang salahnya. Kalau saja dia tidak hamil, maka Thu tidak akan menikahinya.

Fah berkata mungkin masalahnya tidak hanya dengan Thu dan Dao. Mungkin orang lain. Orang ketiga? Tanya Dao. Dao yakin tidak ada. Thu pun sudah mengatakan itu padanya.

“Bagaimana dengan Waen?” Tanya Fah.

“Mereka berteman sejak lama. Aku juga pernah curiga. Tapi tidak ada apa-apa diantara mereka.”

“Bagi Thu, dia mungkin berpikir tidak ada apa-apa. Tapi mungkin dia masih tidak menyadari apa yang sebenarnya dia rasakan. Aku tidak menghasut, aku mengatakan ini karena aku lebih dulu melihat dunia. Aku akan membantumu menyembunyikan ini dari ayah.”

“Terima kasih P’Fah.” Fah pun mengibur Dao. Jangan berpikir bahwa Dao sendirian. Dao masih punya ayah dan putri Dao.

No comments:

Post a Comment