[Lakorn] Sinopsis Waen Dok Mai Episode 9 - 2


Setelah dari ruangan Dao, diam-diam Fah memeriksa mobil Bin, mengecek ponselnya. Lalu mencari-cari sesuatu yang mungkin mencurigakan. Tepat saat Fah melihat syal milik Aum, Bin datang memergokinya. Fah pun beralasan dia sedang mencari anting-antingnya yang hilang. Bin melihat syal itu, dia pun pura-pura akan membantu agar syalnya tidak ketahuan. Tapi Fah keburu bertanya, syal itu milik siapa? Bin berbohong dengan mengatakan itu untuk Fah. Fah tidak percaya, kemudian suara klakson berbunyi, Bin langsung melihat itu siapa sekaligus melarikan diri dari Fah.


Rupanya orang itu adalah Thu yang sedang mabuk. Semua anggota keluarga keluar saking berisiknya klakson Thu. Dia mengoceh kalau dirinya sudah bebas sekarang. Ayah akhirnya juga keluar. Dia heran kenapa Thu mabuk lagi, apa ada yang dia khawatirkan? Apa mereka bertengkar? Dao diam saja, Fah pun meminta ayah masuk, sementara Sing berkata tidak ada apa-apa. Setelah ayah pergi, Sing membawa Thu ke rumahnya (rumah mereka ini masing-masing tapi masih satu lokasi). Fah juga menasihati Dao agar mereka bicara baik-baik.


Tapi, Dao sudah tidak tahan lagi. Dia mengeluarkan semua uneg-unegnya sambil menangis. Sampai kapan dia harus pura-pura bahagia untuk orang lain? Apa ada orang yang peduli apa yang dia rasakan?

“Aku lelah, P’Sing. Aku ingin berhenti. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa. P’Sing, aku sudah muak.” Dao mengacak-acak rambutnya sendiri. Thu? Dia sudah tertidur di sofa.
Sing memeluk Dao dan menenangkannya. “Tidak apa-apa. Lakukanlah ini untuk Ayah, kumohon. Aku tidak ingin melihat ada yang pergi (meninggal) seperti sebelumnya. Please.” Kata Sing sambil terus mengusap kepala Dao.


Di kamar mereka, Bin bertanya pada Fah apa yang terjadi dengan Dao dan Thu. Bin terkejut saat Fah bilang mereka sudah berpisah. Fah mengiyakan, hanya saja mereka masih tinggal bersama untuk menyembunyikan ini dari ayah.

“Sejak kapan?” tanya Bin perduli.

“Dia tidak bilang kapan, tapi sudah agak lama.”

“Siapa yang tahu hal ini?”

“Aku, kau dan Sing. Dia menyarankan Dao untuk melakukan ini.”

“Apa dia gila? Menghasut Dao untu berpisah dengan Thu. Aku harus bicara denganya.”

Fah segera menghentikan Bin. Mereka harus bicara tentang ‘mereka’ dulu. Fah langsung menyambar syal tadi. Apa Bin pikir dia tidak ingat syal ini? Ini punya teman Ting. “Apa kalian diam-diam bertemu?”

Bin masih menyangkal. Fah benar-benar tidak habis pikir, dia adalah teman Ting, teman dari keponakan Bin. Bin berkata, dia juga tidak segila itu, dia masih punya moral. Apa segitu bejatnya dia di mata Fah? Bin meminta Fah berhenti melakukan ini, kalau tidak trip mereka tidak jadi. Kalau Fah ingin mencari-cari sesuatu di mobilnya, lakukanlah dengan senang hati. Terserah Fah mau melakukan apa. Kini, Fah yang kesal sendiri, seolah dia yang salah.


Keesokan paginya, Thu sudah bangun dan meminta Dao mengambilkan obat mabuk. Dao yang bermain dengan Tuktik mengambilkannya tapi tidak mengambilkan air sekalian. Kesal, Thu mengambil minum sendiri. Dao lalu bertanya apa Thu tidak ingat apa yang dia perbuat kemarin? Thu membalas memangnya apa yang Dao harapkan dari orang mabuk?

Mereka adu mulut lagi, dan tiba-tiba Ayah datang. Keduanya langsung tersenyum dan Thu merangkul Dao mesra. Ayah bertanya ada apa? Kenapa mereka tidak sarapan? Mereka bertengkar? Thu berkata tidak ada apa-apa. Dia hanya stress tentang kerjaannya. Thu lalu meminta maaf dengan sopan karena sudah bertingkah beberapa hari ini. Ayah berkata tak masalah, dia berkata terkadang ada hal yang tak bisa mereka kontrol. Setelah ayah pergi, mereka bertengkar lagi.


Di tokonya, Sing masih kepikiran Dao atas masalah kemarin. Ting lalu datang. Nuan memujinya terlihat cantik. Sebelum Ting pergi, Sing bertanya kemana Ting pergi kemarin, kenapa tidak menjawab teleponnya? Ting mengaku dia pergi bersama teman.

“Apa Thapana namanya?” Tanya Sing langsung.

Ting terdiam, dia melirik Nuan, sedangkan Nuan terdiam tidak enak. Sing kembali berkata, “Piak dan Nuan bilang padaku karena mereka ada disana untuk membeli bunga. Dan mereka melihatmu dengan Thapana di sekitar Brahmin Swing.”

Nuan berbicara, “Itu benar kalau aku melihatmu, tapi Piak lah yang bilang ke Sing.” Nuan langsung balik kerja lagi. Ting pun mengakui kalau dia memang pergi bersama Tha. Tha datang untuk mengajarinya fotografi dan setelah itu mereka pulang. Sing mengingatkan dengan tegas bahwa dia tidak ingin Ting pergi dengan Tha sampai larut seperti kemarin. Ting bahkan belum berusia 20. Ting kesal dimarahi seperti itu, apalagi Sing menjelek-jelekan Tha. Sing meminta kunci mobil Ting, dia mengancam jika Ting tidak memberikannya maka dia akan memberitahu kakek tentang hal ini. Terpaksa Ting menyerahkan kunci mobilnya.


Di depan dia bertemu dengan Piak. Piak mengejek wajah cemberutnya. Tidak tertawa seperti biasa, Piak jadi bingung sendiri. Ting pun bertanya apa Piak memberitahu paman Sing kalau dia jalan dengan Tha? Piak menggeleng, saat itu Nuan yang membuatnya bicara lagipula Sing itu boss-nya. Jika dia bertanya maka dia harus menjawab. Ting cemberut, dia pikir awalnya mereka ada di tim yang sama. Piak meminta maaf, cobalah mengerti posisinya. Ting tidak peduli, dia marah pada Piak. Setelah mengatakan itu Ting pergi. Poor Piak…


Waen baru saja sampai di kantor. Belum sempat masuk, dia sudah mendapat pesan dari Fon yang meminta hasil wawancara Sing harus hari ini juga. Waen lupa kalau dia belum wawancara, diapun langsung pergi ke toko Sing. Sementara di toko mood Sing dan Piak lagi buruk.

Waen meminta waktu Sing sebentar untuk wawancara. Sing berkata tidak apa-apa tapi sambil merangkai bunga karena dia ada pesanan. Waen pun mengeluarkan alat perekam dan bertanya tentang bunga-bunga yang ada di meja. Sing menjawabnya sampai dia kesal sendiri, Waen mau bertanya tentang Wedding atau nama-nama bunga sih? Hahahhaha ๐Ÿ˜‚

Akhirnya Waen pun bertanya serius, “Sudah berapa lama kau ada di bisnis ini?” Bukannya menjawab Sing malah mengkritik pertanyaan Waen. Pertanyaannya itu sudah seperti menanyakan seorang actor, penyanyi yang bagaimana bisa mereka terjun kedunianya. Waen berkata ini baru pertanyaan pertama, apa Sing mau sekali pertanyaan serius?

“Ya.” Terdengar jawaban Nuan, HAHAHHA. Dengan santainya dia mencontohkan sebuah pertanyaan yang harus Waen tanyakan, “Contohnya, kapan kita berpacaran? Kita harus belajar pelan-pelan.” Keduanya kompak menoleh ke Nuan HAHAHHA.

Sing lalu menjawab pertanyaan tadi, bahwa dia memulai ini beberapa tahun lalu. Tapi sebelum dia terjun ke bisnis ini, dia hanya mendesign untuk acara-acara biasa seperti hari Valentine, ultah, wisuda, dan pesanan khusus lain.

“Dan menurutmu seberapa pentingnya bunga dalam pernikahan?”

“Sebenarnya, itu hanya sebagian dari acara untuk menambahkan keindahan. Tapi yang paling penting adalah cinta dari kedua mempelainya.”

“Ya. Cinta dari dua orang walau mereka tidak punya acara pernikahan, tidak ada bunga-bunga mahal, hanya ada pernikahan di pantai dibawah langit dan cincin dari rumput. Itu saja cukup.” Tambah Nuan HAHAHHAH ๐Ÿ˜„

“Aku melihat banyak pasangan yang merancang pesta pernikahannya dengan sangat meriah tapi pada akhirnya mereka berpisah, jadi tidak peduli seberapa menariknya bunga-bunga ini atau cincin berlian 10 karat, atau rumah megah, jika mereka tidak saling mencintai lagi, itu semua selesai.” Ucap Sing.

“Ya, benar. Aku sangat setuju denganmu. Aku sungguh tidak mengerti, kenapa orang-orang membuang banyak sekali uang hanya untuk satu hari. Aku sungguh tidak bisa mengerti. By the way, itu karena orang sepertimu mendukung keinginan mereka.”

“Hey, ini hanya pekerjaanku. Setiap orang butuh pekerjaan.”

“Aku mengerti ini adalah pekerjaan. Tapi jika orang yang melakukan pekerjaan ini sepertimu, tidak percaya dengan cinta, bisakah kita menyebutnya dengan seorang pembohong?”

“Baiklah, jangan menyalahkan aku. Betapa yakinnya dirimu. Kau editor di Lovely Family.” Balas Sing.

“Tapi, meskipun aku tidak percaya cinta, aku tahu bahwa ada orang yang benar-benar percaya diluar sana. Jadi tidak salah jika mereka mempekerjakanku.”

HAHAHAHA, keduanya tetap tidak mau mengalah. Waen pun berkata wawancara sudah selesai, dia akan mengubahnya sedikit. Setelah ini dia mau mewawancarai Kaem. Sing lalu meminta tolong untuk memberitahunya jika dia bertemu Ting disana.


Seperti janjinya, Waen singgah ke coffee shop tempat dia melihat Ting kemarin. Tidak ada Ting disana. Waen langsung mengabarkan Sing dan berkata akan melihatnya nanti di San Ruk studio. Lagi-lagi Waen merinding saat masuk ke wedding studio itu. Bukan karena sesuatu yang menyeramkan tapi karena suasana romantis yang malah membuatnya jadi seram HAHAHHAH.
Kaem diwawancarai lebih dulu. Pertanyaan Waen seputar wedding studio itu.

“Kenapa kau menamai studio ini Saenruk studio?”

“Sebuah jawaban yang singkat tapi maknanya luar biasa. Aku suka melihat orang-orang yang saling mencintai.” Kaem mengatakan itu dengan bergaya sedikit centil, membuat Waen senyum terpaksa.


Pemotretan Thu sudah selesai. Ting bersama Tha. Dengan senyum manisnya ia memberikan segelas minum untuk Tha. Tha bertanya apa Ting bosan menunggunya? Ting menggeleng, Tha mengusap-usap kepala Ting membuat Ting tersipu.

Wawancara dengan Kaem juga sudah selesai. Kaem menelepon Tha untuk memberitahu soal wawancara ini. Tha yang lanjut memotret menyuruh Ting mengangkat saja telepon Kaem. Dan saat itulah Waen dibuat terkejut mendengar Kaem menyebut nama Ting yang berarti Ting memang bersama Tha.

1 comment:

  1. Dilanjut lagi donk kk
    Seru banget๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
    Utk kk tetap semangat ya kk
    Makasih kk

    ReplyDelete